
Kumpulan preman bukanlah hal yang menakutkan bagi Ziro karena telah berlatih begitu lamanya, menahan amarah adalah hal terpenting yang selalu di jaganya. Walaupun di bentak-bentak beberapa kali oleh preman ia tak kunjung gentar kepada mereka dan tetap berlalu, akan tetapi kemarahnnya di undang dengan mengancam keselamatan orang lain. Ziro tidak pernah berniat untuk bertarung dengan manusia tetapi jika tidak orang itu tak akan penah mengerti dengan kehidupan yang pana ini.
"Cepat serahkan hartamu! Jika tidak kau tahu apa yang kami lakukan pada orang tua ini" mereka mengancam Ziro.
"Hiiks.. hiiks.. ibu.. ibu.. jangan bunuh ibu saya" Seorang anak kecil menangisi ibunya yang di sandra.
"Apakah kau tega melihat ibunya di sakiti di depan anaknya? ha ha ha ha!" mereka tertawa bersama.
Ziro menatap anak itu dan berfikir jika ia yang menjadi dia pasti akan sama merasakan hal yang sesakit itu. Ziro tidak tega melihat perbuatan mereka dan melemparkan tas yang berisi bongkahan emas kepada ketua preman yang memegang orang tua, mereka mulai menangkap dan melepaskan orang tua itu. Tidak menunggu waktu lama Ziro langsung menyerang mereka untuk merebut kembali harta miliknya.
"srennng" mengeluarkan pedangnya.
"Kembalikan hartaku... wussshhhh sreett.. sreett.. sreett" Ziro menghabisi ketua preman tanpa dengan rasa kasihan sedikitpun.
"Jika orang itu seperti iblis kita harus lebih kejam dari iblis" Ziro melotot kepada sisa 14 preman.
Anak buah preman tersebut kabur terjerit-jerit ketakutan dan meninggalkan tas Ziro yang tergeletak di samping ketua preman.
"Anda baik-baik saja? Maafkan saya? semua ini kesalahan saya?" Ziro meminta maaf kepada orang tua yang menjadi sandra mereka.
"Aku tidak apa-apa! Lain kali kamu jika mampu melawan orang jahat jangan sungkan-sungkan untuk memberi mereka pelajaran" orang tua menasihati Zero.
__ADS_1
Orang tua dengan anaknya meninggalkan Ziro yang masih bingung dengan ucapannya. Ziro melanjutkan perjalannya menuju pintu gerbang perbatasan desa Mearcerik. Sesampai disana ia bertanya kepada seorang anak muda yang sedang bermain bola voly.
"Permisi boleh numpang tanya?" Ziro mendekati mereka.
"Mau tanya apa bang? Jika tahu saya jawab!" Anak muda berpaling badan.
"Tempat toko emas disini dimana ya!" Ziro melanjutkan pertanyaannya.
"Ohh toko emas, abang tinggal lurus aja dari sini sekitar 500 meter mentok belok kanan masuk kedalam nah disana sudah ada tulisan toko emas antik" jelaskan Anak muda.
Ziro mengangguk dan meninggalkan anak muda yang melanjutkan bermain bola voly, setelah sampai disimpangan yang dimaksud anak muda tadi.
"Benar ternyata ada tulisan toko emas antik" Ziro mulai masuk toko.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pemilik toko berpakaian emas
Ziro melirik-lirik pemilik toko "Apa benar disini tempat jual beli emas" Ziro mengelurkan bongkahan emas dari dalam tasnya.
"Benar sekali anda datang ke tempat yang paling tepat! Toko ini sangat terkenal sampai kekota manapun".
"Wahhhh emas ini sangat besar! Apakah kau ingin menjualnya?" tanya pemilik toko.
__ADS_1
"Berani berapa untuk membeli emas ini?" Ziro menanyakan anggaran harga.
"Tunggu aku akan menimbangnya terlebih dahulu" pemilik toko menimbang emas.
Ziro melihat kesana-kemari memandangi toko tersebut seperti tidak asing baginya. Pemilik toko emas mirip sekali dengan orang yang ada di dunia aslinya.
"Semuanya 100 koin emas!" Pemilik toko menyerahkan bingkisan yang berisi uang.
Mendengar anggaran yang di bayar oleh pemilik toko emas membuat Ziro kaget, tangannya bergemetar saat mengambil bingkisan yang berisi koin emas karena ia tidak pernah memegang uang sebanyak itu. Ziro meninggalkan toko emas, ketika ia berada tepat di depan pintu pemilik toko membuka kacamatanya dan tersenyum.
"Anak itu sekarang terlihat sangat kuat" pemilik toko emas berbicara sendiri.
Ziro kembali penginapan dan tidak lupa membawa oleh-oleh untuk Lily. ia membelikan Lily es krim kesukaannya dan membeli mainan ular tangga yang baru untuk Lily. Sesampai di penginapan semua yang di bawanya terjatuh karena melihat Lily tidak ada di dalam kamar yang hanya tersisa adalah selimut dan jendela kaca yang semula tertutup menjadi pecah berkeping-keping. Ziro berlari keluar kamar dan bertemu dengan Kuro yang sedang duduk di bangku depan kasir menikmati bir.
"Kenapa kamu berlari-lari seperti orang panik? lebih baik temani aku minum!" Kuro menawarkan secangkir bir.
"Lily... Lily... Apakah kau melihat Lily" tany Ziro dengan terengah-engah dan mengabaikan tawaran Kuro.
"Gadis yang kemaren bersamamu itu! Aku tidak melihatnya keluar dari penginapan sama sekali!" jawab Kuro.
Ziro berlari keluar penginapan, ketika ia sedang berdiri di depan pintu tiba-tiba langit menjadi mendung dan muncul portal berwarna merah di atas langit. Didalamnya terlihat banyak sekali monster yang beterbangan menggunakan sayap.
__ADS_1
Ziro tercengang melihat semua itu "Apakah ini yang dimaksud dengan datangnya bencana" berbicara sendiri.
Bersambung