Paid Assassin

Paid Assassin
Pertemuan Pertama


__ADS_3

...📖Happy Reading📖...


Di malam hari yang begitu sunyi seorang pria yang tengah membersihkan darah dari mukanya di depan kaca bundar yang ada di dalam kamar mandi apartemennya.


Setelah merasa cukup bersih ia pun membuka bajunya dan melemparkannya ke keranjang cucian yang terdapat di sudut kamar mandi tak lupa pula dengan celananya yang berakhir sama di keranjang.


Ia pun berjalan santai menuju ke sisi lain kamar mandi, yang terdapat sebuah shower yang dari tadi ia nyalakan.


Tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.


Dia adalah William, yang baru saja melakukan ritual mandinya ditengah malam yang sunyi ini, di karenakan tubuhnya terciprat oleh darah.


Dan sekarang ia sedang berada di apartemennya, yang telah ia tempati selamah sebulan ini.


Sebulan adalah waktu terlama ia menetap di suatu tempat karena ia selalu mendapat pekerjaan di berbagai kota bahkan di berbagai negara di dunia ini.


William bekerja sebagai seorang pembunuh bayaran, tak hanya itu ia juga melakukan beberapa pekerjaan ilegal lainnya.


William sangat terkenal di dunia gelap, karena ia adalah mantan anggota mafia Sisilia yang sangat berbakat, di saat ia masih bergabung di sana ia tak pernah gagal dalam misi, walaupun ia selalu bekerja tanpa bantuan anggota lain.


Tak hanya itu ia juga menguasai ilmu cyber, mengusai beberapa bahasa dan pekerjaannya sangat bersih, bahkan saat ia melakukan pembunuhan, kebanyakan orang akan tak percaya kalau itu adalah sebuah pembunuhan.


▪︎▪︎▪︎


"Ting" bunyi notif laptop William yang ada di ruang tamu apartemennya.


Yang menandakan ada email yang masuk, padahal sekarang jam sudah menunjukkan 03.15 dini hari dan William baru memejamkan matanya sealama lima menit.


William pun bangkit dari ranjangnya menuju sofa ruang tamu yang memang terdapat laptopnya yang masih menyala, entah siapa yang mengirim pesan email di jam segini.


"Hoaam" William menguap sambil mengacak-acak rambutnya.


Dia juga manusia biasa yang perlu istirahat tapi begitu membaca pesan email itu ia langsung bersemangat, apalagi klien nya saat ini buka orang biasa dan itu membuatnya tertantang.


Kliennya yaitu Robert Stone anak kedua dari pasangan Albret Stone dan Angel Stone, ia adalah salah satu pengusaha yang terkenal walaupun ia hanya anak kedua tapi ia sudah terkenal di dunia pebisnis sebagai pebisnis handal.


Ayahnya juga seorang pengusaha dan mempunyai perusaan raksasa yang bergerak di bidang elektronik, yang mempunyai anak perusahaan di berbagai bidang bisnis termasuk perusahaan yang sedang di kelola oleh Robert.


Sementara anak pertamanya Andres Stone, sekarang bekerja di perusaan utama sang ayah dan menjabat menjadi seorang direktur, tetapi fakta lain membuat Robert ingin menyingkirkan kakaknya itu.


Karena tepat di ulang tahun sang kakak yang ke 30 Andres akan di nobatkan sebagai CEO, karena ayahnya akan pensiun.


▪︎▪︎▪︎


"Hmm, perebutan tahta yang klasik" gumam William setelah mengetahui alasan kenapa Robert sampai ingin melenyapkan kakaknya itu.


"Baiklah kita akan cari informasi Andres dulu" ucapnya pada diri sendiri, sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil sekaleng bir untuk menemaninya.


"Puk" bunyi kulkas saat terbuka dan didalamnya hanya diisi oleh berbagai merek bir kalengan dan tak lupa pula dengan air mineral botol yang tersusun rapih di dalamnya.


"Cruus" bunyi kaleng bir yang dibuka


" glug...glug" William langsung menenggak birnya sampai tersisa setengah.


▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


Selain informasi tadi ia mendapat informasi baru tentang Andres yang ternyata sudah menikah sejak umur 25 tahun dan alasan ia menikah untuk menjalin kerjasama bisnis antara ayahnya dan ayah mertuanya sekarang, sangat klise.


Di depan publik pernikahan mereka terlihat sangat bahagia karena mereka sudah dikaruniai dua orang putra tetapi, informasi yang William dapat sekarang sangat berbeda dari yang masyarakat tau karena ternyata Andres seorang pecandu narkoba, tak hanya itu hubungan dengan istrinya ternyata juga tak baik.


"Hmm, ternyata tak semenarik itu" gumam William lagi karena melenyapkan seorang Andres sangat mudah baginya, apalagi karena ia sudah cacat.


"Aku mengira ia adalah orang yang bersih ternyata, ia hidup sebagai seorang pecundang" ucap William sambil berdiri di depan jendela apartemennya yang menampakkan cahaya matahari yang mulai nampak.


▪︎▪︎▪︎


Siang ini William berada di sebuah restoran, ia tangah duduk di pojok sambil memperhatikan Andres yang tengah meeting dengan beberapa kliennya sambil makan siang.


"Siang Sir, ada mau pesan apa ? " tanya seorang witer pria sambil menyodorkan buku menu ke hadapan William


" hmm, kopi hitam tanpa gula" ucapnya tanpa menyentuh buku menu itu


"Baik Sir" jawab waiter tersebut


Selama mengawasi Andres beberapa jam ini, William memutuskan untuk membunuhnya malam ini juga apalagi malam ini jadwal Andres sedang kosong.


"Ini Sir, silahkan menikmati kopi anda"


"Hm" jawab William sambil menyeruput kopi panasnya dengan santai dan menikmati bagaiman kopi yang pahit itu menyentuh lidahnya, berpadu dengan panasnya.


Ia adalah salah satu penikmat kopi tanpa gula, ia sangat suka dengan sensasi pahit dan panasnya kopi yang menyatu dalam mulutnya.


Sambil menikmati kopinya matanya terpejam tak lagi memperhatikan Andres yang saat ini tengah membayar bill makanannya dan berjalan keluar restoran


▪︎▪︎▪︎


Seperti rencananya William sudah bersiap dengan pakaian serba hitam tak lupa dengan topi dan ransel hitam yang selalu ia pakai.


Andres sangat suka menghabiskan waktu luangnya untuk ke sana.


Dan sampailah ia sekarang di depan gedung apartemen yang terlihat megah walaupun di tengah gelapnya malam.


William mengambil tasnya yang ia letakkan di kursi samping kemudi, ia mengambil laptop dan menyalakannya.


Selanjutnya ia menghek semua cctv yang ada digedung tersebut tak lupa ia menghapus rekaman saat mobilnya memasuki parkiran gedung.


Setelah cctvnya tak aktif William keluar mobil dan menuju ke lantai 7 yang memang lantai apartemen Andres.


"Ting"


William pun berjalan lurus hingga sampai di apartemen dengan nomor pintu 105, ia pun membuka akses pintu itu dengan mudah entah kapan ia tahu sandi pintu itu, bagi William sangat mudah mendapat informasi kecil seperti itu.


"Tilulit" bunyi pintu begitu terbuka


William pun berjalan masuk dengan keadaan gelap karena memang ini sudah tengah malam tetapi tatap saja Andres memang masih ada di dalam sana.


Dan satu satunya ruangan yang masih terang hanya di kamar Andres, ia melangkah dengan santai karena ia tahu Andres tangah tidur di dalam sana, ah tidak lebih tepatnya tertidur oleh obat yang William tinggalkan didalam air yang sempat ia tinggalkan di nakas dekat tempat tidur.


William sudah menyiapkan alat suntik untuk memberikan obat yang mampu membuat Andres mati dan dapat saat diotopsi ini akan di simpulkan sebagai overdosis karena ia memang seorang pecandu narkoba.


William meninggalkan sebuah suntikan bekasan yang memang pernah dipakai Andres sebagai barang bukti dan meletakkannya di nakas dekat gelas kosong yang akan juga ia jadikan bukti kepada polisi.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎


Setelah mengemasi barangnya William pun berjalan menuju pintu, akan tetapi ia mendengar bunyi pintu, seperti seseorang tengah memasukkan kode agar pintu terbuka.


Dan William melupakan satu ini, istri Andres akan datang jika Andres lambat pulang kerumah hanya untuk mengecek suaminya tersebut.


"Ck.. merepotkan" William mendengkus kasar dan berjalan menuju jendela agar ia dapat keluar dari apartemen ini tanpa ketahuan.


Istri Andres pun masuk dan menyalakan semua lampu, dan meletakkan beberapa belanjaan di meja makan.


Istri Andres berjalan menuju ruang kerja suaminya, karena memang suaminya sangat sering tertidur disana walaupun di sini sudah tersedia tempat tidur.


Tetapi ini diluar prediksi William lagi, ia masih bergelantungan di sisi jendela saat istri Andres masuk kesana.


Sofia adalah nama istri Andres, saat Sofia melihat jendela yang terbuka dan gorden yang tertiup angin membuat keningnya berkerut.


"Ini sudah malam harusnya jendelanya ditutup" ucapnya melangkah mendekati jendela


"Angin malam tidak bagus untuk kesehatan" lanjutnya lagi sambil menutup jendela dan berjalan keluar dari ruang kerja karena tak mendapati suaminya disana


▪︎▪︎▪︎


Sedangkan William sudah pergi dari sana saat mendengar Sofia melangkah mendekati jendela, akan tetapi ia tak turun ke bawah melainkan kesisi lain jendela dan jendela tersebut bukan lagi bagian dari apartemen Andres melainkan samping apartemennya yang entah siapa penghuninya tetapi William nekat masuk kesana.


Karena saat menghek cctv tadi ia hanya memberi waktu lima belas menit sedangkan waktu penghek cctv hanya tinggal satu menit jadi dia tak punya pilihan lain selain memasuki kamar ini.


"Brak" bunyi jendela yang ia paksa buka karena memang jendela tersebut terkunci.


Sedangkan penghuni kamar yang sedang melakukan dzikir dikagetkan dengan suara jendela


"Astagfirullah" gumamnya sambil mengelus dadanya, pemilik kamar pun beranjak menuju jendela untuk melihat apa yang terjadi, karena keadaan kamar yang memang gelap di karenakan hanya lampu tidur yang ia nyalakan.


William yang memang mempunyai pendengaran yang tajam dapat mendengar gumaman pemilik kamar jadi ia bergegas menghampiri pemiliknya agar ia tak berteriak ataupun melakukan hal berbahaya lainnya yang mempu membahayakan dirinya.


"Apmmm.." belum sempat pemilik kamar bertanya William lebih dulu membukap mulutnya dari depan dan itu membuat posisimereka menjadi sangat dekat.


William yang sedang memperhatikan si pemilik kamar yang ternyata seorang wanita yang lengkap dengan mukena yang di pakainya.


William mengamati wajah si pemilik kamar yang mempunyai paras yang begitu cantik terutama matanya yang bulat disertai bulu mata lentik dengan alis yang tebal dahi yang sedikit lebar tetapi itu sangat pas diwajahnya.


Sedangkan sang pemilik kamar hanya mampu beristigfar dalam hati karena terkejut sekaligus takut dengan pria yang tengah menyentuhnya sekarang.


William pun tersadar dari kekagumannya terhadap wajah cantik didepannya ini


"Suu..t"


" jangan ribut, apalagi berteriak" ucap William dingin dan mengitimidasi perempuan tersebut


"Jika tidak, saya dengan senang hati mematahkan lehermu" lanjutnya sambil mengankat sudut bibirnya


Si pemilik kamar hanya mampu mengangguk karena William belum melepaskan tangannya.


▪︎▪︎▪︎


William

__ADS_1


Sampai jumpa di part selanjutnya.....❤❤


#takdir


__ADS_2