
...📖Selamat Membaca😁...
...▪︎▪︎▪︎...
Aisyah
Malam ini kak Rahman tidak pulang karena ia punya pasien yang harus segera ia oprasi di rumah sakit tempat ia bekerja, jadi aku sendirin di apartemen.
Inilah mengapa aku tidak suka bekerja di rumah sakit aku jadi tak bebas melakukan aktifitas karena terikat dengan rumah sakit. Jadi aku lebih memilih membuka klinik sendiri, karena aku lebih leluasa dan aku lebih bisa memgatur waktuku.
Aku adalah Aisyah Syafiq dokter umum yang membuat klinik dengan modal dari sang kakak yaitu Abdurrahman Syafiq.
Aku di sini sudah satu tahun bekerja di temani sang kakak, kedua orang tua kami telah tiada saat umurku menginjak 12 tahun, sementara kakakku yang memang berjarak lima tahun denganku, saat itu memilih ke luar negeri untuk kuliah kedokteran dan aku pun tinggal di pesantren milik kakek sampai umur 17 tahun aku mengikuti jejak kakak ku untuk kuliah di luar negeri dan disinailah aku sekarang di negeri orang.
Walaupun disini agama islam minoritas tetapi aku tidak terbebani apalagi karena aku masih punya kakak yang bisa melindungiku, kami tinggal di apartemen yang terbilang mewah karena ini pemberian dari rumah sakit tempat kakak bekerja.
Kakakku bekerja di rumah sakit sebagai professor di bidang bedah saraf yang memang gajinya lumayan karena ia sudah di tingkat professor, uangnya dapat menyekolahkan aku sampai tamat kedokteran bahkan kami sekarang hidup dalam kecukupan walau disisni yang kebutuhan pokok terbilang mahal, tetap saja kami tak merasa kekurangan.
...▪︎▪︎▪︎...
Setelah solat isya aku membaca novel yang belum sempat aku baca beberapa hari ini dikarenakan sibuk membeli kebutuhan pokok yang habis di apartemen dan juga barang medis yang di klinikku.
Beberapa menit membaca aku merasa ngantuk, aku pun tertidur setelah menyimpan novel pada rak buku yang ada di samping ranjang.
Tepat jam tiga di sepertiga malam terkahir aku bangun untuk sholat tahajjud, yang memang menjadi rutinitas harianku selain di saat haid, yang kebetulan sekarang aku tidak haid jadi aku bangun untuk menunaikan sholat.
Setelah menunaikan sholat delapan rakaat di sertai witir tiga rakaat aku pun lanjut berzikir untuk menunggu waktu sholat subuh.
"Brak"
"Astagfirullah" ucapku kaget dikarenakan bunyi jendela yang terbuka, yang etah kenapa bisa terbuka. Aku pun berjalan menuju jendela dengan pelan karena memang keadaan kamarku yang lumayan gelap dikarenakan hanya lampu tidur yang kubiarkan menyala.
Aku melihat singlet seseorang yang berdiri didekat jendela, aku yang penasaran pun mendekat dan mencoba bertanya.
"Apmmm" tetapi belum sempat aku bertanya seseorang itu sudah lebih dulu membekap mulutku tetapi itu membuat seseorang tersebut menjadi sangat dekat denganku dan itu membuatku mampu mengenali kalau orang ini seorang pria.
Begitu mengetahui ia seorang pria aku berusaha brontak dan beristigfar agar bisa lepas darinya tetapi pria tersebut malah mengancamku.
"Suu..t"
" jangan ribut, apalagi berteriak" ucapnya dingin dan mengitimidasiku
"Jika tidak, saya dengan senang hati mematahkan lehermu" lanjutnya lagi dengan senyum miring
Aku hanya bisa memgangguk karena memang ia belum melepaskan tangannya dari mulutku. Begitu aku mengguk ia melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah sambil duduk diatas ranjangku tanpa sungkan.
Aku tidak bisa mengenalinya karena dengan cepat ia kembali memakai masker yang berada dilehernya
"Sebaiknya kau lanjutkan aktifitasmu" ia mengeluarkan suara setelah beberapa saat dan itu membuatku lega tapi tak sepenuhnya lega karena ia masih ada dalam satu ruangan denganku, maka aku merapalkan beberapa doa agar Allah menyelamatkanku dari keburukan yang menyertai pria ini.
"Terima kasih" ucapku bersyukur karena ia tak lagi mengganguku, aku pun meninggalkannya dan kembali duduk di atas sajadah ku sambil mengambil Al quran yang memang selalu kubaca saat setelah berdzikir.
Begitu memulai membaca Al quran aku tak memperdulikan pria itu lagi karena aku sudah menyerahkannya kepada Allah dan aku telah memasrahkan diri apa pun yang terjadi selanjutnya, itu memang sudah takdir Allah maka aku tidak bisa memungkirinya lagi.
Tak berapa lama aku mengaji, waktu sholat subuh telah masuk jadi aku menyudahi bacaanku dan memulai sholat subuh.
Setelah sholat dan berdzikir aku berjalan pelan ke arah ranjang dan kudapati pria itu telah pergi.
"Alhamdulillah ya Allah Kau telah mengabulkan doa hamba" ucap ku lirih
Aku pun melanjutkan aktifitas pagiku seperti mandi, masak dan beres beres.
__ADS_1
Sampainya di ruang tamu aku tak menemukan jubah kak Rahman yang kemari malam aku lupa cuci.
"Apa iya, aku sudah cuci kemarin" ucapku pada diri sendiri
"Nanti sajalah aku cari sekarang aku harus ke kilinik" sambil memasukkan bekal untuk makan siang kedalam tas bawaanku.
Lebih baik aku telpon kak Rahman dulu sebelum berangkat
"Tuuut"
"Tuuut"
"Assalamualikum kak" salamku begitu panggilanku tersambung
"Waalaikumsalam dek, ada apa?"
"Aisyah mau brangkat kerja dulu"
"Iya dek, hati-hati dijalan maaf kakak ngak bisa antar kali ini, jangan lupa doa sebelum keluar rumah"
"Iya kak,iya Aisyah bukan anak kecil kali, oh iya Aisyah sudah siapkan sarapan jangan lupa dimakan"
"Iya dek, kakak juga sudah mau pulang kok"
"Kalau begitu Aisyah berangkat dulu assalamualikum"
"Iya dek, waalaikumsalam"
...▪︎▪︎▪︎...
Siang ini aku masih di kilinik untuk bekerja, setelah sholat tadi aku menjutkan istirahat dengan makan siang, hari ini pasien tidak banyak, jadi aku tidak terlalu lelah walaupun pegawaiku sedang cuti hari ini.
"Biib"
Mendengar ponselnya berbunyi Aisyah yang tadinya tengah makan mengalihkan tatapanya pada ponsel yang menampilkan nama kakaknya.
"Assalamualaikum dek" salam Rahman begitu panggilannya terhubung
"Waalaikumsalam kak" ucapku pelan
"Kamu sedang apa dek, ko suaranya terdengar pelan" tanya Rahman dengan nada yang terdengar hawatir
"Aisyah tidak apa-apa, Aisyah hanya lagi makan"
"Oh, yasudah kamu lanjut makan, kakak hanya ingin tanya apakah sudah makan siang. Ternyata sedang makan hehe" terdengar tawa geli Rahman di sebrang sana
"Satu lagi kakak bakal jemput nanti malam, jangan pulang sebelum kakak datang"
"Iya kak Aisyah akan ingat"
"Kalau begitu lanjut makan, Assalamualikum"
"Siap ndan, waalikumsalam hihi" jawab Aisyah dengan tawa ringan
...▪︎▪︎▪︎...
Tak terasa ini sudah malam hari, sambil menunggu kak Rahman aku tetap membuka klinik, siapa tahu masih ada pasien yang bisa saya tangani sebelum kak Rahman datang dan itu terbukti saat mendengar lonceng yang saya pasang pada pintu terdengar.
Dapat kulihat seorang pria yang tengah berjalan menuju meja resepsionis dengan menunduk, mungkin karena ia tak melihat ada orang yang berjaga di klinik ini.
Aku pun berjalan ke meja resepsionis untuk melihat apa yang sedang ia butuhkan.
__ADS_1
"Selamat datang" ucapku ramah, setelah mendengar suaraku pria itu mendonggakkan kepalanya melihat padaku, aku memandangnya sekilas dan ternyata ia sangat tampan, astagfirullah ucapku dalam hati kenapa malah mengaguminya.
Tamapak pria itu menyodorkan tangannya yang terluka, yang darahnya masih menetes, ia masih menatapku tanpa espresi, padahal seharusnya ia meringkis kesakitan karena tangannya terluka.
"Tunggu saya ambil peralatan" ucapku dan meninggalkannya untuk mengambil beberapa peralatan medis.
"Silahkan duduk disini, saya akan membalut luka anda" ucapku menyurunya duduk di salah satu ranjang pasien sedangkan aku mengambil kursi untuk diduduki.
"Lukanya perlu dijahit, tapi kami kehabisan anestesi" ucapku begitu memeriksa lukanya yang sedikit dalam dan panjang, mungkin ia habis berkelahi dengan pereman yang ingin menusuknya tetapi ia menahan pisau dengan tangannya pikirku.
"Huum, jahit saja tanpa anestesi" jawabnya terkesan dingin di telingaku, mungkin dia sedang terburu-buru tapi aku sangat lamban dan selalu bertanya.
"Baiklah" ucapku pada akhirnya dan memulai menyiram lukanya dengan alkohol selanjutnya aku menjahit lukanya dengan diam.
Pria itu tak meringkis sedikit pun saat aku menyiram lukanya dengan alkohol bahkan saat aku menjahit luka nya ia tak mengeluh, apa ia terkena penyakit, penyakit langkah itu, CIPA(Congenital insensitivity to pain with Anhydrosis) dimana orang yang mengidap penyakit ini tak bisa merasakan sakit bahkan ia tak bisa mengeluarkan keringat seperti orang pada umumnya. Tetapi yang aku tahu orang yang mengidap penyakit itu tidak bisa hidup lama yang paling lama 25 tahun.
"Ting" bunyi lonceng pintu yang menandakan ada seseorang yang masuk lagi.
"Assalamualaikum" salam orang yang masuk
"Waalaikumsalam" balasku tanpa mengalihkan tatapan dari tangan pasien. Aku mendengarkan suara pengunjungnya, seperti kak Rahman.
Dapat kurasakan pasien ini menengok kearah kak Rahman dan aku pun tak menghentikannya.
Akhirnya selesai menjahit lukanya tinggal dibalut perban.
"Aisyah" panggil kak Rahman saat ia mendekat kearah kami
"Iya kak" jawabku memandanginya
"Biyar kak yang lanjutkan membalut lukanya, kamu kemasi barangmu saja" ucapnya dengan sedikit nada yang tinggi, lah dia ini kenapa?, tumben kak Rahman marah
"Baik kak" tak ingin membuatnya tambah marah aku pun kedalam untuk mengemasi barang untuk dibawa pulang.
Aisyah and
...▪︎▪︎▪︎...
"Maaf bisa kan saya yang membalut luka anda" ucap Rahman begitu duduk di hadapan William, tempat duduk Aisyah tadi.
"Iya" jawab William malas
Rahman pun dengan sedikit sungkan membalut luka William dengan kain kasa.
"Sudah"
"Tunggu sebentar saya ambilkan obat yang bisa dikomsumsi untuk membantu pemulihannya" lanjut Rahman
"Hm" balas William
"Kak...Aisyah sudah siap" ucap Aisyah muncul dari belakang William
"Iya tunggu kakak di mobil, kakak baru mau kasi pasien mu obat" dengan sedikit teriakan dari Rahman yang memang posisinya agak jauh dari Rahman.
" kalau begitu saya permisi, semoga lekas sembuh" ucap Aisyah kepada William yang sendari tadi hanya diam.
...▪︎▪︎▪︎...
William bukan tidak bisa merasakan sakit atau terkena penyakit CIPA tetapi ia memang hanya menahan agar tak meringkis atau merespon rasa sakit tadi di depan Aisyah. Ia hanya gengsi doang, bahkan di hadapan orang lain ia tak pernah memperlihatkan sakitnya ia hanya menahannya.
Kalau kalian ingin membaca tentang pasiaen CIPA tunggu cerita ku yang lain yang belum sempat aku up, rencananya ingin saya up kalau cerita ini sudah tuntas dan peminat ceritaku sudah banyak, agar lebih semangat membuat cerita baru.
__ADS_1
...▪︎▪︎▪︎...