Paid Assassin

Paid Assassin
Dalang


__ADS_3

...HAPPY REDING📖...


...▪︎▪︎▪︎...


Rahman mendiaknosa William sebagai


Syok hipovolemik.


Syok hipovolemik adalah kondisi gawat darurat akibat hilangnya darah atau cairan tubuh dalam jumlah besar, sehingga jantung tidak bisa memompa cukup darah ke seluruh tubuh.


Rahman mendiaknosa William terkena syok hipovolemik karena disebabkan oleh tekanan darah yang menurun, suhutubunya menjadi lebih rendah dan denyut nadinya yang cepat tetapi hampir tak terasa saking lemahnya.


"Bagaimana kak" tanya Aisyah yang masih setia memantau sang kakak yang sedang memeriksa William.


"Syok hipovolemik" ucapnya lirih, sambil segera melakukan tindakan penaganan sambil menunggu ambulance yang sempat tadi ia hubungi lebih dulu.


Selanjutnya Rahman sedikit mengganjal kaki William dengan bantal, setelahnya Rahman mengbil kain kasa untuk menekan luka William agar tak mengeluarkan darah lagi, sambil menekan lukanya, Rahman menyuru Aisyah untuk membantunya membalut luka William.


Setelah dirasa balutan lukanya sudah cukup kencang dan tak membuat daranya keluar lagi, Rahman pun menyelimuti tubuh William dengan beberapa selimut yang ia ambil satu persatu di ranjang pasien yang ada di klinik Aisyah.


"Kenapa kakak mendiaknosa ini Syok hipovolemik" tanya Aisyah karena memang belum sempat memeriksa keadaan William.


"Nanti kakak jelaskan di rumah sakit sekarang kita harus membawanya kerumah sakit sebelun terlambat" Rahman mengatakan itu karena ambulance sudah sampai didepan klinik Aisyah dan pramedis telah masuk membawa William keluar.


"Ayo" panggilnya pada Aisyah


...▪︎▪︎▪︎...


Rumah sakit tempat Rahman bekerja adalah tempat William ditangani sekarang, ia ditangani oleh salah satu temannya yang sering dipanggil Eros.


Dan disinilah Rahman dan Aisyah duduk di depan ruang oprasi yang sedang berlangsung.


Beberapa saat kemudian Eros pun keluar dengan ditemani oleh dokter asistenya dan berjalan menuju Rahman.


"Giman Eros" tanya Rahman seraya berdiri menghadap Eros.


"Aman" ucapnya disertai senyum lebar dan tak lupa ia lirik Aisyah sebentar sebelum melangkah menjauh.


"Huuf" Rahman pun menghembuskan napas panjang sebagai tanda ia lega


"Gimana kak" tanya Aisyah


"Alhamdulillah dek, ia sudah membaik, kita tunggu saja ia siuman dan pemulihan baru bisa dipulangkan"


"Tapi kak, apa kakak mengenal pemuda tadi "


"Engak sih, tapi Kakak pernah ketemu di klinik kamu"


"Oh" tanggapan Aisyah


"Dia akan segera dipindahkan, kekamar pasien, sebaiknya kakak antar kamu pulang" ucap Rahman dan menarik pergelangan tangan Aisyah untuk segera keluar dari sana.


"Biar kakak yang menunggunya di sini sampai ia siuman dan kamu tak perlu bekerja hari ini" lanjut Rahman tegas


Sedangkan Aisyah hanya bisa menunduk sedih karena hari ini ia tak jadi kerja padahal dari tadi ia sudah sangat semangat untuk kerja hari ini.


Perlu kalian tahu Rahman memang sangat menjaga Aisyah, yang bahkan terkada berlebihan menurut Aisyah, contohnya seperti sekarang


Padahal tidak ada yang terjadi dan kejadian tadi tidak ada sangkut paudnya dengan Aisyah, pemuda itu hanya kebetulan pingsan di depan kliniknya, bukan karena teror ataupun karena ia kenal dengan pemuda tadi.


...▪︎▪︎▪︎...

__ADS_1


William di pindahkan ke salah satu ruangan bangsal yang kebetulan sedang kosong, maksudnya tidak ada pasien yang tengah di rawat di kamar itu selain dia.


Ada enam ranjang diruangan itu dan William menempati salah satu ranjang yang paling ujung dekat dengan jendela.


Entah berapa hari William koma, selama ia koma Rahman tak pernah lupa untuk mengecek perkembangan pemulihannya yang memang terbilang cukup cepat pada pasien yang mengalami kondisi seperti itu dan hari ini ia dikabarkan bahwa William baru saja siuman dari tidur panjangnya.


"Akh.." ia pun meringkis pelan saat ingin bangun dan merasakan sakit di perutnya.


"Jangan banyak gerak dulu" ucap Rahman mendekati ranjang William dengan menyodorkan segelas air pada William dan di minum oleh William dengan pelan setelah tadi Rahman memperbaiki duduk William.


"Dokter yang merawatmu sebentar lagi datang" ucap Rahman lagi setelah memencet tombol didekat ranjang.


"Anda siapa?" tanya William karena sendari tadi Rahman yang berbicara kepadanya, ternyata bukan dokter yang menanganinya.


"Saya?, Hahaha, maaf jadi lupa"


"Kenalakan saya Abdurrahman Syafiq, kau bisa panggil saya Rahman" ucap Rahman di sertai senyum


William sebenarnya tau nama Rahman karena itu tertulis di jas dokter yang Rahman kenakan dan dilengkapi dengan tanda pengenal yang menempel disana yang menerangkan bahwa Rahman itu dokter spesialis bedah saraf di rumah sakit ini.


William tak menanggapi Rahman ia malah melihat sekeliling untuk mencari ponselnya karena ia tak tahu sudah berapa lama ia dirumah sakit.


"Anda mencari ini" ucap Rahman sambil mengulurkan pakain dan ponsel William yang ia pakai tempo hari, William pun tanpa berkata-kata langsung mengambilnya dan segerah menyalakan ponselnya


"Itu, saya menemukan Anda di depan klinik adik saya, dalam keadaan kritis dengan luka sobek di perut yang tak berhenti mengeluarkan darah, jadi kami membawa Anda kemari" ucap Rahman menjelaskan kenapa ia sampai mempunyai barang William, karena melihat William yang sibuk sendiri tanpa merespon ucapannya.


"Clek" pintu terbuka dan muncullah Eros di balik pintu dengan penampilan acak acakan.


"Ck.." decaknya saat melihat Rahman yang masih terlihat segar padahal ini sudah hampir jam sebelas malam.


"Kanapa Eros" tanya Rahman begitu Eros mendekat


"Tidak liat dengan penampilanku yang sudah seperti gelandangan, lah kamu malah masih seger gini" celutek Eros sambil memeriksa William dan itu otomatis mengundang tawa Rahman


"Pak William sudah stabil tetapi masih harus dirawat beberapa hari untuk pemeriksaan lebih lanjut" ucap Eros menerangkan


"Mr. William beruntung karena ditolong Dokter Rahman, karena jika Anda terlambat dibawah kerumah sakit dampak terburuknya Anda bisa mati kehabisan darah"


"Jika tidak kemungkinan yang paling ringan lumpuh dan bisa jadi mati otak" lanjutnya karena tak mendapat respon dari William sendari tadi.


"An.." kalimat Eros terpotong oleh lirikan tajam William dan suara yang dingin menyurunya diam, sementara William kembali sibuk dengan ponsel di tanggannya tanpa pedulikan respon mereka terhadapnya.


Eros dan Rahman pun saling lirik seakan berbicara melalui matanya tentang William yang sepertinya tergangu dengan mereka.


"Kalo begitu kami permisi Mr. William" sahut Eros mewakili dan merekapun keluar dari ruangan William bersama.


...▪︎▪︎▪︎...


Seminggu lebih William mengalami koma dan itu menghambat banyak pekerjaannya terutama masalah tugas yang di berikan padanya baru-baru ini.


karena ia belum di perbolehkan pulang William berencana untuk kabur dari rumah sakit, karena pekerjaan yang sudah mendesaknya untuk segera bekerja.


Jika ia mengingat, orang yang menabraknya di pagi buta itu seorang pria yang memiliki poster tubuh yang tinggi tapi lebih tinggi William beberapa senti, kurus mungkin punya tubuh yang ideal untuk seorang pria tapi hanya sebatas itu yang ia ingat karena penampilan pria itu sangat tertutup.


William yang sedang frustasi karena penasaran dengan pelaku penusukannya pun segera melangka ke kamar mandi yang ada diruangan itu untuk mengganti baju, menjalankan rencananya untuk kabur, karena jika tidak ia mungkin masih dirawat untuk beberapa hari kedepan.


Sedangkan ia orang yang sibuk. Selain karena ia ingin mengkap pelaku penusukannya, ia juga ingin melanjutkan tugasnya yang belum sempat ia mulai.


...▪︎▪︎▪︎...


Berjalan tegak seperti biasa dengan baju serba hitam tak lupa dengan topinya, William melewati lorong rumah sakit dengan santai tanpa ditegur oleh perawat yang berpapasan dengannya.

__ADS_1


"Bib bib"


"Clek"


William pun berjalan masuk ke apartemennya sambil melepas topi dan kaosnya dan melemparnya ke keranjang sampah dekat pintu.


"Pluk"


"Cruss"


"Glugg glugg"


William langsung menenggak sekaleng bir yang ia ambil dalam kulkas, tanpa jeda sampai sekaleng itu habis.


"Tak!"


"Akh.. berengsek" William mengupat sambil melempar kaleng kosong yang ada ditangannya setelah mengusap bibirnya dengan lengan untuk mengelap bibirnya yang basah.


Ia merasa tak berdaya di sebabkan oleh pemuda yang tak ia ketahui berhasil menusuknya.


"Alkohol sialan" bahkan ia memaki alkohol yang menyebabkan dirinya tidak sadar


William pun berjalan ke salah satu ruangan di apartemennya yang telah ia isi dengan berbagai jenis alat oleh raga.


Ia memasang sarung tinju di tangannya sambil berjalan menuju salah satu samsak tinju yang tergantung dan memukulnya tanpa ampun


Ia melampiaskan semua kekesalannya pada samsak didepannya dengan sesekali ia memberi tendangan


"Huff..."


"Akh..."


Tenaganya ia keluarkan tak main main sampai samsak tunju itu mengeluarkan isinya setelah satu jam lebih dipukuli oleh William yang tampak sudah lelah, tetapi tak berhenti meninju menendang samsak tersebut.


Beberapa menit setelahnya samsak itupun menghamburkan isinya kelantai dan itu membuat William berhenti.


"Ck" berdecak kesal melihat samsak yang sudah tak terbentuk itu


Dengan keringat yang bercucuran sampai bajunya basah tak hanya baju bahkan seluruh badanya basah bermandikan keringat.


"Krek.."


William membuka sarung tinjunya sambil melemparnya sembarang dan melepaskan kaosnya, melanjutkan langkanya ke treadmill yang ada di sana.


Sambil berlari William mulai mencari sesuatu dengan tap miliknya yang ada dihadapannya.


"Huufff" William mematikan treadmill nya sambil berjalan keluar ke ruang tamunya dengan tap yang ia pegang di tangan sebelah kiri yang dia biarkan memperlihatkan informasi seminggu ini.


"Ck, sial ternyata kau dalangnya Kevin" William mendesis marah, karena mengetahui dalang dari penusukannya adalah Kevin dan yang menusuknya adalah salah satu dari anak buahnya.


Bagaimana William bisa tahu, jangan lupa dengan ke gesitannya dalam mengetahui imformasi seseorang, ia punya koneksi kuat yang dapat membantunya dalam mencari dan menemukan orang.


Tak hanya dari salah satu informannya ia memang sangat handal dalam meretas jadi tak sulit baginya untuk tahu siapa dan apa pekerjaan seseorang.


"Aku menyesal sudah menunda tugasku hanya karena ingin bersantai" sambil meremas tangannya sampai mengepal kuat den menghentakkannya pada meja kayu di hadapannya.


"Taaangg" dengan sorot mata yang tajam William berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan tab dan laptop yang masih menyala dengan meja yang barang barang di atasnya yang telah berserakan dimana mana.


"Sreeeet...." bunyi air yang jatuh ke lantai kamar mandi William, ya.... William sedang mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat dan untuk menghilangkan bau tak sedap dari tubuhnya karena sudah beberapa hari ini ia tak mandi dan hanya tidur di ranjang rumah sakit seperti orang lumpuh.


Setelah selesai William melilitkan haduk di pinggangnya dan berjalan menuju lemari di kamarnya untuk mengambil pakaian.

__ADS_1


"Tunggu kedatanganku Kevin" ucapnya dengan dingin dengan sorotan mata yang tajam melihat dirinya di depan cermin.


...▪︎▪︎▪︎...


__ADS_2