Paid Assassin

Paid Assassin
Kitab ?


__ADS_3

...😁Happy Reading📖...


...▪︎▪︎▪︎...


Seperti rencananya William akan segera mengambil tindakan untuk membunuh Kevin, tetapi karena lawannya bukan orang sembarangan maka ia harus memikirkan strategi nya matang matang dan jangan sampai ia gagal dalam Tugasnya kali ini.




Karena persediaan makanan di rumahnya habis William pun keluar untuk berbelanja di super market langganannya.


Dan di sinilah dia di salah satu super market di bagian minuman, ada berbagai minuman kaleng dari berbagai merek yang terpajang di rak yang ada didepannya.


Ia memilih merek bir yang sering ia beli, ia mengambil tiga pak bir kalengan tersebut dan menyimpannya di troli miliknya, selanjutnya ia mendorong trolinya sambil melihat kedepan yang terdapat banyak ibu ibu, karena disana tempat sayur


Karena ingin menghindari ibu ibu itu William pun memutar balik trolinya, agar ia melewati jalan lain.


Sesekali matanya melirik kanan kiri untuk melihat beberapa produk, yang mungkin ia butuhkan


Samapi ia didepan tempat roti ia pun mengambil lima bungkus roti tawar yang memang menjadi makanannya jika di apartemen


"Bir..roti...apalagi yah.." ucapnya bergumam seolah mengingat apakah masih ada yang ia lupakan


"Oh.. iya susu dan buah" ia pun kembali mendorong trolinya menuju stand makanan yang ingin ia beli


Suasana super market sedang ramai pembeli karena ini adalah akhir pekan, banyak keluarga yang datang berbelanja kebutuhan rumah tangga, tak hanya ibu ibu bahkan anak anak juga banyak dan itu sangat menggangu bagi William terutama anak anak.


"Ck tau begini, lebih baik datang besok saja" ucap William setelah melihat makhluk yang paling tidak ia sukai anak anak.


Entah kenapa ia sangat tak menyukai anak kecil, baginya anak kecil adalah penggangu, pertama ia terganggu dengan suara tangisnya, kedua tidak bisa dia ajak ngomong, ketiga tidak bisa dibilangin,keempat merepotkan dan masih banyak lagi dari manusia kecil itu yang ia tak sukai, mungkin seluruh yang ada padanya ia tak sukai.


Dan manusia itu ternyata sudah merangkak didekat kakinya dan menggapai kakinya, memegang kaki William untuk ia berdiri.


"Paaapaaa.." ucap bayi kecil itu sambil menepuk nepuk betis William ,sedangkan William bergidik ngeri saat air liur yang ada di tangan bayi itu mengenai celana panjangnya.


"Papaap"


"Mammm...mam.." ucap bayi itu lagi tetapi kali ini ia menarik celana William seakan mengajaknya untuk membeli mam yang ia maksud.


Tak punya pilihan lain selain menggendong bayi itu, karena ia bisa saja di injak oleh beberapa bengunjung yang lewat yang tak melihatnya, walaupun tak menyukainya, entah kenapa hari ini ia tak bisa mengabaikan keberadaan makhluk kecil itu yang sedang terancam, padahal ia bisa meninggalkannya tanpa berfikir panjang.


Buktinya beberapa orang yang lewat sempat menyenggol badan kecil itu sampai ia harus berpegangan kuat pada celana William.


"Ck, kau itu sangat merepotkan anak kecil" ucap William begitu berhasil menggendong bayi itu.


"Ya....ampun ....Ken..." ucap seorang ibu dari belakang tubuh William


"Sini nak...." ia mengambil ahli gendongan William


"Ngak becus jaga anak" ucap William sarkas dengan muka datar tetapi matanya melihat remeh pada ibu muda yang baru saja menggendong anak nya.


Sedangkan Ibu yang merasa bersalah pun mendongak melihat William dan meminta maaf karena sudah merepotkannya, sedangakan William hanya menatap tajam ibu dan anak itu sambil berlalu pergi.


Setelah merasa cukup, William pun berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaannya, karena ia tak fokus ia pun menabrak seorang gadis berkerudung yang juga sudah selesai belanja bedanya perempuan itu sudah ingin keluar sedangkan ia baru ingin membayar belanjaannya.


Sehingga menyebabkan buku di tangan kirinya berjatuhan, karena tak ingin di pandang heran oleh semua orang maka William pun membantu memungutkan buku perempuan itu, padahal mah ia masa bodoh, mau di jatuh kek mau apa kek terserah, karena ia tak peduli kecuali di situasi seperti ini ia tak mungkin mengabaikannya karena di awasi oleh banyak orang.


"Terima kasih" ucap wanita itu dan pergi tanpa menatap mata apalagi menyentuh tangan William yang sempat terulur unruk memberikannya buku.


William yang melihat itu tertegung sejenak karena perempuan muslim tersebut, sampai matanya melihat buku yang ada di bawah troli blanjaannya.


"Astaga.. ini pasti bukunya juga" ucap William memegang buku yang lumayan tebal itu, tetapi perempuan itu sudah tak terlihat oleh matanya.

__ADS_1


...▪︎▪︎▪︎...


"Bib bib"


"Clek"


"Tak" William meletakkan belanjaannya di meja dapur, ia pun mengeluarkan semua belanjaannya dari keranjang belanjaannya, yang memang selalu beli keranjang belanjaan saat berbelanja, karena ia tak seka dengan tas kresek.


Terakhir ia mendapati buku tebal milik perempuan tadi, ia pun membawanya ke kamar dan meletakkannya di nakas tempat tidurnya sebelum berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Kebiasaan William setiap dari luar selalu mandi dan berganti pakaian walau ia tak berkeringat atau bau badan, ia hanya merasa harus membersihkan diri, itu saja dan ia akan merasa tidak enak jika tak mandi dan berganti pakaian.


Setelah mandi dan berpakaian William yang penasaran dengan buku tebal itu pun duduk di atas ranjang dan membuka pelan buku itu sambil bersandar di kepala ranjang.


Isinya yang penuh bahasa arab yang tak ia paham pun menyapanya, tetapi di samping tulisan arab ada terjemahan inggrisnya jadi ia pun membacanya pelan sambil mengerutkan alis.


Pada lembaran pertama tadi tidak ada penerjemaannya jadi ia membuka lembaran kedua dan ia mendapatinya di sana.


"Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.


William semakin mengerutkan alisnya setelah membaca terjemahan nomer satu


"Jadi ini kitab, aku kira tadi buku penting" ucapnya pelan tetapi tak menutup kitab itu, karena merasa penasaran, ia pun melanjutkan bacaannya.


...▪︎▪︎▪︎...


Aisyah tengah berada di sebuah gedung yang menjadi tempat komunitas muslim Amerika untuk berkumpul jika mengadakan acara, seperti pengajian rutin setiap minggu


Seperti yang sedang ia ikuti sekarang pengajian khusus untuk muslimah Amerika dan sudah dua tahun ini Aisyah rutin ikut kegiatan komunitas itu.


Tak hanya pengajian, komunitas ini juga banyak melakuakan kegiatan sosial dan itu pun selalu Aisyah ikuti, walau dengan izin yang sangat susah ia dapat dari kakaknya.


kalian tau kan bagaimana kak Rahman dalam menjaga Aisyah, saking ia tak rela adiknya bepergian jauh, tak jarang Rahman juga ikut saat rumah sakit mengisingkannya untuk libur.


Aisyah yang keluar dari gedung itu segera menghampiri mobil sang kakak yang terparkir rapih.


"Tok tok" Aisyah mengetuk kaca mobil di samping Rahman


"Iya dek" ucap Rahman setelah menyudahi kegiatannya membaca Alquran sambil menurunkan kaca mobil


"Kak sudah masuk waktu sholat, kita sholat berjamaah di dalam yuk" ajak Aisyah


Rahman pun melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjjukkan jam dua belas siang, berarti sudah masuk waktu sholat.


Maklum lah, ini bukan negara islam, jadi Azan tak terdengar dimana mana, tidak seperti di indonesia yang mik nya sampai berantem dan negara islam lainnya yang memperdengarkan Azan nya keluar mesjid.


"Iya dek, ayo" ajak Rahman setelah menutup pintu mobilnya dan menggengam tangan Aisyah untuk di ajak masuk gedung itu.


...▪︎▪︎▪︎...


Setelah selesai solat Rahman singgah di sebuah super market, karena Aisyah ingin membeli sayur yang kebetulan habis di rumah.


"Mau titip sesuatu kak" tanya Aisyah sambil mengambil tote bagnya


"Ngak dek"


"Ya sudah Aisyah turun dulu ya kak"


"Ngak di temenin" tu kan sifat posesifnya datang lagi, cuman belanja sebentar mau di temenin lagi


"Ngak usah kak"


"Ya sudah hati hati"

__ADS_1


"Ok, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam warahmatullah"


"Brak" bunyi pintu yang Aisyah tutup


Sambil berjalan dengan tote bag di bahunya Aisyah memilih sayur yang ingin ia beli dan ia masukkan ke troli blanjanya, ia mengambil beberapa jenis sayur yang sering ia beli.


Setelah merasa cukup ia pun membawanya ke kasir untuk di bayar


"Berapa kak" tanya Aisyah pada mbak kasirnya


"30.000" jawab kasirnya sambil menyerahkan struk pembeliannya


Sementara Aisyah yang kesusahan mencari dompetnya pun memgeluarkan beberapa bukunya untuk mencari dompetnya dalam tas.


"tunggu dulu kak" ucap nya karena kesusahan mendapatkan dompet


"Alhamdulillah" ucapnya dengan mata yang berbinar senang karena mendapat dopet yang ia kira hilang.


"Ini kak " sambil memyodorkan unag pas


"Iya terima kasih" ucap Kasir itu ramah


Aisyah pun membalasnya dengan senyum sambil mengambil kresek belanjaannya, yang ia pegang di tangan kanan dan tangan kiri ia pegang beberapa buku yang sempat ia keluarkan.


Kenapa bukunya ngak dimasukin kembali ke tas, karena itu akan memakan waktu, sedangkan masih banyak orang yang antri di belakangnya.


Karena terburu buru ia sampai menabrak seorang pemuda dan itu menyebabkan bukunya berjatuhan dan untungnya sayurannya tak jatuh.


"Astagfirullah" ucap Aisyah lirih, sambil memungut bukunya dibantu pemuda tersebut


"Terima kasih" ucapnya setelah mengumpulakn kembali bukunya, ia pun segera bangkit dan keluar dari super market untuk kembali ke mobil


"Huuf"


"Kenapa dek" tanya Rahman cemas karena melihat adiknya yang menghebuskan napas dengan pelan


"Eh.. engak kak" sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi


...▪︎▪︎▪︎...


Sesampainya di rumah Aisyah memasukkan barang belanjaannya kedalam kulkas, sedangkan Rahman sedang mandi, karena baru sempat, bahkan dari kemarin ia belum mandi.


Aisyah melanjutkan kegiatan, ia ingin memasak karena mereka belum makan siang, sementar Rahman yang sudah mandi memilih melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.


"Kak ayo bangun" ucap Aisyah sambil menggoyangkan lengan Rahman yang ia letakkan di bawah kepalanya


"Hmm hhsjshshgx" sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas


"Bangun!!!"


"Iyaaaa dekk" Rahman pun terduduk dengan mata terpejam ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Ayo makan siang" ucap Aisyah sambil menyeret Rahman ke meja makan


"Iya dek, iya Kak dah bangun"


"Kakak cuci muka dulu yah" ucapnya sambil mencium dahi Aisyah yang terlihat cemberut itu


"Ish.. bau jigong" Aisyah malah tambah kesal dan itu membuat Rahman terbahak


"Bwahahah"

__ADS_1


...▪︎▪︎▪︎...


__ADS_2