Paid Assassin

Paid Assassin
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

...📖Happy Reading😄...


▪︎▪︎▪︎


Matahari sudah menampakkan dirinya dan semua manusia telah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing di pagi hari ini, tetapi tidak dengan William ia malah masih terlelap di atas ranjangnya dengan tenang, tak terusik dengan sinar matahari yang sudah masuk kedalam kamarnya melalui cela cela gorden.


"Tinnn" bunyi bel apartemen William


Wiliam pun langsung terjaga dari tidurnya begitu mendengar didetik pertama bel berbunyi.


Author pernah bilang jika William ini mempunyai pendengaran yang sensitif


William yang dengan malas pun terbangun walau dengan ekspresi yang datar karena tak ingin diganggu, menyingkirkan selimut yang tadi dipakanya sambil melirik jam di nakas samping ranjang yang sudah menunjukkan jam sembilan pagi.


Ia berjalan santai menuju puntu apartemennya tanpa repot memperbaiki penampilannya, yang sekarang ini errr sediki yah..


Dengan rambut yang acak-acakan tanpa menggunakan baju hanya menggunakan celana bahan diatas lutut.


"Clek" begitu membuka pintu ia sudah di suguhkan dengan seorang kurir yang membawa dua buah paket dengan kardus yang berkuran sedang.


"Pagi Sir"


"Hm"


"Apa benar ini tempat tuan William" tanya si kurir sambil membaca alamat paket yang dituju


Dengan malas William kembali berdehem.


"Kalo begitu silahkan tanda tangan disini" lanjut kurir cepat karena merasa pemilik rumah sedang tak ingin diganggu.


"Cerr" William hanya menbuat garis lurus pada kertas yang disodorkan kepadanya, ia pun langsung mengambil paket tersebut dan segera menutup pintu.


Sedangkan kurir itu hanya bisa bersabar menghadapinya, karena ini masih terbilang sopan, karena masih ada yang lebih para dari William saat ia mengantar paket.


Balik ke William lagi yang tengah duduk di sofa ruang tamunya ditemani dengan sebotol air mineral ditangannya.


"Tak" bunyi botol yang ia letakkan dengan kasar ke atas meja


" sial.., ini gara-gara aku meremehkan tugas ini" ucap William dengan geraman.


Ia menyesali telah menggap remeh untuk membunuh Andres, ia ceroboh dan tak memperhitungkan berbagai kemungkinan.


Ia jadi teringat bagaiman ia pulang tadi pagi, ia bermalam dirumah gadis itu, tidak bermalam sih lebih tepatnya menunggu pagi datang karena ia sama sekali tak menutup matanya.


▪︎▪︎▪︎


Beberapa jam yang lalu


"Jika tidak, saya dengan senang hati mematahkan lehermu" lanjutnya sambil tersenyum miring


Si pemilik kamar hanya mampu mengangguk karena William belum melepaskan tangannya.


William pun melepaskan tangannya dan mendudukkan dirinya di atas ranjang tanpa disuruh ( dasar tak tahu malu emang)


"Sebaiknya kau lanjutkan aktifitasmu" sahut William saat tahu sebenarnya perempuan itu tadi tengah beribadah. Walaupun Ia seorang Atheis ia tak pernah menggangu seseorang saat beribadah dan tak pernah ikut campur dengan masalah keagamaan.


"Terima kasih" ucap wanita itu dengan suara yang terdengar begitu lembut dan merdu.


"Ck" William berdecak pelan saat mendengar suara wanita itu, entah kenapa membutnya sedikit berdebar.


William masih memperhatikan si pemilik kamar

__ADS_1


Wanita itu pun berjalan pelan menuju ke sebuah karpet yang kecil tak muat untuk sekedar ditempati berbaring ,yang tadi masih tergelar, duduk disana dan mengambil sebuah kitab untuk ia baca.


Saat wanita itu mulai membaca kitab itu, malah semakin membuat jantungku berdegup semakin kencang entah apa penyebabnya.


Aku mungkin hanya terlena akan kecantikannya dengan suaranya yang merdu William membatin sambil merabah dadanya yang masik berdegup kencang.


Sedangkan wanita itu tak hentinya merapalkan doa dalam hati agar Allah menolongnya dari niat jahat yang menyertai lelaki itu,agar lelaki tersebut tak menyetuhnya dengan sebarangan lagi dan ia pun melanjutkan membaca Al quran nya dengan khusyu tanpa nempedulikan William karena ia telah menyerahkannya urusan William Kapada Allah.


Disamping itu William yang merasa tak enak pun keluar menuju ruang tamu wanita itu, untuk berfikir bagaimana ia akan keluar nanati, jika ia sekarang keluar itu akan membuat sesorang curiga. Tetapi menunggu pagi lebih sulit untuk keluar, jadi ia harus bagaimana"


Sambil memikirkan solusi William memijat keningnya, karena tiba-tiba otaknya jadi blank.


"Ah bodoh" umpatnya pada diri sendiri begitu mengingat akan laptopnya, ia pun langsung menyalakan kembali laptopnya dan kembali menghek sistem keamanan gedung ini.


Setelahnya ia bersiap meninggalkan kamar ini, tetapi ia teringat dengan baju yang tengah ia gunakan ini akan sangat mencolok jika ia memakai ini apalagi ini sudah awal pagi, walaupun belum banyak orang yang beraktifitas tetapi tetap saja ini akan menimbulkan kecurigaan.


William melihat sekeliling rungan itu dan melihat sebuah jubah lelaki muslim yang terlampir di sofa dekat ia duduk tadi.


Tak menunggu lama ia pun memakainya tanpa memdulikan siapa yang punya, yang terpenting sekarang ia harus keluar dari sini tak lupa ia melepaskan topi dan maskernya dan memasukkanya kedalam ransel.


▪︎▪︎▪︎


Berita kematian Andres Stone sudah menyebar ke media bahkan sekarang nama baiknya telah tercoreng karena di ketahui bahwa ia seorang pecandu dan seorang kepala keluarga yang tak bertanggung jawab.


Keluarga tak ingin melakukan otopsi untuk mayat Andres, karena mereka berfikir ia mati dengan wajar. Karena overdosis, selain karena keluarga kecewa pada Andres pasti juga karena hasutan si putra kedua agar tak mengotopsi kakaknya sedangkan istrinya yang memang tak memiliki hubungan baik dengan Andres hanya mengikuti kemauan keluarga suaminya tersebut.


Berita yang cepat menyebar itu juga adalah pekerjaan William bahkan kematian tentang overdosis obat juga ia yang bikin dan ia menambai bumbu penyedap agar ceritanya lebih masuk akal yaitu Andres punya masalah dengan keluarga kecilnya itu.


William sedikit puas karena, kasus ini selesai dengan cepat tanpa ada hambatan, namun tak dipungkiri bahwa ia merasa gagal dalam misi ini karena meremehkannya.


Cukuplah ini menjadi plajaran baginya dan tolong ingatkan William agar jangan sampai ia meremehkan lagi tugasnya walaupun itu terlihat gampang.


▪︎▪︎▪︎


"Selamat malam Sir" sapa penjaga pintu


"Hm" William berjalan masuk dan melihat barnya yang ramai pengunjung.


Ia pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang ditempati orang kepercayaanya untuk mengelolah tempat ini.


"Clek" begitu pintu tebuka ia mendapati bawahannya tengah asik bercanda dengan seorang wanita, mungkin istrinya fikir William.


"Khmn"


"Ehh Bos" ucap Aldric sambil berdiri dari duduknya dan membungkukkan badan pada Willian dan menyuruh istrinya untuk keluar sebentar.


"Iya" William langsung duduk di sofa seberang Aldric tanpa di persilahkan.


"Maaf bos saya tidak dengar tadi" lanjutnya lagi dengan menyesal tak mendengar pintu terbuka.


"Hmm, bagaimana perkembangannya"


"Ya" tanyanya tak mengerti


"Ck, barnya" dengan mukanya yang datar tetapi matanya tetap melotot pada Aldric


"Maa..f bos perkembangan bar cukup pesat karena tempat kita yang strategis dan yang lebih membuat planggan nyaman yaitu kerahasiaan informasi pribadi yang terjamin" terang Aldric yang tengah gugup oleh tatapan intimidasi William.


"Hmm terus pantau perkembangannya dan jangan lupa melaporkannya" William berlalu dari sana dan berjalan keluar bar.


Sebelum keluar bar ia mendapati pertengkaran disana yang melibatkan dua orang lelaki yang terlihat sebaya dan mereka berdua mungkin orang yang berpengaruh di negara ini karena di lihat dari penampilannya yang elegan dan berkelas.

__ADS_1


William yang merasa harus menghentikan pertengkaran itu, sebelum bar mereka mendapat masalah.


"Permisi tuan-tuan" ucapnya yang mampu membuat mereka mengalihkan perhatiannya.


"Kau tak usah ikut campur anak muda" ucap salah satu dari mereka yang memang usia mereka lebih tua dari pada William


William yang dilarang malah tersenyum miring sambil memandang tajam pria tersebut.


William sekarang tahu lelaki ini, ia adalah pemilik hotel berbintang lima yang berada di sekitar sini, yang telah ditinggal mati istrinya dua tahun lalu.


Sedangkan James yang melihat William meremehkannya langsung mengeluarkan pisau lipat di balik saku jasnya dan tanpa ragu menusuk William.


Di luar dugaan semua orang yang melihat, bukannya menagkis pisau William malah menagkap pisau tersebut dan membuat tangannya berdarah, tak sampai di sana James yang geram karena tak dapat menusuk perut William pun melayangkan tinjunya, tetapi William kali ini juga hanya menahan kepalan tangan James.


"Hay pak tua, kau sudah membuat keributan di sini" Sahut William setelah melepas kepalan tangan James.


William pun mengkode pihak keamanan barnya untuk mengeluarkan James dari sana.


"Hay anak muda kau tidak usah mengurusku!!" Teriak James saat ia diseret keluar. William yang melihat itu hanya tersenyum miring.


"Bos anda tak apa?" Tanya Aldric yang baru datang dan melihat tangan William yang berdarah yang darahnya sampai menetes di karpet.


"Hmm, lain kali jangan sampai lengah" ucap William kemudian berlalu keluar bar


Sebelum keluar tadi ia sempat melihat lelaki yang satunya dan menyuruh Aldric untuk meminta maaf untuk keributan ini.


▪︎▪︎▪︎


Tak ingin darahnya kembali menetes William pun singgah di apotek dekat sana untuk membeli pembalut luka.


"Ting" bunyi bel yang terpasang di atas pintu apotek tersebut


" selamat datang " sahut penjaga toko


William merasa tak asing dengan suara lembut yang menyapa telinganya pun mendongakkan kepalanya melihat wanita si pemilik kamar yang kemarin. Dengan jilbab coklat panjang sampai lutut dan gamis dengan warna senada


"Khm" William merasah tenggorokannya kering saat melihat wajah Aisyah.


Sedangkan Aisyah yang memang tak mengenali William pun hanya menyapanya seperti pelanggan biasa, dan tak terlalu memperhatikannya karena ia adalah seorang lelaki yang bukan mahrom nya


William hanya memperlihatkan tangannya tanpa bicara dengan muka yang datar, karena ia memang sedang menetralkan jantungnya yang kembali berdetak tak normal.


"Akhh sial" umpat William karena menjadi seorang idiot hanya karena berhadapan dengan seorang wanita, kenapa ia menjadi selemah ini terhadap wanita.


"Silahkan duduk disini, saya akan membalut luka anda" sahut Aisyah cepat karena melihat darah William yang tak berhenti menetes, William hanya duduk dan tak membalas ucapan Aisyah


"Ini perlu di jahit, tapi kami sedang kehabisan anestesi" sahut Aisyah


"Huum, jahit saja tanpa anestesi" jawab William sambil menghela nafas. Sebenarnya William bisa menjahit luka itu sendiri tetapi jika menunggu sampai apartemen ia tahu akan terjadi hal lain jika membiarkan tangannya seperti ini dan ia tak masalah lukanya di jahit tanpa anestesi karena ia sudah biasa melakukan itu.


"Baiklah" Aisyah pun memakai sarung tangan latex dan menyiram ruka William dengan alkohol, setelahnya ia pun menjahit luka William pelan tanpa menyentuhnya dengan berlebihan.


"Ting" bunyi bel pintu berbunyi menandakan ada pelanggan yang masuk


"Assalamualaikum" salam seorang pria yang tak mampu mengalihkan konsentrasi Aisyah


"Waalaikumsalam" jawab Aisyah tanpa mengalihkan tatapannya pada luka William.


Beda dengan William ia memperhatikan penampilan pria tersebut yang sangat berbeda. Pria itu memakai jubah warna putih memakai kopiah putih dan ia juga berjanggut.


Bukankah jubah itu mirip dengan yang ia ambil di apartemen Aisyah pikirnya.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎


__ADS_2