
...😁HAPPY READING📖...
•
•
"Tapi saya bukan penghuni gedung ini" ucapnya menggerakkan kepalanya seakan menunjuk gedung di sampinya
"Tetap saja anda dari dalam sana" petugas itu sudah mulai geram melihat William yang terlalu bertele-tele, salah satu dari mereka pun merebut tas gitar yang sedang dipegang William dan yang satunya mengambil tas yang ada di punggung William untuk di geleda.
"See" William tersenyum menyerigai saat melihat petugas itu tak menemukan apa-apa selain barang-barang pribadi William.
"Maaf kami telah menggangu anda" ucap salah satu dari mereka sambil menyerahkan kembali tas William
...▪︎▪︎▪︎...
Berita terkini seorang polisi penjaga pelabuhan berinisial H meninggal saat bertugas dan penyebab kematiannya di duga sebagai sebuah pembunuhan.
Salah satu siaran tv menyiarkan berita tentang kematian anggota polisi yang telah ditembaki saat sedang bertugas, membuat Aisyah beritigfar sambil meletakkan makanan di atas meja makan.
"Kak ayo makan..." Aisyah sedikit berteriak guna agar kakaknya mendengarnya dikarenakan suara tv yang sedikit keras yang memang ada di ruang tamu dekat kamar kakaknya.
"Iya dek" jawab Rahman sambil berjalan mendekat kearah meja makan
"Malam ini kakak lembur lagi?" Tanya Aisyah setelah menyiapkan bekal untuk mereka berdua.
"Tidak, kenapa dek?" tanya Rahman balik karena tumben adiknya menanyakan jadwalnya bisanya Rahman sendiri yang akan mengatakan setiap hari jadwalnya kepada sang adik.
"Aisyah hanya sedikit takut, karena mendengar berita tadi" ucapnya tertunduk sambil melihat makanannya
"Oh.. tentang polisi itu. Aisyah kamu tidak perlu khawatir tentang itu, ajal itu akan datang, begaimana pun keadaan kita dan cara, peroses kematian kita itu sudah takdir dari Allah yang tak dapat kita ubah, yang perlu kita atur itu memastikan kita mati dalam keadaan islam dan tidak dalam keadaan bermaksiat apalagi sedang mempersekutukan Allah". Ucap Rahman panjang lebar sambil mengusap pucuk kepala Aisyah disertai sebuah kecupan disana
"Aisyah, tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang sudah pasti" lanjutnya dengan senyum lembut menenangkan sang adik.
"Iya kak, Aisyah hanya, takut ditinggal kak" cicit Aisyah sambil mengikis jaraknya pada Rahman dan memeluknya.
"Eh, kok nangis" tanya Rahman begitu mendengar tangisan lirih Aisyah karena tertutup oleh tubuhnya
"Aisyah kangen Umi Abi" ucapnya dengan pelan tapi masih mampu didengar oleh Rahman.
"Kalau kangen sama Abi Umi doakan mereka agar ia ditempatkan di tempat terbaik disisi Allah dan jangan pernah lupa doa Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kamaa Rabbayani Saghira. Agar azab kubur mereka diringankan oleh Allah, hmm..Aisyah tahukan" Rahman sambil mengusap kepala Aisyah yang terbalut jilbab maroon yang panjang
"Iya kak, Aisyah tau, maaf bikin kakak khawatir dan makasih sudah diingatkan" ucapnya sambil tersenyum lebar dengan mata yang masih basah dan memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapih.
...▪︎▪︎▪︎...
Di siang hari ini William mendapat pesan lagi dari Kelompok Mafia yang memberinya tugas sebelumnya, disaat ia sedang santai duduk di balkon kamarnya ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok.
"Ck" William berdecak kesal karena waktu santainya diganggu lagi
__ADS_1
William pun masuk kembali keruang tengah setelah mematikan rokoknya dan meminum habis kopinya.
"Tak...tak" bunyi sentakan keyboard yang di tekan William untuk membalas pesan dari mereka.
Ternyata ia dapat misi baru lagi, yang dikirim oleh salah satu petinggi Kelompok Mafia, yang menugaskannya untuk membunuh salah seorang anggota mereka yang berhianat dan sedang melarikan diri ke negara ini.
Orang itu adalah Kevin salah satu anggota yang terbilang sudah lama bergabung bahkan ia lebih dulu bergabung dibanding dengan William, tetapi bedanya William berhenti dengan cara baik-baik.
Tetapi Kevin dikabarkan telah membawa lari sejumlah uang yang tak sedikit dan tak hanya uang, beberapa senjata api dan juga narkoba yang terbilang lumayan banyak juga ia bawa.
"Ck" William berdecak sambil menggabil sebatang rokok untuk kembali ia nyalakan.
"Huuuff" menghembuskan asap rokoknya setelahnya ia tersenyum miring, ia merasa perburuan kali ini akan menyenangkan.
"Kevin..Kevin....hahahaha" ia merasa perutnya tergelitik mendengar kisah Kevin yang menghianat itu.
"Aku akan memulainya besok saja Kevin" berbicara sambil menatap kedepan seakan akan Kevin benar ada di depanya yang tengah duduk berhadapan.
"Hari ini aku ingin sedikit bersantai" ucapnya dengan kembali mengisap batang rokoknya sambil menumpuk kakinya diatas meja.
...▪︎▪︎▪︎...
Di malam harinya William masih melanjutkan masa santainya di sebuah bar miliknya yang sempat ia datangi bulan lalu, suasana yang sedikit ramai dikarenakan cuaca yang sangat dingin malam ini. Karena sudah memasuki musim dingin, kebanyakan dari mereka singgah minum untuk menghangatkan badan mereka dari dinginnya suhu diluar.
William duduk santai di salah satu kursi yang di sediakan untuk planggan, ia duduk sendiri menikmati minumannya dengan santai tanpa ada yang menggangu, William memang menggemari alkohol tetapi entah mengapa ia tidak tertarik dengan *** bebas.
Ia tidak bisa memastikan apakah ia tidak pernah karena ia tak tahu mungkin pernah sekali duakali saat ia tak sadar alias dalam pengaruh alkohol, tetapi yang ia tahu ia sangat jarang tertarik berhubungan dengan wanita, bukan maksudnya ia adalah gay atau orang yang mempunyai penyimpangan seksual, ia hanya tak ingin terlibat dengan sebuah hubungan yang dinamakan cinta yang dapat mengganggu aktivitas yang tekuninya sekarang.
Selain tak ingin menjalin percintaan ia tak ingin berhubungan dengan wanita malam karena takut wanita itu mengetahui tentang dirinya dan pekerjaannya terutama rahasia hidup dan ketentramannya yang mungkin akan terusik oleh adanya seorang wanita.
"Pelayan" panggil William pada salah satu pelayan yang sedang lewat di dekatnya
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu" ucap pelayan wanita itu sambil membungkukkan badannya dangan nampan di tangan kanannya
"Ck.., bawakan aku sebotol lagi" ucak William di sertai decakan disebabkan pelayan wanita didepannya seperti sedang menggodanya, apakah pelayan disana juga harus menggoda pelanggan, ingatkan William untuk menegur Aldric.
"Baik tuan" pelayan itu pun undur diri dengan sedikit gemetar karena ditatap tajam oleh William.
...▪︎▪︎▪︎...
Suasana di luar semakin dingin, dikarenakan salju sudah perlahan turun dan pengunjung bar semakin banyak padahal malam telah pergi, jam telah menunjjukkan dini hari.
William pun telah menghabiskan tiga botol alkohol tetapi ia masih setengah sadar jadi ia pun berjalan keluar bar berniat untuk pulang ia ingin segera tidur karena jam sudah menunjukkan jam 4 pagi, sambil bersusah payah memperbaki jalannya agar terlihat normal, ia berjalan kaki tanpa memakai kendaraan karena ia masih sedkit waras untuk tidak mengemudikan mobilnya disaat seperti ini.
Entah sudah berapa lama ia berjalan tetapi tubunya sudah sedikit merasakan dingin berarti tak lama lagi ia akan sadar sepenuhnya dari pengaruh alkohol, karena jika tidak mungkin ia sudah membeku di luar karena suhu diluar sangat dingin walupun matahari sudah mengintip malu malu dari arah timur.
"Tak..tak.." bunyi hentakan sepatu dari belakang William, tetapi bukan orang yang dibelakang sana yang membuatnya penasaran tetapi lelaki dedepan sana yang berpenampilaan sangat tertutup yang membuatnya sedikit curiga.
Lelaki itu pun berlari kearahnya tetapi William tetap berjalan biasa tanpa menghiraukan pria tersebut sampai pria itu menabraknya dan William terjatu tetapi pria itu tetap melanjutkan larinya tanpa menghiraukan William yang jatuh karena ulahnya.
__ADS_1
"Ck.." William kembali berdecak kesal dan berusaha berdiri dengan sendirinya.
"Sstt" ringkisan pelan pun keluar dari mulutnya karena ia merasa sakit di bagian perutnya. Ia pun memegang perutnya yang terasa sakit itu.
"Sial b***sek" umpatnya saat melihat tangannya penuh dengan darah yang berasal dari perut bagian bawahnya, ia lengah karena sekali lagi ia menghiraukan segala kemungkinan yang ada.
William merasakan perih di perutnya pun memaksakan berjalan sampai ke klinik terdekat setidaknya di sana ia bisa mengobati lukanya yang cukup dalam. Dilihat dari darah yang mengalir cukup banyak sampai mengalir kebawah kakinya dan itu mampu untuk meninggalkan jejak sepanjang perjalanannya.
Merasa sudah tak kuat untuk menahan diri ia menjatuhkan dirinya di depan salah satu klinik yang masih tertutup itu.
Iyalah masih tertutup ini kan masih sangat pagi untuk membuka klinik. Yang memang tak beroprasi dua puluh empat jam.
Tak lama setelah membaringkan diri ia pun hilang kesadaran karena kedinginan dan juga kehilangan banyak darah.
...▪︎▪︎▪︎...
"Kak ayo" ajak Aisyah kepada Rahman yang memang tengah memasang sepatunya dengan santai
"Iya dek, iya" Rahman sudah tak heran dengan Aisyah yang ingin ia cepat cepet. Semua itu karena ia tak ingin terlambat kerja, ia sangat menyukai pekerjaannya itu.
Mereka pun berangkat bersama menuju klinik Aisyah menggunakan mobil Rahman. Aisyah memang tak pernah keluar sendiri tanpa di temani atau diantar sang kakak kecuali jika Rahman sedang ada pekerjaan yang tak dapat ditinggal.
Seperti sekarang Rahman mengantar Aisyah untuk ketempat kerjanya, karena ia tak masuk kerja sepagi ini.
Selain tak pernah pergi sendiri, Aisyah memang tak bisa membawa mobil, ia tak pernah belajar menggunakannya dan tak pernah ingin belajar.
Lima belas menit berkendara mereka pun sampai didepan klinik Aisyah. Jalanan yang masi sepi mempermudah sampainya mereka di sana.
Aisyah melihat seseorang tengah bersandar didepan pintu kliniknya, membuatnya berbalik melihat sang kakak, ia takut jika pemuda itu orang mabuk.
"Ayo kakak temani" ucap Rahman lembut sambil memegang tangan kiri Aisyah dan menaruhnya dibelakan tubuhnya untuk melindungi sang adik dari pemuda tersebut.
Rahman berjalan perlahan sambil menarik pelan tangan Aisyah yang digenggamnya.
"Astagfirullah" ucap Rahman begitu melihat William yang pingsan didepan klinik dengan bersimpah darah.
"Ada apa kak" ucap Aisyah khawatir sambil menengok kedaepan dengan takut takut.
"Innalillah" ucap Aisya lirih seketika nenyadari pemuda itu bukan mabuk melainkan tengah sekarat dengan darah yang bersimpah.
"Ayo dek, buka pintunya, kita harus segera menolongnya sebelum terlambat" ucap Rahman yang tengah menggendong William
"Bukankah lebih baik kita bawah ke rumah sakit" tanya Aisyah takut karena penuda itu pasti butuh donor darah
"Iya tapi kita harus memberi dia pertolongan pertama sebelum membawanya ke rumah sakit" Rahman sedikit menaikkan nada suara nya, karena Aisyah malah mengajaknya berdebat dalam situasi seperti ini.
"Ba...baik kak" Aisyah sedikit tergagap karena takut membuat Rahman marah, ia pun segerah membuka pintu kliniknya membiarkan sang kakak masuk sambil menggendong William.
...▪︎▪︎▪︎...
__ADS_1