PALUNG HATI ( Antara Dendam Dan Cinta )

PALUNG HATI ( Antara Dendam Dan Cinta )
episode 07


__ADS_3

Dinda bangun pagi itu dengan kepala sedikit berat , untung lah hari ini weekend, dengan gerakan pelan ia menggeser sebuah tangan yang tengah memeluk nya dari belakang.


butuh waktu Dinda menyadarkan dirinya, ia ingat ia mabuk semalam, dan ia di antar pulang oleh bartender dengan senyuman menawan , lalu ia membalik kan tubuhnya.


dan benar tebakan nya ,ia akhirnya membawa bartender tampan itu ke ranjang nya.


sedikit sempoyongan ia melihat jam di kamar nya ,sudah hampir tengah hari.


rasa haus mendera kerongkongan nya , perlahan ia bangkit dengan menyingkap selimut sutra dari tubuh polosnya.


mengenakan pakaian rumah nya ,lalu ia berjalan keluar menuju pantry nya.


segera ia melegakan tenggorokan nya dengan minuman dingin yang ada di dalam kulkas .


di lanjutkan dengan menyiapkan sarapan atau kah makan siang ia tidak terlalu perduli ,ia hanya menyiapkan masakan sederhana saja untuk nya dan sang bartender tampan tentu nya sebagai rasa terima kasih nya tentu saja.


Dinda tengah duduk dengan anggun nya di sebuah sofa empuk yang ada di sudut balkon setelah ia memakan sarapan sederhana nya ,ia membawa matcha latte favorit nya yang telah ia seduh dengan sebatang rokok di sela jari nya .


menikmati hari libur seperti ini adalah rutinitas bagi seorang Dinda Kirana.


"hai " suara serak sang bartender terdengar menyapa .


Dinda hanya melirik dari duduk nya seraya menghembuskan asap dari rokok yang baru ia hisap , terlihat pemuda tampan itu hanya menggunakan boxer dan kaos nya saja.


"aku sudah menyiapkan makanan untuk mu ,makan lah sebelum pergi "


"hmm, kau langsung mengusir ku " bartender itu tidak tampak tersinggung, malah duduk di sebelah Dinda .


"aku tidak suka di ganggu ketika weekend, aku harus memiliki waktu ku sendiri "


"tentu saja cantik ,aku sangat paham itu ,aku pun sama juga punya waktu untuk ku sendiri" pemuda itu mulai mendekatkan tubuh nya pada Dinda dan menghidu bagian ujung rambut Dinda .


"maka nya segera pergi setelah makan ,itu adalah sebuah rasa terima kasih ku atas bantuan mu semalam "


lalu pemuda itu mengambil gelas minuman matcha milik Dinda dan menyesap nya pelan "manis " ucap nya "bantuan apa ? " tanya nya polos .


"bersedia mengantar kan aku pulang dengan keadaan mabuk ,serta membersihkan semua muntah yang ada pada tubuh ku "


kembali pemuda tersebut menyandarkan tubuh nya ,membuat sebuah pola pada punggung Dinda dengan sentuhan menggoda .


"sama sekali aku tidak keberatan, aku suka melakukan nya tidak terpaksa"


Dinda menoleh ke arah pemuda tampan itu, wajah mereka menjadi lebih dekat, terpaan nafas kedua nya mengenai sisi wajah mereka.


pemuda itu semakin mendekat kan wajah nya dan menci*um Dinda , Dinda yang ikut terbawa suasana ikut terbuai dengan harmoni yang di ciptakan pemuda tampan dengan senyum menawan tersebut.


"so sweet, i like it " dengan lembut pemuda tersebut mengusap bibir Dinda yang basah akibat permainan nya barusan.


"pergi lah ,kamu orang baik, aku tidak ingin menyakiti mu " ucap Dinda tenang dan penuh dengan tekanan, dengan pandangan tajam.


pemuda itu menarik tubuh nya ke belakang, raut wajah nya sedikit berubah heran menatap lama pada Dinda hingga pandangan mereka bertemu, ia menemukan sorot serius dari wanita cantik berpenampilan anggun dan jelas sangat dewasa ini ,yang telah memikat nya semalam hingga mau saja ketika diajak mendaki nirwana.


"hmm, baik lah " ucap nya lalu berangsur ia berdiri dan berjalan menuju kamar wanita ,ia tidak ingin memperpanjang masalah , seperti nya wanita misterius ini sangat serius dengan ucapan nya .


lalu untuk apa ia harus bertahan lebih lama hanya untuk menjatuhkan harga diri nya saja.

__ADS_1


tidak lama tanpa kata permisi , terdengar pintu apartemen mewah milik Dinda tertutup menandakan pria muda nan tampan dengan senyuman di wajah nya tersebut telah keluar.


Dinda yang tidak perduli hanya menghela nafas nya dan kembali menatap ke arah pemandangan ibu kota dari arah balkon .


Dinda mengemudi kan mobil nya menuju sebuah panti asuhan yang berada di salah satu sudut pinggiran kota .


sesampainya ia di gerbang bangunan panti , Dinda turun dan menunggu satu mobil box yang mengikuti nya sedari tadi.


kedatangan Dinda langsung di sambut oleh seorang wanita paruh baya ,Dinda langsung menyalami wanita tersebut dengan takzim.


"nak Dinda " sapa ibu Rita pemilik dan pengelola panti tersebut.


"iya Bu " jawab Dinda ramah.


Dinda memang terlihat berbeda jika ia berada di tempat ini ,dari pakaian serta pembawaan nya sangat berbeda.


terlihat hari ini ia menggunakan kemeja berwarna biru laut dan celana kulot navy ,dengan rambut yang ia ikat ekor kuda.


lalu beberapa karyawan panti datang dari dalam ,ikut membantu untuk membawa beberapa bahan sembako dari dalam mobil box yang tadi Dinda bawa .


"semoga dapat sedikit membantu ya Bu " Dinda juga menyerahkan amplop yang berisi uang pada ibu Rita .


"aduh ,nak Dinda ini ,ibu jadi tidak enak ,baru juga seminggu lalu bawa perlengkapan sekolah anak-anak, dan perlengkapan buat para bayi ,lalu ini ,aduh banyak sekali nak Dinda" ucap Bu Rita yang merasa segan .


"tidak apa Bu ,saya bahagia melakukan nya ,dengan lebih banyak berbagi maka rezeki saya semakin berlimpah, doa kan selalu ya Bu" ucap Dinda tulus dengan senyuman.


"amin ,ia nak Dinda ibu akan selalu mendoakan yang terbaik buat nak Dinda" balas Bu Rita seraya meremas lembut kedua tangan Dinda yang masih menggenggam jemari nya.


"makan malam di sini ya nak Dinda ,pasti yang lain senang ngeliat nak Dinda" ajak Bu Rita, Dinda mengiyakan dan mereka berjalan beriringan ke dalam bangunan panti .


Dinda menghabiskan waktu weekend nya malam itu di panti asuhan hingga malam menjelang, bermain dan sedikit membantu para petugas panti ketika bekerja merawat anak-anak adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi nya.


setelah mandi dan mengeringkan rambut hitam nya , Dinda menekan sebuah tombol yang ada di balik salah satu lemari ruang ganti pakaian nya .


lemari tersebut bergeser dan menampakkan sebuah ruangan , seperti ruangan kerja rahasia dengan desain elegan.


ada meja dan kursi kerja dengan laptop di atas nya.


ada satu dinding yang di jadikan Dinda sebagai diagram dengan banyak Poto dan beberapa nama tertulis di sana.


Dinda masuk ke dalam ruangan tersebut, duduk di kursi kerja nya , menghidupkan laptop nya ,mengerjakan sesuatu dengan wajah serius.


kedekatan yang ia jalin dengan panti asuhan yang baru saja ia datangi bukan lah tanpa alasan ,satu petunjuk telah ia dapat kan .


hati nya sedikit berbunga, di tatap nya satu bingkai Poto kecil di depan nya ,di raih dan di dekap nya ,air mata mengalir dari kedua pelupuk mata nya .


dengan terisak Dinda menangis dalam tekanan rindu ,tangisan nya terdengar menyayat hati ,sangat pilu ,untung saja tidak ada yang dapat mendengar tangisan nya.


kembali tangisan itu pecah kala ia mengenang kembali ,di suatu hari tepat nya dua belas tahun yang lalu .


* flashback on


"kamu bisa Dinda ,ayo yang kuat , sedikit lagi" suara penyemangat dari bidan yang tengah membantu nya melahirkan saat ini terdengar samar di telinga Dinda.


tenaga nya terasa sudah habis ,ia ingin menyerah saja , seandainya ia bisa tapi bayangan bayi nya saat ini yang juga berjuang bersama nya tentu saja dapat menepis pikiran buruk yang ada.

__ADS_1


tidak lama suara tangis bayi terdengar, senyuman Dinda merekah ,segala kesakitan hilang kala bidan menyerah kan bayi mungil nya ke dekapan nya.


air mata bahagia jatuh ketika ia menciumi seluruh wajah bayi nya ,cantik ,bayi nya sangat cantik ,kulit putih bersih dan rambut tipis berwarna kecoklatan menambah kecantikan bayi nya ,semua tenaga medis yang membantu nya ketika bersalin tadi sangat takjub melihat kecantikan bayi nya.


Dinda sedang menyusui bayi nya yang ia beri nama Anastasia Kirana , bayi itu sangatlah sehat ,mata mereka bertemu, seketika hati Dinda menghangat .


"bagaimana Dinda ,sudah sehat ?" tanya Bu Kusuma , pemilik rumah aman tempat Dinda bersembunyi dengan kehamilan nya dari dunia luar .


beruntung lah Dinda ketika ia menemukan tempat ini ,di saat ia sedang berada dalam keterpurukan hidup nya yang terasa berat dan rumit.


hamil di luar nikah, dengan orang tua jauh dari nya ,tidak mungkin ia pulang kala itu dengan membawa aib ,ia tidak ingin menghancurkan harapan kedua orang tua nya.


Dinda tersenyum menciumi lengan kecil bayi mungil yang perlahan mulai tertidur di dekapan ibu nya.


"Alhamdulillah ibu ,Dinda sudah mulai kuat " sudah dua Minggu setelah Dinda melahirkan kala itu.


"jadi bagaimana? apa kah sudah ada gambaran apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


Dinda tampak berpikir, sambil terus memandang bayi nya.


"memang setelah kita memberikan asi pada bayi ,ikatan batin kita akan semakin terikat, keinginan untuk berpisah tentu nya menjadi sangat berat "


awal nya Dinda memutuskan untuk tidak menyusui bayi nya tapi ketika menatap mata bayi nya rasa keibuan nya muncul ,dan ia memutuskan menyusui bayi nya.


Bu Kusuma benar sekarang ia merasa sudah sangat berat ketika berpikir untuk meninggalkan bayi cantik nya.


"semua keputusan ada sama kamu Dinda ,apa pun itu ibu pasti mendukung nya " Bu Kusuma berdiri dari duduk nya ,meremas pelan bahu Dinda dan pergi keluar dari ruangan meninggalkan Dinda dengan perasaan bimbang.


tapi akhirnya Dinda mengambil keputusan nya , setelah bayi nya berumur enam bulan , akhirnya ia menitipkan nya pada Bu Kusuma.


"tolong jaga dia Bu ,ini sangat berat bagi saya ,tapi saya harus melakukan nya ,saya berjanji saya akan kembali ,dan akan tetap mengirim kan uang untuk kebutuhan nya dan juga akan selalu mengirim kabar ,saya mohon Bu ,jaga Anastasia" dengan lelehan air mata ,setelah mengecup pipi kemerahan Anastasia, Dinda menyerah kan bayi nya pada Bu Kusuma yang menatap nya pilu.


"saya mengerti Dinda , saya berusaha untuk menjaga nya dengan sebaik baik nya , jaga diri kamu sebaik-baik nya ya "


dengan kesedihan mendalam Dinda meninggalkan tempat itu.


hari-hari berikutnya di lalui Dinda dengan kesengsaraan, kerinduan pada bayi nya menggeluti relung hati nya .


setiap malam ia kesakitan ketika kedua payudara nya membengkak akibat air susu yang tidak keluar , mungkin juga karena bayi nya merindukan nya .


setiap malam ia menangis, sesenggukan dalam diam ,karena ia tengah berada di kamar kos kecilnya ,kembali ke kehidupan perkuliahan strata dua yang sempat ia hentikan.


tahun pun berganti , Dinda telah menyelesaikan pendidikan nya dengan hasil terbaik ,dengan mudah ia mendapatkan pekerjaan di tempat incaran nya .


setelah mendapatkan tempat tinggal yang baik dan mulai bisa menapak di kaki nya sendiri ,Dinda kembali ke rumah aman tempat ia menitipkan bayi nya.


namun sayang ,ia begitu terkejut ketika mendapati tempat tersebut telah tidak ada ,telah rata dengan tanah.


kebingungan, Dinda mencari ke sana kemari, tapi hingga habis hari nya ia tidak mendapatkan petunjuk apa pun.


dengan gemetar ia mencoba menghubungi no telepon rumah Bu Kusuma , sama sekali tidak tersambung.


Dinda kalut bukan main ,ia ingat ia selalu mengirim kan uang ,bahkan sebelum ia bekerja sebagai pengacara ,ketika kuliah ia bekerja serabutan untuk menyisihkan uang nya yang akan ia kirim kan pada Bu Kusuma .


Dinda frustasi, ia kembali dengan sebuah kekosongan, sakit di hati nya menganak dengan sendirinya, kehilangan kali ini menyesakkan bagi nya.

__ADS_1


di pegang nya dada nya yang terasa nyeri dan sesak bercampur menjadi satu hingga tanpa sadar ia pingsan saat itu .


*flashback off


__ADS_2