
pagi hari yang cerah seperti biasa tapi beda halnya dengan seorang wanita yang menyamar menjadi lelaki ini yang tak lain adalah Inshira (Simon).
saat ia terbangun dari alam mimpinya tiba tiba saja perutnya menjadi sakit ia pun menjadi gelisah namun kemudian ia melihat di tempat tidurnya ada sebuah cap darah
" sial kenapa harus datangnya hari ini sih....merepotkan" gerutunya dalam hati
tak lama ia pun harus membersihkan tubuhnya walaupun masih ada rasa sakit perutnya ia harus berusaha menahannya.
setelah ia mandi ia memakai baju kesatrianya
tapi tidak ada besinya hanya sekedar baju ringan dan tak lama salah satu pelayan memanggil Simon untuk makan bersama.
" tuan anda dipanggil Pangeran untuk makan bersama" ujar pelayan tersebut.
" baiklah" mengibaskan tangan nya untuk menyuruh pelayan itu pergi
" Tapi Pa...." ucapan pelayan tersebut terpotong karna tatapan tajam dari Simon
" baik " dan pergi dari kamar Simon
kemudian Simon mengambil pedang yang biasa dipakainya saat masih dihutan tapi dia belum bisa keluar karna ia sedang datang bulan
" gimana ya membeli pembalut?" itu lah yang sedang ia pikirkan
" AAHH...sudah lah lebih baik aku makan dulu baru kupikirkan "
saat keluar dari kamar tak sengaja ia menabrak seorang pelayan
" kamu tidak apa apa?" tanya Simon dengan wajah datar
" tidak saya tidak apa apa " ujar pelayan tersebut dan pergi sebelum itu ...
tiba tiba saja ada ide yang cemerlang di otaknya kemudian ia memanggil pelayan itu
" Hei!" panggil Simon
pelayan itu pun berbalik dan mendekat tapi karna ada tata krama yang memang biasa dilakukan oleh pelayan ia pun menunduk sebentar dan mengangkat kepalanya
__ADS_1
" ada apa tuan?" tanya pelayan itu
tanpa basa basi Simon menarik tangan pelayan itu ke taman belakang kerajaan bahkan Simon melupakan makanan nya
karna perutnya sangat sakit bahkan ia tidak dapat menahan nya
" lebih baik menusuk pisau ke tangan dari pada datang bulan kepadanya"
Pangeran Alfa
sudah sangat lama ia menunggu Simon untuk datang tapi ia tak kunjung datang kemudian ia memanggil pelayan yang tadi ia suruh manggil Simon
" pelayan!" teriaknya
" ada apa Pangeran?" tanya Pelayan tersebut
" dimana Simon? kenapa lama sekali?" tanya Pangeran
" itu Pangeran tadi tuan Simon sudah selesai dan kemudian saya disuruh keluar olehnya " jelas pelayan tersebut dengan ketakutan
" hmm...baiklah" dengan senyum cerahnya
sesampainya mereka ditaman belakang kerajaan Simon membalikkan badannya dan ia berkata ke pelayan itu
" boleh aku meminta bantuan mu?" tanya Simon
ini lah cara satu satunya agar ia dapat membeli pembalut tanpa harus keluar dari kerajaan
" boleh tuan " jawab pelayan itu
" baiklah siapa namamu?" tanya Simon
" nama saya tuan ...nama saya?" pelayan
" iya nama kamu?" ujar Simon
" nama saya tuan ...nama saya ...Fertya " jawabnya dengan gugup
__ADS_1
" apa saya boleh meminta bantuan mu" Simon
" boleh tuan "
" saya mempunyai rahasia tapi saya ingatkan kalau kamu jangan pernah membuka mulut kepada siapapun bahkan kalau ajalmu mendatang karna walau ajal mu mendatang aku akan menolongmu dari kematian tersebut" jelas Simon dengan yakin
" baik tuan"
" saya harap kamu jangan terkejut" perkataan Simon membuat Fertya bingung kemudian Simon memeluk Fertya ke bagian dadanya
tak lama Simon melepaskan pelukan tersebut
" tuan anda.."
" hmm...sekarang saya boleh meminta bantuan mu?" ucap Simon
" tolong kamu pinjamkan saya pembalut soalnya perut saya sangat sakit " ucap Simon dengan memegang perutnya
" baiklah tuan sekarang taun tunggu disini saya membeli pembalut untuk tuan tapi...."
" tapi apa? kamu gak ada uang " tanya Simon seakan tau apa isi pikiran Fertya
" iya tuan"
" nah!" memberikan 5 koin emas
" tuan ini...."
" sisanya untuk mu..."
" terima kasih tuan"
" sekarang cepat beli sana!" Fertya mengangguk kemudian ia pergi keluar istana untuk membeli pembalut
tak lama kemudian Fertya datang membawa sebuah kantung plastik yang berisi kan pembalut untuk Simon
" terima kasih " ujarnya
__ADS_1
" iya tuan.. kalau begitu tuan saya pamit dulu tuan" ucapnya membungkukkan badan dan pergi
" hng...ternyata kamu polos juga " dan pergi ke kamar nya