
"Kau gila, kau masuk dalam 3 besar, Daniel!" Dani berseru-seru senang, menggoyang-goyangkan bahu Daniel. Kemeriahan menggumpal di langit-langit ruangan ganti.
Daniel hanya menyeringai, lantas kembali fokus pada sarung tangan tinju.
Begitu aturan pemain. Siapa yang kuat, dia akan masuk dalam urutan terkuat, dan sekarang Daniel berada pada urutan ke-3. Itu kabar baik, sebentar lagi peringkat satu dapat di gapainya. Sesuai dengan mimpinya.
Perbedaan si kembar itu bukan hanya kontras pada fisik tubuh, tetapi juga dengan sifat dan tingkah laku. Jika Dalvino sibuk bergulat dengan dunia ilmu pengetahuan dan sastra, maka Daniel lebih bergairah mencari samsak untuk di pukuli, atau bergulat mati-matian demi mendapat penghargaan sebagai petinju terbaik.
"Eh, kau mau minuman berenergi macam apa? Lihat. Aku bawa banyak dalam ranselku" Dani tertawa lebar menunjukan isi dalam ranselnya. Tapi di tolak mentah-mentah oleh Daniel.
"Tak perlu. Kau tinggal semangati aku dari bangku penonton, aku sudah bersemangat". Daniel kembali menyeringai lantas sudah siap dengan sarung tinjunya.
"Siapa lawanmu kali ini? Petinju profesional yang tak terkalahkan itu?" Dani menduga-duga sembari membayangkan petinju-petinju yang tak terkalahkan.
Daniel mengangguk. "Aku sudah siapkan bertarung dengannya selama berbulan-bulan lamanya. Dan sekarang aku sangat antusias untuk melawannya".
"Siapa sih dia? Robin? Matthew? Max?" Dani menyebut-nyebut pegulat yang sesekali terkenal di media sosial. Tentu saja asal menjawab. Dan Daniel menggeleng.
"Kau lihat saja nanti. Aku sudah tak sabar untuk meninju wajahnya seperti ini" Daniel meninju pipi Dani, hanya bercanda sekaligus menguji sarung tinjunya.
"Eh? Aku pikir kau akan benar-benar meninjuku" lelaki itu tertawa.
Selang beberapa menit, pintu ruang ganti di ketuk. Seseorang berseru bahwa pertandingan akan segera di mulai.
Dan tak perlu di teriaki dua kali, Daniel dengan Dani sudah siap, keluar dari ruang ganti dengan semangat tinggi.
Arena pertempuran ramai oleh penonton, sekaligus juri dan para wanita cantik penghibur yang tak luput dari pandangan. Oy! Benar-benar cantik.
Wasit dari Amerika itu berseru, memperkenalkan Daniel pada para penonton, menyambut Daniel dengan meriah. Disitulah Daniel tersenyum lebar, melambaikan tangan pada para penonton. Sungguh sambutan meriah.
Dan Daniel melangkah menuju lingkaran merah terus dengan senyuman merekah di wajahnya.
"Dan inilah sang iblis kematian, yang kalian nantikan kehadirannya. George Johan!!!" Begitu wasit itu selesai berteriak, penantangnya akhirnya berdiri di depan Daniel, dengan raut muka dingin menatap lawannya lamat-lamat. George?
Penonton refleks bertepuk tangan, berseru-seru menyemangati, lebih tertarik pada George ketimbang Daniel, sang juara yang mendapat peringkat 3.
"HABISI DANIEL HINGGA MENGOMPOL, GEORGE!!!" Beberapa dari mereka berteriak, bertepuk tangan lagi, bersorak-sorai gembira.
George tersenyum menawari Daniel berjabat tangan. Tangan besar itu akhirnya di raih oleh Daniel. Mereka akan segera bertempur. Tinggal menunggu lonceng saja.
Wasit berjalan setengah berlari menuju ke arah para petarung, memeriksa sarung tinju, lantas dengan menyeringai memulai pertandingan.
Lonceng sudah berbunyi. Pertandingan ronde pertama sudah di mulai. Daniel mendongak ke atas, ke arah para penonton, mencari-cari Dani yang melambaikan tangan, berteriak menyemangatinya meski suaranya di kalahkan oleh penonton lain.
__ADS_1
Alamakjang! Lawannya ternyata cukup santai, dengan wajah datar memandang Daniel.
Pertarungan sudah genap di mulai. Mula-mula Daniel bersemangat meninju arah dagu, satu hook di berikan untuk George. Namun lawan berkelit, santai tetap pada posisi menghindari hook dari Daniel.
Lelaki itu geram. Baru kali ini mendapati lawan yang santai menghindari hook pertama darinya. Biasanya para penantang berkelit dengan tak henti-henti melawan, mencoba melumpuhkan lawan (meskipun percuma jika melawan Daniel). Tapi yang ini berbeda. George menghindari hook-nya dengan santai.
Daniel. Dia keras kepala, selalu merasa paling hebat dan tak pernah puas. Karena, memang begitu sejatinya manusia, bukan?
Maka lelaki itu tak sabaran, ganti memberikan jab. Yang tetap saja hanya mengenai udara kosong. Berkali-kali Daniel memukul, mencoba melawan, namun percuma. Harga dirinya terluka.
Sepersekian detik, akhirnya cross-nya mengenai lawan. George tak menghindar, seperti pasrah dengan pukulan itu. Tidak. Seharusnya Daniel tak puas hanya dengan itu.
Lelaki itu merangsek, balas memukul Daniel dengan brutal. Berkali-kali, bahkan puluhan kali, tak henti-henti lelaki itu terus memberi pukulan pada lawan.
Habis sudah. Sang juara dengan peringkat 3 itu tersungkur dengan muka benjut. Seluruh badan merah darah, hingga membiru.
Wasit terus menghitung. 1...2...3...
Dan Daniel belum mampu bangun, seluruh tubuh itu terkulai lemah.
4...5...6...7...8...
"AYO DANIEL!!TAKLUKAN SI IBLIS!!" Dani berteriak lebih keras memberi semangat di tengah antusiasme para penonton.
Habis sudah. Semuanya selesai. Si hebat peringkat 3 itu akan segera turun level menuju angka 4 karna kekalahan malam ini. Daniel sama sekali tak peduli dengan luka di sekujur tubuhnya, tak akan. Dia hanya merasa harga dirinya terluka, marah, sedih, entah bagaimana perasaan itu tercampur aduk. Ronde pertama selesai, tapi tak ada niatnya untuk melanjutkan ronde berikutnya. Cukup sudah.
"Hei, jalanmu masih panjang, kawan. Jangan menyerah di jalan" Dani membujuk temannya yang keras kepala. Sama sekali tak di gubris.
Ruang ganti itu rasanya pengap. Seluruh rasa kesal dengan sedih ini bercampur aduk manjadi satu, tak mampu di jelaskan oleh Daniel. Kekalahan ini sama sekali tak dapat di terimanya.
"Wajar saja. Setiap pertarungan itu ada yang menang ada yang kalah." Dani masih tak menyerah. Ayolah...
"Bedebah, George" Daniel mendesah. Rasa putus asa itu mulai terlihat.
¤¤¤
Pukul 12.00, seperti biasa. Kota akan selalu hidup meskipun hari mulai petang. Lampu-lampu seakan tak pernah di matikan, selalu mengisi sunyinya malam. Bulan purnama terus-terusan bersinar, menambah kesan malam kekalahan ini. Namun sayang, lelaki ini sudah putus asa. Hanya karena harga dirinya yang terluka. Pukulan-pukulan dari George sama sekali tak membuat Daniel bergidik ngeri melihat sekujur tubuhnya. Hanya saja dia masih geram, sama sekaki tak puas melihat lawan bisa tertawa puas mendapat kejuaraan malam itu.
Dan turunlah dia dari mobil. Salah satu sedan koleksinya, mungkin sudah lama di belinya.
Daniel menatap langit, melihat rembulan sekian kalinya. Kemudian berjalan pelan dia menuju rumah itu. Rumah di mana dia di besarkan saat pindah ke Jakarta. Jakarta? Sama sekali dia tak ingin tinggal di kota metropolitan itu.
Daniel hanya tak ingin meninggalkan serpihan kenangan masa lalu dari London. Tempatnya di lahirkan, tempat ibunya pula meninggal.
__ADS_1
Maka lelaki itu masuk dari pintu, membuka pintu yang tak di kunci, lantas menutupnya kembali.
"Ah, si jagoan kita sudah kembali" saudaranya, Dalvino menyeringai bertepuk tangan. Itu bukan pujian, itu makian.
Tapi Daniel memilih tak menggubrisnya, meninggalkannya dari ambang pintu. Sekujur tubuh penuh darah itu sekarang terlihat seperti zombie kelaparan. Mengobrak-abrik dapur, mencari makanan apa saja untuk menyumpal mulutnya.
"Sayang, kau telat 15 menit. Makanan sudah habis, sisamu sudah di makan para parasit lapar." Dalvino. Entah dari mana datangnya, kehadiran itu tetap membuat suasana menjadi tak enak. Bedebah. Begitu gerutu saudaranya.
Daniel mendesis, membiarkan Dalvino menginjak-injaknya. Sejatinya, sejak 10 tahun lalu, mereka berdua tak pernah akur meski berstatus saudara kembar. Yang fisiknya hanya di bedakan dengan bentuk mata dan warna rambut.
Awalnya Daniel ingin memukul saudaranya, membuat tubuh yang tak punya insting melawan itu tersungkur, benjut di seluruh tubuh sama persis seperti yang dialaminya sekarang. Terkadang rasa kesal dan kecewa itu dapat di lampiaskan melalui samsak. Caranya sederhana, seseorang harus jadi samsak untuk di pukuli sampai si pemukul merasa puas.
Namun urung, dia lebih memilih diam saja. Tak mendapatkan makanan malam ini? Itu mudah saja, baru pukul 12.00 'kan? Banyak restoran yang masih bersedia melayani pembeli untuk saat ini.
"Berisik!! Tak usah sok jagoan di depanku, bedebah!" Daniel mengumpat. Yang hanya di balas dengan tawa sinis.
"Kalau bukan karena kau, ibu pasti masih bisa memandang rembulan dari balkon, lantas tertawa riang bersamaku, bercanda, berbincang banyak hal padaku. Semua karena kau, yang harus lahir 5 menit setelahku!" Daniel berkata lantang, dengan jari telunjuk yang di arahkan ke dada saudaranya.
"Kalau bukan karena kau ayah tak akan membandingkan diriku denganmu, hanya karena nilai raportmu lebih tinggi dari punyaku. Kalau bukan karena kau, Dalvino, ayah tak akan pernah memutuskan pindah ke Jakarta, lantas meninggalkan serpihan kenangan indah di London. Kota kelahiranku!".
Kemarahan lelaki usia 20 tahun itu membuncah malam ini. Mengalahkan suara-suara serangga di malam hari, menggelegar bagai petir, membuat kegaduhan. Daniel mengeluarkan semua amarahnya, menyalahkan segalanya pada saudaranya.
"Eh? Kau menyalahkanku?! Kau menyalahkan kelahiranku?" Dalvino tak mau kalah, balas membentaknya.
"Tahukah kau dengan garis takdir yang telah di tentukan oleh Tuhan? Mau kau menyalahkan Tuhan karena ibu meninggal saat melahirkan kau dan aku?! Ha?
"Kau ini kuat. Aku akui itu, fisikmu kebal akan apapun, Daniel. Mentalmu, mentalmu juga sekuat baja, tahan banting meski banyak tombak menghajarnya. Namun tahukah kau apa yang kurang dari kesempurnaanmu itu?" Dalvino menghembuskan napas tak beratur.
"Pola pikirmu pendek. Orang sepertimu cenderung selalu menyalahkan hal-hal tak lazim yang menurutmu telah merebut sebagian kebahagiaanmu. Caramu menilai aku dan ayah itu salah, Daniel. Kau pikir kami membencimu? Kau pikir ayah menyesal mempunyai anak semacam kau?
"Tidak, Daniel. Kau salah besar. Coba kau pandang ayah. Begitu tulus mengasah otaknya, mengembangkan pekerjaannya kemudian pindah dari London, terbang ke Jakarta membawa kita berdua di pesawat beberapa tahun lalu. Kau ingat bukan?
"Kau pikir kita pindah ke Jakarta hanya karena ayah tak sanggup tinggal dengan berjuta kenangan di London? Bukan. Bukan karna itu, Daniel. Ayah mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologinya untuk membangung perusahaan yang saat ini di pegang olehnya.
"Dengan cara itu pula ayah bersusah payah untuk menyekolahkan kita, Daniel. Menghidupi kita. Camkan itu. Kau tak sadar, ayah begitu peduli denganmu. Kau pikir mengapa ayah selalu bertindak keras padamu? Itu semua demi kebaikanmu..."
"OMONG KOSONG!!" Daniel menyela, lantas berteriak lebih keras membuat wajah Dalvino mengkerut. Saudaranya ingin melawan dengan kata-kata lagi, namun urung, mulutnya seperti di lem, tak mampu mengucap satu katapun.
Dan Daniel mengangkat tinjunya, menantang saudaranya pula dengan mencengkeram baju tidur warna biru tua itu. Lelaki itu hanya menciut, tak berani berkata-kata.
"Kau ucapkan omong kosongmu itu lagi, maka aku tak segan-segan membuat hidungmu hancur..." Daniel menatap dingin.
Keringat dingin mengucur di seluruh tubuh Dalvino, membuatnya hanya bisa memandang, tak mampu melawan lagi. Tak mampu mengeluarkan kata-kata andalannya.
__ADS_1
Dan akhirnya cengkeraman itu mengendur. Daniel menghela napas pelan. Lantas meninggalkan saudaranya itu sendirian di dapur. Kau mau bilang pada ayah soal ini? Silahkan, aku tak gentar sama sekali. Begitu gerutunya dengan mendelik meninggalkan lelaki itu dari kegelapan malam. Yang hanya di terangi rembulan, karena lampu dapur tidak di hidupkan sedari awal tadi.