Pangeran Turun Tahta

Pangeran Turun Tahta
SERANGAN PERTAMA


__ADS_3

Kereta panjang berbadan besar membelah perbukitan, berjalan semestinya di rel kereta. Sawah-sawah dan bukit-bukit menjadi pemandangan alam yang jamak. Lenguhan kerbau dan kicauan burung terdengar sejauh mata memandang.


Seorang gadis berambut panjang, hitam lebat, dan bergelombang terduduk lemas di salah satu gerbong kereta. Memandang alam hijau nan jauh di sana. Dengan wajah sendu ia terus merapikan rambut dengan jemari.


Gadis usia 18 tahun. Menunggu sesuatu yang tak pasti.


Sebuah buku kecil yang semula di lipat, dia keluarkan. Lantas dengan perlahan menggoreskan tinta ke sebuah kertas.


¤¤¤


Ponsel terus bernyanyi, dengan suara dering yang tak mau berhenti hingga 17-20 menit. Sementara pemiliknya malah asyik bermain busa dan shower di kamar mandi.


Kamar hotel di pagi hari. London lebih indah di waktu seperti ini. Daniel keluar dari kamar mandi, merapikan rambut, tanpa sedikitpun melirik ponselnya.


"Berisik! Astaga, siapa pula yang berani mengangguku, heh?" Daniel menyambar ponsel, mengangkatnya tanpa sekilas melihat nama kontak.


"Ya?!" Wajahnya bersungut-sungut, seakan ingin memangsa si penelepon.


"T-tuan Daniel! S-saya berhasil!" Suara itu. Daniel berpikir sejenak, meneliti. Dan sekarang lelaki itu membelalak terkejut, sama sekali belum menyadari hal yang ganjil. Yang terlintas dalam benaknya hanya: John berkata "berhasil". Itu artinya saham perusahaan dan dokumen-dokumen penting sudah ada di tanganya, bukan?


"K-kau?! Kau John. Eh, maksudku Tuan John konsultan keuangan terhebat itu 'kan?"


John tidak membalas. Dengusan napas beratnya terdengar keras lewat telepon.


"Jo- maksudku Tuan John! Ya! Anda berhasil mendapatkan kertas-kertas bodoh itu dari Pram si bedebah itu?" Daniel menunggu jawaban. "Tuan?!" Lebih keras sekarang memanggil.


"Y-ya! Saya telah dapatkan."


"Kalau begitu, bukankah Anda harus temui kami di hotel?" Daniel memastikan. Dengusan napas berat itu sekarang kedengaran cemas.


"Tuan!" Daniel berseru lagi tidak sabaran. "Apakah koneksi Anda sedang tak baik?"


"Y-ya! Jam dua siang. Aku akan segera datang." Begitu selesai menjawab, telepon di matikan oleh John. Dengusan napas beratnya menghilang seketika.


Daniel menjatuhkan diri di kasur, menghela napas lega, memandang langit-langit kamar hotel. Hotel di London! Si kembar sebelumnya memutuskan untuk tidur satu kamar berdua, terutama dengan Dalvino yang memberi usul. Namun segera di sela oleh Daniel, bilang bahwa dia sudah besar, bukan anak kecil lagi yang takut kegelapan. Tentu jawaban itu di balas tawa oleh Aminah. Dan akhirnya lelaki itu sepakat untuk tidur secara terpisah.


'Bukankah semua ini akan selesai dalam sekejap?' Daniel tersenyum lega. Daniel tahu betul seberapa rindunya dia dengan kota London, kota kelahirannya. Tapi ada yang ganjil. Seolah separuh hatinya yang tertinggal di London adalah sebuah bayangan masa lalu yang memimbulkan luka.


Menghirup udara disini sama saja dengan mengenang masa lalu itu. Seakan masuk dalam bayangan masa lalu.

__ADS_1


Tapi, tunggu! Daniel bangkit dari tidurnya, beranjak berdiri memandang jendela. Sekarang dia tersentak. Hei! Bukankah agak aneh jika John meneleponnya dengan memberitahukan kabar itu. Padahal Aminah lebih dekat dengan John dari pada Daniel. Bukankah harusnya John lebih dulu memberi kabar pada Aminah?


Dan tentu saja yang paling aneh. Dalam waktu semalam, dan semudah itu John berhasil menangani transaksi jual-beli saham itu? Dalam sekejap? Dan siapa pemiliknya? Tentu Pram si manusia bedebah. Dan semudah memotong kuku, John berhasil mengambil alih.


Namun setelah lama berpikir, Daniel akhirnya menyerah, merebahkan tubuhnya kembali ke kasur. Rekayasa! John adalah konsultan keuangan. Dan ilmu ekonomi juga cukup identik dengan rekayasa. Bukankah hanya dengan rekayasa, John dapat mengambil saham perusahaan itu? Lagipula John Mayden adalah konsultan keuangan hebat, dan sudah dua tahun di kenal oleh Aminah.


'Benar. Dengan ini aku bisa kembali ke lingkar tinju'.


Astaga! Club tinju! Bagaimana kabar Dani sekarang? Bahkan sudah berhari-hari atau mungkin sudah seminggu lebih Daniel absen dari tempat itu.


"Kau baik-baik saja, Daniel? Astaga! Dari mana saja kau, tak datang ke sini? Kau tahu? Peringkatmu sekarang sudah turun lagi, buruk sekali." Dani langsung berseru ketus di telepon, membuat Daniel hanya tersenyum getir.


¤¤¤


Kota London semakin panas. Meskipun begitu hawa dinginnya masih terasa jelas.


Matahari bersinat terik, memecingkan mata. Burung-burung merpati warna putih memenuhi jalanan, menyambut siapa saja yang bersuka hati memberi makanan untuk si burung cantik.


Objek wisata kota London selalu hebat, tak pernah bosan meski berkali-kali mengunjungi. Negara yang maju.


Aminah menjabat tangan John, yang sekali lagi membuat Daniel meneguk ludah, khawatir.


"Saya selalu percaya bahwa anda adalah konsultan keuangan yang hebat, Tuan John" Dalvino mengangkat ibu jari, mengapresiasi.


"Sayang, saya tidak bisa berlama-lama disini, karena sejatinya niat saya kesini bukan untuk liburan. Ayah saya sedang sakit. Maka setelah menegosiasi, saya akan segera berpulang ke tanah air, Tuan." Dalvino sopan menambahkan. Sialnya, semua nampak percuma. John terus diam tak mau bicara sedari tadi.


Daniel menengadah, bak seorang penagih hutang yang teguh menghadapi para nasabah bandel. "Cepatlah, bukankah kau tadi bilang sudah berhasil?"


Ragu-ragu John mengambil koper, lantas menepuk-nepuknya. "Di dalam sini, Tuan. Silahkan anda bawa beserta kopernya." Dia menunduk lamat-lamat. Meski badan itu gemetar hebat, namun kakinya tegak dalam melakukannya.


"Nice! Kerja bagus. John. Eh, maksudku, Tuan John."


"Saya permisi," John menggigit bibir, undur diri. Yang segera diiringi dengan senyum Aminah.


"Nah. Semua sudah beres, kau ambil pulang barang bodoh ini. Aku ingin segera pulang." Daniel melempar sembarangan koper, membuat jatuh di tanah. Dalvino hanya menghela napas, selebihnya sudah lega.


"Eh. Minah, kau tidak mau ke Jakarta? Maksudku, sekalian jalan-jalan, atau..."


"Tidak, Mas Dan. Siapa nanti yang jaga Bapak, kalau bukan aku?"

__ADS_1


Daniel mengangguk mengerti, cukup mengiyakan.


¤¤¤


Mobil merapat di bandara. Mereka bersiap pulang, setelah selesai mengurus tiket dan paspor. Sekali lagi Aminah tersenyum melambaikan tangan pada pengemudi taxi. Mengucapkan terimakasih.


Tinggal lima menit menunggu, dan penerbangan dari London-Jakarta segera di mulai. Bandara juga nampak ramai. Dengan wajah-wajah cemas, wajah letih, wajah ceria, bahkan wajah masampun tak luput dari pemandangan.


Si kembar hanya diam tak berkutik. Dalvino menengok jam di pergelengan tangan untuk kesekian kali. Tinggal 4 menit. Dalvino tak sabar untuk menemui Ayah, mengatakan semua kejadian hebat yang terjadi. Dan dia tersenyum lega, mengetahui bahwa sebentar lagi bisa melanjutkan kuliah.


Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Termasuk dengan 4 menit setelah ini. Si kembar, bahkan Aminah sama sekali tak mempersiapkan apapun.


Mereka duduk di bangku pesawat, memandang langit-langit pesawat berbadan besar dengan napas lega.


¤¤¤


Pesawat berhenti di bandara di Jakarta. Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta disingkat SHIA atau Soetta, sebelumnya secara hukum disebut Bandar Udara Cengkareng Jakarta, adalah bandar udara utama yang melayani penerbangan untuk wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.


Namun siapa sangka, dengan kembali ke Jakarta, adalah sama dengan menyerahkan nyawa cuma-cuma dengan pihak berwenang.


Siapa sangka pula, ternyata aparat keamanan telah menunggu kedatangan si kembar, dengan borgol dan pistol yang sudah di siapkan sedari awal.


Daniel tercekat, Dalvino terhenti langkahnya, tak tahu mesti berbuat apa. Bahkan Aminah juga masih belum mengerti apa artinya.


Seorang polisi menembakan peluru ke langit-langit bandara, membuat massa menjadi riuh. Namun segera di amankan dengan aparat kepolisian. Massa di jauhkan, dan Daniel, Dalvino, Aminah segera di borgol.


"Jalan! Bergegas!" Seorang polisi dengan tampang galak menodongkan pistol ke wajah Daniel, membuatnya meringis tertahan.


Aminah hanya terdiam menurut dengan keadaan. Dan Dalvino hendak berteriak kalap, namun bogem mentah menghantam pipi sebelah kanan.


"Ayo! Cepat!" Terlalu, polisi itu kasar menodong punggung Daniel dengan moncong senjata api. Kalau tidak salah jumlah mereka ada sekitar 6-7 orang. Bersenjata lengkap, memakai mobil patroli. Massa kembali riuh, sembari mendokumentasi pemandangan menarik di depannya. Sialan!


"WOI! APA SALAH KAMI?!" Daniel berteriak, tak peduli dengan moncong senjata di punggungnya. "Apa maksus kalian seenaknya menggelandang kami, hah?!"


"DIAM! Kalian telah melakukan pencurian besar dari saham perusahaan besar milik Tuan Pram. Juga dengan dokumen-dokumen penting. Kami memiliki bukti dan tentu tidak sembarangan menangkap orang!" Salah seorang polisi mengangkat koper yang di bawa Dalvino tinggi-tinggi. Keadaan menjadi terbalik. Sialan dengan Pram.


"Bedebah! Aku tidak mencuri. Aku telah membayar si cecunguk itu!" Daniel memberontak, namun segera urunt ketika seorang polisi garang menendang perutnya. Mengisyaratkan untuk diam. Terlalu.


"Siapa yang kau panggil bedebah, hah? Jelas-jelas saham perusahaan dan dokumen itu di ambil paksa dari brankas dalam kantor. Kami bisa periksa semuanya setelah mendapatkan laporan."

__ADS_1


Mereka menggelandang masuk ke dalam mobil patroli. Tak lupa juga dengan moncong senjata yang mengancam.


Mobil melaju deras, membelah kerumunan massa yang ingin tahu, sambil membunyikan sirene yang memekakan telinga. Secepat kilat, bandara Soekarno-Hatta segera di tinggalkan.


__ADS_2