Pangeran Turun Tahta

Pangeran Turun Tahta
SAHAM PERUSAHAAN AYAH


__ADS_3

Jakarta atau Jakarta Raya dulunya di sebut sebagai Sunda Palapa. Jakarta, ibu kota Indonesia termasuk dalam kota terbesar di negara ini. Termasuk kota dengam jumlah penduduk terpadat. Sementara Indonesia, salah satu negara di Asia Tenggara yang bising dan padat jumlah penduduknya.


Kota metropolitan. Sekarang di Jakarta pukul 15.00 atau jam 3 sore. Polusi jahat mencemari udara yang bersih, jalan raya sangat, sangat, sangatlah ramai. Beberapa alat transportasi darat seperti mobil, motor, truk, bus, semuanya tanpa terkecuali memenuhi jalanan di ibu kota. Suara klaksom susul-menyusul, di temani makian kasar dari para pengguna jalan yang tak punya etika.


Jangan tanya berapa suhu disini. Panas? Tentu. Sangatlah gerah. Pohon hijau segar jarang di temui disini. Kanan-kiri sejauh mata memandang hanyalah sebatas trotoar, lampu jalan, atau pedagang asongan, dan para manusia sibuk yang lalu-lalang.


Musim kemarau yang gerah itu sekarang juga di rasakan oleh Tuan Abraham. Keringat deras mengalir bukan karena udara di luar gedung tinggi pencakar langit itu, bukan pula karena cuaca yang gerah ini.


Melainkan berasal dari pria yang duduk di hadapannya. Pengusaha muda pemilik gedung tertinggi di kota ini, pengusaha yang mutlak menjadi pemilik sah salah satu perusahaan tambang di Amerika, dan salah satu pemilik sah dari cabang bank di Indonesia.


Ciri fisiknya? Rambutnya lurus, badannya tinggi dan tak terlalu berisi. Tapi yang paling mengerikan adalah berasal dari tatapannya dan setiap kata yang di ucap olehnya. Licik? Entahlah. Tapi setiap dia mengatakan apa kemauannya, pastilah terwujud, pastilah susah rasanya untuk menolak mentah-mentah.


Berkali-kali Tuan Abraham menelan ludah. Sesekali menyeka dahinya yang basah oleh keringat. Jantungnya berdegup kencang bak di pukul berkali-kali oleh pentungan. Tangannya gemetar, ragu-ragu meraih segelas kopi di meja. Ruang kerjanya terasa sesak, sesak oleh rasa terpojok ini. Sementara, Pram, lelaki di hadapannya itu hanya tersenyum.


"Anda sedang sakit, Tuan Abraham?" Pram masih tersenyum sambil membenahi posisi duduknya. Tuan Abraham buru-buru meletakkan kembali cangkir kopi itu di atas meja, setelah tahu bahwa Pram telah membuat dirinya panik setengah mati. Bahkan cangkir itu sempat bergoyang-goyang waktu di angkat secara perlahan.


"A-ku, aku baik-baik saja. Sehat wal-afiat" Tuan Abraham menjawab kikuk.


"Ngomong-ngomong, usaha anda dalam mengembangkan bisnis ini sangat luar biasa. Padahal publik tahu bahwa anda hanya duda anak dua. Lihat! Saya bahkan kagum dengan isi lantai 20. Para karyawan bilang anda sendiri yang mendesain."


Tuan Abraham tak membalas. Dia sibuk mengusap wajahnya yang kebas. Perasaannya mendadak menjadi buruk. Dia merasa bahwa suatu hal tak terduga akan segera terjadi.


"Tuan..." Sial. Pram mulai lagi! "Anda telah tahu bahwasanya saya adalah pemilik sah dari gedung terbesar di Jakarta. Saya juga pemilik perusahaan hasil tambang di Amerika. Dan pemilik salah satu cabang bank Indonesia."


Dan Tuan Abraham menganggukkan kepala dengan menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya. Tuan Abraham faham betul bahwa Pram akan membuatnya lemah bila kontak mata itu terjadi. Tuan Abraham akan cemas tak karuan.


"Tuan?" Pram menunggu jawaban yang tak lekas terucap.


"Ergh. Ya!"


"Maksud saya, Anda tahu betul saya di percayakan oleh banyak orang. Mau itu ketua partai, ketua parlemen, CEO mungkin, dan lain sebagainya."


"Ya." Lagi-lagi Tuan Abraham mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Keringatnya makin basah. Sementara langit Jakarta makin jingga.


"Tuan, Anda percaya pada saya?"


"Ya."


"Baik. Tuan Abraham yang saya hormati...maka ijinkanlah saya sepenuhnya memiliki perusahaan anda..." Pram menunduk dalam, memejamkan matanya.


Tunggu dulu! Apa?! Sial! Tuan Abraham tercekat, dia berseru tertahan. Maka spontan lelaki usia 60-an itu berdiri dari duduknya di sofa, lantas memberanikan diri menatap wajah lawan bicaranya, Pram.


"APA MAKSUDMU, HEH!?" Tuan Abraham memberontak. Memerah sudah wajahnya karena darah yang menggumpal di ubun-ubun. "Jangan-jangan...jangan-jangan kedatanganmu jauh-jauh kemari untuk..."


Apa yang terjadi? Tuan Abraham mendadak berhenti bicara. Mulutnya rasa terkunci. Ruang kerja itu mendadak hening.


Pram menatap matanya lekat-lekat, seolah tahu betul kelemahan pria di hadapannya. "Ya, Tuan. Saya akan membeli saham perusahaan raksasa anda," katanya mantap.


Tuan Abraham serasa kehabisan akal. Dia sudah terduduk dengan napas yang tak beraturan. Bulu kuduknya pada berdiri, keringat makin deras bagaikan habis mandi tadi.

__ADS_1


"Cukup!! Sahamku tak di jual. Lagi pula perusahaan ini aku kembangkan sendiri, tanpa bantuan pihak manapun".


"Wah! Bukankah lantai 20 itu anda sulap sedemikian rupa supaya bisa sekeren itu, Tuan?"


"Diam. Kau pergi dari sini!! Aku tak menjual saham perusahaanku".


Pram terdiam. Senyumnya menghilang sudah dari wajah itu. Lalu apa? Tentu lelaki itu bersikeras mendapat apa yang dia mau. Soal saham perusahaan ini? Menurutnya gampang saja. Bahkan proses jual beli tanah di luar negeri yang paling rumit, mampu dia selesaikan secepat kilat. Apalagi dengan perusahaan dalam negeri milik lelaki tua ini.


Pram mendesis kecewa. Apalagi dengan napas Tuan Abraham yang tak beraturan macam ini. Betulan membuatnya tak dapat berpikir jernih.


Pram memutar otaknya 360°. Mencari celah, atau cara mendapatkan saham yang tak di jual ini.


Seketika otaknya rasa bersinar, sesuatu sekelibat muncul di otaknya. Apa boleh buat? Cara kotorpun bakal di lakukan olehnya.


Pram beranjak berdiri, memandang Tuan Abraham yang makin panik menjadi-jadi. Lalu? Liciknya dia mengambil pisau buah di meja, mengacungkan pisau itu tinggi-tinggi.


Tak perlu di tanyakan lagi, Tuan Abraham jelas tersontak. Mulutnya terkunci, lantas dia berdiri membeku memandang apa yang di lakukan oleh Pram. Bukan! Pram sama sekali tak berniat mencelakai Tuan Abraham dengan pisau itu. Lalu? Melainkan dirinya.


"Saya akan bunuh diri disini kalau Tuan tidak menyerahkan saham milik Anda" dia bersiap menusuk perutnya. Perlahan-lahan pisau itu di selipkan di sela-sela jas dan kemejanya.


Tuan Abraham berseru tertahan, mencoba memutar otaknya pula. Lagi pula orang bodoh macam apa yang bersikeras mendapatkan gedung perusahaannya, orang bodoh macam mana pula yang berani mempertaruhkan nyawa demi saham perusahaan itu. Tapi Tuan Abraham sekarang hanya terdiam. Benar, lelaki ini bukan sembarang pemilik cabang bank, bukan sembarang pemilik gedung raksasa, dia adalah iblis.


"Tuan. Saya tidak main-main dengan ucapan saya. Saya benar-benar akan bunuh diri disini jika anda tidak menjual saham perusahaan anda kepada saya. Anda paham?!" Pertanyaan itu menusuk, sesekali dia menggoyang-goyangkan pisau sambil tersenyum puas.


¤¤¤


Esok harinya lebih menggemparkan lagi. Tuan Abraham yang sudah tua, dalam usia yang sudah seharusnya beristirahat itu sekarang jatuh sakit. Penyakit jantung.


Namun semua tak akan bisa berubah, perusahaan besar yang di bangung olehnya, yang di kembangkan olehnya sekarang sudah sah menjadi milik orang lain.


Di salah satu ruangan, di sana terbaring tubuh tua yang ringkih. Tuan Abraham. Tubuhnya di lilit oleh selang infus sejak semalam. Putranya, Dalvino sendiri yang membopongnya, lantas membawanya ke rumah sakit sendirian. Daniel? Seperti biasa lelaki itu tak memperdulikan kondisi rumah, apalagi perihal kesehatan ayahnya yang makin menurun.


Bahkan sejak semalam, Tuan Abraham belum sadarkan diri, masih terbading di ranjang dengan di temani oleh beberapa perawat. Mau itu lelaki atau perempuan.


Sekarang jam 1 siang, kota Jakarta tetap seperti biasa. Panas. Entah kapan musim hujan datang dan membungkus seluruh kota dengan tetesan air dari langit.


Dalvino duduk termangu di ruang tunggu, pandangan matanya terarah pada ruangan tempat ayahnya berada. Perasaannya berkecamuk, bingung mesti melakukan apa. Kabar tentang perusahaan milik ayahnya sudah sampai ke telinganya.


Sekarang dia mulai berpikir. Mulai sekarang, akankah dia yang harus meneruskan pekerjaan ayahnya? Tapi bagaimana? Dalvino masih kuliah, sayang rasanya meninggalkan perguruan tingginya. Namun apa boleh buat? Beban seperti ini sudah semestinya di tanggung olehnya. Bagaimana dengan Daniel? Sudah jelas lelaki itu tak akan ikut campur.


Namun siapa sangka, Daniel berjalan setengah berlari menghampiri saudaranya. Dengan wajah babak belur pula. Sementara, saudaranya itu tak mau peduli dengan apa yang dia lakukan sebelumnya. Toh, dia kan pegulat? Palingan juga cuma di pukuli oleh lawannya.


"Dari mana saja, Kau?" Dalvino beranjak berdiri, menatap tubuh tinggi kekar itu lamat-lamat.


Daniel tak memperhatikan, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada ruangan ayahnya.


Dan Daniel mencengkeram kerah baju Dalvino, kasar memelototinya. "Katakan! Apa yang terjadi!?" Dia berteriak kalap, membuat beberapa orang menoleh, sedang mencari keributan macam apa yang terjadi siang ini.


"Kau membuatku malu, lepaskan".

__ADS_1


Cengkeraman itu mengendor, segera dia menghela napas, mencoba memahami situasi.


"Saham perusa-"


"Aku sudah tahu! Katakan siapa dalangnya!" Daniel menyela tak sabaran, raut wajahnya terlihat marah. Apa boleh buat? Dalvino sudah pasti kalah jika harus melawan lelaki ini.


"Pram. Pengusaha pemilik cabang bank dan kalau tidak salah pemilik gedung tertinggi itu".


"Pram?!"


Daniel menyeka dahinya, mencoba berpikir. Pram? Dia tak kenal siapa yang di maksud. Lagi pula Daniel tak mempunyai ketertatikan dengan dunia bisnis, apalagi mencampuri urusan perusahaan ayahnya.


"Sekarang harus bagaimana?" Tanya Daniel.


"Bagaimana? K-kau, eh maksudku kita. Kita harus selamatkan saham perusahaan milik ayah, bukan? Maksudku kita harus mengurus transaksi jual beli semacam itu,"


"Bukankah itu sulit? Aku tak pandai melakukan hal seperti itu."


"Ya. Itu rumit".


Keduanya hanya sedang berada di ambang kecemasan. Apa yang mereka cemaskan? Dalvino; mencemaskan kesehatan ayahnya, mencemaskan perusahaan besar yang di bangun mati-matian oleh ayahnya. Kalau Daniel? Mungkin hanya mencemaskan biaya dan pekerjaan ayahnya.


¤¤¤


2 jam berlalu sudah. Sekarang jam 3 sore. Langit kota Jakarta masih kelihatan panas, beberapa jam lagi sudah berwarna jingga. Senja memang indah, teramat.


Seorang dokter keluar ruangan, tengah membicarakan sesuatu pada Dalvino, sudah jelas berhubungan dengan ayahnya. Sementara Daniel hanya menunggu, menunggu apa dia juga tak yakin. Selebihnya dia bingung, mengapa mendadak mencemaskan sesuatu yang bukan urusannya, sampai-sampai meluncur ke rumah sakit dengan mobilnya. Lantas meninggalkan Dani yang sibuk menceramahinya.


"Apa yang dia katakan?" Daniel menunjuk dokter itu dengan dagunya.


"Ayah sudah siuman, tapi kata dokter kondisinya masih lemah. Ayo masuk! Kita temui ayah".


Daniel juga tak tahu mengapa harus mengikuti Dalvino, lantas masuk dalam ruangan itu. Ayahnya terbaring di ranjang. Infus membungkus badan ringkihnya, betapa menyedihkan melihat perbedaannya sekarang. (Yang biasanya terlihat sumringah, sekarang hanya terbaring lemah).


"Betapa bahagia dapat melihat kedua putraku sekarang..." lelaki usia 60-an itu melirih, diselingi senyuman yang begitu hangat.


"Kondisi Ayah bagaimana?"


"Ayahmu ini baik-baik saja, Vino. Teramat. Apalagi melihat Kau dengan kakakmu tengah bercengkerama," lelaki itu kembali tersenyum. Sayang suaranya parau.


"Bercengkerama? Ini kebetulan, bodoh!" Daniel menggerutu. Kesal.


"Setidaknya kau tak menjadi pengacau, Daniel! Kau tak paham? Ayah baru saja sembuh" Dalvino mendesis, mencoba mengendalikan situasi.


"Hell nah. Sekarang katakan padaku bagaimana dengan gedungmu itu, lelaki ******".


Lihat sendiri dan nilai sendiri bagaimana Daniel mengatakan kata-kata kasar pada ayahnya. Alasan tetaplah pada dendam masa lalunya. Hanya masalah itu melulu. Hanyalah berupa kecemburuannya, merasa ayahnya tak adil, dan serpihan kenangan masa lalu dari London.


"Kau ini, bukankah sudah kubilang, ayah baru saja sembuh!" Sekali lagi Dalvino berseru, bahkan lebih keras. Namun ayahnya mencoba melerai dengan ber-ttsss.

__ADS_1


"Kau tak perlu ikut campur, Daniel. Ayahmu ini bisa mengatasi semuanya..."


¤¤¤


__ADS_2