Pangeran Turun Tahta

Pangeran Turun Tahta
JERUJI BESI


__ADS_3

Gadis dengan rambut hitam panjang bergelombang duduk dengan wajah sendu dan misterius di gerbong makan kereta api. Kereta berbadan besar membelas perbukitan dan sawah-sawah.


Dini hari. Gadis jelita itu memandang jendela dengan perasaan campur aduk. Rayuan pelayan dan godaan para lelaki sama sekali tak dia hiraukan. Pusat perhatiannya hanya satu. Jendela kereta api.


'Akankah kau datang kembali padaku? Tak sampai hati kau menyakiti perasaanku, bukan?' Gadis itu menggores pena ke kertas kosong.


¤¤¤


Salah satu petugas menendang punggung Daniel, membuat lututnya terbentur ke alas sangat keras. Sekarang borgolnya di lepas. Petugas menggiring Daniel dan Dalvino masuk dalam jeruji besi. Hanya tersisa satu sel saja yang kosong.


Dalvino yang terakhir digiring akhirnya jatuh tersungkur dalam sel. Dia meringis kesakitan. Sementara para petugas tertawa keras, membuat suara itu menggema di pantulan langit-langit sel tahanan. Petugas mengunci pintu sel, menyeringai puas seakan berhasil mendapat tangkapan banyak ikan sehabis berjam-jam menunggui kail pancing di sungai.


Ruangan sel terasa pengap. Namun sudah cukup untuk mereka berdua jika tersedia toilet dan kasur (meskipun tidak semewah di hotel London).


Daniel mendengus sebal, menghempaskan badannya ke kasur yang keras. Wajahnya lebam akibat bekas pukulan. Daniel mengutuk petugas bodoh itu dalam hati. Andaikata tidak di ancam dengan moncong senjata, maka tak segan-segan Daniel menghancurkan hidung para petugas bodoh itu.


30 menit yang lalu, petugas sepakat membebaskan Aminah, dengan alasan tidak terbukti bersalah. Maka si kembar hanya tutup mulut. Apapun yang terjadi, gadis itu pastilah dapat membantu banyak. Maka mereka hanya merelakan, seolah Aminah memang tak terlibat.


"Aku butuh cara untuk membebaskan diri." Daniel berkata pelan sambil membelakangi Dalvino yang mematung, memandang kosong jeruji besi. "Aku butuh skenario!"


"Aminah pasti membantu," Dalvino bersuara parau.


"Bodoh! Kalau kau hanya bergantung pada orang lain melulu, maka jangan harapkan keberhasilan! Lagi pula John payah itu... astaga! Pantas saja saham itu cepat di serahkan. Aku sudah curiga sedari awal bahwa John memang mencuri sahamnya. Lantas melarikan diri entah kemana setelah mendapatkan bayaran. Dasar bedebah!"


Dalvino tak berkomentar. Matanya cekung. Rasa putus asa mengambang di langit-langit sel tahanan.


"WOI!! WOI!!" Dalvino berteriak kalap mengguncang jeruji besi. Matanya memerah karena sembab. Tetangga sel mendengus sebal, melontarkan amarah dan kata-kata kasar. Tapi Dalvino tidak peduli. Sepucuk ide melintas di benaknya.


"WOI!! CEPATLAH KALIAN KEMARI! SELAMATKAN AKU!!" Teriakannya makin keras, menggema hingga sampai di telinga para petugas.


"Berisik! Kau sedang memikirkan apa, bodoh?!" Daniel beranjak berdiri. Telinganya sudah kebas. Sama sekali belum paham apapun.


"Sudahlah, Daniel. Kau menurut saja padaku." Dalvino memberi peringatan dengan bisikan. Sementara suara derap sepatu makin terdengar keras. Itu artinya petugas sudah semakin dekat. "WOI! TOLONG AKU!!"


"Hei! Kau sudah gila, apa?" Petugas menatap garang. Dia tidak sendirian, ada empat petugas lain menemani dengan pentungan yang di timang-timang. Seram sekali.


Dalvino menelan ludah, menyeka pelipis yang berkeringat. "Dia, Pak! Dia bawa senapan dan di sembunyikan dalam toilet!" Wajahnya masam, dengus napasnya bahkan tak beraturan. Petugas makin heran saat Dalvino menunjuk Daniel.


"Serius, Pak! Dia mengancamku! Katanya kalau saya melapor, maka tak segan-segan dia memecahkan dan memuncratkan isi dalam kepalaku. Dia akan menembakku, Pak! Selamatkan aku!" Dalvino berteriak kalap mengguncang jeruji besi. Sel tahanan mereka menjadi pusat perhatian bagi para tahanan di penjara.


"Vino! Apa yang Kau katakan, heh?!" Daniel serius mencengkeram kerah baju Daniel. Wajahnya merah padam.


Petugas berdeham, setuju membuka kunci sel tahanan. Tak lupa dengan pentungan yang terus di timang-timang.


"Rus! Kau jaga di depan! Jo, Ari, kalian ikut aku menyelidik ke dalam toilet!" Seorang petugas memberi instruksi pada kawannya, yang segera di balas dengan anggukan mantap.


Tiga petugas beringsut memriksa. Bodoh! Mereka benar-benar percaya dan melakukannya. Sementara yang satunya lagi memandang si kembar dengan wajah garang.

__ADS_1


Daniel masih tidak mengerti, hanya mengernyitkan dahi setelah menerima bahasa isyarat dari Dalvino.


"Ayoh! Pukul sipir itu!" Dalvino berbisik keras yang tentu saja di terima dengan jelas oleh telinga sipir yang menjaga di depannya


Tak perlu di teriaki dua kali. Kalau soal pukul-memukul Daniel jagonya. Gesit Daniel memukul rahang petugas itu. Meraih paksa pentungan dan keras memukulkannya tepat di belakang leher sipir. Petugas itu hilang kesadaran, lemah bagaikan sehelai tisu terjembab di alas sel tahanan. Darah segar mengalir di hidung dan mulut.


Mendengar keributan, petugas lain menghampiri. Terkejut dengan pemandangan di depannya. Mereka sekarang sadar bahwa telah di tipu. Begitu juga dengan Daniel, baru mendapat kesadaran setelah pukulan keras itu telak menghantam rahang salah satu petugas.


"WOII!!" Salah seorang petugas meneriaki. Celananya basah, terkena genangan air di toilet. "Brengsek kalian!"


Tetangga sel berhamburan menggungang jeruji besi dengan tawa keras. Keadaan semakin riuh.


Daniel memukul. Satu lawan tiga sebenarnya tak masalah. Toh, hanya petugas sel tahanan yang payah. Tidak membawa senjata tajam atau pistol, 'kan?


Maka tiga lainnya menyusul dengan tak sadarkan diri. Tergeletak penuh darah mengalir di lantai. Daniel menyeringai, menginjak salah seorang yang menendang punggungnya barusan.


Suara seruan dan tepuk tangan terdengar keras dari tetangga sel tahanan.


"Mau di apakan mereka?" Daniel berhenti menginjak, menoleh pada Dalvino yang pucat pasi.


"A-anu. Aku sih berencana memakai pakaian mereka. Lalu kita kabur pakai mobil patroli di luar." Dalvino kikuk menjawab.


"Ah, bagus. Kau berguna juga. Justru Minah yang butuh bantuan kita, bukan kita yang butuh bantuan Minah."


Daniel kasar melepas seragam itu, gesit memakainya langsung.


"Kau juga pakai!" Daniel melempar sembarangan seragam ke arah saudaranya. "Jangan bengong! Waktu kita terbatas sebelum aparat kepolisian yang bersenjata memindahkan sel buat kita. Ingat! Pram tidak main-main."


"Sekalipun kalian mengadu kejadian ini pada aparat kepolisian, maka ingat! Aku akan datang dengan moncong senjata. Ah, tidak! Dengan boom dan tank sekalian kalau perlu!" Daniel berteriak memperingati para penghuni sel tahanan sambil membenahi posisi topi. Para tahanan tertawa lepas tak peduli.


"Terserahlah, lagipula Daniel yang tak terkalahkan ini tak mungkin tertangkap polisi semudah itu. Kalian dengar?".


Dalvino membenahi posisi topi, gesit mengganti sepatu kets-nya dengan sepatu boots milik sipir.


Daniel menghela napas lega, keluar dari sel tahanan menjijikan itu.


"Sekarang jam berapa?" Dalvino menoleh pada pergelangan tangannya. "Astaga! Sepuluh menit lagi pasukan bersenjata datang, Daniel! Dan tak mungkin mereka tak mengenali wajah kita meskipun sudah menyamar jadi sipir!" Mendadak Dalvino berseru.


"Bagaimana kau tahu?"


"Tentu saja aku tahu. Kita adalah tahanan sementara. Atas tuduhan pencurian saham itu. Menurut mereka itu adalah pencurian besar, dan kita pantas mendapat pidana oleh jaksa hukum nanti."


Daniel mengangguk seolah-olah mengerti.


"Sipir tak punya rokok? Aku rasa mereka punya beberapa di laci." Daniel mengobrak-abrik isi laci di meja jaga. Justru yang di temukan hanya beberapa lembar kertas dan alat tulis.


"Astaga! Cepat telpon Aminah, dan segera bawa mobil patrolinya!" Dalvino panik.

__ADS_1


"Ya, ya sabar. Aku sedang mencari telepon. Ah, ini dia!"


Waktu terus berjalan, hanya tinggal 5 menit dan si kembar gesit berlarian menuju halaman kantor.


Sebuh mobil patroli dengan logo polisi terparkir rapi. Daniel celingak-celinguk menjejali tempat, memastikan tak ada seorangpun yang tahu.


Daniel menginjak pedal gas, sebelum Dalvino siap membenahi tempat duduknya. Mobil meluncur deras membelah malam yang lengang.


"ASTAGA!! AKU BELUM MAU MATI! AKU BELUM KAWIN!" Dalvino berteriak kalap. Tangannya mencengkeram bangku mobil, menutup mata.


"Berisik! Kau tak perlu panik, bodoh. Sekarang kita lewan mana? Aku tak mau berpapasan dengan bedebah itu."


"Pokoknya kalau ada perempatan kita belok ke kanan. Setelah itu lurus terus hingga menemukan pertigaan dan belok kiri." Dalvino masih tak mau membuka mata.


"Perempatan? Maksudmu yang ada warung sotonya itu?"


"A-pa?"


"Warung soto. Di kiri jalan ada warung soto! Aku rasa perempatan sudah lewat." Daniel berseru keras.


"KAU GILA, DANIEL!! LEWAT ARAH MANA, KAU?!" Dalvino membuka mata, panik menatap jalan.


"Aku lurus terus."


"Astaga! Kita salah jalan. Payah. Mau tak mau kita akan bertemu dengan petugas bersenjata. Pelankan laju mobilnya, cepat!"


Daniel menurut.


"Astaga, mereka sebentar lagi menemukan kita!"


"Berisik! Kita tinggal mendrama saja, beres 'kan?"


Hanya soal waktu, dan mobil petugas bersenjata benar-benar berhenti. Si pengemudi melambaikan tangan, memberi isyarat untuk berhenti. Daniel menurut, menelan ludah. Kalau harus melawan pistol sudah beda lagi ceritanya.


"Loh, Rus, Ari. Eh, bukan. Rus, Jo. 'Kok kalian disini? Bukankah ada tahanan sementara?" Seorang komandan brimob melepas helm tertutup, memandang si kembar dengan heran. Kabar baiknya, mereka masih belum mengenali wajah-wajah itu.


Si kembar terus membungkam mulut. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir.


"Rus? Jo? Jam jaga belum kelar, lo. Masa' mau pulang sekarang?" Komandan brimob terus mendesak.


"Woi! Cepatlah!" Seorang petugas lain berteriak kencang mengalahi suara sirene mobil polisi. Komandan brimob melambaikan tangan.


Komandan brimob melipat dahi, merasa ada yang ganjil. Komandan menyelidik, celingak-celinguk memeriksa si kembar.


"Ada yang aneh. Tunjukan kartu tanda pengenal, Rus, Jo!"


Tanda pengenal? Daniel meraba-raba saku seragam sipir, mencari-cari. Uang, nomor telepon, bolpoin. Hanya itu yang di temukan. Astaga! Dimana kartu tanda pengenal itu?

__ADS_1


"Rus?" Komandan brimob makin heran melihat kelakuan Daniel.


"Ah, aku rasa aku lupa membawanya..." Eh! Tunggu. Daniel tercekat. Bukankah, suaranya akan terdengar berbeda? Gawat. Bisa carut-marut semuanya kalau Komandan tahu siapa sebenarnya Daniel.


__ADS_2