
Pick-up meluncur melewati jembatan Suramadu, amat indah di malam hari. Tak kalah indahnya kala siang hari. Surabaya memanglah kota fantastis di Jawa Timur. Semua menjanjikan, semua tempat di Indonesia, meskipun hanya gang sempit-pun, tak ada buruknya sama sekali.
Jalanan kota ramai sekali. Pedagang asongan berjejeran rapi. Makanan tersaji di banyak tempat, membuat aromanya menyeruak hidung. Meski tercampur dengan aneka ragam makanan, tetaplah aromanya kelihatan lezat.
Meski berdempet-dempetan di pick-up, sepertinya Daniel tak susah untuk tidur. Hampir di setiap perjalanan Jakarta-Surabaya dihabiskannya dengan tertidur. Tapi nampaknya itu kabar baik untuk Dalvino. Adalah; dia tak perlu susah-payah menangani omelan saudaranya.
Selang dua jam kemudian, pick-up melambat dan berhenti di pekarangan rumah. Eh? Ini tahun berapa? Model rumah masih sangat tradisional, nyaris seperti di film-film klasik. Penerangan lampu redup, sangkar burung tergantung di teras, meja dengan taplak motif batik. Dan tentunya model rumah tahun 80' an. Ini fantastis.
"Assalamu'alaikum..." Pak Aji memberi salam. Mencari siapapun di dalam.
Pak Aji asli orang Surabaya. Tinggal di dekat sini. Ayah sengaja melibatsertakannya karena posisinya dalam masalah bisnis dapat membantu. Terlepas dari itu semua, Pak Aji ringan tangan. Senang sekali membantu orang, dan juga yang paling menyenangkan adalah sikap ramah-tamahnya. Sayang terkadang dia agak keras kepala.
"Waalaikumsalam. Aji? Masya Allah, ko ndih kowe kih?" Seorang lelaki tersenyum hangat menyambut Pak Aji. Jujur saja, beradaptasi di Surabaya agak menyulitkan si kembar. Apalagi dengan sedikit perbedaan budaya.
Daniel melipat dahi, selebihnya tak peduli dengan pemandangan dua lelaki seumuran sedang berpelukan di depannya.
"Mereka orang Jakarta. Putranya Abraham..." Pak Aji berbisik pelan (meskipun dapat juga di dengar dari jauh). Meski begitu, dua lelaki ini tetap ramah.
"Bagaimana keadaan ayahmu, le?" Tuan rumah bertanya, takzim melihat kedatangan tamunya.
"Kondisi Ayah mulai membaik, Pak. Mungkin besok di perbolehkan untuk pulang ke rumah" Dalvino menunduk dalam, memberi hormat pada lawan bicaranya. Kemudian kembalilah sia berdiri tegap, menoleh pada Daniel. "Peraturan ketiga, kita harus tetap sopan kepada siapapun, dimanapun berada. Karena etika itu lebih penting, lebih di butuhkan dari pada fisik yang kuat dan tampang yang ganteng misalnya. Haha".
"Berisik. Kau menghinaku?!" Daniel membantah.
"Eh? Aku 'kan hanya bercanda, kau sensitif sekali,"
"Bedebah! Kau ini selalu menyebalkan, Vino!" Daniel kembali. Atau dia mulai melanggar "aturan pertama". Daniel mencengkeram kerah baju Dalvino, membuatnya sedikit terangkat.
Tuan rumah (Pak Abdul) dan Pak Aji lantas menoleh, berhenti berpelukan. Ada-ada saja kelakuan si kembar.
"Ada masalah opo to le?" Pak Abdul menghampiri, melerai dengan menyentuh lengan Daniel. Sial. Daniel melepaskan cengkeraman, memandang saudaranya dengan bersungut-sungut.
"Kalau ada masalah, nanti di selesaikan baik-baik. Moso' yo saudara sendiri bermusuhan. Yo wis, masuk dulu ke dalam. Nanti putriku bikin teh hangat."
Ruang tamu lengang, menyisakan suara televisi dari ruang dalam. Bagian dalam rumah klasik ini bahkan lebih nyaman, membuat siapapun yang masuk seolah-olah kembali pada era 80' an. Sederhana nan nyaman.
Si kembar terdiam cukup lama, enggan dengan kejadian memalukan barusan.
"Ini Abdul, teman masa kecil ayah kalian. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu, ya? Aku juga sama. Sibuk dengan pekerjaanku mengantar karung-karung berat." Pak Aji takzim menjelaskan.
__ADS_1
"Berhubung kalian lahir bukan di tanah air, sejak masih kecil Abdul tak pernah lihat wujud jabang bayi yang lahir di negri orang itu. Astaga! Jauh sekali jarak yang perlu di tempuh. Belum lagi biayanya."
"Berisik. Sekarang apa yang harus aku lakukan di tempat antah berantah ini?" Daniel menyeletuk sembarangan. Menyebalkan! Tak bisakah sehari saja dia menjaga kesopanan? Mau di taruh di mana muka saudaranya untuk sekarang ini? Datang dengan niat meminta bantuan pada sohib masa kecil Ayah, malah sekarang amanah itu harus raib.
Di luar dugaan. Pak Abdul justru tersenyum hangat. Nampak sekali lipatan di wajahnya karena faktor usia. Rambutnya juga sudah beruban, hanya saja sebagian di tutupi peci.
"Memalukan," Dalvino mendesis sebal. "Maafkan dia, Pak. Bukan maksut saya untuk membawa orang aneh ini. Tapi keberadaan saya disini hanya untuk mewakili Ayah, menyampaikan kabar buruk dari perusahaan Ayah."
Pak Abdul melipat wajahnya, lamat-lamat menatap Dalvino.
"Ayah tidak mau bercerita soal bagaimana proses transaksi jual-beli saham itu lebih lanjut. Yang saya tahu, saham perusahaan milik Ayah, bahkan hingga gedung itu sendiri sekarang sudah mutlak jadi milik seseorang. Namanya...eh.. Pram!" Dalvino menjelaskan.
"Jadi mau minta bantuan bagaimana, le?" Pak Abdul tersenyum kembali.
"Eh..anu, Ayah bilang putri anda bisa membantu. Jadi apakah saya bisa bicara dengan Aminah?"
Pak Abdul mengangguk. Kabar baik! Tapi, "sudah malam. Aminah sudah istirahat. Kalian menginaplah dahulu. Ada satu kamar kosong. Besok kita bahas lagi. Nah, Aji, kau pulanglah. Istri dan anak Kau sudah menunggu pastinya".
Pak Aji mengangguk, lantas minta ijin pulang dahulu.
"Maksud kau, aku harus tidur seranjang dengan bocah ini?!" Daniel menunjuk saudaranya dengan jempol tangan. "Ayolah, aku jauh-jauh datang kemari dan hal sial selalu menimpaku?"
Astaga. Daniel mendengus sebal memaki dalam hati.
¤¤¤
Esok paginya setelah sarapan, Daniel memutuskan berjalan-jalan sebentar, keliling kompleks menjejali semua pemandangan di desa ini. Dengan meminjam sepeda gunung milik tetangga Pak Abdul.
Gang disini betulan ramai. Banyak sekali aktivitas. Contohnya ketika pagi hari, gerobak sayur dengan penjualnya yang keras-keras memencet klakson, membuat ibu-ibu komplek berbondong-bondong datang lantas saling tawar menawar.
Si penjual suka sekali memprovokasi. "Ini udang segar, Bu. Menangkapnya sesulit menangkap belut!" Atau "ini sayuran di tanam dengan pupuk terbaik, Bu!"
Daniel menyeringai. Ada-ada saja kelakuan masyarakat di daerah ini.
Sepeda terus di kayuh, bosan dia terus berada dalam rumah itu. Peduli setan dengan saham itu, bukan? Lagi pula Ayah selalu menyusahkannya. Bahkan Pak Abdul bilang putrinya sudah pergi sebelum si kembar bangun, ada urusan mendadak katanya. Kelihatan sekali kalau orangnya tidak bertanggung jawab.
Makin lama Daniel berpikiran negatif, maka makin cepat sepeda itu berjalan. Entah sekarang berada dimana, mungkin sudah keluar dari gang sempit sialan itu.
Hingga akhirnya tanpa sadar Daniel menabrak seseorang. Sialan! Ada-ada saja.
__ADS_1
"Astaga! Aku minta maaf," orang itu menunduk dalam. Eh? Seorang gadis? Tasnya jatuh, buku-buku kecil dan alat tulis berceceran.
Kalau seorang pria, mungkin saja Daniel tidak peduli, justru malah memukulinya karena sudah menghalangi jalan. Tapi kalau seorang gadis seperti ini, mana mungkin!
"Eh? Tidak. Aku yang minta maaf!" Daniel tergopoh-gopoh turun dari sepeda, lantas memungut buku-buku dan alat tulis.
"Kau tak apa? Maaf aku tadi melamun."
Astaga! Dia mendongak, memandang wajah Daniel! Hei! Skenario indah macam ini? Daniel meneguk ludah, baru sadar ada gadis secantik ini di Surabaya. Nice! Tidak akan menyesal kalau harus tinggal disini.
"Kau tak apa?" Daniel mengulang pertanyaannya. Lantas memberikan barang-barangnya. "Maaf. A-aku antar kau pulang,"
"Tidak perlu, Mas... saya bisa pulang sendiri" dia menolak hanya meninggalkan tempat dengan anggun. Daniel hanya diam menatap punggung gadis itu yang kian lama semakin menghilang. Aduh, ibu. Mimpi apa semalam hingga di tatap gadis secantik itu?
¤¤¤
"Wis, wis. Kalau menyewa sepeda orang minimal bayar. Mana sudah tergores sepeda gunung ini." Tetangga Pak Abdul, pemilik sepeda mengomel memaki-maki Daniel.
"Berisik. Aku sudah bilang kalau uangku ketinggalan, tua bangka!" Daniel tak mau kalah balas memaki.
"Halah. Bilang saja tidak punya uang. Sok-sok an mau menyewa sepeda orang lagi. Huh! Dasar kere!"
Daniel menghela napas. Setidaknya paman itu tidak berontak, dengan alasan mau melapor pada Pak Abdul, atau paling parah adalah lapor hansip yang sering jaga di pos ronda. Bisa di taruh di mana mukanya?
Sepanjang perjalanan wajahnya lesu, selebihnya sibuk memikirkan wajah gadis tadi. Ya Tuhan. Bukankah dia tak pernah jatuh cinta sebelumnya? Apalagi ini cinta pandangan pertama, bukan? Walaupun berkali-kali memaksakan diri membaca buku roman, tapi tetap tak membuahkan hasil. Yang ada Daniel menahan rasa muaknya, lantas membuang buku itu.
Tetangga di sini lebih menyebalkan dari para kolega yang sering menyambut Ayah. Daniel mendengus, membuka pintu Pak Abdul dengan perlahan.
Disitu Danie terkejut, reflek mencari pegangan. Ya Tuhan. Apa ini jodoh? Gadis itu berdiri tepat di hadapannya memandangnya dengan heran. Tidak. Otaknya tak mampu berpikir cepat di situasi macam ini. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Mas mencari siapa?" Gadis itu melipat dahi.
"Eh? K-kau yang tadi, bukan? Kenapa bisa ada disini" kikuk Daniel menjawab melepaskan pegangannya di kursi teras.
"Mas lucu sekali. Saya pemilik rumah ini"
"Eh!? Kau!? Bagaimana mungkin. Bukankah Dalvino ada disini dengan tuan rumah, heh? Kau jangan bercanda. Seram sekali bisa disini secara tiba-tiba."
Gadis itu malah tertawa, merapikan anak rambut, kemudian menjelaskan semuanya. Aminah. Ternyata putri Pak Abdul. Daniel sedikit menyesal mengatainya kurang bertanggung jawab tadi.
__ADS_1