Pangeran Turun Tahta

Pangeran Turun Tahta
BRITANIA RAYA!


__ADS_3

Kondisi makin memburuk ketika dua hari di Surabaya. Ayah yang sejatinya sudah hampir baikan mendadak jatuh pingsan di anak tangga. Beruntungnya petugas kebun menemukan, lantas membopongnya ke rumah sakit terdekat. Ruang yang sama. Dokter yang sama. Bahkan penyakit yang sama.


Kabar burung dari Jakarta! Pram benar-benar bergelimpang harta, berpesta pora di tengah bencana orang lain. Pram sukses besar. Perusahaan yang baru saja di belinya, sukses berkali-kali lipat ketimbang jumlah harga atas jasa tukar saham perusahaan dan dokumen-dokumen penting milik Tuan Abraham. Kabarnya banyak investor dari luar negeri. Mengingat dengan kesuksesannya sebagai pemilik bank swasta dan perusahaan tambang milik Pram.


Usia Pram adalah 34. Dimana usia yang masih terbilang cukup muda bagi para pembisnis. Pria dengan jas dan dasi yang bersetrika dan rapi. Prestasinya sudah tak dapat di ragukan lagi. Sekedar menatap matanya saja, maka buyar sudah semua ide brilian yang selama beberapa menit lalu terselubung dalam pikir.


Dalam kondisini seperti ini, si kembar memutuskan tinggal di kediaman Pak Abdul selama beberapa hari. Merencanakan banyak hal. Dalvino tentu khawatir dengan kondisi ayahnya yang makin memburuk. Namun selagi ada tukang kebun dan bibi yang telaten, maka sudah pas untuk di percaya.


Maka si kembar tegaskan bahwa: Saham perusahaan dan dokumen-dokumen penting milik Tuan Abraham, adalah 100% di curi oleh pengusaha muda, Pram.


Sekarang dengan Aminah, setelah seharian penuh berdiskusi. Pram memanglah tak mudah untuk di lawan. Dengan maksud, melakukan transaksi jual-beli. Meskipun mengundang konsultan keuangan ternama-pun, alangkah sangat sulit untuk mengambil alih saham itu kembali.


Sulit juga bari Pram untuk melepaskan 'beberapa lembar kertas berharga' itu. Apalagi sosok Pram bukanlah pengusaha amatiran meski usianya terbilang cukup muda. Pram sudah banyak menghadiri acara-acara penting dengan banyak kolega bisnis. Konferensi pers misalnya.


***


Aminah mendekat ke layar komputer. Tangannya tak henti memencet-mencet keyboard. Nampaknya sangat fokus, sekali-kali meneguk susu hangat di gelas.


"Kalian pilih ke London atau Singapura?" Aminah memalingkan muka, dengan menatap si kembar yang duduk 'anteng' di sofa.


"Aduh. Tak perlu di tanya, tentu aku ingin ke London. Kau juga ikut, Minah?" Daniel menyeletuk dengan muka berseri-seri. Dibalas dengan lambaian dan senyum dari Aminah.


"Kita tidak sedang liburan, Mas Dan. Kita akan berusaha mencari seseorang untuk membantu transaksi jual-beli ini."


Peduli setan. Daniel hanya terdiam. Seketika sebal mengingat kondisi perusahaan yang sudah terbalik itu.


"Eh? Memangnya siapa? Konsultan keuangan? Atau investor? Atau kita mau melakukan aksi pencurian?" Dalvino menyelidik.


"Konsultan keuangan, Tuan John Mayden. Aku sudah kenal beliau sejak dua tahun lalu. Siapa tahu beliau dapat membantu."

__ADS_1


Dalvino mengangguk setuju. Selebihnya bersiap dengan pergi ke Inggris. Aduh, betapa rindu dengan kota London.


"Jadi kapan kita ke London?"


"Sementara aku proses tiket dan paspor. Setelah itu tentu meminta ijin dari Bapak. Kalau bisa, secepatnya kita pergi ke London."


***


Sekitar 17 jam 15 menit pesawat berbadan besar terbang dengan pilot yang terampil. Pramugari manis dengan senyum hangat menawarkan makanan pada para penumpang.


Mereka merapat di London Heathrow. Pesawat berbadan besar itu berhenti dengan anggun, pesawat run away.


"Hei! Kira-kira rumah lama kita sekarang bagaimana bentuknya?" Daniel berbisik tepat di telinga Dalvino. Posisi mereka tepat berada di belakang Aminah. Sementara gadis itu anggun memimpin.


Sambil melihat-lihat jam, dengan cepat taxi berhenti. Pengemudinya melambaikan tangan, siap memberi tumpangan.


Taxi merapat di depan rumah besar. Mereka bertatapan satu sama lain, terkesima dengan pemandangan yang menyambut ini. London memang hebat! Britania Raya sangat keren!


"Sama-sama nona cantik..." pengemudi taxi melambaikan tangan, berbicara dengan aksen british. Sementara Aminah hanya tersenyum pendek. Gadis itu terampil dan berprestasi. Mampu menguasai banyak bahasa. Misalnya Inggris, Jepang, Jawa, Melayu, dan banyak lagi.


"Aduh, jadi ini tempat kediaman Tuan John?" Dalvino merapat. Yang segera di balas dengan anggukan Aminah.


"Nah. Ingat, Mas Dan. Kita enggak sedang liburan, ya?" Aminah mengingatkan dengan senyumnya (yang candu).


"Aminah! Aku sudah lama menunggu kunjunganmu!" Tuan rumah, atau si John konsultan keuangan itu menyalami tangan Aminah. Daniel menyeka pelipis, agak ngeri karena merasa iri. 'Semudah itu lelaki itu menyalami tangan lembut Aminah, menyalaminya secara langsung'.


"Nah kalian, masuklah, ayo!" John mempersilahkan mereka. Meninggalkan ruang tamu sebentar, kemudian kembali lagi dalam lima menit. Minuman dan biskuit sudah tersaji rapi di meja ruang tamu.


John selalu berpakaian sederhana, meskipun kelihatannya sangat mewah. Lelaki usia 40-an ini cukup ramah, dengan senyum mengambang kala menceritakan sesuatu. Lima belas menit mereka berbincang, basa-basi sederhana.

__ADS_1


"Mengerikan. Sejujurnya aku juga mengenal Pram itu. Pengusaha hebat yang mampu 'mengendalikan'." John berkomentar setelah sekian lama terdiam mendengarkan cerita dari Dalvino secara seksama.


"Maka dari itu, kami akan sangat senang apabila Tuan mampu membantu." Aminah balas prihatin.


Sejak dua tahun lalu, Aminah dekat dengan John Mayden. Tahun lalu dia kuliah di Inggris, menimba ilmu dengan cakap dan terampil, hingga akhirnya bertemu dengan John Mayden, seorang berbakat yang ia kagumi sejak dua tahun lalu.


"Tentu aku akan membantu transaksi jual-beli itu, Aminah."


***


London! Ibukota Inggris, kota metropolitan di Britania Raya. Pernah di juluki sebagai the smoke, karena kabut asap terparah yang terjadi pada tahun 1952.


Langit malam di London sungguh indah. Hari ini musim dingin, sepanjang perjalanan orang-orang memakai baju tebal, dengan sarung tangan dan syal. Mengepulah asap, ketika seorang tengah membuka mulut.


Restoran cepat saji, dengan penerangan yang indah menjadi objek pertama yang si kembar dan Aminah kunjungi.


Namun tak seperti biasa, Daniel hanya diam. Tak berapi-api dan banyak mengeluh seperti biasa. Lelaki itu hanya memandang pemandangan di luar dari jendela restoran. Sesekali mengusap telapak tangan yang menggigil.


"Aduh, Mas Dan. Sejujurnya lidahku lebih cocok dengan makanan asli Surabaya. Kalau dingin-dingin begini enaknya makan soto madura. Apalagi kalau makan di angkringan. Aduh, hangatnya," Aminah tertawa.


"Mungkin kau benar." Daniel hanya memalingkan muka, tak berselera menyantap hidangan di depannya.


"Kau tak seperti biasa. Ayolah, setelah semuanya beres kau bisa makan sup iga di resto 'Mama Zen'. Kalau perlu kutraktir kau" Dalvino menyikut lengan Daniel. Sementata pandangannya tetap di jendela.


Jadi apa boleh buat? Perut yan keroncongan tengah meronta-ronta minta segera diisi. Perjalanan jauh dari Surabaya-London. Kemudian berputar-putar mencari tempat makan yang pas. Dan akhirnya mereka bisa menyantap makanan cepat saji.


Daniel tercenung. Sudah lebih dari 9 tahun dia meninggalkan kota kelahirannya, London. Meski tak pernah mendengar langsung suara ibunya, hanya sekedar menatap foto dengan bingkai motif bunga-bunga di dinding, namun rasa rindu itu menggebu-gebu.


Daniel merindukan masa lalunya. Merindukan ibunya, meski tak pernah bertemu langsung. Menurutnya London menyimpan banyak kenangan, banyak cerita. Hingga akhirnya dia membenci Dalvino, hanya karena rasa iri dan persetujuan perpindahan mereka dari London ke Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2