
Rumah besar dengan halaman seluas lapangan itu sekarang lengang. Hanya suara air gemericik yang terdengar. Daniel mencuci piring (sebuah kebiasaan yang tak pernah ia lakukan). Namun apa boleh buat? Dalvino sibuk menunggu ayahnya di rumah sakit. Hanya beberapa kali kembali ke rumah untuk mengambil baju ganti dan barang-barang lain yang sekiranya penting.
Maka malam itu Daniel menghela napas. Mengapa sekarang dia harus mencemaskan ayahnya? Setelah bertahun-tahun lamanya dia tak peduli dengan perusahaan itu. Kalaupun sudah tak ada selembarpun uang, Daniel serba bisa. Fisiknya menguntungkannya.
Malam itu...rembulan indah, ya? Pasti lebih indah kalau ada ibu yang menemani.
¤¤¤
"Kau serius meninggalkan kelas?" Tuan Abraham duduk bersender di bantal yang empuk.
"Ya, Ayah. Tak apa. Ayah jangan sesekali khawatirkan aku. Eh, maksudku aku dan Daniel."
"Ayahmu ini justru senang jika kedua putranya optimal dalam merawat orang tua ringkih ini. Mungkin, tak apalah jika sesekali harus sakit" terkekeh.
Optimal? Apanya yang optimal? Justru hanya Dalvino yang siang-malam berjaga, ikhlas bolak-balik naik taxi menuju rumah lantas mengambil pakaian ganti ayahnya. Sekarang dia agak sebal. Tapi mana mungkin harus menunjukan wajah kesalnya pada ayahnya untuk sekarang ini. Nampaknya, ayahnya juga tak terlalu keberatan jika Daniel memanggilnya dengan kata-kata kasar.
"Janganlah kau bolos, Vino. Untuk sekarang hanya Kau yang mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin lain kali Daniel mau, sungguh aku tak sabar untuk melihat kalian berdua wisuda."
Dalvino hanya tersenyum getir. Akankah itu terjadi? Padahal mereka berdua saja tak akur, meskipun bersaudara kembar.
Sore hari. Senja. Langit sepenuhnya berwarna jingga, berselaput awan yang nampaknya selembut kapas. Burung-burung berkicau, terbang membentuk formasi nan indah hendak beristirahat. Kota Jakarta masihlah ramai (tentunya).
Restoran Mama Zen. Sebuah resto makan yang buka dari jam 6 pagi hingga jam 12 malam. Para pelayannya ramah. Kokinya mahir memasak, nyaris tak ada menu yang membosankan. Meski di coba berkali-kali, rasa masakannya tetaplah enak. Apalagi dengan sup iga hangat, sungguh pas dinikmati waktu hujan deras. Alangkah menyenangkan walau hanya membayangkan.
Tapi si kembar benar-benar makan di sana. Daniel dan Dalvino. Sekelibat masa lalu mulai terbayangkan.
Saat mereka masih anak-anak, Tuan Abraham sering mengajak dua putranya makan di resto Mama Zen. Sampai-sampai, si pemilik resto tak akan lupa dengan si kembar meski sekarang sudah menginjak masa remaja.
Sore itu, Dalvino sendiri yang mengajak saudaranya makan bersama. Bukan sembarang mencicipi masakan dari resto Mama Zen, namun ada hal penting yang perlu di sampaikan.
"Kau tak mau menanyakan kondisi ayah?" Dalvino membenahi posisi duduknya. Namun saudaranya hanya menggeleng.
"Terserah. Tapi ayah meminta kita melakukan sesuatu untuk melancarkan jual-beli saham tersebut. Atau...menurutku itu bukan transaksi jual-beli sih, selama salah satu pihak memaksa. Itu lebih ke pencurian. Ya, kan?" Dalvino menjelaskan sebegitunya.
"Entah." Jawaban Daniel singkat. Ayolah, sup iga dari resto Mama Zen membuatnya hanya fokus pada sup hangat itu.
"Ayah memberiku alamat kenalannya. Kita ke Surabaya naik kereta api,"
"Kereta api katamu?!"
"Ya."
__ADS_1
"Surabaya?!"
"Ya."
Daniel hampir tersedak, secepat kilat menyambar segelas minuman. Hei! Surabaya? Bukannya kurang pergaulan dan tak punya wawasan luas. Tapi jika harus pergi ke Surabaya, Daniel mungkin agak merasa enggan.
"Kenapa harus Surabaya? Memangnya apa yang akan kau lakukan, heh?" Daniel menunjuk dada Dalvino dengan telunjuk.
"Aku 'kan sudah bilang? Ayah ada urusan dengan seorang kenalannya di Surabaya, berhubungan Ayah tak dapat menemui dengan keadaan seperti ini, jadilah kita yang mewakili".
"Dasar lelaki ******. Senang sekali menyusahkan orang lain".
¤¤¤
"Kau jangan menyusahkanku kali ini, Daniel! Kita akan terlambat kalau tak bergegas!" Dalvino berteriak menggedor-gedor pintu kamar. Hei! Sejak kapan dia bangun di jam sepagi ini?
Ayah belum di perbolehkan pulang, meskipun berkali-kali meyakinkan perawat bahwa kondisinya sudah mulai membaik. Badannya sudah tak terlalu lemas, cahaya matahari pagi sangat membantu. Dengan keadaan seperti itu, Dalvino memutuskan menitipkan Ayah pada orang lain. Orang kepercayaan, dalam sejenak saja. Hingga urusan dengan kota Surabaya selesai.
Selang beberapa menit pintu di buka dari dalam. Daniel mengucek mata, menguap. Astaga! Mana ada orang tidur tanpa pakai kaus? Apa tidak dingin?
"Ayolah, Daniel! Cepat mandi sana, tak usah sarapan. Kau lambat!"
"Berisik! Karenamu dan lelaki ****** itu aku tak dapat mengikuti club tinju hari ini. Dasar menyusahkan,"
¤¤¤
Kereta api Jakarta-Surabaya berjalan cepat, mengepulkan asap tebal di atasnya. Kereta berhenti di stasiun, mengangkat massa. Orang-orang membawa barang seperti sayur-sayuran, kardus-kardus besar, hingga membawa sanak familinya.
Tak ada topik percakapan di antara si kembar. Hanya suara tawa, candaan anak-anak, hingga suara orang mengomel yang terdengar jelas. Beberapa orang menyempatkan untuk beristirahat. Daniel menatap jendela kereta, mengetuk-ngetuk kaca itu. Sesekali bergumam 'seberapa keras jendela kereta?' Kemudian perhatiannya terarah pada kapak di dalam kaca. Menyeringai setelahnya. "Lihat! Ada kapak di dalam kaca untuk memecahkan kaca" Daniel terkekeh beralih mengetuk-ngetuk wadah kapak.
"Itu tak lucu. Kau ini seperti belum pernah naik kereta saja."
"Berisik! Padahal naik pesawat lebih efisien, lebih berkelas, lebih nyaman pula!".
Kereta membelah hamparan bukit tinggi, dengan pemandangan menakjubkan. Sungai panjang yang mengalir, anak-anak yang tertawa mencipratkan air ke tubuh kawannya, hingga seorang pria bertelanjang dada menggiring domba-dombanya. Fantastis. Ini pemandangan luar biasa. Sementara matahari sudah tepat di atas kepala. Pukul 12.00.
Dalvino menggerak-gerakan tangan, sekalian meregangkan pergelangan. Lengannya, tumitnya, semuanya terasa kram. Duduk berjam-jam di gerbong kereta memanglah bukan hal yang menyenangkan. Sementara Daniel, peduli setan dengan lelaki yang sudah mendengkur, terlelap menempelkan wajahnya di jendela kereta. Hanya menyisakan embun karena hembusan napas.
Berkali-kali dia menatap tubuh saudaranya. Betapa jeri mengingat kejadian-kejadian menyenangkan sewaktu kecil dahulu. Betapa menyakitkan jika harus bersatu dengan konflik yang seakan tak pernah usai ini. Akankah mereka bisa bersama seperti dulu lagi? Ketika Daniel menghargai ayahnya, menjadi support system bagi Dalvino, menjadi saudara terbaik yang pernah ada. Akankah?
Dalvino menghembuskan napas. Separuh hatinya justru membenci saudaranya. Terutama dengan panggilan kasar itu pada Ayah. Berkali-kali Dalvino meneguhkan hati untuk tegar. Memaksa agar separuh hatinya bersih; bahwa dia akan selalu menunggu Daniel berubah, hingga kapanpun. Bahkan berjanji pada diri sendiri akan selalu menganggapnya sebagai saudara kembar.
__ADS_1
¤¤¤
Pukul 18.00.
Daniel merenggangkan badan dengan terkantuk-kantuk turun dari kereta api. Stasiun tak terlalu ramai, suasana malam begitu nyaman.
"Hoah... kita menginap di hotel?" Daniel menguap, meregangkan kakinya. "Mana taxi-nya? Kau ini mau kemana, heh?!"
Sementara yang di tanya malah asyik mengirim pesan, Dalvino tak menggubris saudaranya.
"Tidak juga, kita naik ojek saja. Aku rasa mobil tidak bisa masuk gang sempit" Dalvino menjawab, perhatiannya masih terarah pada handphone.
"Ojek?! Kau ini jangan gila, bedebah! Kau memintaku jauh-jauh datang ke Surabaya. Naik kereta pula. Duduk-duduk saja hingga pantatku sakit, hanya makan makanan itu-itu saja. Kemudian 11 jam terkurung dalam kereta sialan itu. 11 jam! Bayangkan itu. Dan sekarang kau mau menyewa ojek? Ini malam hari, kau jangan gila, Vino!" Daniel berteriak kalap. Baik, tentu semua orang paham seberapa kesalnya dia.
"Ssttt.. kau berisik. Sebentar lagi Pak Aji pasti sudah datang. Ah, biasanya tak terlalu lama."
"Bajingan!! Kau selalu menyusahkanku di manapun saja. Tak bosankah kau membebani hidupku, Vino!!" Wajah Daniel merah padam, mencengkeram kerah Dalvino, bersungut-sungut dengan teriakan. Bukan hanya petugas yang memperhatikan, tapi seluruh orang di stasiun memperhatikan, kebingungan dengan tingkah si kembar yang tak jelas.
"Woi! Jangan bikin keributan!" Seorang petugas dengan pentungan melerai. Cekatan, Daniel melepas cengkeramannya.
"Ada apa ini?!" Petugas bersungut-sungut menatap Daniel heran. Mengernyitkan alis.
"Eh? Tidak, Pak. Hanya bercanda. Tak ada masalah di antara kami" Dalvino nyengir mengangkat dua jari. "Sumpah, Pak".
Petugas menatap mereka berdua bergantian, kemudian akhirnya mengangguk dan meninggalkan. Puh! Dalvino menghela napas pelan. Hampir saja.
"Nah, Daniel. Peraturan pertama. Ini bukan di kota kita sendiri. Jangan buat keributan, jangan gegabah dengan mencengkeram kerahku." Dalvino menunjuk kerah bajunya. "Peraturan kedua-"
"Sejak kapan kau buat peraturan, heh?!" Daniel berseru menyela.
"Sssttt... peraturan kedua, kita tak boleh tampil mencolok. Kita disini karena sebuah tugas negara. Kau paham, 'kan?" Dalvino mengedipkan salah satu mata.
Peduli setan dengan peraturan-peraturan itu, siapa peduli dengan tampilan mencolok atau apapun itu. Salah satu kebiasaan Daniel adalah mencengkeram kerah saudaranya. Dimanapun, tak peduli waktu dan tempat.
Selang menunggu beberapa menit, terdengar klakson dari jauh. Hanya berjarak sekitar 20 meter saja. Spontan Daniel mendongak, mencari arah suara. Klakson? Jadi ojeknya bukan dari dari motor 'kan? Bukankah ini kabar bagus?
Salah. Pak Aji tersenyum melambaikan tangan dengan pick-up nya. Siap mengantar. Pick-up? Sial.
"Woi! Sudah malam. Bergegas naik!" Pak Aji berseru melambaikan tangan.
"Siap, Pak!" Tanpa ba-bi-bu Dalvino berlarian kecil mengangkat koper, tertawa bergegas menuju pick-up. Baiklah, tentu saja Daniel bersungut-sungut, menyumpahi mereka berdua sebagai pembawa sial. Namun apa boleh buat? Hari sudah petang, "tugas negara" menunggu.
__ADS_1
¤¤¤