
1. Lari
“Run like hell and get the agony over with.” – Clarence DeMar.
Lelaki itu masih terjaga. Dia masih berlari tanpa mempedulikan rasa sakit di sekujur tubuh. Benaknya hanya berpikir bagaimana agar mereka selamat tanpa menorehkan luka sedikitpun pada gadis yang ada di punggungnya.
“Vian, sudah cukup … aku bisa lari sendiri.”
Alvian bersikeras untuk tetap berlari dan mengacuhkan rengekan Alice, saudari kembarnya. Dia tahu bahaya besar yang tengah mengancam ketika berada di tengah hutan saat malam hari.
Hutan ini adalah salah satu wilayah luar yang bersifat bebas. Artinya, serangan bandit dan hewan liar bisa terjadi kapanpun. Jika mereka benar-benar tidak beruntung, mereka bisa bertemu hewan terinfeksi—atau sebut saja monster.
Meski itu hanya scenario terburuk, Alvian tidak ingin mengambil resiko dengan berjalan santai. Oleh karenanya, dia akan terus berlari membawa adik kembarnya hingga ke gerbang wilayah VII, wilayah terkecil dan terbuka untuk kalangan menengah hingga paling bawah.
Alvian tersenyum kecut. Tidak hanya lari menjauhi wilayah VI, tetapi juga lari dari rasa takut yang menggerogoti dadanya. Lelaki itu sama sekali tidak ingin saudarinya tahu jika jantungnya tengah berdegup kencang melawan semua ini.
Sedikit lagi. Pucuk kubah wilayah VII telah terlihat! Aku tidak boleh menyerah!
Alvian menggeleng sekali lagi, menguatkan diri kembali. Dia bersumpah tidak akan membuang kesempatan emas ini. Kesempatan yang datang setelah lima tahun menunggu untuk bebas dari penderitaan.
“Vian, aku bisa berlari sendiri … luka ku sudah pulih,” bisik Alice mengalungkan lengannya di leher sang kakak. “Ayo, turunkan aku. Kakimu pasti sakit, kan?”
Alvian menggeleng, bersikeras untuk tetap berlari. Meski sebenarnya tubuhnya sudah mulai menolak berlari, tapi ia akan terus memaksa. Seperti latihan jauh-jauh hari sebelum saat ini, ototnya telah terlatih untuk tetap mengikuti otaknya. Semua penderitaan selama lima tahun silam telah menempa seluruh stamina fisiknya.
SRAAAK!
“Vian …!” Alice tersentak ketika menyadari ada gemerisik yang mengikutinya dari sisi kanan. “Kita diikuti.”
“Apa!?”
Alvian menggeram kesal. Dia menunduk, menatap bayangannya yang terpantul dari sinar rembulan. Kemudian ia melirik dari ujung mata, menyadari bahwa bayangan serigala yang mengejarnya tak hanya satu.
__ADS_1
“Ambil sisi kiri ketika aku memberi aba-aba,” bisik Alice dan langsung dijawab dengan anggukan. Alice memincing, menunggu waktu yang tepat.
“3 …. 2… 1… Sekarang!”
Sontak, Alvian melompat ke samping kiri, menghindari moncong serigala yang ingin melahapnya dari sebelah kanan. Alice tak tinggal diam, dia melepaskan diri dari saudara kembarnya dan menembakkan mata panah tepat di mata serigala itu.
“AAROAARRGGHH!!”
Tidak mempan. Mata panah itu bagaikan gigitan semut, tidak memberi efek perdarahan ataupun melemahkan pergerakan serigala. Justru hewan buas itu semakin tampak aktif menyerang.
Kini giliran Alvian yang mengumpan, kemudian menancapkan belati yang telah ia siapkan. Namun sayang, hasilnya pun tak memuaskan. Alih-alih ia hampir terkena gigitan apabila Alice telat memberi serangan anak panah pada moncong serigala tersebut.
Serigala itu mundur perlahan. Serigala lain yang serupa juga bermunculan dari balik semak-semak. Empat pasang mata keunguan itu tampak liar dengan air liur yang menetes dari balik gigi tajam. Rambut yang memenuhi badan hewan tersebut juga tampak kasar dan runcing. Warna badannya pun menggelap. Alvian dan Alice segera menyadari bahwa keempat serigala di hadapan mereka bukanlah serigala yang bisa dilukai dengan senjata biasa.
Alvian dan Alice segera berdiri saling memunggungi. Bersiap untuk menghindari kawanan serigala yang mulai berlari menyerang, berusaha melahap mereka membabi buta. Dengan insting yang lebih tajam daripada serigala itu, keduanya dapat menghindar dengan mudah. Entah mengapa, gerakan tipuan lebih mudah dilakukan untuk membuat serigala itu saling bertabrakan dan menggigit satu sama lain.
“Mereka terinfeksi, ya?” bisik Alice, masih ragu akan keadaan hewan di hadapannya.
“Sepertinya, iya. Mereka tidak pantas disebut hewan lagi, kan?” Alvian kembali memunggungi Alice. Sepasang iris mata emerald-nya seakan berkobar menatap serigala itu yang kembali bangkit dan menggeram. “Monster.”
“Ini baru kedua kalinya kan kita melihat monster yang sesungguhnya?” tanya Alvian, menyeringai tipis. Tangannya telah siap bergerak. “Well, sepertinya kita bisa mencoba menggunakan itu, kan?”
“Mereka tidak bisa mati jika menggunakan senjata biasa,” Alice menggigit bibir bawah, bersiap memberi suatu serangan.
“Kecuali menggunakan senjata khusus,”
“Atau kekuatan abnormal,” timpal Alice sambil mengangkat telapak tangannya.
SRAAASH!
Lingkaran air mengelilingi mereka taktala Alice berbisik kembali sambil mengarahkan telapak tangannya ke depan, membentuk sebuah penghalang yang terbuat dari air. Keempat serigala langsung terpancing, menganggap mangsa ingin kabur. Dengan sekali lompat, keempat serigala itu menembus penghalang air.
__ADS_1
Namun, sebelum badan serigala menembus seutuhnya, Alvian langsung menghempaskan tangan kanan kosongnya dan seketika itu juga, penghalang air itu membeku dalam hitungan detik. Serangan itu berhasil memerangkap, dan menusuk badan keempat serigala tepat di jantung. Alvian langsung menghancurkan bongkahan es yang melingkari mereka dan membiarkan keempat serigala itu jatuh dan tergeletak tak bernyawa.
“Uh, menakutkan,” gumam Alice menatap miris badan-badan serigala yang digenangi darah kebiruan, darah yang menandakan bahwa hewan tersebut telah menjadi monster seutuhnya. Dia melingkarkan tangannya pada
lengan Alvian ketika melewatinya.
“Mungkin kalau kita menggunakan kekuatan itu sejak awal, pertarungan itu akan menjadi cepat,” ucap Alvian sambil membersihkan ujung-ujung pakaiannya yang kotor.
Keduanya bungkam sesaat, terlarut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya mereka saling menatap wajah yang bagaikan cermin.
“Tapi kekuatan kita tidak diterima di masyarakat, kan? Kita yang terlahir terkutuk,” lirih Alice yang mulai gemetar samar. Alvian menyadari hal itu langsung membelai ujung kepala Alice. “Aku takut … kekuatan ini … petaka …”
“Tenanglah," Alvian menyentuh bahunya. "Kita buktikan pada mereka kalau kita bukanlah anak terkutuk yang mereka bilang."
Alice mengangguk lemah lalu menunduk dan memperhatikan bayangan mereka yang terpantul purnama. Tiga bayangan.
Eh, tiga?
Alice terbelalak ketika menyadari adanya bayangan lain tepat di belakang Alvian. Refleks, Alice mendorong tubuh sang kakak tanpa aba-aba. Serangan itu sangat cepat, bahkan Alvian tak sempat berpikir apa yang tengah terjadi. Hanya dalam dua detik, tubuh Alice telah bersimbah darah diikuti oleh tawa yang menggelegar dari sosok berjubah hitam.
“A … Alice …” tubuh Alvian bergetar hebat melihat seberapa hebat perdarahan saudari kembarnya. Kakinya seketika lemas. Ia bertumpu pada kedua lututnya, menggoyangkan wajah pucat sang kembar, dan menyentuh luka dalam itu. “I … ini tidak mungkin … Ali … ce … ALICEEEEEE!!!!”
“Kematian memang cocok untuk gadis itu. Gadis malang yang terlahir terkutuk.”
Alvian seolah membatu. Tatapannya yang kosong itu entah mengapa membuat sepasang iris emerald-nya berubah menjadi crimson menyala. Tanah yang ia pijaki mulai membeku dan menjalar hingga ke ujung tanah lainnya. Kekuatan besar seolah menyelimuti dirinya ketika Alvian menatap sosok berjubah itu.
“Lice …” Alvian menggeram dan menyeka air matanya. Dia berdiri dan menatap sosok itu dengan penuh amarah. “Akan kubunuh … kubunuh kau …!”
“Ahahaha! Dasar bodoh!" sosok berjubah itu semakin tertawa menggelegar. Tidak mempedulikan suhu dan lingkungan yang berubah semakin dingin, ia menatap Alvian penuh nafsu seolah ingin melahapnya bulat-bulat. Secepat kilat, ia bergerak dan tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Alvian dengan telapak tangan yang tepat menutupi wajahnya. “Kau selalu tidak bisa mengontrolnya, te-hee.”
“Vi … an …!”
__ADS_1
Dan seketika Alvian merasa semuanya gelap.
“Sadarlah, ALVIAN TRISTAN!!!”