Partikel Magis

Partikel Magis
Episode 7 : Satu Langkah Kebenaran - Part 1


__ADS_3

7. Satu Langkah Kebenaran


“The truth is we don’t know anything about this world,” ‒Alvian Tristan


“Yuhuu~! Alice! Alvian!”


Si kembar Tristan menoleh, mengikuti arah sumber suara. Sesuai dengan perjanjian Alice dengan Lucas kemarin, siang ini mereka bertemu di Zello Café. Di ujung ruangan, Lucas tengah duduk santai ditemani secangkir besar choco tornado panas. Dia melambai senang ketika anak kembar itu benar-benar datang untuk menemuinya.


“Silahkan duduk! Kalian sudah pesan?” seru Lucas antusias. Dia mengambil jaket tebalnya yang sebelumnya


diletakkan di atas bangku di hadapannya.


“Sudah, kok,” jawab  Alvian, tersenyum tipis. Mereka saling berjabat tangan dan akhirnya duduk dengan nyaman. “Pilihanmu tepat ya bertemu di sini.”


“Ahaha, aku hanya ingin kita rileks. Aku juga tidak mau jika tiba-tiba terjadi baku hantam,” ujar Lucas seraya


menyeruput cangkir miliknya. Lelaki itu menatap sepasang anak kembar yang duduk di hadapannya dan tampak kagum karena wajah yang begitu mirip.


“Wah, aku jadi takut hilang kendali. Aku bisa membahayakan nyawa semua yang ada di sini,” balas Alvian dengan nada bergurau. Dengan nada yang agak menyindir, dia melanjutkan, “Tapi sebelum itu terjadi, pasti aku sudah membunuhmu terlebih dahulu.”

__ADS_1


“Fantastis! Gertakan hebat.” Lucas tertawa pelan, tampak terhibur. “Tapi sayangnya, aku tidak akan mati semudah itu.”


Diam-diam Alice memperhatikan penampilan lelaki pirang di hadapannya. Lelaki itu seperti manusia normal pada umumnya. Berpakaian santai dengan sweater hitam dan celana jeans. Jaket tebal, syal, dan topi disampirkan di bangku sebelahnya.


“Ada sesuatu di wajahku, Alice?” tanya Lucas, memergoki Alice yang sedari tadi diam mengamatinya. Gadis itu


langsung menggeleng salah tingkah dan kembali membuat Lucas terkekeh pelan. “Kenapa dari tadi kamu diam saja?”


"Uhh … enggak apa-apa. Aku memang suka diam,” ucap Alice pelan. Merasa pipinya memanas, Alice berdeham, lalu mengalihkan pembicaraan yang lebih serius. “Jadi, bisa kita bicarakan itu sekarang?”


“Tentu. Tapi tunggu dulu, pesanan kalian sudah tiba, tuh,” ucap Lucas sambil menunjuk seorang pelayan yang tengah berjalan menghampiri meja mereka. “Santai saja. Aku benar-benar tidak ingin suasana menjadi tegang.”


Seorang pelayan berhenti di meja mereka dengan sopan dan meletakkan pesanan minuman hangat berupa dua buah cangkir panas. Alice menggeser cangkir yang berisi matcha special miliknya dan vanilla latte milik saudaranya. Kemudian dengan anggukan singkat, pelayan itu pergi dan meninggalkan mereka bertiga kembali.


“Kita sudah tidak perlu menjawabnya, kan? Untuk apa kita datang ke sini jika akhirnya menolak?” balas Alvian sambil menyeruput cangkir di hadapannya. Lagi-lagi Lucas tertawa pelan.


“Kamu hari ini banyak tertawa, ya,” celutuk Alice dengan sarkas. “Atau ternyata kamu menjebak kami?”


“Tidak. Aku tidak sedang menjebak kalian,” jawab Lucas seraya menggeleng pelan. Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembaran file A5 dan memberikannya pada Alice. “Baiklah, aku akan serius. Ini adalah data anggota kami. Sebelum berlanjut ke hal yang lebih dalam, kalian bisa membaca itu terlebih dahulu.”

__ADS_1


Alice dan Alvian sama-sama mengernyitkan dahi, lantas membaca file tersebut bersama. Kerutan dahinya semakin dalam, menandakan dirinya semakin bingung dengan apa yang didapat. File itu hanya berisi beberapa riwayat hidup orang, salah satunya adalah Lucas. Disebutkan juga mengenai wilayah yang ditempati sebelumnya, kemampuan abnormal, dan senjata yang digunakan. Mereka baru tahu jika kemampuan yang Lucas gunakan adalah elektrik dan kemampuannya berbeda dengan kedua temannya yang lain. Seketika Alice tertegun ketika menyadari bahwa Lucas dan teman-temannya bukan penduduk asli wilayah VII. Belum lagi, kenyataan bahwa file itu hanya berisikan riwayat hidup dari tiga orang. Sungguh aneh.


“Apa maksudmu? Kamu … kalian hanya bertiga?” tanya Alice. Diletakkannya lembaran itu dan menatap lelaki pirang di hadapannya dengan ragu. “Kamu menyembunyikan yang lain?”


“Tidak, untuk apa menyembunyikannya? Lagipula kalau ternyata kami adalah suatu kelompok besar, pasti kelompok kami sudah terkenal sebagai superhero wilayah ini, kan?” ucap Lucas diikuti dengan helaan nafas lelah. “Percaya atau tidak, kami memang hanya bertiga untuk saat ini.”


“Lalu alasan kalian murni bertiga karena …?”


“Ya, karena memang jumlah kita limited. Kita bahkan mendapat cap sebagai ‘produk gagal yang dapat bertahan hidup’. Setidaknya, itu kata professor yang menemukan kami,” jawab Lucas dengan sorot mata yang berubah menjadi lebih tajam. Mimik wajahnya berubah menjadi serius. Tidak ada lagi tawa seperti sebelumnya.


“Heh, julukan yang aneh,” ucap Alvian seraya menggelengkan kepala. Dia membuang nafas lelah karena baginya ini sangatlah rumit. “Tapi setidaknya, itu lebih baik daripada julukan ‘anak terkutuk’, ya kan, Lice?”


“Iya,” Alice tersenyum pahit. Tiba-tiba dia teringat ketika para warga meneriakinya sebagai ‘anak yang terlahir terkutuk’ dan mengusirnya ketika mereka masih sangat kecil. Gadis itu menggeleng pelan dan beralih menatap Lucas. “Kalau mendengar julukanmu tadi, aku merasa kita dijadikan sebagai kelinci percobaan.”


“Bisakah kamu menceritakan semuanya dari awal? Apakah kita benar-benar kelinci percobaan?” tanya Alvian pelan. Tangannya mengepal, benar-benar tidak sabar mendapat jawaban yang ditunggu-tunggu selama


bertahun-tahun. Dia tahu kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengetahui semuanya.


“Baiklah. Tapi sebelum aku menceritakannya, kalian perlu ingat kalau aku menceritakannya berdasarkan dari

__ADS_1


apa yang ku dapat dari professor. Jadi, jangan beranggapan kalau aku tahu sedalam-dalamnya mengenai masalah kita,” ujar Lucas pelan. Dia menarik nafas panjang, kemudian kembali menatap keduanya secara bergantian.


Alice dan Alvian mengangguk patuh. Dan kebenaran pun mulai terungkap.


__ADS_2