Partikel Magis

Partikel Magis
Episode 4 : Lucas


__ADS_3

4. Lucas


“I think he just an ordinary boy. But I think I’ve underestimated him.” —AliceTristan.


Jalanan itu begitu lengang. Tak ada orang lewat satupun dan keadaan sangat sunyi. Alice pun heran kenapa jalanan bisa sangat sepi seperti itu. Padahal banyak rumah yang berjajar di sepanjang jalan. Tapi semua seperti tak berpenghuni. Seperti ada yang sengaja menjebaknya.


Karena belum menemukan korban yang pas, monster itu beralih ke korban yang telah tergeletak tak bernyawa dan mengendus-ngendusnya. Melihat korbannya tak lagi bergerak, monster itu kini beralih ke arah Alice dan Lucas. Alice bahkan merasa bulu kuduknya berdiri ketika mata mereka saling bertemu.


“Ya ampun. Mengesalkan sekali,” gumam Lucas. Kekecewaan tampak terukir jelas di wajahnya. “Semua gara-gara kamu.”


“A-aku!?” tanya Alice dengan nada tinggi sambil menunjuk dirinya. Gadis itu langsung sewot dan hampir naik pitam. “Kok aku!? Yang benar saja?!”


“Ya ampun. Bukanlah, Alice. Mana mungkin aku menyalahkan nona yang baru saja kutemui hari ini,” jawab Lucas sambil terkekeh. Kini dia menatap monster di hadapannya dengan sorot mata tajam. “Ini adalah salahnya.”


“Jadi, kamu mau membantu apa tidak?” tanya Lucas tanpa menatap gadis itu.


“Tidak! Aku akan mencari pertolongan! Pasti ada petugas yang berpatroli di sekitar sini!” seru Alice seraya berlari menjauh. Dia meninggalkan Lucas yang tak bisa menahan rasa terkejutnya. Alice menggigit bibir bawahnya dan berbisik pada dirinya sendiri, “Maaf Lucas. Aku tidak bisa … menggunakan kekuatan ini di depanmu.”


Namun sayang, pilihannya salah. Monster itu malah tertarik dengan keberadaan Alice. Sepasang mata sang monster berkilat haus akan darah. Seolah mendapat mangsa yang sangat empuk, air liur sampai menetes dari ujung gigi runcingnya.


“MIAAAWR!!”


Alice terbelalak. Detik kemudian, monster itu menerkamnya dari atas. Dengan cepat Alice menghindar dengan melompat mundur menjauhinya. Lagi, cakar itu berayun ganas. Begitupula dengan mulutnya yang selalu terbuka lebar seakan ingin menelannya bulat-bulat.


Alice meneguk ludah. Susah payah dia menghindar dengan gesit. Untungnya Alice memiliki tubuh yang sedikit lentur. Namun lama-lama dia juga kewalahan karena serangan monster tak hanya sekali tapi berkali-kali. Itu pun tak bisa bertahan lama karena langkahnya terbatas dan kini punggungnya telah membentur tembok.


Tapi kenapa jadi Alice yang ditargetkan?


Alice berdecih. Menghindari serangan dari monster kucing ini cukup merepotkan sampai mengacaukan lingkungan sekitar jalanan. Monster itu semakin gencar dan kini melompat tepat ke di depan Alice. Alice diam sejenak dan ketika cakar itu tepat di atas kepalanya, ia menjatuhkan diri dan memanfaatkan salju untuk meluncur di bawah tubuh sang monster yang terdapat celah lebar.


“Alice!” Lucas tiba-tiba datang dan menabrak monster itu dengan tubuh bagian kanannya hingga monster itu terpelanting jauh. Dia langsung meraih lengan Alice dan berlari menjauh.


“Lucas!?” Alice terkejut. Ia kira Lucas akan meninggalkannya begitu saja. Tapi sebaliknya, Lucas malah memegang pergelangan tangannya erat. “Kenapa kamu menolongku?”


“Pertanyaan yang bodoh, Nona. Kamu benar-benar tak bisa baca situasi, ya?”


“Tapi Lucas!”

__ADS_1


“Ketika menggenggam pergelangan tanganmu aku bisa merasakannya,” gumam Lucas pelan. Namun Alice masih dapat mendengarnya dengan jelas, “Kita sama-sama menyembunyikan-nya. Entah untuk tujuan masing-masing.”


“Apa …?” Alice mengerjap tak paham. Alice bisa menduga apa yang dimaksud Lucas, tapi ia tak ingin menerima kenyataan itu.


“Aku punya ide.”


Alice melirik ke belakang. Monster itu tampak bangkit kembali setelah kepalanya tak sengaja terbentur tong sampah. Baru saja monster itu kembali bangkit, tiba-tiba saja seorang pejalan kaki tak sengaja memasuki jalan lengang tersebut.


“Huhuwaaaa! Monsterr!!!” salah seorang pejalan kaki yang hampir saja melewati jalan itu langsung lari terpontang-panting. “Tolong! Tolong!!!!!”


Menangkap suara tersebut, perhatian monster itu teralihkan. Lalu ia menerkam pejalan kaki yang mencoba kabur. Alice yang melihat itu langsung meneguk ludah. Terlebih ketika perhatian monster itu kembali beralih padanya.


“Alice! Ke gang buntu!” seru Lucas.


“Hah!?”


“Aku akan menghabisinya. Tapi tidak bisa di sini.”


“Maksudmu? Gimana caranya?” Alice berseru panik. “Sial banget sih!”


Pegangan tangan mereka terlepas ketika sang monster kembali menerkam. Cakar-cakar itu tak sengaja melukai lengan Lucas hingga merobek jaket tebalnya. Lucas bergerak hendak mengeluarkan belati yang telah ia siapkan. Namun ternyata monster itu membuat gerakan tipuan dan menghempaskan Lucas dengan ekornya yang bebas.


“Haha! Hebat sekali monster sepertimu bisa berpikir!” ucap Lucas sambil mencoba berdiri kembali. “Sekarang aku tidak akan main-main.”


Alice mengerjap ketika Lucas menghadang monster tersebut. Lelaki itu mengeluarkan dua bilah belati yang ia sembunyikan di balik jaketnya. Tangannya tampak lihai dan ahli dari caranya menggenggam belati tersebut.


Alice terbelalak ketika melihat seringaian tipis di bibir Lucas. Dengan kilatan listrik tipis yang tampak samar di tangannya. Gadis itu meneguk ludah. Tampaknya perkiraannya benar.


SREEEET!


Bagai kilat, lelaki itu bergerak dengan cepat dengan mengayunkan belati tersebut. Alice kembali meneguk ludah. Tidak ada manusia normal yang bisa bergerak secepat itu. Tahu-tahu saja tubuh sang monster telah dipenuhi oleh luka dan goresan dalam.


“Lightning speed!” Lucas mendorong tubuh monster itu ke dalam gang buntu hingga sang monster tersungkur jatuh tak berdaya. Banyaknya luka di sekujur tubuh sang monster membuat sang monster susah payah untuk bangkit kembali.


Alice terperangah. Dari ujung gang, dia dapat melihat dengan jelas kilatan listrik pada kedua tangan Lucas yang tengah menggenggam belati. Raut wajahnya pun tampak berbeda dibandingkan saat ia bertemu dengannya tadi.


“Alice,” Lucas memanggil dan membalikkan badan menghadap Alice. “Aku tidak tahu kenapa tidak berani menggunakannya. Padahal aku dapat merasakan dengan jelas adanya energi itu.”

__ADS_1


“Tidak. Kamu salah,” Alice menyangkalnya. “Aku berbeda denganmu.”


“Benarkah?” tanya Lucas. Dia menghela nafas dan tersenyum sendu. “Padahal aku sangat senang bisa menemukanmu.”


BUAAAAAGHHH!!!


Tubuh Lucas terlempar tiba-tiba hingga punggungnya membentur tembok beton. Pelipisnya berdarah dan kesadarannya tampak menurun. Monster itu telah bangkit kembali dan tampak sangat marah akan tindakan Lucas.


“Lucas!” seru Alice takut. Dia menatap kosong monster yang berada di hadapan Lucas. “Astaga … apakah aku benar-benar harus menggunakan kekuatan ini?”


Alice meringis ketika merasa ada suatu déjà vu di benaknya. Alice ingat, ini sama saja seperti dulu. Dulu saat dia masih terbelenggu dalam kekangan orang-orang jahat, saudara kembarnya akan melindunginya dan mengorbankan dirinya hingga nyaris mati. Dan di saat itu Alice hanya bisa menontonnya tanpa berbuat apa-apa. Karena Alice lemah.


Apa sudah saatnya untuk tidak berdiam diri lagi? Alice tidak ingin terus menjadi penonton, tapi di sisi lain dia juga takut akan kekuatannya.


Alice menarik nafas panjang. Tanpa sadar sepasang iris emerald-nya seakan menyala bagai permata hijau tersinar mentari. “Aku benar-benar muak dengan kalian,” gumam Alice seraya maju beberapa langkah dari tempatnya berdiri.


Sang monster itu pun langsung melayangkan cakaran mautnya ke arah Lucas yang belum berpindah posisi. Hanya tinggal beberapa centi sebelum cakar itu mengenai Lucas, tubuh sang monster tiba-tiba dikelilingi butir-butir air dan langsung memerangkapnya dalam bola air yang besar.


“Particle control,” gumam Alice.


“Alice!?” Lucas menatap Alice yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu tengah menatap tajam sang monster sambil mengarahkan tangan kanannya ke depan.


“Kamu bisa bergerak Lucas?” tanya Alice tanpa menatap lelaki tersebut. "Aku ini lemah. Aku tidak bisa menahannya lama-lama..."


“Ya… aku tidak apa-apa,” Lucas berdiri dan menyeringai tipis. Dia mengeluarkan kembali belati baru dari jaket tebalnya. Namun belatinya kali ini tampak lebih panjang dan memiliki warna yang berbeda dari sebelumnya. “Aku akan menghabisinya, Alice.”


Alice mengangguk paham dan kemudian menggerakkan tangannya. Bola air itu mengikuti arah gerak tangannya. Ia menghempaskan tangannya, melempar bola air itu dengan cepat ke arah tembok beton.


“Baiklah, aku serahkan ke kamu!” seru Alice sambil menarik tangannya.


Seketika bola air itu lenyap dan monster itu pun membentur tembok dengan sangat keras. Lucas pun memanfaatkan kesempatan ini dengan bergerak cepat menusuk jantung sang monster. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali hingga monster itu benar-benar mati bersimbah darah.


“Akhirnya,” Lucas menyeka keningnya melihat tubuh sang monster yang tergeletak tak bernyawa. Kini dia beralih menatap Alice yang sedang mengelus dada lega. “Dugaanku benar ya, Alice?”


Alice membuang muka ketika Lucas melangkah mendekat. “Apa maumu sekarang?”


“Bergabunglah denganku,” jawab Lucas sambil menyengir tanpa dosa. Dia mengulurkan tangannya. “Kami butuh kemampuanmu.”

__ADS_1


Alice mendelik dengan cepat. “Hah!?”


__ADS_2