
5. Awal dari Pilihan
“Maybe the hardest part of life is just having courage to try.” -Rachel Hollis.
Alvian menatap layar hologram jam tangan
pintarnya. Dari tadi dia menggulir pesan yang masuk, baik personal maupun grup. Tapi pesan dari Alice tak kunjung datang. Refresh berulang-ulang pun sama saja. Lalu ia beralih pada riwayat panggilan. Tak ada panggilan masuk. Hanya ada 20 panggilan tak dijawab.
Lelaki itu menghela nafas pasrah. Padahal
tadi Alice sudah mengabarinya kalau sedang jalan pulang. Tapi ini sudah 45 menit lebih dan Alice sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Tak ada pula balasan pesan atau telepon. Aneh sekali.
“Apa jangan-jangan firasatku benar ya?” gumam Alvian pelan. Rasa cemas semakin menggerogoti dadanya. “Sial sial!”
TING TONG! TING TONG!
Suara bel pintu berbunyi nyaring. Alvian buru-buru beranjak dari kasurnya dan berharap kalau sosok di balik pintu itu adalah saudari kembarnya. Ia mengintip dari balik jendela sebelum membukakan pintu dengan
antusias.
“Alice!” Alvian berseru senang melihat
adik kembarnya. Namun seketika berubah menjadi raut murka melihat penampilan Alice. “Kamu kenapa, Alice!? Astaga!”
Sosok di depan pintu rumahnya memang
Alice. Tapi penampilannya sungguh berbeda. Lihatlah gadis itu sekarang benar-benar lusuh. Helai rambutnya yang biasa tertata rapi kini tampak kusut. Percikan darah biru mengotori boots dan jaket tebalnya. Belum lagi luka lecet yang sampai merobek tebalnya jaket yang ia kenakan.
“Apa yang telah terjadi, Alice?” tanya Alvian yang tak kunjung dijawab. Dia mencengkram kedua bahu Alice dan sorot matanya berubah penuh mengintimidasi.
“Panjang ceritanya,” jawab Alice malas. Tentu
jawaban itu tak membuat Alvian puas. Lelaki itu masih menatapnya dalam-dalam. “Aku tidak apa-apa, kok. Daripada itu … lebih baik kamu kenalan sama dia.”
“Dia?” Alvian mengikuti arah ekor mata Alice.
“Halo, Alvian Tristan,” sapa seorang lelaki pirang yang sedari tadi tidak disadari keberadaannya oleh Lucas. “Aduh, first
impression-nya dikacangin nih.”
“Siapa kamu?” tanya Alvian dingin.
“Perkenalkan aku Lucas. Senang bisa bertemu dengan anda langsung, Alvian Tristan,” Lucas tersenyum ramah. Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Kalau kamu sudah tahu namaku, aku tidak
perlu menyebutkan namaku lagi kan?” tanya Alvian yang akhirnya melepas tangannya dari bahu Alice dan menjabat tangan Lucas. Kehangatan kembali menjalar dari telapak tangan Lucas. Padahal tangan lelaki itu tidak berbalut sarung tangan. Aneh sekali.
__ADS_1
“Dingin sekali, Tristan,” ucap Lucas sambil tetap tersenyum ramah. “Jangan terlalu dingin padaku. Aku hanya ingin mengantar Alice sampai di depan pintu rumah dengan selamat kok.”
“Oh, ya? Benarkah?”
Kembali mata emerald Alvian menatap Alice dengan mengintimidasi. Alice jadi merasa kalau kakak kembarnnya ini bisa membekukan tubuhnya kapan saja.
“Astaga, Vian. Dia tidak berbohong. Berhenti menatapku seperti itu,” ucap Alice yang tidak betah di tatap seperti itu. Dia tahu kalau saudara kembarnya ini superprotektif, tapi tidak harus curiga setiap saat juga, kan?
“Baiklah,” ucap Alvian pada akhirnya. Kemudian menatap Lucas kembali. “Terimakasih ya.”
“Yap, kalau begitu aku pamit dulu, ya, Tristan,” ucap Lucas sambil melambaikan tangannya. Tapi sebelum lelaki itu benar-benar meninggalkan mereka, Lucas melirik Alice melalui ekor matanya. “Jangan lupa aku menunggu jawabannya, Alice.”
Alvian mengernyitkan dahinya. Ambigu sekali. Apa saudari kembarnya ini udah ditembak oleh orang yang kayak Lucas begitu? Alvian menggelengkan kepala kesal, berusaha menghapus pikiran menyebalkan itu.
“Kamu mandi dulu aja, Lice. Bersihin lukanya dan nanti aku obatin lukamu itu. Tapi sebelumnya, aku akan membuatkan
sesuatu yang hangat untukmu,” ujar Alvian seraya menutup pintu rumah.
Alice hanya mengangguk patuh. Tanpa babibu lagi, dia segera mengambil handuk dan melangkah ke dalam kamar mandi.
Sementara Alvian membuatkan coklat panas
dan menyiapkan kotak P3K sambil berpikir apa yang menyebabkan adiknya bisa sampai seperti itu. Jika dilihat dari jaket yang ditanggalkan gadis itu, robekan ini pasti disebabkan oleh sesuatu yang amat tajam, seperti cakar monster.
“Ah?” Alvian mengernyit mendapati sebuah robekan koordinat tempat dari saku jaket Alice. “Ini pasti berkaitan dengan lelaki itu.”
“Aduh …” Alice yang baru keluar kamar mandi mengusap-usap luka cakar yang mengenai lengannya. Dia segera duduk di sofa ruang tengah dan membiarkan Alvian membaluti lukanya dengan perban.
“Mana lagi yang luka?” tanya Alvian sembari
menali perban tersebut.
“Sudah. Sisanya goresan biasa. Nanti juga
sembuh sendiri,” jawab Alice sambil tersenyum hangat. “Terimakasih ya.”
Alvian mengangguk dan segera membereskan isi kotak P3K. Disuguhkan pula coklat panas yang baru saja ia buat. Gadis itu
langsung meminumnya dengan senang. Seketika Alice merasa beruntung memiliki saudara kembar yang begitu perhatian.
“Jadi …” Alvian mengambil posisi duduk di
sofa depan Alice. Dia menyilangkan tangannya dan entah mengapa rautnya berubah kesal. “… kamu ditembak Lucas?”
“UHUK!” Alice tersedak ketika sedang
menyeruput coklat tersebut. Rasa terbakar segera menggerogoti kerongkongannya. Buru-buru dia meminum air putih untuk menetralisir kerongkongannya. Saking terkejutnya dengan pemikiran saudara kembarnya yang begitu dangkal.
__ADS_1
“Ya ampun. Ternyata benar, ya?” Alvian berdecih.
“Bodoh! Mana mungkin aku langsung ditembak sama orang yang baru pertama kali ketemu!” seru Alice sambil menimpuk saudara kembarnya itu dengan dua bantal sofa berulang-ulang sekaligus. Kemudian ia kembali duduk sambil memijit kening dan menggeleng. “Huft. Pasti kau salah paham.”
“Iya-iya. Maaf ya, hehehe,” Alvian cengengesan tanpa dosa.
"Kesel deh dengarnya," gerutu Alice.
Diam-diam Alvian menghela nafas lega karena saudari kembarnya ini masih jomblo. Dia tidak mau Alice punya pacar sebelum dirinya duluan yang punya pacar.
“Aku bertemu Lucas saat pulang dari toko
roti,” ucap Alice mulai bercerita. Dia menunduk, menatap cangkir coklat panasnya yang tinggal setengah. “Tiba-tiba kami diserang monster. Dan sangat-sangat-sangat
aneh karena di sepanjang jalan itu benar-benar sepi. Aku sampai heran.”
“Lalu?”
Alice pun menceritakan semuanya. Bagaimana monster itu selalu menargetkan dirinya setelah korban sebelumnya tewas. Lalu bagaimana dia yang awalnya hanya menghindar tapi tak bisa bertahan lama. Jika
saja Lucas tidak ada, pasti lukanya akan lebih parah.
“Akhirnya aku melihat kekuatan Lucas. Sepertinya dia bisa membuat … umm … bukan. Tapi membuat semacam listrik?”
“Hmm,” Alvian merenung. Dia mengenyitkan
dahi dan memejamkan matanya. “Itu berarti di dunia ini ada yang memiliki kekuatan abnormal selain kita ya?”
“Bisa jadi,” Alice mengangguk. Kemudian dia tersentak ketika menyadari suatu kenyataan. “Itu berarti kita bukan anak terkutuk kan? Itu hanya sebuah julukan, kan?”
Alvian menggeleng pasrah. “Entahlah aku
tidak tahu.”
Alice menghela nafas lagi. Semesta seharusnya tidak membenci mereka bukan jika anak terkutuk itu hanya sebatas julukan? Kenapa pula mereka harus menerima penderitaan di masa silam jika saat ini ada seseorang berkekuatan abnormal yang bebas? Gadis itu kembali murung.
“Lalu apa yang dimaksud Lucas sebelum dia
pergi?” tanya Alvian mengalihkan topik.
“Ah, itu …” Alice teringat kemudian bertukar
pandang dengan Alvian. “Dia meminta kita untuk bergabung dengannya.”
“... Gabung?"
"Iya. Dia meminta kita untuk bertarung bersamanya."
__ADS_1
"HAH!?"