Partikel Magis

Partikel Magis
Episode 3 : Monster


__ADS_3

3. Monster


“They were ordinary animals. But because they’ve infected, now they’re just a bunch of monster.” –unknown.


Alice menutup pintu toko roti. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, akhirnya ia bisa bergegas pulang dengan tenang. Selama tinggal di wilayah VII, Alice rajin bekerja paruh waktu demi bertahan hidup. Tip yang ia dapatkan pun lumayan banyak sehingga bisa ditabung.


Kemudian gadis itu beralih menatap butiran salju yang mulai turun perlahan. Dia mengadahkan tangan, menampung butiran butiran putih tersebut. Aneh sekali salju sudah turun di hari pertama musim dingin. Padahal tahun kemarin salju turun di pertengahan musim dingin.


Alice jadi teringat bagaimana saat dikurung di gubuk renta saat musim dingin. Saat itu, dia dihukum karena tidak mengerjakan tugasnya dengan benar. Akibatnya, dia yang saat itu masih berumur tujuh tahun hampir mati kedinginan. Dia pun tidak bisa menggunakan kekuatannya karena rantai khusus yang mengikat tangan dan kaki.


“*Begini saja tidak bisa!? Gara-gara kamu …! Semua gara-gara kamu—!”


“Maafkan saya, Tuan!”


“Maafmu tidak akan bisa merubah apapun! Menjijikkan*!”


Alice memegang kepala dan meringis. Bayang-bayang suara itu menggema kembali di benaknya. Padahal sudah dua tahun, tapi suara itu seperti masih terdengar jelas. Trauma qyang dihasilkan akibat penyiksaan selama lebih dari lima tahun benar-benar membelenggunya.


“Nona, anda tidak apa-apa?”


Alice menoleh dan mendapati seorang pemuda bersurai pirang yang tengah menatapnya cemas. Pemuda itu memiliki paras tampan dan sorot mata yang teduh. Bahkan dia mengulurkan tangan dan tersenyum hangat.


“A-aku tidak apa-apa. Terimakasih,” ucap Alice cepat. Dia mencoba tersenyum balik dan menyambut uluran tangan tersebut. Meski tak mengenakan sarung tangan, namun telapak tangan pemuda itu tetap hangat. Buru-buru Alice melepasnya sebelum berpikir aneh-aneh.


“Kita baru bertemu hari ini, ya?” tanya pemuda tersebut sok akrab. “Namaku Lucas. Nama anda siapa, Nona cantik?”


“A-aku … Alice Tristan,” jawab Alice berusaha biasa saja. Baru kali ini ada orang yang memujinya cantik. Wajar kan jika dia menjadi grogi.

__ADS_1


“Boleh kupanggil Alice?”


“Tentu, Lucas.”


Lucas tersenyum senang. Untuk kedua kalinya, mereka berjabat tangan. Lagi-lagi Alice merasa kehangatan di balik telapak tangan Lucas. Buru-buru saja dia mau melepas, Lucas justru menahannya.


“Aku dapat merasakannya,” gumam Lucas pelan. Dia memperhatikan tangan Alice dengan lamat-lamat. Kemudian beralih menatap Alice dan tersenyum antusias. “Sepertinya aku tidak salah orang. Habis ini Chalista tidak akan memarahiku lagi.”


“Apa maksudmu?” sentak Alice seraya melepas tangannya. Dia meneguk ludah. Otaknya seakan berputar cepat, memikirkan berbagai kemungkinan yang akan diutarakan pemuda tersebut.


Apakah dia tahu rahasianya selama ini? Atau akan mengurungnya seperti yang dilakukan orang-orang itu. Ya Tuhan. Jantung Alice sekarang berpacu lebih cepat dari biasanya.


“Kamu mau apa, hah!?” hardik Alice.


“Alice—”


Sontak suara keras itu terdengar begitu jelas. Mereka berdua segera menoleh dengan cepat. Seorang lelaki terlempar dari sebuah gang sempit. Bersamaan dengan debu yang mengepul dari dalam gang.


“To-toloooong!” teriaknya ketakutan.


Dia menatap horror sosok berkaki empat yang ada di dalam gang. Lalu lari terpontang-panting ke arah Alice dan Lucas yang kebetulan tidak jauh dari sana. Namun belum sempat sampai, sosok dari gang tersebut muncul dan menerkam lelaki tersebut hingga tewas.


“MIAAAWWRRR!!”


Di hadapan mereka saat ini, seekor kucing yang seharusnya menjadi hewan yang paling lucu, kini berubah menjadi seekor monster. Tingginya hampir setengah tubuh manusia dengan keempat kakinya yang memiliki cakar yang runcing. Sepasang mata kucing yang


berubah ungu itu menatap tajam.

__ADS_1


Alice terbelalak dan menutup mulutnya. Dia baru ingat tentang firasat buruk Alvian setelah melihat sosok tersebut. Jadi ini ujung dari firasat buruknya? Ya ampun.


“Lucas, kita harus lapor!” Alice segera membalikkan badan, namun monster itu bergerak melompat lebih cepat. Tahu-tahu saja monster itu sudah berada di depan Alice dan menghadangnya. “Aaa …”


“MIAWWR!”


Cakarnya berayun kencang. Alice dengan sigap melompat mundur. Namun serangan terus berlanjut, monster itu melompat kembali tepat di depan Alice dengan mulut sang monster terbuka lebar. Tuk! Punggung Alice sudah menyentuh tembok. Satu serangan lagi, Alice sudah dipastikan menjadi santapan sang monster.


“Awas!” Lucas mendorong tubuh Alice dan mendekapnya sambil berguling ke kanan. Alhasil monster itu justru menabrak dinding beton. Lucas langsung buru-buru menatap


Alice yang meringis pelan. “Kamu tidak apa-apa?!”


“I-iya. Terimakasih.”


Mereka kembali berdiri dan menatap monster itu. Kini mereka saling bertukar pandang dengan sorot mata tajam. Alice menggigit bibir bawahnya. Tampaknya monster itu tidak


akan membiarkannya kabur hidup-hidup.


“Lucas, kita benar-benar harus lapor! Sebelum—”


“Kupikir kamu mau menghadapinya, Alice,” potong Lucas sambil tersenyum getir. “Jangan terus menghindar. Memangnya kamu pikir aku tidak tahu?”


Alice terbelalak kaget. “Apa …!?”


“Ya ampun. Mengesalkan sekali,” gumam Lucas. Kekecewaan tampak terukir jelas di wajahnya. “Semua gara-gara kamu.”


Dan sorot mata lelaki itu menjadi tajam.

__ADS_1


__ADS_2