
6. Pilihan yang Tepat
“Life is a matter of choices and every choice make makes you,” – John C. Maxwell.
“Apa maksudmu meminta kita untuk bergabung dengannya?” tanya Alvian seraya menyilangkan tangannya. Dia menghela nafas panjang dan menggeleng perlahan.
“Dia hanya menjelaskan kalau dia membutuhkan orang-orang seperti kita. Dia juga bilang kalau mereka memiliki nasib dan kemampuan yang serupa tapi tak sama. Selebihnya, dia tidak menjelaskan apapun,” jawab Alice dengan tatapan lurus.
“Serupa tapi tak sama?” Alvian mengulang kalimat tersebut. Alice hanya mengangguk dan seketika itu juga Alvian menyeringai tipis.
“Apa-apaan seringaianmu itu?” tanya Alice, menarikkan sebelah alisnya. Seketika dia memiliki firasat buruk. “Jangan-jangan kamu …”
“Ayo kita ikuti permainannya, Lice,” sahut Alvian yakin. Dia bersandar pada sofa dengan
menjadikan kedua lengannya sebagai bantal kepala. “Itu berarti di dunia ini tidak hanya kita kan yang memiliki kemampuan aneh.”
“Vian …” Alice menggigit bibir bawahnya dan menggeleng pelan. Dia sudah menduganya kalau Alvian akan berbicara seperti itu. “Aku … tidak mau.”
“Kenapa?” Alvian jadi kembali menegakkan punggungnya dan mengamati gerak-gerik adik kembarnya yang sedikit gelisah.
“Aku tidak bisa … kamu tahu sendiri aku lemah, kan?” tanya Alice sambil tersenyum getir. “Setiap kali aku menggunakan kekuatan ini, aku masih bisa mendengar dengan jelas
teriakan-teriakan itu. Mereka selalu mencaci kita, Alvian!”
Alvian tertegun dan akhirnya paham. Tampaknya Alice masih takut dengan dirinya sendiri dan selalu terbayang dengan masa lalu. Memang bagaimana pun, perlakuan yang mereka dapatkan di penderitaan silam sangat sulit untuk dilupakan.
“Aku juga tidak pernah berpikir kalau kita justru semakin berhubungan dengan ini semua. Menghadapi monster itu lagi dan berurusan dengan kekuatan ini. Apa kita memang anak yang terkutuk?” tanya Alice kesal. Sepasang iris emerald nya berkilat, menahan bulir-bulir asin yang akan jatuh pada kedua pipinya.
Alvian akhirnya menghela nafas dan beralih duduk di sebelah Alice. Dia membelai punggung Alice yang bergetar dengan pelan. Gadis itu tengah menahan emosi yang meluap.
__ADS_1
“Aku mengerti perasaanmu. Aku juga sering terbayang-bayang penderitaan itu kok. Bagaimana pun juga, luka itu memang sangat sulit untuk dilupakan,” ucap Alvian dengan tenang. Alice menggeleng pelan ketika Alvian semakin membelainya.
“Kalau begitu, seharusnya kita menolak tawaran itu, kan? Untuk apa kita jauh-jauh ke sini jika pada akhirnya sama?” tanya Alice yang menepis tangan Alvian. Dia bahkan menarik kerah saudara kembarnya. “Katakan, apa kamu mau kita dicaci seperti itu lagi, hah?!”
“Alice,” Alvian melepaskantangan Alice dari kerah bajunya dan menarik nafas panjang. “Satu hal yang perlu kamu ingat kembali … kita memang keluar dari sana untuk bebas dari penderitaan. Tapi juga ada satu hal penting yang kamu lupakan.”
“Apa?” Alice menatapnya tak suka.
“Kita juga mencari tengah mencari jati diri,” Alvian tersenyum hangat dan membelai kepala saudari kembarnya. Ini juga merupakan cara yang sering ia lakukan untuk menenangkan emosi Alice yang seperti ini. “Untuk apa kekuatan ini ada? Apakah kita memang terkutuk? Itu juga salah satu pertanyaanmu selama ini, kan?”
“Vian …” Alice terkejut dan merengek. “Tapi … tapi aku …”
“Masih banyak yang di dunia ini yang tidak kupahami, Alice,” gumam Alvian pelan. Kemudian dia tersenyum kecut. “Sebenarnya, aku juga tidak ingin … tetapi … kita
harus mencari tahu kebenaran, bukan?”
“Tapi … tidak bisakah kita menjadi anak normal?” seru Alice. Tangisnya pecah. “Aku
“Kamu bisa Alice. Tidak … bukan kamu aja. Tapi kamu dan aku … kita bisa. Kamu tidak sendiri. Aku selalu ada di sampingmu,” ucap Alvian serius. Dia menarik tubuh Alice yang
tampak terkejut dan memeluknya.
“Vian …”
“Pada dasarnya, kita memang telah terlahir dengan kekuatan ini. Jika ternyata jalan hidup kita memang seperti ini, kita tidak bisa menolak. Satu hal penting yang perlu kamu
pahami adalah menerima dirimu sendiri, Lice. Terima dirimu, terima kekuatanmu, dan jalani takdir.”
Alice menggeleng dalam diam. Isakannya semakin menjadi dan terdengar parau di telinga Alvian. Lelaki itu tidak menyangka kalau akan sangat berat bagi Alice untuk menerima dirinya sendiri.
__ADS_1
“Kamu tidak lemah. Jangan takuti dirimu sendiri. Semakin kamu takut, maka kekuatan itu akan semakin mudah mengambil alih pikiranmu,” ucap Alvian dalam pelukan itu. Seketika tatapannya menjadi tajam, begitupula dengan ucapannya, “Kalau kamu takut, aku akan melindungimu selalu. Aku bersumpah tidak akan membiarkan kekuatan itu mengontrol dirimu lagi. Tidak akan pernah.”
Alvian menggigit bibir bawahnya dan tubuhnya bergetar samar. Pikiran itu selalu mengusiknya, terlebih saat Alice berada dalam dekapannya. Lautan darah, mayat yang bergelimpangan, dan sosok gadis mungil yang berdiri di tengah kekacauan itu. Dengan mata merah yang menyala, senyuman itu selalu membayangi pikiran buruk Alvian.
“Aku telah melindungimu dengan baik, kan, Kak?”
Alvian menggeleng cepat dan buru-buru melepas pelukan tersebut. Dia menatap kembali iris emerald yang ragu. “Percayalah padaku. Kita bisa melalui semuanya.”
“Vian …” Alice menarik nafas panjang dan tersenyum sendu. “Baiklah. Mari kita coba untuk menerima dan menjadi kuat. Aku … juga tidak ingin menjadi lemah terus.”
Alvian mengangguk senang. Dia menyeka air mata Alice dan tersenyum senang. Begitupula dengan Alice yang lebih menjadi tenang. Meski lelaki itu tahu butuh waktu untuk Alice
agar bisa menerima dirinya sendiri.
“Kita pasti akan mendapat jawabannya. Lucas pasti mempunyai petunjuk … apa yang memang telah terjadi pada diri kita,” ucap Alvian seraya mengepalkan kelima jarinya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman penuh kepercayaan.
Alice sekali lagi hanya mengangguk. Jika Alvian sudah bertekad untuk maju, maka Alice harus mengikutinya. Meski jauh di lubuk hati gadis itu masih terdapat keraguan, namun yang lebih penting baginya adalah saudara kembarnya. Alice tidak akan pernah membiarkan lelaki itu berjuang sendiri. Tidak akan pernah.
“Jadi, dimana Lucas menjanjikan tempatnya?” tanya Alvian mengalihkan topik. Dia beranjak dari sofa dan membawa dua cangkir kosong ke wastafel cucian.
“Kok kamu tahu?” tanya Alice bingung. Kemudian dia memasang wajah jijik dan buru-buru menyambar jaketnya. “Kamu buka-buka jaket aku, ya? Ih, kamu …!”
“Bukan yang aneh-aneh, kok! Aku hanya ingin melihat robekan baju itu,” sahut Alvian cepat. Adik kembarnya ini seringkali berpikiran yang aneh-aneh jika Alvian tidak cepat memberikan penjelasan. Padahal jelas-jelas maksud Alvian bukan begitu.
“Dia memberikanku koordinat tempat tapi tidak memberi tahu tempat yang sebenarnya,” jawab Alice sambil mengeluarkan kertas tersebut. “Nanti aku akan cek pakai aplikasi saja.”
“Kapan ketemuannya?” tanya Alvian selesai mencuci gelas. Dia menghampiri Alice yang tengah duduk kembali di sofa dan melirik hologram milik adiknya.
“Sabtu depan jam dua siang.”
__ADS_1
Alvian menyeringai tipis dan mengelus dagunya. “Baiklah. Mari kita nantikan apa yang telah direncanakan
semesta ini.”