
8. Satu Langkah Kebenaran - part 2
“The truth is we don’t know anything about this world,” ‒Alvian Tristan
“Sebenarnya keberadaan kemampuan kita memang berkaitan dengan munculnya virus liar itu. Setelah beberapa tahun virus itu tak kunjung hilang, banyak ilmuwan dari belahan dunia yang mencari antidot dan vaksin dengan berbagai cara. Namun kalian tahu sendiri kan kalau virus itu masih bisa berkeliaran hingga sekarang? Itu artinya mereka tidak berhasil dari dulu hingga sekarang. Ya, aku yang baru menyadarinya sekarang saja merasa miris.
“Hingga akhirnya ada sekelompok ilmuwan kecil yang berani melakukan rekayasa genetik. Eksperimen itu melibatkan embrio manusia, gen buatan, dan sampel dari virus itu. Sebenarnya tujuan dari eksperimen itu adalah membuat cikal bakal manusia yang semakin kuat dan mempunyai daya tahan tubuh yang kebal dari virus. Aku tidak tahu apa tujuan mereka berubah seiring waktu atau tidak. Tapi itu yang awalnya kutahu.
“Kelinci percobaan mereka adalah bayi-bayi yang ditelantarkan keluarga, bocah berusia 1 tahun, dan embrio yang ada di dalam kandungan, termasuk embrio dari lima orang ilmuwan wanita yang tengah mengandung. Namun ternyata, dari sekian banyak kelinci percobaan, hanya 5 bayi yang berhasil lahir, salah satunya adalah kita. Sedangkan bayi-bayi lainnya menunjukkan gejala efek samping yang menyebabkan kematian.”
“Hah? Gila!” sergah Alvian tidak percaya. Dia meneguk ludah dan menatap telapak tangannya. “Eksperimen apa yang bisa membuatku mengendalikan es?”
“Yeah, memang gila. Aku tidak mengerti apa yang dicampurkan ke dalam genetika kita sehingga kita bisa menghasilkan kemampuan yang beraneka ragam. Sangat tidak masuk akal.”
“Lagipula, bukankah jika melakukannya langsung pada manusia bisa menyalahi aturan hukum? Kenapa harus manusia?” tanya Alice seraya meringis pelan. Membayangkan bagimana bayi-bayi yang harus mati karena kegagalan itu saja sudah membuatnya merinding. “Bagaimana pun juga … itu kejam … pada mereka yang mati hanya karena menjadi produk gagal.”
"Kupikir juga begitu. Tapi entahlah, sebenarnya keberhasilan itu menjadi suatu rahasia mereka. Tapi sayangnya, ada seorang pengkhianat di dalam kelompok ilmuwan itu yang berani mempublikasikan ke publik. Kecaman kejam dari pemerintah membuat mereka harus dihukum mati dan mendapat predikat buronan kelas atas.”
“Buronan kelas atas?” kini giliran Alvian yang bertanya. Lelaki itu memijat-mijat keningnya yang terasa agak pening. Sedari tadi mendengarkan, dia mencoba mencerna semua kalimat Lucas dengan logikanya namun otaknya belum bisa benar-benar mempercayainya.
“Ya, karena mereka ilmuwan yang sangat jenius, mengelabui orang-orang seperti itu mudah. Kasus itu sebenarnya kasus lama dan sepertinya pemerintah juga sudah menutup suara mengenai ilmuwan itu. Mereka mengira jika ilmuwan itu telah berhasil di hukum mati semua. Tapi sepertinya mereka luput akan suatu hal. Buktinya, Profesor Lupin masih hidup sampai sekarang,”
“Profesor Lupin? Yang tadi kamu sebutkan di awal? Berarti dia juga jahat dong!” seru Alice dengan suara yang tidak sengaja kencang. Bahkan Lucas harus mengodenya agar gadis itu mengecilkan volume suaranya. “Ups, maaf.”
__ADS_1
“Aku juga berpikir seperti itu tadinya. Tapi kalau kalian berpikir secara logis, tentu ada alasan dibalik suatu tindakan. Profesor Lupin bukan orang jahat. Dia tidak terlibat langsung dalam penelitian itu, bahkan dia yang pertama kali membantah. Lagipula kalau dia jahat, dia sudah menelantarkan kami dari awal bertemu. Tapi nyatanya, dia bahkan membiayai pendidikan, rumah, makan. Dia sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri,” ucap Lucas pelan. Si kembar Tristan dapat merasakan sorotan mata Lucas yang berubah menjadi teduh. Tampaknya, lelaki pirang itu benar-benar menyayangi Profesor Lupin.
“Sejak kapan kamu bertemu professor?” tanya Alvian seraya menyeruput kembali minumannya yang telah agak dingin. “Em … mungkin dua tahun lalu?”
“Uhuk!” Alvian tersedak. Dia langsung terbatuk-batuk hingga Alice mengelus bahunya perlahan. Mendapati tatapan cemas, Alvian hanya menggeleng pelan. “Maaf, aku hanya kaget.”
Alice menyodorkan sebotol air putih dari dalam tasnya. Alvian tersenyum dan meminumnya perlahan. Jeda sesaat ketika Alvian mencoba menarik nafas panjang dan beralih menatap Alice dengan pandangan yang sulit diartikan. Menyadari perubahan air muka si kembar, Lucas mengernyit.
“Kenapa?” tanya Lucas gamblang.
“Dua tahun lalu? Kamu yakin?” tanya Alvian dengan menekankan ucapan pada setiap katanya. “Bukan tiga tahun atau empat tahun atau satu tahun yang lalu?”
“Bukan. Benar-benar dua tahun yang lalu. Aku ingat melarikan diri ke sini saat malam bulan purnama,” jawab Lucas yang langsung diikuti oleh anggukan paham Alvian.
Lucas menggeleng pelan. Dia menghela nafas berat. “Aku … mendapat … kesempatan kabur … dari … masa laluku.”
“Lalu bagaimana dengan dua temanmu? Kalian kabur bersama-sama?” sekarang giliran Alice yang bertanya. Di antara mereka berdua yang selalu bertanya pada Lucas, Alice yang mimik wajahnya paling mudah ditebak. Gadis itu sangat ekspresif mengutarakan rasa penasarannya.
“Tidak. Mereka … aku tidak pernah tahu alasan mereka … tapi yang pasti, mereka bertemu dengan professor lebih awal daripada aku. Aku kurang suka mengungkit masa lalu seseorang karena aku tidak mau mengungkit masa laluku. Jadi aku tidak pernah bertanya,” jawab Lucas pelan. Dari sini Alice bisa paham kalau ternyata Lucas juga memiliki masa lalu yang amat pahit hingga tidak mau mengungkitnya. Tapi semua kebetulan itu terasa agak aneh baginya.
“Ini … kebetulan yang sungguh …. Mengejutkan,” gumam Alice tanpa sadar, namun Alvian masih bisa mendengarnya samar.
“Kenapa? Kalian mengalami hal yang serupa?” tanya Lucas dengan sebelah alis terangkat. Dia menyilangkan tangannya dan menyentuh dagunya, tampak ikut berpikir ketika Alvian mulai menjelaskannya.
DUAAAAAAR!!!!
__ADS_1
Ucapan itu langsung terpotong oleh suara ledakan besar dari luar café. Sontak, mereka bertiga terbelalak. Disusul
teriakan dan warga yang berlarian panik, bunyi debuman keras kembali terdengar memekakan telinga. Seketika semua ricuh, bahkan mereka yang berada di dalam ruangan pun langsung ikut berlarian, keluar, terlebih ketika tanah mulai bergetar.
"Apa lagi ini …?” Alice berdiri panik. Dia segera menyambar ransel mininya dan memakainya dengan cepat.
“Ini bukan bagian dari rencanamu, kan, Lucas?” Alvian menatap Lucas garang. Namun, melihat air muka Lucas yang juga panik, lelaki itu tahu kalau ini semua memang di luar perkiraan mereka. Alvian meneguk ludah dan mengumpat, “Sialan.”
“ROAAAAR!”
Raungan itu benar-benar terdengar jelas. Bahkan dari balik jendela café, mereka bertiga dapat melihat suatu
monter yang tumbuh membesar dalam hitungan detik. Tubuh monster itu seperti tyrex dengan kulit yang berwarna ungu dan sepasang mata merah. Meski tingginya mencapai lantai dua dari rumah warga, tapi itu adalah monster besar yang baru pernah mereka lihat.
“ROAAAAR!!!”
Raungan kedua kalinya membuat mereka sadar. Ini bagai mimpi buruk yang menjadi nyata.
__ADS_1