Partikel Magis

Partikel Magis
Episode 2 : Hidup


__ADS_3

2. Hidup


“Normal is subjective. There are seven billion versions of Normal in this planet!”-Matt Haig


“ALICE!”


Alvian membuka matanya dan langsung bangun terduduk dari tidurnya. Nafasnya berderu cepat seperti habis dikejar-kejar monster. Ia menyeka peluh yang membanjiri pelipisnya. Seketika kepalanya terasa pening saat ia sadar bahwa dirinya tengah berada di atas ranjang.


Eh? Mimpi?


Lelaki itu mengedarkan pandangan dan mendapati tidak ada seorang pun di kamarnya. Kemudian dia merebahkan diri kembali. Suhu tubuhnya terasa kembali meningkat ketika teringat kalau ia tengah demam. Pantas saja dia bermimpi sangat buruk.


Alvian pun melirik kalender yang berada di meja kamar. Musim dingin, 1 Desember  tahun 2043. Tidak terasa sudah dua tahun lamanya semenjak ia kabur dari wilayah VI.


Alvian menatap kosong langit-langit kamar. Tiba-tiba saja otaknya mereka ulang, teringat penderitaan yang mereka dapatkan selama bertahun-tahun di wilayah VI. Bagaimana orang-orang meneriaki mereka, menyumpah serapah dan menyuruh mereka untuk mati.


“Dasar anak terkutuk! Karena kalian ini … semua karena kalian―!”


“*Kematian adalah balasan yang pantas untuk kamu!”


"MEMANGNYA INSIDEN INI KAMU PIKIR KARENA SIAPA!? DIA*—"


Oh, Tuhan. Alvian sungguh muak. Kenapa dia harus terkena imbasnya hingga sekarang?


Alvian mengerang dan menutup erat kedua telinga. Hingga suara ketukan pintu kembali menyadarkannya.


“Vian? Aku masuk, ya?” suara seorang gadis terdengar dari balik pintu. Itu Alice, saudari kembarnya.


Alvian beranjak bangun ketika pintu dibuka perlahan. Alice datang dengan semangkuk bubur panas di tangan dan menyunggingkan senyuman hangat. Alvian pun membalas senyuman tersebut.


“Bagaimana keadaanmu? Masih terasa pusing?” tanya Alice pelan seraya menaruh mangkuk tersebut di atas meja. Kemudian ia beralih duduk di pinggir kasur.


“Sepertinya sudah mendingan daripada semalam,” jawab Alvian seraya menyentuh keningnya yang masih terasa panas. Kemudian ia tersenyum. “Terima kasih, Alice.”


“Bukan masalah. Lagipula aku heran, kenapa kamu bisa sakit di awal musim dingin, sih? Padahal kekuatanmu berhubungan secara tidak langsung,” gerutu Alice.

__ADS_1


“Haha, entahlah. Aku saja bingung, Lice,” Alvian mengendikkan bahunya pasrah.


Ini sudah kedua kalinya Alvian mengalami demam di awal musim dingin semenjak berada di wilayah VII. Entah apa yang menyebabkannya seperti itu dan demam tersebut akan kembali menuntunnya pada masa lalu yang selalu ingin ia lupakan.


“Kamu pasti habis mimpi buruk lagi, ya?” tanya Alice pelan. Menangkap raut terkejut Alvian, gadis itu tersenyum kecil. “Wajahmu mudah ditebak. Lagipula aku juga sudah punya firasat.”


“Aku bermimpi kita berlari dari wilayah VI lagi,” gumam Alvian pelan. Tanpa sadar, ia mulai menceritakan bagaimana mimpinya terjadi dan ketika diserang oleh keempat monster serigala hingga berujung pada sesuatu yang mengerikan. “Pada akhirnya, aku bermimpi tidak bisa menyelamatkanmu. Hingga akhirnya, aku hilang kontrol.”


“Itu hanya mimpi, Vian. Lagipula ujungnya tidak berakhir seperti itu, kan?” Alice menatap Alvian penuh makna. Gadis itu tersenyum kecil ketika saudara kembarnya justru meneguk ludah. “Kamu yang paling tahu malam itu, Vian.”


Jeda sesaat. Ingatan tentang dua tahun silam kembali muncul. Mereka memang berlari saat itu. Tetapi tidak terus berlari seperti di dalam mimpi Alvian. Kenyataannya, mereka tidak sengaja bertemu dengan pengantar barang antar wilayah dan ditawari tumpangan. Sayangnya, di tengah perjalanan, mereka diserang oleh sekawanan serigala. Tidak hanya empat, melainkan sepuluh dan semuanya terinfeksi virus.


Sudah jelas siapa yang diincar saat itu‒tidak lain dan tidak bukan adalah Alvian dan Alice. Alih-alih ingin kabur dengan si pengantar barang, mereka berdua justru didorong keluar dan ditinggal begitu saja. Hingga akhirnya, melawan menjadi jalan terakhir saat itu juga.


“Kamu yang menyaksikan sendiri, Alvian. Ending dari malam itu dan mimpimu berbeda,” Alice tersenyum getir.


Benar, Alvian masih ingat jelas. Meski dirinya yang sekarat, tetapi pada akhirnya yang hilang kontrol bukanlah Alvian‒melainkan Alice. Emosi gadis itu tidak bisa terkontrol. Dalam satu detik, sosok yang paling disayanginya itu berubah menjadi senjata pembunuh paling mengerikan.


“Alice … maaf―”


Iya, Alice benar. Ini bukan lagi wilayah VI yang penuh akan tekanan, kecaman, dan penderitaan. Orang-orang yang terus mengurungnya pun sudah mengira mereka berdua mati. Seharusnya udah tidak ada lagi yang perlu ditakutkan, selain kawanan monster yang bisa berulah kapan saja.


Alvian akhirnya mengambil mangkuk bubur tersebut. Meski rasanya terasa pahit di lidah dan tenggorokan sakit ketika menelan, ia tetap memakannya sampai habis. Sementara benaknya terus mencoba berpikir positif pada apa yang telah ia alami selama tinggal di sini.


“Tapi wilayah ini sepertinya yang paling rawan sih dengan monster,” sahut Alice tiba-tiba. Menanggapi raut bingung Alvian, dia melanjutkan, “Akhir-akhir ini ada monster yang muncul dengan sendirinya. Katanya sih evolusi dari hewan yang terinfeksi virus.”


“Hah? Sejak kapan?”


“Beberapa minggu yang lalu. Tapi beritanya masih trending sampai sekarang. Aneh sekali. Padahal semua hewan yang masuk ke sini sudah sesuai protocol kesehatan.”


“Hmm, sepertinya itu bukan kebetulan,” ucap Alvian seraya menaruh mangkuk kosong di atas meja. Dia menatap Alice yang menunjukkan berita di layar hologram smartwatch. “Atau ada oknum yang sengaja?”


“Entahlah. Bisa jadi juga karena teknologinya kurang canggih. Kamu tau kan wilayah ini yang kastanya paling rendah di antara semua wilayah?”


Benar. Wilayah VII adalah wilayah yang kastanya paling rendah di antara ke tujuh wilayah yang ada. Penduduknya kebanyakan adalah kalangan ekonomi menengah ke bawah hingga paling bawah. Bahkan gembel pun bisa hidup tenang di sini.

__ADS_1


Tapi karena itulah Alvian merasa lebih aman tinggal di wilayah ini. Selain penduduknya yang kebanyakan mantan budak dan petani biasa, rata-rata mereka memiliki nasib yang serupa untuk meninggalkan luka di masa lalu.


“Tidak apa. Selama hanya monster biasa kita bisa menanganinya dengan tangan sendiri, kan?” tanya Alvian yakin. Dia mengepalkan tangannya dan perasaan kuat menggoroti dadanya. Alvian selalu merasa yakin dengan kekuatan yang ia miliki.


“Iya … mungkin.” Alice menggangguk pelan dan mengalihkan pandangan. Berbeda dengan Alvian, Alice tidak memiliki keberanian yang besar. Meski kekuatan mereka seakan berhubungan, tapi Alice tahu kalau kenyataannya tidak lah seperti itu. Kekuatan air dan es; tidaklah semudah yang selalu ia pikirkan.


“Lice, aduh―”


Baru saja Alvian ingin berucap kembali, rasa pusing kembali menghampirinya. Dia memegang kening dan merintih hingga Alice membantunya untuk berbaring kembali.


“Istirahatlah. Aku akan keluar sebentar dan pergi bekerja ke toko roti. Bibi Jeny telah mengganti shift-ku,” ujar Alice sambil menyelimuti Alvian yang kembali lemas.


Deg!


Seketika itu juga, Alvian merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dia meraih pergelangan tangan Alice sebelum gadis itu beranjak berdiri.


“Libur aja.”


“Hah? Kamu sudah gila ya?" canda Alice.


"Hari ini doang boleh, kan?"


"Tidak. Jangan manja dong ka-kak-ku,” ucap Alice dengan penuh penekanan di kata terakhir. Tadinya dia mau meledek, namun diurungkan ketika melihat wajah serius Alvian.


“Sepertinya akan ada badai,” ucap Alvian pelan. Dia mengalihkan pandangan keluar jendela dan meneguk ludah. “Firasatku buruk.”


"Vian, aku tahu kita memang mendapat julukan anak terkutuk sejak lama. Tapi itu bukan berarti kita benar-benar membawa malapetaka," gumam Alice pelan.


"Bukan itu maksudku, Alice," Alvian menatapnya tajam. Dia memijat keningnya yang terasa pening kembali. "Menyebut kata-kata itu bukan candaan yang lucu."


“Iya, iya. Aku akan berhati-hati,” ucap Alice pada akhirnya. Dia menghela nafas panjang dan melangkahkan kaki ke pintu. Namun langkahnya terhenti ketika tangannya mencapai gagang pintu. “Aku juga tidak berniat menggunakan kekuatan ini, kok. Kamu tenang saja.”


Alice pun menghilang dari pandangan Alvian. Sementara itu, Alvian kembali melihat keluar jendela dari kasurnya. Dia menghela nafas dan memejamkan mata untuk menghilangkan perasaan itu.


Yah, lagipula firasat hanya lah firasat. Entah apa yang akan terjadi pada saudari kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2