
"pakaian apa yang harus dia pakai, Akukan tidak tau ..." Guman Shabilla menatap baju-baju yang ada di dalam lemari milik Kevin. "Lebih baik aku tanyakan..."
"Tuan...." Teriak Shabilla. "Saya tidak tau baju aja yang akan anda gunakan....." Serunya.
"Apa..." Sahut Kevin setengah berteriak.
"Saya tidak tau baju apa yang akan anda pakai...." Teriaknya lebih keras.
"Ambilkan saja Jas, kemeja dan Dasinya....." Sahut Kevin
"Baik Tuan..."
Shabilla mengambil beberapa pakaian yang ia rasa cocok untuk di pakai oleh tuannya. Sebagai pelayan pribadi sang Tuan Muda Shabilla harus telaten dalam setiap hal. Bahkan seperti menyiapkan pakaian kerjanya sekarang menjadi tugasnya.
"Kenapa Tuan Kevin tidak menikah saja... seharusnya kan hal seperti ini istri yang menyiapkan...." Gumamnya. "Bi Mina bilang tuan tak pernah membawa wanita kerumahnya sekalipun, atau jangan-jangan.....ohhh tidak" Shibilla menutup mulutnya. "Apa iya Si Om galak itu Homo...." Ucap nya sambil menggeleng-geleng kan kepalanya tak percaya.
"Ehmm... Apa yang baru saja kau katakan Nona Shabilla..." Ucap seseorang dari belakang dan mampu membuatnya temperanjat kaget dan hampir jatuh...
"ah......" Teriak Shabilla sambil menutup matanya dan bersiap merasakan sakit di badannya karena terjatuh.
Satu detik..dua detik...tiga detik...ia berpikir kenapa tubuhnya tak merasakan sakit, Shabilla membuka matanya dan mendapati sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat tangan milik siapa yang ada di perutnya.
"Tu....tuu..." Sabila membulatkan matanya bagaimana tidak majikannya ia sedang bertelanjang dada, dan hanya menggunakan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Shabilla menelan Saliva nya, lalu menggeleng kan kepalanya.
"Maaf Tuan..." Lirihnya sambil menjauh dari Tuannya.
"Hem...." Sahut Kevin.
Shabilla berlari meninggalkan kamar Kevin dengan wajah yang sudah merona, ia merutuki kecerobohannya, hingga membuat dirinya sangat malu.
"Astaga Billa kenapa Lo ceroboh banget sih..." Gerutuh nya sambil memukul pelan kepala nya berkali-kali. "Aissss gue malu banget... Gimana kalo si Om-om itu mikir yang aneh-aneh tentang gue...." Gumam nya
Shabilla memang tampak sangat sopan di depan Tuan Muda nya itu, namun sebenarnya ketika ia sedang berada di dalam kamar miliknya ia sering memaki Tuannya dengan sumpah serapahnya. Baginya Tuannya itu tidak jauh beda dengan Iblis, sifat dingin, angkuh, sombong serta arogan yang dimiliki nya membuat Shabilla menaruh kesal di hatinya terhadap Tuannya.
"Gak...loh gak boleh kayak gini, lo mesti kembaliin nama baik Lo lagi di depan Tuan muda mu itu, jangan sampai dia mengatakan bahwa kau adalah seorang wanita penggoda!" Ucap Shabilla. "gue memang mantan mucikari, tapi aku masihlah seorang Gadis" gumamnya.
Flashback on
"Hiks...hiks...Ampun tuan, jangan siksa saya..." Isak tangis terdengar dari diri seorang perempuan yang sekarang tengah terduduk di pojokan dengan baju yang setengah terbuka.
"Saya sudah membayar banyak untuk di beri kesenangan! Dan seperti inikah pelayanan kamu terhadap pelanggan ..." Teriaknya.
__ADS_1
"Tuan saya mohon, jangan perkosa saya hiks hiks ... Tolong lepaskan saya..." Pintanya sambil terus terisak.
Pria itu mendekati perempuan itu dan menjambak dengan kasar rambut panjangnya. "Apa Lo bilang.... Gue udah bayar mahal! Dan Lo mesti muasin gue..." Ucapnya namun kali ini ucapannya berubah tak lagi formal seperti sebelumnya.
"Aghh... Ampun tuan ampun, tolong lepaskan saya! Saya mohon...Aghhh" Isak tangisannya semakin kencang saat pria itu semakin menguatkan tarikannya pada rambut perempuan.
Ia melepaskan tangannya pada tangan perempuan itu dan berlalu pergi karena nafsunya sudah hilang karena penolakan dan tangisan-tangisan mucikari itu. Ia berjalan menujuh pintu dan meraih handle pintu dan membukanya lalu berjalan keluar. Mami Beby yang kebetulan melihat pelanggan nya kekuar dari kamar merasa heran, karena pelanggan nya itu baru datang 15 menit yang lalu dan sekarang sudah keluar dari kamar.
"Tuan Anton kenapa anda sudah keluar dari kamar? Apakah sudah selesai?" Tanya Mami Beby sambil berjalan menghampiri pelanggan nya.
"Oh Mami, saya sangat kecewa dengan pelayanan disini!" Kesalnya.
"Ada apa tuan? Apa mucikari saya kurang bisa memuaskan anda?"
"Saya sudah membayar mahal! Dan wanita anda malah menolak saya dan meronta-rontah" ujarnya.
"Maafkan mucikari saya tuan... Saya akan menggantikan dengan yang lain..." Ujar Mami Bebi.
"Tidak usah saya sudah tidak bernafsu lagi... Dan ya Mami saya tidak mau kejadian ini terulang lagi atau tempat ini akan saya ratakan dengan tanah..." Ancamnya.
"Baaa..baik Tuan"
Ia berjalan menuju kamar dimana Anton keluar tadi dan mencari sosok wanita yang bersama Anton tadi.
Ia menatap sekeliling dan menemukan perempuan itu di pojokan kamar.
"Shabilla......." Teriakannya memenuhi ruangan kamar itu. Shabilla yang mendengar seseorang meneriaki namanya mendongakkan kepalanya. Mami Beby mendekati nya dan menarik rambut nya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan ha? Kau menolak pelanggan..." Ucapnya dengan suara yang naik satu oktaf.
"Ampun mi..ampun....hiks hiks" Shabilla terus meminta ampun dengan air mata yang terus bercucuran membasahi pipinya.
Plak plak plak, tiga tamparan mendarat di pipinya, tangannya meraih pipinya yang sudah memerah ia meringis menahan sakit dalam keadaan masih menangis.
"Saya tidak mau kejadian ini terulang lagi..." tegas Mami Beby. "Romi! Bawa dia ke tempat hukuman dan cambuk dia sebanyak 10 kali .." perintah nya.
Shabilla membulatkan matanya dan berusaha meminta ampun agar tidak di hukum.
"Mi Shabil mohon jangan hukum Shabil ..." Mohon-nya.
"Mi...Mami aku mohon Mi .." Shabilla terus memohon dan meronta-rontah ketika Romi dan Roma tengah membawanya ke ruang hukuman.
__ADS_1
"Diam lah..." Teriak Romi.
"Mi..lepasin Shabil mi, Shabil mohon Mi..." Isaknya.
Plak sekali lagi tamparan mendarat di pipinya namun dari tangan yang berbeda.
"Diam lah ....." Tegas Romi. "Atau aku akan menamparmu lagi, bahkan bisa lebih dari itu" Ancamnya
"Hiks ampun, jangan siksa saya..." Tangis Shabilla semakin keras ..
Romi dan Roma menyeret nya ke ruang Hukum dan mencabuk Shabilla sebanyak sepuluh kali sesuai yang dikatakan oleh bos mereka.
"Ampun...Aghhh" teriak Shabilla saat cambuk pertama melayang di badannya. Ia semakin menguat kan teriakannya saat cambuk itu mendarat di punggung nya. Hingga cambukan yang terakhir.
"Aghhh...Ampun Mi ampun..." Isaknya sambil berteriak, tak lama kemudian teriakannya melemah dan jatuh pingsan.
"Hey bangun...." Ucap Roma sambil menggerakkan badan Shabilla. "Bos, dia pingsan!" Ujarnya
"Biarkan saja dia disana, jangan ada yang membantunya! Itu hukuman untuknya.." sahut Mami Beby. "Sekarang tinggal kan ruang ini, dan panggil salah satu mucikari untuk menjaganya sampai ia sadar nanti"
"Baik bos..." Sahut keduanya kompak, lalu berjalan beriringan mengikuti langkah bosnya.
Begitu lah seterusnya, ketika Shabilla menolak semua pelanggan ia akan disiksa dan di hukum oleh Mami Beby.
meskipun sudah di siksa dan sudah banyak bekas luka cambukan dan luka akibat siksaan di tubuhnya bahkan badannya sudah tidak mampu lagi menahan siksaan-siksaan yang di berikan pada tubuhnya Shabilla tetap bersikeras mempertahankan keperawanan nya. Ia rela mati dari pada keperawanan nya di rebut oleh orang yang bukan suaminya.
Flashback of
halo Readers sayang:)😀 jumpa lagi sama author hhe:)
hari ini up nya kayaknya sama kayak kemarin satu episode tapi kali ini up nya lumayan panjang, sekitar +- 1100 kata.
semoga Readers senang sama ceritanya:)
jangan lupa tinggalkan jejak💙✨
cuap cuap muach buat Readers semua;)
happy reading:)
salam hangat dari author:v
__ADS_1