
di sisi lain Kevin tengah terduduk di tepian ranjangnya, tatapannya kosong begitu pula dengan pikirannya. Hatinya tiba-tiba begitu sesak, melihat Shabilla menangis dan meneriakinya seakan membuat sisi dari dirinya terluka.
"Kenapa hatiku sakit melihat dia Menangis, kenapa aku merasa bersalah karena telah membentaknya...." Pikir Kevin.
"Apa kata-kataku terlalu menyakiti hatinya" Gumamnya.
Kevin melangkah kan kakinya keluar kamar, matanya berkeliling mencari sosok yang baru saja ia bentak "Apa dia di kamarnya? ah mungkin saja dia disana.." Ucap Kevin kemudian berjalan menuju kamar milik Shabilla.
Ia memegang handle pintu kamar milik Shabilla, awalnya ia ragu namun hatinya berkata jika ia harus meminta maaf.
"Tuan..." Panggil Bi Mina sebelum Kevin membuka handle pintu kamar. "Tuan mencari Non Shabil? Non Shabilla nggak ada dikamar!" Ujar Bi Mina ketika Kevin menoleh.
"Kemana dia?"
"Tadi saya liat Non Shabil berjalan ke belakang, kayaknya Non Shabilla ke taman Tuan" jawab Bi Mina.
"Hem..." Kevin mengangguk dan langsung berjalan menuju Taman dan benar saja sosok yang ia cari memang ada disana, ia membayangkan diri menghampiri nya dengan sejuta keraguan di hatinya.
Ia memposisikan badannya di samping sosok tersebut yang sekarang tengah menangis tersenduh-senduhSesak dadanya kembali terasa sesak mendengar suara tangis dari sosok itu.
"Maaf..." Lirihnya
Shabilla yang baru sadar jika ada seseorang di sampingnya sontak berdiri dan berjalan menjauh menghindari Kevin. belum jauh ia melangkahkan kakinya tapi Kevin sudah memeluk nya dari belakang. Kevin sendiri tak tau mengapa ia melakukan itu seakan-akan sumuanya bukan lagi pikirannya yang mengendalikan tubuhnya.
Shabilla meronta-rontah berusaha untuk melepaskan diri, namun tenaga Kevin jauh lebih kuat.
'maaf...." Lirihnya lagi.
__ADS_1
"Heh... Maaf semudah itu anda berkata maaf! ketika anda sudah merendahkan harga diri saya" Seru Shabilla.
"Aku Khilaf, tolong maafkan aku" Ujarnya. Shabilla diam sambil sesekali menyeka air matanya. Kevin membalikkan Tubuh Shabilla dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Shabil.
"Maafkan aku, aku mohon..." Ucapnya Sendu. "aku tak mau kehilangan kamu" Ujarnya Lirih. Shabilla terus saja diam ia tak mengerti apa yang dikatakan oleh Tuannya itu.
"Saya mau berhenti bekerja! soal uang saya akan berusaha untuk melunasi nya" Shabilla akhirnya angkat bicara.
"Nggak....kamu nggak boleh berhenti bekerja" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, bukankah saya hanya seorang penggoda!" Ucap Shabilla penuh penekanan
"Shabilla, maafkan aku " lirihnya. "Aku gak mau kehilangan untuk yang kesekian kalinya" Ujarnya lalu memeluk Shabilla. Shabilla sama sekali tak menolak ketika Tuannya itu memeluknya pikirannya menolak namun hatinya menginginkan itu.
"Aku Menyukaimu" Ucap Kevin. Shabilla membulatkan matanya dan mendorong tubuh Kevin.
Kevin mendekati Shabilla, jarak mereka sekarang hanya beberapa sentimeter saja Kevin menunduk kan kepala perlahan wajahnya mendekati wajah Shabilla hingga bibirnya menyentuh bibir milik Shabilla. Shabilla membulatkan matanya tangannya mendorong tubuh Kevin agar menjauh tapi tangan Kevin sudah lebih cepat menahan tangan Shabil dan memperdalam ciumannya, Mulanya Shabilla memberontak namun akhirnya Shabilla hanya diam tak memberontak dan tak juga membalas ciuman itu.
Kevin melepaskan ciumannya ketika menyadari Shabilla tak membalas ciuman nya.
"Percaya lah aku mencintaimu" Lirih Kevin.
Shabilla tak tau harus berkata apa ia hanya diam diam dan diam. Kevin mendekati Shabilla dan memeluknya,
"Maafkan Aku..." Seru Kevin untuk yang kesekian kalinya.
Shabilla hanya mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Kevin, sudah jelas pipinya sekarang tengah merona.
__ADS_1
"Lebih baik kita kembali kerumah, disini sangat dingin..." Kevin mengajak Shabilla kembali kerumah, Shabilla mengikuti nya dari belakang.
Sesampainya dirumah Kevin mengajak Shabilla ke kamarnya dengan alasan untuk meminta bantuannya.
Dikamar Kevin menyuruh Shabilla membereskan meja kerja nya dan ia beralih ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Shabilla langsung membereskan Buku-buku yang ada di meja kerja milik Kevin hingga tanpa sadar tangan kekar milik Kevin sekarang sudah melingkar di perutnya
"Tuan... jangan seperti ini" Ucap Shabilla.
"Aku tau kau mencintaiku" Ucap Kevin penuh keyakinan.
"Hentikan omong kosong itu Tuan..." Elak Shabilla.
"Katakan Jika kau tidak mencintai ku" ucap Kevin.
deg.. Shabilla terdiam ia tak mungkin mengatakan nya karena sebenarnya ia mencintai tuannya.
"Diam, artinya kau mencintaiku" Ucap Kevin dan mempererat pelukannya. "Jangan pernah tinggalkan aku" Lirihnya.
Shabilla berbalik menghadap Kevin dan membalas pelukan tuannya itu kemudian mengangguk.
Halo Readers sayang
maaf ya kalo cerita nya gaje dan cepet banget penyataan cintanya karena author pengen nya Ceritanya gak terlalu panjang, mungkin hanya sampai 60 episode
semoga Readers senang dengan ceritanya☺️
__ADS_1