
Desa Caringin rumah-rumah yang has terbuat dari bambu,hewan ternak saling bersautan di hiasi suara canda tawa anak-anak sedang bermain.
Namun sore yang sebelumnya tenggelam dalam suasana indah dan udara sejuk itu mendadak seketika jadi hingar bingar.Di sebelah barat tampak kobaran api membakar dua buah rumah.di sebelah Utara pekik jerit suara orang yang ketakutan. Suara kentongan dengan keras berbunyi silih berganti. Di arah lain teriakan-teriakan sambil berlarian di campur jerit tangis anak-anak.
"Lari-lari, selamatkan diri lari...!" Semua penduduk berusaha selamatkan diri lari keluar Desa.
"Bunuh semua penduduk,bakar semua rumah-rumah!" Perintah ketua gerombolan yang menyerang Desa.Suara kaki kuda menyerbu. Kelebatan golok di mana-mana.Seorang penduduk yang memukul kentongan roboh ketanah. Darah mengalir dari tubuhnya meregang nyawa dengan leher hampir terputus. Penduduk yang berusaha kabur menyelamatkan diri satu demi satu mati terbunuh.
Ajya Wijaya kepala Desa Caringin dilihatnya dua di antara gerombolan yang menyerang Desanya sedang berjalan mendekat ke arahnya.kedua gerombolan itu memasang aura membunuh. Tanpa bicara dengan parang yang di genggamnya Ajya Wijaya langsung membabat kedua gerombolan itu. Tanpa bisa menangkis dan menghindar kedua gerombolan itu roboh ketanah. Darah muncrat dari tubuh keduanya yang pertama langsung meregang nyawa.Kawannya yg terkapar di sebelahnya masih nampak menggeliat sambil pegangi dadanya yg robek besar,lalu diam tak berkutik lagi tanda nyawanyapun sudah putus.
Setelah berhasil membunuh dua di antara gerombolan yang menyerang Desanya itu. Ajya Wijaya tertegun terbesit di pikirannya teringat pada Darga Gumelar anaknya yang sedang mengambil rumput di lereng gunung untuk hewan ternaknya.
Namun seketika rasa hawatir pada anaknya puyar,matanya tertuju pada beberapa penunggang kuda dengan berpakaian serba hitam menuju ke arahnya. Meraka tampak membawa buntalan besar berisi harta benda hasil rampokan,di antaranya ada yang memanggul satu orang gadis Desa dengan paksa.
"Jadi mereka gerombolan-gerombolan sadis itu." Kata Ajya Wijaya menggeram.
Setelah gerombolan-gerombolan itu mendekat sekitar jarak lima tombak dari Ajya Wijaya,mereka berhenti melaju.Seorang gerombolan yang paling depan nampak sangat marah ketika melihat dua anak buahnya terkapar di tanah.Lalu matanya tertuju pada Ajya Wijaya yang sedang berdiri di depannya.Tatapannya sangat tajam sekali tanda betapa marahnya orang tersebut.
__ADS_1
"Bangsat,siapa kau?" Berani sekali membunuh anak buah ku. Tanpa menjawab Ajya Wijaya langsung melompat ke depan sambil menebangkan parang ke arah kepalanya.Pemimpin gerombolan itu mengeluarkan golok yang terselip di pinggangnya,lalu dengan cepat angkat tangan menangkis dengan goloknya.
"Trang!"
Dua senjata saling beradu.pemimpin gerombolan itu merasakan tangannya pedas kesemutan. Golok yang di pegang nya jatuh ke tanah. Dengan cepat pemimpin gerombolan itu meloncat ke kiri turun dari kudanya,untuk menghindari serangan susulan yang akan di lakukan Ajya Wijaya. Sekitar jarak dua tombak pemimpin gerombolan itu menunjuk goloknya yang tergeletak di tanah. Di angkatnya golok itu menggunakan telunjuknya. Satu kali hentakan golok itu terbang melesat menyerang Ajya Wijaya.
"Hyattt...!" Ajya Wijaya melompat ke kanan menghindari golok yg melesat menyerangnya.Ajya Wijaya sedikit terkejut.
"Dengan jarinya,dia mampu mengendalikan golok itu!" ucap hatinya.
Lalu di lihatnya golok itu berbalik dan berputar persis seperti kincir,dengan putaran yang sangat cepat.
"Mustahil aku bisa menghindar!" ucap hatinya.
Sekitar jarak satu tombak di depan Ajya Wijaya. Entah datang dari mana seorang berjubah merah,berdiri membelakangi Ajya Wijaya,dengan tegap menghadang golok terbang yang melesat tertuju pada Ajya Wijaya.
"Blest!" Golok menancap tepat di dada lelaki berjubah merah itu.Golok yang di hadang nya tembus kebelakang dadanya.
__ADS_1
"Siapa dia? merelakan diri untuk menolongku!" Ucap Hati Jaya Wijaya keheranan. Namun alangkah terkejutnya Ajya Wijaya ketika melihat orang berjubah merah itu masih bisa bergerak untuk berbalik badan sehingga menjadi tepat berhadap-hadapan dengan Ajya wijaya.Kedua mata di tutupi kain merah yang terikat melingkar di kepalanya yang botak,dan berbadan gempal.
"Apa dia buta..? Ucap hati Ajya Wijaya seakan bertanya pada dirinya sendiri.
"Si siapa anda?" Tanya Ajya Wijaya. Tanpa menjawab sedikitpun orang berjubah merah itu mengangkat tangannya dan mencabut golok yang menancap di dadanya. Lalu di lemparkan golok itu ke tanah tepat di depan pemilik golok itu. Ajya Wijaya makin terkejut ketika melihat tidak ada darah keluar sedikitpun dari tubuh orang berjubah merah itu,padahal lukanya begitu parah. Bahkan dari golok yg menghunus nya tak terlihat sebercak darah menempel. Pandangan mata Ajya Wijaya pindah ke arah lain, datang dua orang dari arah depan. Keduanya berpakaian yang sama dengan lelaki yang menghadang golok terbang tadi,yang satu memakai topeng dengan satu lubang mata kanan,Sementara satunya lagi yang mengikuti dari belakang seorang perempuan berambut panjang menjuntai selutut dengan mata buta sebelah kanan,dan di punggungnya tampak menempel satu buah samurai.
"Tugasmu sudah selesai!" pergilah. Perintah lelaki yang bertopeng besi pada si pemimpin gerombolan yang telah menyerang Desa.
"Baik!" sambil mengangguk. Tampak raut wajah ketakutan dari si pemilik golok terbang itu. Tanpa banyak bicara setelah mengambil goloknya si pemimpin gerombolan itu pergi di ikuti anak buahnya,sambil membawa buntalan harta rampasan dan satu orang gadis Desa.
Setelah kepergian gerombolan itu. Tinggalah Ajya Wijaya dan ketiga orang berjubah merah.
"Siapa orang-orang berjubah merah ini?" ucap hatinya.
"Apa tujuan kalian?" Tanya Ajya Wijaya pada ketiganya.
"Pusaka golok sembilan!" Jawab orang yang bertopeng.
__ADS_1
Sambil menundukkan kepala Ajya Wijaya berkata pelan."Jadi itu tujuan kalian,lebih baik aku mati daripada memberikan pusaka golok sembilan!" Tegas Ajya Wijaya sambil kembali mengangkat kan kepalanya.
"Baik jika itu keinginanmu!"