
Sinar matahari mulai tenggelam. Hari terus semakin gelap berganti malam. Sorotan sinar matahari di ganti dengan rembulan. Di temani peliharaannya Darga terus berlari. Darah bercucuran di kakinya karena luka akan batu-batu kecil yang tajam di jalanan. Air mata terus keluar turun membasahi pipinya,seakan tidak ada habisnya. Tanpa tau arah tujuan Darga terus menjauhi Desanya. Dalam hati, Darga terus teringat pada nasib ayahnya "Apa ayah akan baik-baik saja,bagaimana keadaannya,apa ayah masih hidup?" Semakin jauh ia meninggalkan Desa semakin khawatir terhadap keadaan Ayahnya. Hingga pada akhirnya Darga memutuskan untuk kembali ke Desa.
Namun ketika Darga berhenti ia baru tersadar bahwa bersama Dombanya ia sedang berada di hutan belantara.
Mata sudah tak bisa melihat apapun karena gelapnya malam. Sinar rembulan menghilang tertutup awan. Suara burung malam saling bersahutan. Perasaan takut mulai keluar dari hati Darga.
Dengan tangan kiri Darga memegang tanduk dombanya. Dirasakan olehnya seluruh badan mulai melemas karena kelelahan telah berlari jauh. Kaki yang menopang dirinya untuk berdiri mulai gemetar tak sanggup lagi menahan tubuhnya, sehingga Darga terjatuh ke tanah dengan lutut sebagai tumpuan. Dengan melingkarkan tangan kiri pada pundak dombanya Darga bersandar. Kepala mulai pusing,pandangan mata ber kunang- kunang. Lalu di lihatnya dua pasang bola mata mendekat ke arahnya sambil keluarkan suara menggaur.
__ADS_1
"Guarr."
"Oh tidak,itu suara harimau." Sementara domba peliharaannya tidak mundur sedikitpun. Tanpa rasa takut si Domba tetap berada di samping Darga.
Darga mencoba berdiri namun apa daya tubuhnya begitu lemah. Darga terus mencoba berdiri namun tak bisa.
"Demi ayah aku tidak akan mati seperti ini!" Tekad Darga menjadi semakin kuat. Sambil kepalkan tangannya Darga berusaha berdiri. Namun apa daya semakin Darga berusaha semakin lemah tubuhnya. Terasa hilang tenaga pada seluruh tubuhnya. Darga tak menyerah ia terus mencoba. Sambil keluarkan teriakan Darga berusaha mengeluarkan tenaganya untuk berdiri. Namun tetap saja lagi-lagi Darga tak mampu dan malah tersungkur ke tanah.pandangan Darga mulai buram, Kelopak mata menutup perlahan-lahan dan akhirnya Darga pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Maafkan aku ayah, sekarang aku akan menyusul mu."
Melihat majikannya jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Si domba maju ke depan siap menghadang harimau buas itu.
"Guarr." Harimau meloncat untuk menerkam. Bersamaan dengan itu si Domba meloncat ke arah harimau. Dengan tanduk besar yang tumbuh di kepalanya. Si Domba berhasil menyundul dada harimau buas itu.
"Bluk." Harimau jatuh ke tanah. Dengan cepat harimau bangkit lalu meloncat menerkam dari depan. Giginya yang tajam menempel di pundak si Domba dengan cakar kaki depan menancap di punggung si Domba. Tidak habis akal Domba itu berputar untuk melemahkan cengkraman harimau buas itu. Lalu dengan sekuat tenaga tanduknya di sundul kan ke atas tepat mengenai bagian perut si harimau. Dengan sundulan dari si hitam yang begitu kuat . Harimau buas itu terjungkir ke belakang. Darah keluar di perutnya. Begitu kuatnya sundulan si Hitam sampai mampu membuat robek perut si harimau. Karena tak mampu mengalahkan si Domba dan terutama merasakan sakit pada perutnya yang luka. Raja hutan itu mundur kebelakang lalu berbalik dan lari tunggang langgang menjauhi si Domba dan majikan nya.
__ADS_1