PENDEKAR GOLOK SEMBILAN DARGA GUMELAR

PENDEKAR GOLOK SEMBILAN DARGA GUMELAR
DARGA GUMELAR


__ADS_3

Angin berhembus menghempas tumpukan rumput yang tersusun rapih. Tepat dibawah pohon rindang yang bergoyang seorang pemuda duduk bersandar. Tangan kanan memegang sebuah arit,tangan kiri mengelus-elus binatang peliharaannya . Kepala menengadah ke atas dengan mata yang tertuju pada mega merah yang di hiasi awan-awan putih.


"Huh indah sekali cuaca!" gumamnya.


selang berapa detik tertutup oleh awan hitam yang membumbung tinggi ke langit.


Mata si pemuda menyipit "heran"


"Asap apa itu? hitam ayo kita pulang." ajaknya.


Si pemuda berdiri mengeluarkan seutas tali dari saku celananya,lalu di ikatlah tumpukan rumput hijau itu.Setelah selesai mengikat dengan kencang dan kuat si pemuda menyiapkan kakinya untuk mengangkatnya.


"Heup...! Si pemuda mengangkat rumput. Dengan sedikit gontai di ikuti si hitam dari belakang.


Dengan perlahan namun pasti pemuda itu terus berjalan turun menuruni lereng gunung yang cukup miring. Walaupun rumput yang di bawanya begitu berat seorang pemuda itu terus berjalan. Entah kenapa hatinya begitu penasaran pada asap hitam yg di lihatnya tadi. Sehingga tak membuatnya berhenti sejenak untuk melepaskan pegal di pundaknya.


Setengah perjalanan menuju Desa langkahnya terhenti.Berencana untuk melihat kembali ke langit dengan kepala di miringkan ke atas karena susah melihat ke atas sambil membawa beban di pundaknya. Matanya kembali melihat asap hitam yang membumbung ke langit. Alangkah terkejutnya si pemuda ternyata asap itu berasal dari Desanya.

__ADS_1


"Oh tidak,apa yang terjadi di Desa?" ucap hatinya. Si pemuda yang sedang memanggul rumput itu mempercepat langkahnya untuk menuju Desa,penasaran apa yang sebenarnya telah terjadi di Desa.


Dengan langkah tergesa-gesa si pemuda terus bejalan. Pundak yang pegal tak di rasakan lagi. keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Kaki berdarah karena tergores duri dan batu batu tajam yang ada di jalanan setapak,namun semua itu tak di hiraukan nya.


Setelah sampai di pinggiran Desa.


"Blup...!" Suara rumput yang di panggulnya jatuh ke tanah. Betapa terkejutnya si pemuda melihat apa yang di lihatnya. Mata melebar,mulut terperanga dengan tubuh bergetar. Di lihatnya Api berkobar melahap hampir semua rumah rumah penduduk. Hari yang mulai gelap seakan akan terus terang di Desa itu tersinari kobaran api yang membakar rumah-rumah penduduk.


Dengan perlahan Pemuda itu masuk ke Desa. Di lihatnya sekeliling mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Tepat di depan si pemuda ada seorang lelaki paruh baya yang bersimbah darah dengan leher hampir putus. Tanah Desa yang hijau di hiasi rumput-rumput peliharaan berubah jadi merah tersiram darah yang keluar dari luka mayat mayat penduduk.


"Ayah..!" teringat pada ayahnya. Tak terasa air mata membasahi kedua pipinya. Lalu si pemuda berlari dengan cepat untuk menuju rumahnya.


"Ayah..." Teriaknya sambil berlari mendekat pada ayahnya. Lalu si pemuda membopong untuk membantu ayahnya bersandar pada sebuah pohon mangga.


"Darga ..."


"Ayah apa sebenarnya yang telah terjadi?" Tanya Darga pada ayahnya. Tanpa menjawab Ajya Wijaya sambil pegangi dadanya yang robek besar berkata.

__ADS_1


"Darga pergilah ke Desa Sindanggalih temui pamanmu."


"Tidak,aku ingin bersama ayah di sini!" bantah Darga.


Lalu Darga memeluk ayahnya dan menangis keras. Melihat hal itu jatuhlah air mata Ajya Wijaya membasahi pipinya. Dalam pelukan keduanya menumpahkan tangisan. Berapa detik kemudian Ajya Wijaya berkata terputus-putus.


"Hey nak bu..bukankah kau ingin ber..bertemu Ibumu pergilah kau ke Desa Sindanggalih,se..telah itu kau pergi ke bukit Talun antarkan si hitam pada pemiliknya."


"Tidak,aku ingin disini bersama Ayah." tegas Darga sambil menangis. Dengan sedikit sisa tenaganya Ajya Wijaya mendorong Darga Gumelar.


"Pergilah nak,ada seseorang datang kesini aku ingin kau tetap hidup.


"Bagaimana dengan Ayah?"


Lalu terdengar suara drap kuda dari arah barat.


"Pergi." teriak Ajya Wijaya.

__ADS_1


Dengan tangisan tersedu-sedu Darga Gumelar berlari menjauhi ayahnya dan di ikuti Domba jantan hitam peliharaannya.


__ADS_2