
Ketika orang-orang berpikir ini adalah hari damai seperti biasanya, kehancuran datang tanpa disangka-sangka.
Seekor monster raksasa yang muncul di tengah kota berhasil merebut kehidupan banyak orang. Banyak ahli yang dikerahkan, tetapi mereka semua berakhir mati di tangan sang monster.
Mayat-mayat tersebar di sepanjangan jalan. Baik warga sipil maupun orang-orang yang secara khusus menangani bencana serupa, mereka terbunuh oleh monster yang kini tampak lebih tenang dibanding pertama kali kemunculannya.
Monster itu seperti naga yang tidak memiliki mata. Ia duduk sambil mengarahkan wajah ke langit, seolah-olah sedang merenungkan apa yang telah ia perbuat namun tidak sekali pun menyesalinya.
Di sisi lain, seorang gadis berjalan ke arahnya.
Kondisi gadis tersebut benar-benar terpuruk. Ada banyak luka di tubuhnya. Dengan kaki yang pincang, ia berjalan melalui tumpukan mayat di sisi kiri dan kanannya.
Ia memegangi bahu kiri yang masih bercucuran darah selama berjalan. Hingga akhirnya, ia pun bertemu langsung dengan sang monster.
Gadis tersebut ingin mengucapkan sesuatu, tetapi suaranya tak bisa keluar. Rasa sakit di tenggorokannya membuat suaranya tertahan.
Sang monster yang menyadari kehadirannya segera berpaling. Ia mendekatkan wajah ke titik di mana gadis tadi dapat merasakan napas berat yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
“Lagi-lagi kau gagal.”
Monster itu mengucapkan beberapa patah kata dengan suara berat mengerikannya.
“Aku selalu berharap besar padamu, tapi kau selalu mengecewakanku. Baik kau atau aku, kita selalu berada di titik ini. Siklus kita selalu terulang di sini. Ketika aku menghancurkan segalanya, dan kau berada di sini untuk dibunuh.”
“… Kau salah.”
Dengan memaksakan tenggorokannya, gadis itu membantah perkataan monster.
“Salah? Apanya yang salah? Mungkin selama proses terjadi banyak hal yang berbeda dari biasanya, tapi semuanya selalu berakhir di sini. Masa depan tidak dapat berubah sebanyak apa pun kau sudah berusaha.”
“Sampai sekarang pun aku masih berharap kau dapat memperbaiki akhir mengerikan ini dan menghentikan pengulangan yang terus terjadi di antara kita. Kau harus menyelamatkannya agar kita tidak lagi harus berakhir seperti ini.”
Mendengar kata-kata sang monster, gadis tersebut mendecikkan lidah dan menggigit bibir bawah. Ia tidak terima dengan perintah tersebut.
“Kenapa!? Kenapa harus seperti itu!? Aku sangat menyayangimu meski selama ini kita tidak pernah akur! Kami yang tersisa juga sangat menyayangimu! Tapi … hanya karena dia sudah tidak ada … kamu malah berubah menjadi monster seperti ini …. Meskipun dia sudah tidak ada, kita bisa mengulangnya kembali! Kita masih bisa membuat kenangan indah bersama meski dia sudah tidak ada ….”
__ADS_1
Gadis itu berteriak hingga suaranya habis, berpikir kata-katanya dapat mencapai monster di hadapannya.
“Aku akan memberikan seluruh cinta yang kumiliki untukmu, jadi … ayo berhenti? Kembalilah, kita bisa memulainya kembali dari awal. Lupakan saja dia, kita bisa hidup di suatu pelosok dengan identitas baru. Aku akan melakukan segalanya untukmu. Meski kita hidup sebagai buronan, aku akan melindungimu. Jadi, mari hentikan ini, ya? Kumohon?”
Ia terus membujuknya dengan suara lembut, tetapi sang monster hanya menghembuskan napas.
“Kau tidak mengerti sedikit-sedikit. Bagiku, dunia ini dunia tidak ada artinya bila dia tidak ada. Jika dia dilenyapkan dari dunia ini, maka dunia ini juga harus lenyap.”
“Itu cuma pemikiranmu! Dia pasti tidak pernah ingin kamu melakukannya–!”
“Benar, ini cuma keegoisanku yang sudah putus asa ditinggalkannya.”
Sang monster memotong ucapan gadis itu.
“Bagaimanapun caranya, sekali lagi, aku memintamu untuk menyelamatkannya. Aku berharap besar kepadamu karena kamulah satu-satunya yang bisa diharap. Tidak ada lagi orang lain.”
“Tidak ….”
__ADS_1
Di detik berikutnya, tanpa mendengar balasan gadis itu, sang monster menggigit separuh atas tubuhnya dan membiarkan separuh sisa tubuh lain gadis itu tergeletak di atas tanah.