Pengantin 7 Dosa Besar

Pengantin 7 Dosa Besar
Bab 05 - Upacara Masuk


__ADS_3

Kereta melaju kencang di atas rel. Kebanyakan penumpangnya disisi oleh siswa-siswi dari dua akademi berbeda.


Di antara banyaknya penumpang, Airen dan Sophia duduk di sebuah ruangan. Kebanyakan waktu mereka habiskan dalam diam sambil menatap keluar jendela.


Pemandangan di luar tampak indah sekaligus mengerikan. Dari bawah terlihat kota yang sudah lama ditinggali dengan reruntuhan bangunan.


Sekilas kota itu tampak tak berpenghuni. Akan tetapi, dari sela-sela reruntuhannya, para monster yang disebut Strike mengintip ke arah kereta dengan tatapan tajam mereka.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski kita sekarang melalui sarang Strike, mereka tidak akan bisa melakukan apa pun pada kereta.”


Ketika Airen sedang mengawasi pemandangan dari balik jendela, Sophia menjelaskan bahwa situasi aman terkendali. Perkataan Sophia tentu memancing rasa ingin tahu Airen.


“Kenapa bisa begitu?”


“Karena di sekitar rel dan keretanya sudah dipasangi penghalang. Selama tidak ada orang jahat yang merusak penghalang, Strike tidak dapat mendekat.”


Airen pun mengangguk setelah mendengar jawaban Sophia. Ia pernah membaca soal itu di perpustakaan, hanya saja ia sedikit kurang yakin.


“Bangunan-bangunan itu … apa artinya tempat ini dulu pernah ada kota?”


“Begitulah. Setidaknya sampai Strike yang menginvasi kota sebelahnya datang ke sini. Strike awal mulanya muncul dari negara selatan. Mereka perlahan menyebar dan menguasai beberapa negara. Mereka datang ke negeri ini dan memisah dua wilayah. Wilayah tempat kita tinggal dan akademi. Karena di tengah-tengah dua wilayah adalah kekuasaan Strike, kita harus menggunakan kereta agar bisa sampai ke kota akademi.”


“Jadi karena itu, ya?”


Cerita Sophia tersebut sama seperti yang Airen baca di perpustakaan.


Selain informasi yang disampaikan Sophia itu, Airen pernah mendengar alasan kenapa orang-orang dewasa lebih memilih memasang barier di antara kedua wilayah dibanding menghabisi Strike yang ada di sana dari Kura.


Wilayah yang dikuasai Strike itu dikelilingi oleh penghalang, sehingga mereka tidak bisa pergi ke mana pun. Orang-orang dewasa memanfaatkan Strike sebagai pelatihan murid-murid akademi untuk mencari pengalaman agar mereka tidak kaku di medan perang sesungguhnya.


“Saat aku menyadari kalau sedang berada di dunia lain, kupikir monster-monster itu tidak akan datang jika tidak dicari. Sama seperti kisah petualang yang sering kubaca, pahlawan hanya akan bertemu dengan monster jika ia datang ke wilayah mereka. Atau, monster akan datang ke wilayah manusia hanya jika ada keadaan tertentu saja. Tapi ternyata, dunia ini tidak seperti itu.”


“Jika Strike seperti ucapanmu, pasti dunia ini akan lebih indah. Sayangnya di dunia ini, Strike terus maju tanpa henti. Meski kita hidup dalam damai dan makan-makanan enak, di sisi lain ada orang-orang dewasa yang berperang melawan Strike untuk melindungi kedamaian yang kita nikmati. Duniamu tinggal sebelumnya sudah seperti surga bagi kami yang selalu dipenuhi rasa cemas dengan kedatangan Strike yang bisa terjadi kapan saja.”


Mendengar bagaimana Sophia berbicara, Airen hanya bisa menundukkan kepala, memikirkan apa yang dirasakan orang-orang di dunia ini saat mengetahui dunia mereka sedang dalam bahaya.


“Nah, tampaknya pembicaraan ini sudah terlalu berat untuk dilanjutkan. Mari kita ganti suasana dengan mengganti topik yang lebih ringan. Apa kamu punya cerita bagus?”


“C-Cerita bagus? Emm, biar kupikirkan ….”


Karena tiba-tiba disodori permintaan semacam itu, Airen meminta waktu untuk memikirkannya.


“Oh, ya. Sudah sepuluh menit lebih berlalu sejak kita naik kereta, apa masih jauh untuk sampai ke akademi?”


“Aku menyuruhmu untuk menceritakan hal bagus, tapi kamu malah bertanya kapan kita sampai?”


“M-Maaf, sepertinya aku salah paham.”


Melihat kelakuan Airen itu, Sophia membuang napasnya. Ia berharap mendapat beberapa hal baru yang belum ia ketahui, tetapi Airen malah memberikannya pertanyaan lain.


“Biasanya 20 menit kurang kita sudah sampai di stasiun berikutnya. Untuk ke akademi mulai stasiun kira-kira perlu waktu 3 menit. Tidak terlalu jauh, tapi sebaiknya kamu jangan terlalu santai di jalan.”

__ADS_1


“Aku mengerti.”


Airen mengangguk atas saran Sophia tersebut.


Kemudian, keduanya kembali ke kondisi diam. Kereta terus melaju hingga dari kejauhan terlihat sebuah gerbang dengan batu-batu mistis di sekitarnya.


Masinis mengumumkan kereta akan segera sampai ke stasiun dan meminta para penumpang agar tidak meninggalkan barang bawaan mereka di kereta.


Saat kereta tiba di stasiun yang dimaksud, para penumpang segera turun. Di antara mereka ada Airen dan Sophia yang berpegangan tangan supaya tidak terpisah gara-gara kerumunan.


Begitu kerumunan berkurang, Sophia segera melepas tangan Airen dan berjalan lebih dahulu untuk menutupi wajah malunya. Airen yang takut tertinggal buru-buru mengejar Sophia.


***


Beberapa waktu mereka berjalan, Sophia dan Airen tiba di depan akademi. Air mancur segera menyambut mereka ketika berjalan di jalan setapak setelah melewati gerbang akademi.


Semua orang di sekitar memakai seragam yang sama persis dengan apa yang mereka kenakan. Namun yang paling menarik perhatian, tentunya adalah bangunan-bangunan besar di akademi.


“Jadi ini Akademi Starlight? Sekolahku yang baru benar-benar besar ….”


“Kamu terkejut? Yah, tentunya. Akademi Starlight memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Ada tempat untuk simulasi pertarungan dan penelitian. Semua yang diperlukan para Javelin muda untuk berkembang tersedia di sini.”


Sophia dengan bangga menjelaskan.


“Seharusnya masih ada banyak waktu sebelum upacara masuk dimulai, mau berkeliling akademi sebentar?”


“Memangnya boleh?”


Sophia memperkenalkan beberapa fasilitas di akademi. Di antaranya adalah gedung besar yang ada di paling depan. Gedung tersebut menjadi tempat untuk kelas belajar, kantin, perpustakaan, tempat penelitian di lantai bawah, serta ruang para guru di lantai teratas.


Gedung lain di antaranya adalah arena pertarungan untuk turnamen dan latih tanding, tempat uji coba praktek, auditorium, lalu gedung olahraga untuk tes fisik dan sebagainya.


Upacara masuk diadakan di gedung auditorium. Gedung tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk mengumpulkan para siswa ketika ingin mengumumkan hal penting saja, tetapi juga berbagai hal lain seperti pelaporan sesuatu yang berkaitan dengan penelitian dan penemuan. Ruang OSIS dan komite-komite lain juga berada di sana.


Sophia membawa Airen ke gedung auditorium sebagai tujuan akhir mereka. Sophia memandu Airen hingga tiba di ruangan tempat upacara masuk diadakan.


Ruangan tersebut cukup luas sampai tidak bisa disebut lagi ‘ruangan’. Di sana terdapat sebuah panggung dengan seribu lebih kursi menghadap ke arahnya.


Airen dan Sophia mengambil tempat duduk mereka setelah mendengar pemberitahuan bahwa upacara masuk akan segera diadakan.


Kemudian seorang pria mengenakan setelan hitam dengan topi bundar di atas kepala dan mengenakan kacamata monokel naik ke atas panggung lalu berjalan hingga ke tengah.


Upacara masuk dimulai dengan perkenalan pria tersebut sebagai wakil direktur akademi.


Ia memulai pidato dengan menjelaskan keadaan dunia mereka yang sedang dalam bahaya akibat serangan monster dari asteroid bernama Strike.


Ia memberitahukan bahwa akademi bertugas untuk mendidik para Javelin muda agar tidak mudah mati di peperangan melawan Strike.


Javelin sendiri adalah orang-orang yang membuat kontrak dengan senjata dalam jiwa mereka—disebut Kavalian—lalu membangkitkan kemampuan khusus.


Dalam beberapa kasus langka seperti Airen, ada Javelin yang membangkitkan kemampuan khususnya sebelum membuat kontrak dengan Kavalian—itulah penjelasan yang Airen dapat dari buku-buku di perpustakaan.

__ADS_1


Selain itu, Kavalian memiliki bentuk beragam menyesuai keinginan Javelin.


Wakil direktur meneruskan pidatonya dengan memberikan semangat dan motivasi kepada para murid baru maupun lama agar mereka memiliki keinginan menjadi lebih kuat dari kemarin karena sudah banyak korban yang disebabkan oleh Strike.


Ia juga menyampaikan bahwa status sosial semua orang di akademi sama, tidak peduli dari kalangan atau keluarga mana mereka berasal. Setiap orang adalah pejuang yang hendak merebut kembali kedamaian dunia dari Strike.


Wakil direktur juga berpesan agar mereka tidak menyalahgunakan kekuatan yang dianugerahkan dewa seperti penjahat-penjahat kelas berat yang kini hidup sebagai buronan seumur hidup.


Selesai dengan pidato dan pesan-pesannya, upacara masuk dilanjutkan dengan menyebut nama jajaran staf-staf penting seperti OSIS dan semacamnya.


Lalu satu orang di antara murid baru yang memiliki nilai masuk paling tinggi ditunjuk untuk melakukan pidato di atas panggung. Wakil direktur mempersilakan murid baru yang dimaksud agar naik ke atas sana.


Kemudian seorang siswi berjalan maju. Rambut hitamnya yang beberapa helai memiliki warna merah tergerai dan diikat di kedua sisi, mengingatkan Airen pada seseorang—


—Tidak, itu memang dirinya.


“Itu Nona Sarina! Nona Sarina!”


Beberapa siswi di kursi bersorak dan melambai-lambaikan tangan mereka agar disadari Sarina. Sarina yang melihat itu tersenyum dan melambaikan tangan balik pada mereka.


Di saat itu pula, Sarina berkontak mata dengan Airen. Sarina tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya. Airen yang sadar bahwa tindakan itu ditujukan padanya membalas dengan cara serupa.


Melihat keduanya saling berinteraksi dari kejauhan, Sophia mencubit daging pinggang Airen hingga laki-laki itu sedikit merintih.


“A-Apa ada yang salah?”


“Tidak ada. Hmph!”


Sophia memalingkan wajah dari Airen sambil mendengus melalui hidungnya, seolah-olah sedang marah. Namun Airen tidak mengerti apa yang membuat gadis itu marah kepadanya.


Setelah berdiri di tengah panggung, Sarina memulai pidato. Ia memperkenalkan diri di depan umum lalu menyebutkan betapa bahagianya ia diterima di akademi bergengsi ini.


Sarina bercerita bagaimana orang tuanya dan anggota keluarga Claudia yang lain dahulu juga pernah bersekolah di sini. Di sini ia juga terkumpul bersama keenam sepupunya.


Bagi Sarina, tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau orang-orang terkasih. Ia akan melakukan apa pun untuk menjaga momen-momen tersebut.


Namun sekarang saja, ketiga sepupunya sedang terjebak di negara lain karena Strike tipe terbang sedang berjaga di langit sehingga tranportasi udara sulit dilakukan untuk saat ini. Belum lagi bandara masih dalam perbaikan karena serangan Strike baru-baru ini.


Karena tidak mau terpisah dengan keluarganya, Sarina bertekad untuk menjadi lebih kuat agar ia bisa melindungi keluarga serta orang-orang yang ia sayangi. Sarina mengajak para murid berjuang bersamanya untuk menjadi lebih kuat supaya suatu saat nanti Strike bisa diusir dari dunia mereka.


Dengan demikian, Sarina menutup pidatonya.


Semua orang bertepuk tangan atas pidato Sarina tersebut, termasuk Sophia dan Airen, tidak terkecuali juga sang wakil direktur akademi yang tampak takjub.


“Benar-benar pidato yang luar biasa, Sarina Claudia. Kau tampak sangat menjanjikan sebagai murid baru tahun ini. Kuharap semua orang bisa sepertimu.”


“Terima kasih. Pidato saya bukan apa-apa jika dibanding dengan punya Anda.”


Wakil direktur pun tertawa mendengar balasannya.


“Begitulah sifat rendah hati yang kusuka.”

__ADS_1


Berikutnya, wakil direktur menutup upacara masuk dengan selesainya pidatonya Sarina.


__ADS_2