Pengantin 7 Dosa Besar

Pengantin 7 Dosa Besar
Bab 07 - Javelin Berelemen Hampa Adalah Rendahan


__ADS_3

Kursi-kursi di kelas perlahan diisi oleh siswa-siswi yang berdatangan. Ketika pengumuman—kepada para murid yang masih berkeliaran diminta segera memasuki kelas—diperdengarkan melalui speaker di lorong, mereka yang tersisa bergegas mengisi bangku.


Lalu tak lama setelah pengumuman, para guru memasuki kelas yang mereka ajar.


Di kelas 2-A1, seorang pria datang sambil membawa beberapa lembar kertas yang kemudian ia letakkan di atas meja guru.


“Selamat pagi, anak-anak. Tidak terasa sudah setahun, ya? Sekarang kita kehilangan beberapa wajah karena mereka kurang berusaha keras di ujian akhir semester tadi. Tapi di sisi lain, kita juga mendapat wajah baru. Entah mereka murid pindahan atau yang gagal naik ke kelas lanjut.


“Karena itu di kesempatan kali ini, kita akan memulai dengan saling kenal dan menyapa. Omong-omong bagi yang belum tahu, nama bapak adalah Kura. Selain mengajar di akademi sebagai wali kelas kalian, bapak juga pelayan di Kediaman Anak-anak Keluarga Claudia. Untuk satu tahun ke depan ini, mohon bantuannya.”


Saat pria itu masuk kelas dan memperkenalkan dirinya, Airen memang tidak salah mengenal orang. Pria yang menjadi wali kelasnya adalah Kura, kepala pelayan di kediaman mereka.


“Nah, mari kita mulai perkenalan dari yang paling belakang. Sebutkan semua yang ingin kamu sampaikan tentang dirimu agar memberi kesan yang bagus bagi orang-orang baru.”


Dengan demikian, kelas memulai sesi perkenalan. Para murid yang kena giliran berdiri di tempat dan memperkenalkan diri mereka.


Di antara para murid, ada yang menceritakan hobi mereka, makanan favorit dan hal-hal yang tidak disukai, bahkan ada juga yang sampai menyebutkan nama hewan peliharaan. Semua dilakukan agar memberikan kesan yang menarik.


Sesekali juga ada yang memutar candaan seperti Zian sehingga kelas tidak sunyi dari tertawaan.


Satu-persatu murid di kelas kena giliran sampai jatah Sophia akhirnya tiba. Gadis itu berdiri dari kursinya dan memperkenalkan diri.


“Sophia Claudia. Tidak banyak yang bisa kusebutkan tentang diriku karena kebanyakan dari kalian pasti sudah mengetahuinya. Untuk tahun ini ke depan, mohon bantuannya.”


Kemudian Sophia duduk diiringi suara tepuk tangan sekelas yang menghormati perkenalan dirinya.


Dengan selesainya giliran Sophia, maka Airen yang duduk di sebelahnya pun kena giliran.


Kura memberikan isyarat kepadanya dan Airen pun berdiri setelah mengumpulkan keberanian lalu menghadap temannya.


“N-Namaku Airen. C-Claudia Airen– Eh, salah–”


Tawa di kelas seketika pecah saat melihat Airen yang tergagap karena gugup.


Sophia yang duduk di sebelah membuang napas lelah sementara Zian yang duduk di meja belakang menyemangatinya dan memberikan dorongan untuk bersikap lebih santai.


Airen pribadi tidak masalah karena ditertawakan. Hanya saja, ia jadi malu sendiri. Terlebih lagi sekarang Sophia dan Kura sedang melihat kelakuannya.


Untuk merelaksasikan diri, Airen menahan napas dalam di paru-paru sebentar setelah menariknya melalui hidung. Kemudian ia menghembuskannya. Ia siap untuk mengulang kembali perkenalannya.


“Namaku Airen, Airen Claudia. Seperti yang mungkin kalian tahu karena pernah mendengarnya di suatu tempat, aku satu-satunya laki-laki di antara anak-anak Claudia yang lain. Selama ini aku tidak pernah tahu kalau aku bagian dari Keluarga Claudia. Aku berasal dari negeri jauh yang belum tersentuh Strike.


“Soal hobi dan semacamnya, kupikir tidak ada yang khusus. Tapi aku suka membaca. Katanya aku punya rasa keingintahuan yang tinggi.


“Katanya juga kemampuanku masih di bawah standar rata-rata Javelin di Keluarga Claudia karena kurang latihan dan belum banyak pengalaman. Kupikir aku hebat dalam akurasi menembak karena suka permainan menembak, tapi entahlah. Aku tidak biasa berhadapan dengan Javelin atau Strike di temat asalku.


“Lalu, kalau berbicara soal elemen, katanya aku Javelin berelemen hampa. Terus terang tidak ada yang spesial dariku, jadi mungkin itu saja untuk perkenalanku. Mohon bimbingannya untuk satu tahun ke depan.”


Perkenalan panjang Airen berakhir sampai sana.


Namun tidak seperti Sophia atau yang lain, ia tidak menerima tepuk tangan dari seisi kelas. Mereka semua justru terdiam.


Airen yang merasa kebingungan memeriksa ekspresi Sophia. Gadis tersebut memasang wajah sedang kesulitan.


Ketika ia berpaling ke arah Kura, Airen melihat ekspresi kepala pelayan mereka yang kini sedang berperan sebagai wali kelasnya itu seolah-olah mengatakan, ‘waduh’.


“K-Kalian semua kenapa? Apa ada yang salah dengan perkenalanku?”


Karena tidak mendapat kejelasan, Airen memilih untuk menanyakannya secara langsung.


“Barusan … kau mengaku kalau kau Javelin berelemen hampa, 'kan?”


Akhirnya ada seseorang yang berbicara, dan suaranya memicu teman-teman sekelas lainnya untuk meributkannya.


“Elemen hampa? Apa yang dia katakan?”


“Keluarga Claudia tapi berelemen hampa? Apa dia serius?”


Bisikan-bisikan heran mulai terdengar.


Semua orang membahas satu hal sama, yaitu tentang Airen yang mengaku bahwa dirinya adalah Javelin berelemen hampa.


Awalnya ia agak kebingungan kenapa mereka memberisikkannya, karena itu Airen mencoba mengingat kembali apa yang pelajari sejauh ini.


Di dalam diri masing-masing Javelin, ada yang disebut dengan energi. Energi memiliki beberapa macam untuk setiap orang, sama halnya dengan golongan darah yang berbeda-beda.


Energi digolongkan pada segala macam elemen. Ada 7 tipe energi asal, mereka adalah: api, air, udara, bumi, cahaya, kegelapan, dan hampa.


Kegunaan energi sendiri adalah sebagai bahan bakar untuk mewujudkan Kavalian atau mengaktifkan kemampuan khusus Javelin. Sementara elemen energi berfungsi untuk menambahkan efek kekuatan, contohnya membalut pedang dengan api atau hantaman yang membuat tanah terangkat.


Di sisi lain, Javelin dengan energi berelemen hampa tidak mendapat efek apa pun kecuali penguatan fisik yang memang bisa digunakan oleh orang-orang dengan elemen lainnya.


Pada bagian ini, Airen tidak menyadari bahwa Javelin berelemen hampa dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Ia tidak tahu Javelin yang memiliki elemen hampa dianggap aib yang tidak ada bedanya dengan orang biasa.


Kesalahan Airen yang membuat seisi kelasnya jadi berisik adalah mengaku sebagai Javelin berelemen hampa sedangkan ia berasal dari keluarga yang dikenal dengan Javelin-javelin hebatnya.


“Apa mungkin dia disembunyikan Keluarga Claudia karena berelemen hampa?”


“Bisa saja! Kemunculan Javelin dengan elemen hampa di keluarga mereka pasti membuat malu, makanya mereka membuangnya!”


“Pasti orang tuanya sedang dilanda kemiskinan, jadi mereka memohon kepada Keluarga Claudia agar anaknya bisa disekolahkan di akademi hingga lulus dan mendapatkan pekerjaan yang bagus.”


“Kalau benar begitu, aku jadi kasihan dengan Nona Sophia yang terus-terusan ditempelinya. Nona Sophia pasti kesusahan mengurusinya.”


Suasana semakin panas dengan cibiran-cibiran yang tiba-tiba memburuk.


Airen harus mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakan supaya situasi kembali terkendali. Takutnya situasi yang ada malah semakin memburuk.

__ADS_1


Ia mencoba melirik ke arah Sophia. Sophia mengepalkan tangannya, tampak menahan amarah dari komentar-komentar buruk yang menjelek-jelekkan Airen dan keluarganya.


Ketika Sophia hampir berdiri dan membantah setiap omongan mereka, suara tepuk tangan mengalihkan perhatian semua orang ke depan.


Tepuk tangan itu berasal dari Kura. Ia berhasil merebut perhatian seisi kelas yang berisik.


“Kelas masih belum berakhir, tapi kalian sudah seperti di jam istirahat saja. Masih tersisa satu orang yang belum memperkenalkan dirinya, apa kalian berniat membuatnya menunggu giliran lebih lama atau malah melewatkan perkenalannya?”


Kura dengan suara tenang menegur murid-muridnya. Pandangannya lalu terarah pada Airen.


“Kamu bisa duduk sekarang.”


“B-Baik.”


Airen menurut dengan instruksi Kura.


Kemudian siswa di sebelah kiri Airen berdiri karena giliran perkenalan diri selanjutnya jatuh kepadanya.


“Suel Hunter. Yang jelas aku bukan Javelin berelemen hampa seperti seseorang.”


Tepuk tangan keras dari teman-teman sekelas terdengar begitu Suel duduk. Mereka tersenyum seolah-olah memberi apresiasi pada kata-kata Suel yang menyinggung Airen secara tidak langsung.


Kura hanya bisa bertepuk jidat dan membuang napas lelah melihat kelakuan anak-muridnya.


Setelahnya, kelas dilanjutkan dengan Kura yang membagikan jadwal pelajaran dan menentukan siapa saja yang kena giliran paket setiap harinya.


Selesai dengan semua itu, Kura mengakhiri kelasnya. Namun ia memanggil Airen terlebih dahulu sebelum pergi.


“Setelah ini bisa datang ke ruanganku? Datanglah nanti bersama Nona Sophia.”


“Baiklah, saya akan datang bersama Sophia nanti.”


Airen mengiyakan permintaan Kura dan pria tersebut pun pergi sesudah tersenyum mendengar jawabannya.


Di sisi lain, ia melihat Sophia sudah menyiapkan barang-barangnya dan beranjak dari kursi. Airen buru-buru mengeluarkan tas untuk mengejar.


Namun ketika hendak menyusul, Zian dan dua orang lain menghadang jalannya.


“Ups, santai kawan. Kami ada beberapa kuis untukmu, boleh minta waktunya sebentar?”


“Maaf, aku ada urusan setelah ini.”


Airen mencoba menghindari mereka karena hendak menyusul Sophia, tetapi kedua teman Zian menghalangi jalannya.


“Aku berjanji ini tidak akan lama. Yah, hanya jika kau bisa menjawabnya dengan cepat, sih. Aku cuma ingin tahu sebatas mana kemampuanmu, apakah kau layak berada di kelas ini atau tidak.”


Pernyataan Zian membuat Airen menyadari niat lelaki itu. Ia ingin menilai kelayakan Airen untuk tinggal di kelas mereka.


“Apa ini? Apa ini?”


“Katanya Zian ingin mengetes Javelin hampa itu.”


“Kalau sudah membicarakan Javelin hampa, sudah jelas mereka orang-orang bodoh. Untuk apalagi diberikan tes? Ingin mempermalukannya lebih jauh?”


Kegaduhan yang Zian buat memancing ketertarikan teman-teman sekelas lainnya hingga tidak ada jalan bagi Airen selain menerimanya. Jika ia melarikan diri, ia pasti akan dianggap bodoh.


“Asal tidak terlalu lama.”


Airen mengangguk menyetujui, membuat laki-laki di samping kanan Zian yang memiliki rambut coklat berantakan tersenyum dengan menampakkan gigi-gigi taringnya.


“Aku yang pertama. Kenapa kita disebut sebagai Javelin dan senjata yang berasal dari jiwa kita itu disebut Kavalian?”


Pertanyaan tersebut datang dari lelaki dengan senyuman bertaring.


Airen mengambil waktu sesaat untuk menyusun kata-katanya sebelum menjawab:


“Kata Javelin adalah pelesetan dari nama orang pertama yang memiliki kekuatan Javelin dan membagikannya ke seluruh dunia, Jack Avelin. Sementara, sebutan Kavalian digunakan Jack untuk menghormati kematian adiknya yang berjuang dan terbunuh saat melawan monster pembawa bencana. Sama seperti Javelin, Kavalian adalah pelesetan dari nama Kanaria Avelin. Apa itu saja cukup?”


Airen mengkonfirmasi apakah jawabannya selaras dengan apa yang mereka harapkan.


Zian dan temannya memandang ke arah sang pemberi jawaban, membuat laki-laki berambut coklat berantakan tadi memegang dagunya sebelum mengangguk.


“Yup. Untuk pertanyaan dari pelajaran mendasar, itu sudah cukup.”


“Kalau begitu selanjutnya pertanyaan dariku. Seharusnya kali ini akan sedikit lebih sulit dari yang tadi, jadi persiapkan dirimu.”


Lelaki di sebelah kiri Zian yang memiliki rupa seorang lelaki keren berambut abu-abu mendorong kacamatanya sebelum memberikan soal.


“Apa yang terjadi pada Javelin jika mereka terus memaksa menggunakan kekuatan mereka meski energinya sudah habis?”


“Kekuatannya akan tetap keluar. Tapi karena energinya sudah habis, bahan bakar yang dipakai adalah energi kehidupannya. Dan jika energi kehidupan sampai habis, Javelin akan mati atau sekurang-kurangnya mengalami kelumpuhan. Karena itu Javelin muda diperingati keras agar menggunakan energi mereka yang sedikit dengan bijak supaya tidak sampai kehabisan.”


Di pertanyakan kedua Airen jadi lebih percaya diri dalam menjawab. Zian dan kedua temannya sampai terkesan.


“Huh, menakjubkan.”


Lelaki keren berkacamata tadi mendengus.


Tersisa Zian. Ia pun memberikan soal ketiga sekaligus terakhir.


“Kali ini dariku, jika kau benar kau lulus. Bagaimana cara menangkap Strike tanpa membunuhnya?”


Pertanyaan Zian memberikan sedikit ancaman untuk Airen. Ekspresi Airen menunjukkan kalau sebisa mungkin ia ingin menghindarinya. Namun jika menolak, entah hal buruk apa yang akan mereka katakan.


“Kalau tidak salah, dengan menyerang bagian tertentu dari Strike, mereka akan berhenti bergerak atau sekurang-kurangnya melambat untuk memfokuskan diri meregenerasi bagian tersebut. Di saat-saat itu, Strike bisa diamankan.”


“Dan bagian tertentu apa yang kau maksud?”

__ADS_1


“I-Itu ….”


Zian menanyakan tepat pada apa yang tidak bisa Airen jawab. Ia sudah berusaha menghindarinya, tetapi Zian tampaknya tidak puas jika masih ada yang kurang pada jawaban Airen.


Kemudian suara Sophia membuang napas terdengar di suatu tempat.


“Strike memiliki kemampuan regenerasi yang cepat kecuali jantungnya. Jika menyerang jantungnya tanpa menghancurkannya, Strike akan menghentikan pergerakan dan regenerasinya untuk fokus menyembuhkan jantung. Di saat-saat itu, Strike bisa dimutilasi agar lebih aman lalu menangkapnya.”


Jawaban datang dari Sophia yang bersandar di pintu, membuat seluruh perhatian orang-orang di dalam kelas tertuju ke arahnya.


“Nona Sophia, ini bukan pertanyaan untuk Anda, kenapa Anda malah menjawabnya?”


Lelaki berkacamata di sebelah kiri Zian sebelumnya melayangkan protesan.


Akan tetapi Sophia menunjukkan reaksi yang lebih kuat dan jujur dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada.


“Aku muak menunggu kalian selesai, jadi bisa biarkan Airen lewat?”


Perintah Sophia membuat Zian dan kedua orang di sebelahnya gentar karena aura mengancam yang ia miliki. Namun di sisi lain Airen malah terlihat sibuk memikirkan hal lain.


“Jantung? Aku tidak pernah ingat buku menyebutnya seperti itu.”


“Jantung cuma kiasan karena mirip. Javelin pertama menyebutnya sebagai Antis, jadi buku-buku lama menulisnya seperti itu. Di masa ini, sebutan itu sudah jarang dan digantikan dengan ‘jantung’. Pasti yang kamu baca di perpustakaan cuma buku-buku lama karena sampai tidak tahu sebutan ‘jantung’.”


“Aku cuma mengikuti saran Pak Kura, jadi tidak terlalu memperhatikan apakah yang kubaca itu buku lama atau buku keluaran baru.”


Airen tertawa masam mengakuinya.


Melihat percakapan keduanya, lelaki taring di sebelah kanan Zian menyenggol lelaki bermata sipit itu.


“Antis? Memang ada sebutan macam itu untuk jantung Strike?”


“Entahlah.”


“Samar-samar aku mengingatnya, tapi waktu itu aku melihatnya di buku perpustakaan kuno yang benar-benar lama milik buyutku.”


Lelaki berkacamata membantu meyakinkan kedua temannya kalau Sophia dan Airen tidak sedang mengada-ada.


Sophia yang memperhatikan bisik-bisik mereka kembali bersuara.


“Kalau sudah tidak ada urusan, bisa lepaskan Airen sekarang? Aku benar-benar muak menunggu.”


Dihadapkan dengan permintaan Sophia, Zian dan komplotannya tidak ada pilihan selain membukakan jalan dengan pergi dari sana.


Namun sebelum meninggalkannya, Zian menepuk bahu Airen untuk menyampaikan sesuatu. Diikuti oleh kedua teman lidah ular itu, si kacamata dan si taring.


“Yah, kuakui kalau nilai tes masukmu tidak terjadi kecurangan. Dengan begini hatiku bisa sedikit lega.”


“Berusahalah agar tidak jadi beban di pertandingan antar kelas nanti.”


“Ayo kapan-kapan main bersama, Airen~!”


Mereka bertiga pun keluar dari kelas, meninggalkan Airen yang kebingungan di tempat.


‘Apa sebenarnya mereka orang baik-baik?’


“Apa yang kamu bengongkan di sana? Bukankah Kura sedang menunggu?”


Sophia mengingatkan kepentingan mereka, seketika menyadarkan Airen ke kenyataan.


“B-Benar juga, aku akan segara ke sana.”


“Tunggu!”


Ketika Airen hampir sampai ke tempat Sophia, seseorang menahan langkahnya dengan seruan.


Ia adalah Suel, lelaki pendek sebelah bangku Airen yang memiliki rambut oranye rapi dan poni menutup mata.


“Ditempeli Javelin hampa seperti dia, apa Anda tidak kerepotan, Nona Sophia? Javelin hampa seperti dia pasti akan hanya akan jadi beban waktu kompetisi antar kelas nanti.”


“… Hah? Apa yang kamu bicarakan?”


Perkataan Suel membuat Sophia heran sampai-sampai berbisik dengan nada marah.


“Airen adalah keluargaku, tidak ada siapa pun yang boleh berbicara buruk tentangnya!”


Airen terkejut mendengar Sophia yang meninggikan suaranya. Ia juga sampai memeluk pergelangan tangan Airen sambil menatap tajam ke arah Suel.


“Ayo, Airen.”


“Y-Ya ….”


Airen tidak diberikan kuasa ketika ditarik oleh Sophia meninggalkan kelas.


Di sisi lain Suel mendecikkan lidahnya.


Sophia menarik Airen cukup jauh sebelum akhirnya melepaskannya. Keduanya berhenti di tempat dengan membuat sedikit jarak sambil menghindari pandangan masing-masing.


“Terima kasih, karena sudah membelaku.”


Airen menyampaikan rasa terima kasihnya atas pertolongan Sophia.


Tanpa memalingkan wajah untuk melihat lawan bicaranya, Sophia menyahut :


“Kura sedang menunggu kita, jangan berlama-lama lagi.”


Lantas Airen tersenyum atas alasan yang ia sendiri juga tidak mengerti.

__ADS_1


“Kamu benar. Ayo.”


Dengan begitu, keduanya melanjutkan perjalanan menuju ruangan Kura.


__ADS_2