Pengantin 7 Dosa Besar

Pengantin 7 Dosa Besar
Bab 01 - Hilang Ingatan


__ADS_3

Beberapa potong ingatan samar terputar di dalam mimpinya.


Waktu itu, ia ada di sebuah kereta yang sedang melaju di atas rel. Di hadapannya ada seorang gadis, mereka duduk pada satu ruangan kereta yang sama.


Lalu ingatan lain menunjukkan tentang bagaimana gadis itu berdiri di depannya untuk melindunginya dari para monster yang tiba-tiba muncul.


Seorang gadis bermandikan darah hitam karena menghadapi puluhan monster, itu adalah pemandangan yang tak mungkin ia lihat jika tidak berpindah ke dunia lain.


“Aku hanya melindungimu karena tugas, tidak lebih. Jadi tolong jangan mempersulitku.”


Sorot matanya yang tajam menanamkan rasa takut ke dalam hati. Namun karena itulah, ia jadi menyadari bahwa gadis itu juga kesepian sama sepertinya.


***


Suara tik dan tok jam terdengar mengisi kekosongan ruang kamar. Di tengah kesunyian tersebut, tanpa alasan tertentu seorang laki-laki berambut hitam terbangun dari mimpinya.


Dalam keadaan masih berbaring di ranjang, sepasang mata birunya berkedip beberapa kali. Ia mencoba mengenali langit-langit di seberangnya hingga sebuah pertanyaan tanpa sengaja keluar dari mulutnya.


“Aku … ada di mana?”


Lelaki itu tidak tahu di kamar siapa ia baru saja terbangun. Ranjang tempatnya berbaring cukup luas diikuti dengan kapuk yang lembut, bukan seperti miliknya yang ia kenali.


Ia kemudian bangkit dari posisinya untuk melihat sekitar lebih jelas dan menganalisa situasi.


Kini ia sedang berada di sebuah kamar pribadi. Dindingnya di cat dengan warna putih polos sementara gorden yang dipakai untuk menghias jendela berwarna merah muda disertai motif bunga.


Meja rias, lemari dengan hiasan dan warna yang cocok untuk perempuan, meja belajar, serta deretan gaun-gaun indah di sudut kamar. Furnitur-furniturnya tampak seperti untuk anak perempuan dari keluarga berkelas.


“Kenapa aku berada di sini?”


Kebingungan dengan apa yang ia perdapati, pemuda itu mencoba untuk mengingat-ingat apa yang ia alami sebelumnya.


Namun, kepalanya seperti televisi yang rusak. Tidak ada yang tergambar untuk menjelaskan mengapa ia sampai berada di kamar seorang perempuan.


“Apa aku pingsan di tengah jalan atau semacamnya lalu ditolong seseorang?”


Pemuda tersebut melempar asumsi liar. Lalu di saat itu, ia menyadari sesuatu baru saja bergerak di dekatnya.


“…?”


Di dekatnya, ia menemukan gundukan lain di balik selimut. Terlihat seolah-olah ada seseorang di sana.


Dengan rasa penasaran dan takut yang tercampur, pemuda itu menarik selimut keluar dari ranjang untuk menyingkap sosok tersebut.


“…! Seorang gadis …?”


Ia cukup terkejut dengan apa yang ditemukannya. Gundukan di balik selimut sebelumnya ternyata adalah seorang gadis yang sedang tidur dalam posisi menyamping.


Akibat perubahan pencahayaan dan suhu sekitar yang ia rakasan ketika selimut tidak lagi menyembunyikan tubuhnya, gadis itu meringkuk dan perlahan mulai bangun.


Gadis itu membuka sepasang matanya yang berwarna emas dan mengedipkannya beberapa kali, menyadari bahwa pagi sudah lama datang.


Rambut perak lurus halusnya berayun lembut ketika ia bergerak untuk bangkit. Tatapan mengantuknya tertuju lurus pada pemuda tadi sebelum ia menguap kecil dan menggosok mata kanannya.


“Pagi, Kakak ….”


“P-Pagi juga ….”


Meski tidak mengerti dengan situasinya, laki-laki tadi menyahut sapaan gadis itu.


Gadis itu tampak sangat mengantuk sampai-sampai hampir tertidur lagi, tetapi ia memaksakan diri untuk tetap tegak.


Tatapannya lalu kembali tertuju lurus pada laki-laki di hadapannya. Ia sadar bahwa tatapan laki-laki itu tidak mau lepas darinya.


“Apa ada yang salah, Kakak?”

__ADS_1


“T-Tidak, hanya saja … aku ingin tahu apa yang terjadi hingga aku berakhir di kamarmu. Apa ini kamarmu?”


Gadis itu mengangguk lalu menjelaskan :


“Saat yang lain mengadakan pesta untuk kita karena sudah berjuang hingga diterima masuk di akademi, Kakak ditemukan pingsan di taman.”


“Begitu …. Lalu apa yang kamu maksud dengan ‘kita diterima di akademi’?”


Ketika ia menanyakan itu, gadis tersebut yang awalnya masih merasa ngantuk beranjak segar. Gadis itu heran.


“Kenapa Kakak menanyakan itu?”


“Kalau ditanya kenapa, yah … karena aku tidak ingat sesuatu tentang itu. Aku juga tidak tahu siapa kamu atau apa hubungan kita hingga kamu tidak masalah aku berada di ranjang yang sama tidur denganmu ….”


Setelah mendengar penjelasan tersebut, gadis tadi menjepit dagunya dan mulai berpikir.


“Apa jangan-jangan Kakak mengalami amnesia? Apa Kakak mengingat nama Kakak?”


“Emm, seharusnya namaku Airen.”


“Umurmu?”


“16 tahun, mendekati 17.”


“Alamat tempat tinggalmu?”


“Kalau itu aku memang tidak mengingatnya. Saking seringnya kami pindah-pindah rumah karena pekerjaan orang tuaku, aku sampai sengaja tidak menghapal alamat rumah.”


Airen tertawa kering ketika membicarakan itu. Di sisi lain, gadis tadi menjepit kembali dagunya dan merenung.


“Bisa diasumsikan Kakak masih mengingat diri Kakak sendiri, benar begitu?”


“Ya. Mungkin seperti itu. Aku hanya tidak ingat kenapa aku bisa berada di tempat ini. Omong-omong, sebenarnya sekarang aku ada di mana?”


Pertanyaan Airen tersebut membuat gadis itu terdiam beberapa saat hingga Airen juga ikut merasa kebingungan.


“Itu … memang benar, tapi bukan itu yang kumaksud. Bagaimana menjelaskannya, ya ….”


Airen jadi ikut pusing dibuatnya.


Kemudian, gadis itu beranjak turun dari ranjang.


“Aku akan mencari yang lain karena mereka pasti lebih mengerti. Kakak tunggu saja di sini.”


“Iya?”


Sebelum Airen menyadarinya karena sibuk memikirkan kata-kata yang tepat untuk pertanyaannya, gadis itu dengan cepat menghilang keluar kamar dan meninggalkan Airen sendirian di sana.


“... Dia malah pergi. Padahal aku masih banyak pertanyaan lain.”


Sekarang Airen tidak tahu harus bagaimana. Ia menggaruk belakang kepalanya dan menyebar pandangan ke sekeliling.


“Menunggu di sini, katanya. Kedengarannya akan lama. Tapi aku tidak dibolehkan pergi ke mana-mana.”


Lalu tak lama, pintu kembali terbuka.


“Cepat sekali kamu kembali–”


Airen reflek bersuara demikian, namun ia lekas menyadari bahwa sosok yang datang dari balik pintu bukanlah gadis berambut perak panjang sebelumnya.


“Halo, Airen~ Sarina datang untuk menjengukmu, lho~”


Dari balik pintu, gadis lain dengan kepribadian yang lebih ceria dan suka menadakan suaranya di ujung menjulurkan sepatu tubuhnya ke dalam kamar.


“Heh~ ternyata kamu memang sudah bangun~ Firasat Sarina memang tidak pernah salah, ya~”

__ADS_1


Gadis itu berjalan masuk ke dalam kamar dan mulai mendekati Airen.


Ia adalah gadis dengan rambut hitam panjang tergerai yang beberapa bagian rambutnya berwarna merah seperti matanya. Ia juga mengenakan pita biru yang mengikat rambutnya di kedua sisi.


Ketika ia sampai di dekat Airen, gadis itu tersenyum dengan manis.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Keadaanku? Emm, kupikir baik-baik saja.”


“Kalau begitu syukurlah~”


Setelah menanyakan itu, gadis tersebut memandangi Airen. Ia tampak menunggu Airen untuk mengatakan sesuatu.


Airen memalingkan wajahnya ke sebelah sambil menggaruk pipi karena sedikit salah tingkah. Ketika sudah tahu apa yang dapat ia tanyakan, Airen balik memandangnya.


“Apa aku boleh jujur sesuatu padamu?”


“Tentu saja boleh~ Sarina akan mendengarnya~”


Kemudian Airen sedikit termenung memilih kata-kata untuk menjelaskannya.


“Sepertinya … aku mengalami amnesia. Aku tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Aku tidak bisa mengenali tempat ini, lalu aku juga merasa belum pernah mengenalmu.”


“Begitu, ya~? Amnesia, ya~ ….”


Gadis itu tiba-tiba diam setelah mengatakannya, membuat Airen sedikit bertanya-tanya.


“Apa ada yang salah?”


Saat Airen menyinggungnya, gadis itu pun kembali ke kenyataan dan menggeleng.


“Tidak, Sarina cuma bingung dengan apa yang menyebabkan Airen hilang ingatan. Di jauh-jauh hari juga masalah ini tidak pernah dijelaskan. Semua orang seolah-olah lupa kalau Airen pernah hilang ingatan ….”


Lagi-lagi gadis itu menyelam ke dalam pemikirannya sendiri. Ia menggumamkan beberapa kalimat yang tidak terlalu Airen mengerti.


“Oh, ya. Karena Airen hilang ingatan, berarti Airen seperti belum pernah mengenal Sarina, 'kan? Kalau begitu~ sebagai perkenalan, nama lengkap Sarina adalah Sarina Claudia****~ Untuk seterusnya, Airen dapat mengandalkan Sarina~”


“Aku juga, salam kenal. Namaku Airen– Tapi sepertinya perkenalanku tidak diperlukan, ya?”


Airen tertawa kering mengatakan itu. Sarina yang mendengarnya juga ikut tertawa kecil.


Lalu pandangan Sarina berkeliling ke sekitar sebelum kembali terarah pada Airen.


“Mengobrol di kamar Kamilah seperti ini terasa kurang nyaman, jadi bagaimana kalau Airen ikut Sarina jalan-jalan keliling kediaman~?”


“Keluar kamar?”


...----------------...


Ilustrasi karakter (sementara) (dibuat dengan AI)


Airen Claudia


16 Tahun



Kamilah Claudia


15 Tahun



Sarina Claudia

__ADS_1


15 Tahun



__ADS_2