
Cahaya hangat matahari menembus ke dalam melalui jendela dan pintu geser kaca yang mengarah langsung ke patio, membuat lorong rumah luas yang seharusnya gelap jadi tampak dengan jelas.
Langkah kaki dua orang yang sedang berjalan melalui lorong dengan vas dan lukisan menghias dindingnya terdengar dari ujung ke ujung.
Kedua orang itu adalah Airen dan Sarina. Sarina berjalan sedikit lebih ke depan daripadanya sementara Airen terus mengekor di belakang.
Mereka belum mengambil topik apa pun semenjak keluar dari kamar. Karena itu, untuk mengisi kekosongan, Airen mengambil napas sebelum menanyakan sesuatu pada Sarina.
“Tempat ini dikenal dengan sebutan kediaman anak-anak Claudia. Anak yang terlahir dengan darah keluarga Claudia akan tinggal di sini bersama anak-anak yang lain. Yah~ bisa dibilang, ini tempat tinggal khusus untuk kita agar tidak mengganggu aktivitas para orang-orang dewasa di kediaman utama~”
Sebelum Airen sempat bertanya, Sarina sudah menjawab pertanyaan yang sejak awal ingin ia ketahui. Namun jawaban itu membawanya ke pertanyaan yang lain.
“Anak-anak keluarga Claudia? Apa maksudnya?”
“Anak-anak yang terlahir dari garis keturunan keluarga Claudia. Keluarga Claudia adalah keluarga yang sangat terpandang di dunia ini. Setiap keturunan yang terbit dari keluarga Claudia memiliki bakat yang melebihi orang-orang dari keluarga biasa. Dan keluarga ini tentunya berperan tinggi di dunia. Baik itu politik atau militer.”
“Begitu, ya ….”
Airen mengangguk paham. Ia sedikit mengerti mengapa tempat anak-anak dipisah dengan para orang dewasa.
Karena jika digabung, orang dewasa mungkin akan tambah kerepotan bila ada anak-anak yang membuat masalah. Selain itu metode dipisahkannya dua kediaman dapat membantu mendewasakan anak-anak dengan membuat mereka berpikir sendiri bagaimana cara mengatasi masalah yang mereka buat sendiri.
“Tapi kenapa aku ada di sini? Bukankah tempat ini untuk anak-anak keluarga Claudia?”
“Jawabannya mudah~ Itu karena Airen juga memiliki darah keluarga Claudia, sama seperti Sarina~”
“Aku … bagian dari keluarga Claudia?”
Airen sedikit terkejut mendengarnya. Ia tidak pernah ingat memiliki keluarga yang memiliki kekuasaan hingga berpengaruh besar pada dunia.
“Sarina tidak berbohong~ Kakek Airen—atau sebut saja kakek kita—adalah kepala keluarga Claudia sekarang. Yah, mungkin sebentar lagi akan diserahkan ke ayah Sophia~”
“Kakekku kepala keluarga Claudia?”
“Ya. Lebih tepatnya kakek Airen dari pihak ibu. Ibu Airen dan ayah Sarina adalah saudara, jadi bisa dibilang Airen dan Sarina bersepupu~”
“Benarkah? Ternyata begitu ….”
Ketika Airen memikirkannya, ia memang tidak pernah bertemu dengan keluarga ibunya. Ibunya juga tidak pernah mengungkit apa pun tentang keluarganya.
“Yah~ sebenarnya hubungan Airen dan Sarina lebih dari bersepupu, tapi Sarina akan membiarkan yang lain untuk menceritakan ini pada Airen~”
Sarina mengatakan sesuatu dengan suara cukup pelan saat Airen berpikir. Airen mendengarnya, tetapi karena menduga Sarina hanya bergumam, ia pun membiarkannya.
“Jujur saja, ini cukup mengejutkanku. Aku tahu ibuku seorang aktris yang populer, tapi aku tidak bisa menduga kalau dia berasal dari keluarga terpandang.”
Airen memberitahukan bagaimana perasaannya ketika mendengar cerita Sarina.
“Dan anehnya lagi, aku malah tidak tahu-menahu sedikit pun tentang adanya keluarga Claudia. Padahal mereka memberi pengaruh besar, mungkin ini karena aku kurang melihat berita.”
“Itu tidak aneh, kok~ Karena Airen berasal dari dunia lain, normal saja Airen tidak tahu. Keluarga Claudia memang berpengaruh besar dan terkenal di mana-mana, tapi itu cuma di dunia ini. Di dunia Airen, mereka tidak terkenal karena memang tidak pernah ada~”
Mendengar penjelasan Sarina itu seketika membuat Airen menghentikan langkahnya karena kebingungan. Sarina juga ikut berhenti setelah menyadari Airen berhenti mengikutinya. Ia menoleh memeriksa ekspresi terkejut Airen.
“Dunia lain …? Apa maksudmu?”
“Tidak ada penjelasan tambahan~ Sama seperti yang Sarina katakan, tempat ini bukanlah dunia tempat Airen tinggal sebelumnya~”
“Huh …?”
Airen masih kebingungan dengan maksudnya.
__ADS_1
Saat Airen masih dibingungkan dengan kata-katanya tersebut, asap hitam keluar dari tubuh Sarina. Asap itu lantas menggumpal di telapak tangannya dan memunculkan sebuah gergaji mesin dengan pisau berwarna merah dan pelapis mesin baja berwarna hitam pekat.
“Sebaiknya Airen segera mencari tempat persembunyian~”
“Eh? Apa maksudmu? Tadi dari mana kamu mengeluarkan itu?”
Tanpa memberikan jawaban apa pun pada Airen yang tambah kebingungan, gergaji mesin di tangan Sarina aktif. Gadis itu lalu mengambil kuda-kuda dan menerobos ke arah Airen.
“T–Tung–”
Airen hendak berlindung, namun Sarina hanya melewatinya dan menyerang sesuatu yang baru muncul dari arah belakang.
Airen kebingungan dengan tindakan Sarina dan akhirnya menoleh mengikuti tempat Sarina pergi.
Pinggir mata gergaji Sarina bersentuhan dengan tengkorak seekor ular besar yang tubuhnya seperti daging dilapisi kulit manusia. Ular besar yang meluncur menyerang Sarina itu terdorong ke dinding karena kalah adu kekuatan.
Setelah berhasil membuat binatang aneh itu berhenti untuk sementara waktu, Sarina memalingkan wajahnya ke tempat Airen.
“Apa Airen tidak mau mendengarkan perkataan Sarina~? Cepatlah bersembunyi~ Airen yang sekarang sedang hilang ingatan, lagipula Airen belum berpengalaman menghadapi Strike. Kalau Airen masih berada di sini, Sarina tidak bisa menjamin bisa melindungi Airen sama seperti yang dilakukan Sophia, lho~”
Begitulah perintah Sarina, tetapi Airen benar-benar kebingungan dengan apa yang sedang terjadi sekarang sampai sulit mencerna percakapan.
“Bersembunyi? Kamu sendiri?”
“Masih sempat mencemaskan Sarina~? Tidak usah khawatir~ Sarina cukup kuat untuk mengatasi satu Strike lemah ini~ Setelah melewati persimpangan seharusnya ada ruang gudang di sana, Airen bisa memakainya untuk bersembunyi.”
“Gudang? Baiklah! Kamu sendiri juga, berhati-hatilah! Kalau merasa tidak sanggup menghadapinya jangan memaksakan diri!”
Meski kurang memahami situasi, Airen tahu keberadaannya akan mengganggu Sarina. Jadi ia pun pergi dari sana sesuai perintahnya.
Di sisi lain, Sarina sedikit terdiam memikirkan kata-kata Airen sebelum pergi itu.
“… Berhati-hati, ya? Justru itu seharusnya kata-kata Sarina, karena Strike di kediaman ini tidak cuma satu.”
Sarina sendiri tertawa kecil.
“Yah, karena yang mengganggu sudah tidak ada, mari serius sedikit~!”
Sarina lalu memasukkan jarinya pada cincin untuk menarik tali starter gergaji mesin. Ia menariknya beberapa kali hingga berikutnya mesin berbunyi dengan suara nyaring dan mata pisaunya berputar dengan lebih cepat.
***
Kembali ke sudut pandang Airen, laki-laki itu berbelok dari persimpangan bersamaan dengan suara nyaring dari gergaji mesin Sarina.
“Lorongnya benar-benar panjang. Kenapa orang-orang kaya suka membuat rumah luas yang mudah membuat orang lain tersesat?”
Mengesampingkan pemikiran itu, Airen berlari mendekati pintu ada yang di dekat dan mencoba membukanya.
“Sial, ini terkunci …. Sepertinya ini bukan gudang yang dimaksud.”
Kemudian Airen berbalik ke jalan yang sudah ia lalui. Di persimpangan sebelumnya, Sarina sedang berhadapan dengan monster yang ia sebut sebagai Strike tadi.
Lalu ia menyadari sesuatu.
“Bukankah berdiam di sini juga termasuk persembunyian? Kupikir sekarang sudah aman.”
Kini ia ada di tengah-tengah lorong sebelum simpang tiga di depan. Airen pikir sudah tidak ada lagi yang dikhawatirkan.
“Tapi … tadi itu mahluk apa, ya? Tidak mungkin ular bisa lebih besar dari manusia. Selain itu, bentuk ular itu sedikit aneh. Kepalanya seperti ditutupi tengkorak. Lalu Sarina melawannya dengan gergaji mesin yang entah datang dari mana ….”
Airen merenungkan apa yang telah dilihatnya.
__ADS_1
“Semisal ini memang bukan duniaku dulu, melainkan dunia lain, itu bisa menjadi bukti dari perkataan Sarina sebelumnya ….”
Sedikit bayangan terlintas di kepala Airen. Sebelum terbangun, ia ingat pernah melihat monster serupa dan seorang gadis sedang melindunginya di mimpi.
“Gergaji mesin yang dipakai Sarina, seperti memiliki asal pembuatan yang sama dengan milik gadis di mimpiku, entah kenapa aku berpikiran seperti itu. Selain itu, monster yang dihadapi Sarina juga sejenis ….”
Airen melakukan cocoklogi di dalam pikirannya, sampai-sampai ia terlambat menyadari suara tapak kaki yang sedang berjalan ke arahnya.
Menyadari suara sesuatu membuat Airen memeriksanya dan terkejut.
“…!? Monster yang lain juga ada di sini!?”
Tak jauh dari simpang tiga di depan, sosok monster dengan perwujudan manusia kadal yang tubuhnya seperti daging manusia dan memiliki kulit tipis berjalan.
Monster itu berhenti ketika disadari Airen dan mengaum kencang. Aumannya seolah memberi gelombang yang membuat Airen merasakan ketakutan luar biasa hingga kakinya gemetaran.
Airen mencoba menggerakkan kakinya untuk segera melarikan diri ke tempat Sarina sebelumnya, tetapi ia malah menjatuhkan lutut ke atas lantai.
‘Ini … kakiku tidak bisa digerakkan! Sepertinya auman monster itu memiliki kekuatan untuk menanam rasa takut kepada targetnya agar ia tak bisa bergerak. Aku dalam bahaya, Sarina juga pasti masih sibuk di belakang ….’
Di sisi lain, monster manusia kadal tersebut lanjut berlari ke tempat Airen. Airen berada di ambang putus asa. Ia hanya berharap ada seseorang yang dapat menyelamatkannya.
Kemudian, bayangan tentang gadis dalam mimpinya terlintas dalam kepala Airen.
‘Jika sebelumnya dia menyelamatkanku, apa dia akan menyelamatkanku lagi kali ini?’
Airen sedikit mengharapkannya.
Dan di saat itu, suara rantai berayun terdengar. Airen yang sudah merasa tidak ada harapan langsung terbangun ketika mendengar suara rantai tersebut. Seolah-olah, ia tahu bantuan darinya telah datang.
Berikutnya, sebuah jangkar tiba-tiba muncul dari kiri atas belakang monster, mengait lehernya dan langsung menyeretnya di udara.
Selagi monster Strike tertarik ke belakang, seorang gadis berlari dari arah berlawan.
Tangan kiri gadis itu terlilit rantai yang terhubung pada jangkar sementara tangan kanannya bersiap dengan pedang hitam gelap disertai ornamen berwarna merah.
Ketika monster manusia kadal itu memasuki jarak serangnya, gadis tersebut menusukkan pedangnya ke belakang dada monster dan membuat monster itu mengeluarkan sedikit rintihan.
Tidak cukup sampai di sana, gadis itu lantas mencabut pedangnya, lalu mengayunkannya ke leher Strike.
Seketika kepala monster kadal berdaging manusia itu terlepas dari tubuh utamanya, menggelinding di lantai untuk beberapa saat sebelum terdiam di depan Airen sambil mengulurkan lidah panjang.
Selesai dengan pembasmiannya, gadis tersebut melangkahi tubuh monster dan berjalan menuju tempat Airen berada.
Cara berjalannya membangkitkan sesuatu dalam kepala Airen. Adegan serupa tentang gadis yang sama sedang berjalan di antara tumpukan mayat monster.
—dan memang, dia adalah gadis waktu itu.
Matanya yang menyala dengan warna merah tampak sangat dingin dan menakutkan. Di sisi lain ia juga terlihat kesepian.
Wajah dan pakaian gadis itu ternodai oleh darah hitam monster. Ia berjalan sambil membawa pedang dan menyeret jangkarnya.
Saat sudah di depan Airen, pedang dan jangkar tersebut lenyap dari tangannya. Gadis itu pun mengulurkan tangan pada Airen yang berlutut di lantai.
“Ya ampun, kamu ini. Padahal sudah kuberi banyak latihan, tapi bukannya dipakai untuk menjaga diri, kamu malah terlihat sangat menyedihkan di hadapan Strike itu. Apa aku harus menambah waktu latihanmu? Ayo, cepat bangun.”
“… Ah, iya.”
Airen menyambut tangan gadis itu dan bangkit. Ia merasakan kelembutan tangannya, padahal gadis tersebut baru saja memegang pedang dan melayangkan nyawa.
Kemudian gadis itu mengatakan sesuatu, tetapi Airen tidak dapat mendengarnya. Pandangan Airen terdistorsi sebelum akhirnya ia jatuh dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Hei, Airen. Kamu kenapa? Airen? Airen!”