Pengantin 7 Dosa Besar

Pengantin 7 Dosa Besar
Bab 06 - Satu-satunya Anak Laki-laki Keluarga Claudia


__ADS_3

Berakhir upacara masuk, kerumunan siswa-siswi tersebar ke segala penjuru. Beberapa langsung berangkat ke kelas mereka, tetapi kebanyakan murid menghabiskan waktu santai di tempat-tempat tertentu.


Di lorong gedung utama—tempat kelas belajar dan tempat-tempat penting lainnya berada—Airen duduk di kursi yang tersedia untuk murid-murid dapat bersantai.


Sebelumnya ia bersama Sophia datang ke gedung itu. Namun Sophia tiba-tiba memintanya untuk menunggu sementara gadis itu menghilang entah ke mana.


Tidak ada yang dapat Airen lakukan selagi menunggu. Ia hanya sibuk memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu-lalang di hadapannya.


Sampai suatu waktu, ada dua siswi yang mendekatinya.


“Kamu bukannya laki-laki yang selalu bersama Nona Sophia tadi?”


Salah satu di antara mereka bertanya.


“Maksudmu aku? Sebelumnya aku memang bersama Sophia, tapi dia menyuruhku untuk tetap di sini sementara dia pergi. Sayang sekali aku tidak tahu dia pergi ke mana, jadi jika kalian sedang ada urusan dengan Sophia, aku minta maaf karena tidak bisa membantu.”


“Ah, tidak, tidak. Santai saja. Kami bukan sedang ada urusan dengan Nona Sophia. Kami kebetulan melihatmu sendirian di sini, jadi kami khawatir kamu terpisah dengannya atau semacam itu.”


“Oh, begitu ternyata.”


Airen sedikit salah paham mengira kedua gadis itu ada keperluan dengan Sophia.


“Hei, karena kamu bisa bersama Nona Sophia, apa mungkin kamu laki-laki yang dirumorkan itu?”


“Rumor?”


Mendengar sesuatu yang tidak ia ketahui dari gadis kedua, Airen jadi penasaran.


“Kamu belum pernah mendengarnya? Selama ini anak-anak dari Keluarga Claudia cuma ada enam dan semuanya perempuan. Namun baru-baru ini, ada desas-desus yang menceritakan anak ketujuh dari keluarga Claudia yang selama ini disembunyikan keberadaannya masuk ke akademi. Dan katanya, dia laki-laki.”


Gadis pertama menceritakan rumor yang dimaksud.


Melihat kecocokan rumor dengan dirinya, Airen tidak dapat membantah kalau itu bukan dirinya.


“Sepertinya yang dirumorkan memang aku. Soalnya tidak ada orang lain.”


“Sudah seharusnya, ya~ Karena rasanya tidak mungkin jika Nona Sophia bersama orang asing. Ah, kecuali kalau orang itu tunangannya atau yang semacam itu.”


Gadis kedua mengangguk-angguk memaklumi. Airen tertawa masam mendengar kalimat akhir yang gadis tersebut ucapkan.


“Hmm, aku jadi sedikit bertanya-tanya kenapa kamu disembunyikan. Kenapa anak ketujuh yang laki-laki baru dikeluarkan ke publik sekarang?”


“Soal itu …. Benar juga, ya ….”


Airen menimang-nimang kata agar tidak salah membocorkan rahasia dan tidak memberikan jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan gadis ke dua itu.


“Sebenarnya, aku juga baru tahu kalau aku bagian dari Keluarga Claudia. Sebelumnya aku hidup sebagai keluarga biasa.”


“Eeh~ Kamu ternyata tidak tahu juga, ya~? Sangat disayangkan~”


Gadis kedua tampak kecewa.


“Kamu tinggal di daerah mana sebelumnya?”


“Kalau itu ….”


Mendapati pertanyaan lainnya dari gadis pertama, Airen jadi kesulitan untuk menjawab. Ia sudah diperingati agar tidak membocorkan asalnya dari dunia lain.


Di saat-saat sulit tersebut, seseorang berdehem di belakang kedua gadis. Perhatian semua orang seketika tertuju ke sana, dan ternyata di situ ada Sophia yang melipat kedua tangan di depan dada.


“N-Nona Sophia …. S-Selamat pagi, Nona Sophia.”


Gadis pertama dengan gugup menyapa.


“Ya, ini pagi yang indah.”


Sophia mengangguk menanggapi sapaannya.


“K-Kalau begitu, kami pamit undur diri karena ingin ke kelas.”


“P-Permisi ….”


Kemudian kedua gadis pergi melarikan diri.


Airen dan Sophia memperhatikan kepergian mereka. Ketika tatapan keduanya bertemu, Sophia membuang napas dalam.


“Ditinggal sebentar saja kamu sudah tebar pesona dan menggoda sembarang gadis di jalan. Ada-ada saja.”

__ADS_1


“T-Tebar pesona!? Aku tidak melakukan apa pun–”


Tentu Airen membantah tuduhan sembarang yang ditujukan padanya. Namun Sophia segera memotong kata-katanya.


“Ya, ya. Kuharap kamu tidak membocorkan tentang asalmu dari dunia lain atau tentang pernikahan kita bertujuh. Aku sudah bilang padamu, keberadaan dunia lain benar-benar dirahasiakan dari publik. Dan untuk pernikahan kita bertujuh, itu dirahasiakan agar suara-suara aneh tidak bermunculan.”


Sophia duduk di sebelah Airen. Ia mengeluarkan minuman kaleng dari plastik putih yang ia bawa dan memberikannya pada Airen.


Airen menerimanya, sementara Sophia mengeluarkan minuman kaleng lainnya untuk dirinya sendiri.


“Terima kasih. Karena sudah diperingati, mana mungkin aku menceritakannya.”


“Sungguh? Aku juga memperingatimu untuk jangan sembarangan berbicara dengan orang asing, tapi apa yang terjadi?”


“Soal itu …. Itu sesuatu yang tidak bisa dihindari.”


“Hmph. Kau benar-benar suka mencari pembenaran, ya?”


Airen hanya bisa tersenyum pahit karena terus-terusan disalahkan oleh gadis itu. Lalu perhatian Airen tertuju pada minuman kaleng yang Sophia berikan untuknya.


“Apa mungkin kamu pergi tadi karena repot-repot mencarikan minuman untukku.”


“H-Hah!? Kenapa kamu berpikiran seperti itu!?”


“T-Tidak. Apa aku salah sangka?”


“Aku mencari minum karena memang sedang haus. Kebetulan aku beli dua, jadi kuberikan satu untukmu.”


“B-Begitu.”


Airen tidak ada pilihan selain menerima apa yang Sophia ucapkan.


Namun ia ingat. Sebelum Sophia pergi dan menyuruhnya menunggu di tempat, Airen mengeluh bahwa ia meninggalkan botol minumnya di kediaman.


Lalu Sophia mengeluarkan satu barang lagi dari plastik putih. Barang tersebut adalah botol air mineral berukuran sedang. Sophia menyerahkan itu kepada Airen.


“Apa maksudnya ini?”


Airen kebingungan karena Sophia juga memberikannya minuman botol setelah tadi memberinya minuman kaleng.


“Tentu saja untukmu! Tidak usah menanyakan hal-hal sepele yang sudah jelas seperti ini!”


“Sama-sama, memang begitulah seharusnya.”


Melihat sikap Sophia sejauh ini, Airen jadi bertanya-tanya. Apa mungkin Sophia aslinya baik dan perhatian tetapi tidak mau dianggap seperti itu?


‘Kalau benar, itu benar-benar lucu.’ Airen tidak menyangka Sophia memiliki sifat manis seperti itu. Tanpa sengaja senyum simpul tercipta di wajahnya. ‘Sophia ternyata seorang malu-malu kucing.’


“Apa kamu sudah selesai? Jika sudah, kita bisa pergi ke kelas sekarang.”


Sophia bangkit dari kursi dan membuang kaleng serta sampah plastiknya di bak sampah terdekat.


“Ah, tunggu!”


Airen pun bergegas menghabiskan minuman kalengnya. Ia menyimpan botol air mineral yang Sophia berikan ke dalam tas serta membuang kaleng yang sudah kosong ke bak sampah.


Keduanya pun berjalan bersama menuju kelas mereka belajar.


Tak lama berjalan, mereka tiba di depan pintu kelas yang dimaksud. Papan tanda di atasnya bertuliskan ‘2-A1’. Sophia masuk lebih dahulu yang kemudian disusul Airen.


Pandangan Airen berkeliling ke seiisi kelas.


Tidak ada yang spesial menurutnya. Keramik putih sebagai lantai, dinding kelabu dengan beberapa foto orang-orang ternama, meja para murid yang tersusun dalam barisan 5x6, satu meja di sudut depan kelas, loker-loker dan rak buku paket di paling belakang kelas, papan tulis yang menggunakan spidol, serta tanaman hias di beberapa titik.


“Duduklah di mana pun yang kamu mau. Tapi kalau bisa jangan duduk selain di sampingku.”


“Baiklah.”


Airen mengangguk atas perkataan Sophia dan mengikutinya ke mana pun ia pergi.


Sophia mengambil kursi barisan paling depan, tepat di tengah-tengah. Mau tak mau Airen harus memilih antara kanan dan kirinya.


Ia sempat ragu-ragu sebentar. Namun Airen memutuskan untuk mengambil kursi sebelah kiri Sophia dan duduk di sana.


“Entah kenapa … rasanya jadi gugup karena terlalu dekat dengan papan tulis.”


Airen mengungkapkan perasaan yang ia alami sekarang. Selain itu, ia juga gugup karena terlalu dekat dengan tempat guru. Ia pikir seharusnya tadi ia mengambil kursi di sebelah kanan Sophia.

__ADS_1


“Yah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cukup bersikap seperti biasa. Dan kamu harus tahu ini, Airen: dengan duduk lebih dekat dengan guru, otakmu akan lebih banyak menyerap ilmu dibanding yang duduk di belakang. Kamu bisa lebih fokus ke pelajaran dan tidak akan ketiduran. Potensi penuh kekuatanmu tidak akan keluar jika kamu bodoh.”


Sophia menghantamnya dengan nasihat kecil sampai-sampai Airen tidak memiliki kata-kata untuk menjawabnya.


“B-Baiklah, aku mengerti. Aku akan mengingat itu.”


“Kalau benar begitu maka baguslah.”


Setelah percakapan berakhir, mereka pun menjadi diam di bangku masing-masing.


Satu persatu siswa-siswi berdatangan ke kelas melalui pintu dan saling menyapa. Beberapa dari mereka juga menyapa Sophia, lalu ia membalas salam mereka dengan tanggapan santai.


Semua orang di kelas tampak saling mengenal, menyisakan Airen yang tidak mengetahui siapa pun selain Sophia selaku sepupu sekaligus juga kekasihnya yang harus dirahasiakan dari orang lain.


Lalu ketika Airen merasa terasing, seorang laki-laki datang dan menyapa Sophia.


“Pagi yang cerah, Nona Sophia. Sepertinya ada wajah baru di sini, siapa laki-laki yang berada di sebelah Anda?”


Ia adalah laki-laki berlidah ular dengan mata kuning sipit dan rambut berwarna biru tua.


“Pagi yang cerah juga untukmu, Tuan Zian. Dia adalah satu-satunya anak laki-laki dari Keluarga Claudia yang selama ini disembunyikan. Kamu pasti pernah mendengar kabarnya.”


“Namaku Airen, salam kenal.”


Airen memperkenalkan dirinya setelah diperkenalkan oleh Sophia.


“Ternyata benar. Ternyata rumor itu bukan buatan seseorang, ya. Ah, namaku Zian Persi. Panggil saja Zian seperti yang lain.”


“Ya. Salam kenal, Zian.”


Airen menyambut tangan yang diulurkan lelaki tersebut dan berjabat tangan dengannya.


“Satu-satunya anak laki-laki Keluarga Claudia yang selama ini disembunyikan, ya? Kenapa kamu disembunyikan?”


“Soal itu—”


“Entahlah. Tidak ada yang tahu di antara kami. Pemikiran kakek memang sulit ditebak.”


Saat Airen hendak menjawab, Sophia memotong dan menjelaskan. Tentunya ia berbohong. Sophia tahu jelas mengapa Airen baru muncul sekarang.


“Berarti Airen sendiri juga baru tahu kalau dia sebenarnya anggota Keluarga Claudia. Hmm, terdengar menarik. Sebelum tinggal di kediaman Claudia, di mana sebelumnya kamu tinggal?”


“Dia tinggal di negara jauh yang bahkan belum terjamah Strike. Kakek menolak untuk memberi tahu lokasi tepatnya dan beliau juga menyuruh Airen untuk tutup mulut dari mana dia berasal. Benar, 'kan?”


Sophia melirik Airen dengan tatapan seolah memerintahnya untuk mengikuti alur yang ia buat.


“I-Iya, itu benar. Aku juga tidak tahu kenapa disuruh untuk menutupi soal tempat tinggalku dulu.”


Airen tidak memiliki pilihan selain menurut. Meski ia paling enggan berbohong, mau tak mau Airen harus melakukannya.


Dan entah bagaimana Zian tampak cukup mempercayai cerita karangan mereka. Ia menjepit dagunya sambil sedikit merenung.


“Hmm~ Kenapa bisa begitu, ya–? Tapi memikirkan itu sepertinya tidak ada gunanya. Soalnya kita sedang membicarakan keluarga dengan pengaruh paling besar di dunia, satu atau dua keanehan pasti sudah biasa bagi mereka.


“Ah, bukan berarti saya mengejek keluarga Claudia itu aneh atau semacamnya. Saya harap Nona Sophia tidak memasukkan kata-kata saya tersebut ke hati.”


Menyadari suara hatinya tanpa sengaja keluar, Zian segera meluruskan maksud ucapannya. Di satu sisi, Sophia bersikap seperti biasa.


“Santai saja. Sejak awal aku tidak pernah ambil pusing dengan ucapan yang keluar dari lidah ularmu.”


Meski begitu, jawaban Sophia terdengar cukup menyelentik bagi Zian hingga ia jadi tertawa.


“Seperti itulah Nona Sophia. Kadang kata-kata yang keluar dari mulut Anda terasa pedas. Nah, saya akan pergi ke kursi saya kalau begitu. Tahun ini pasti akan jadi sangat menarik. Saya pamit undur diri, sampai nanti.”


Dengan meninggalkan beberapa patah kata tersebut, Zian pergi ke kursinya, meninggalkan Sophia dan Airen di tempat mereka.


Melihat gerak-gerik dan sikapnya, Airen jadi penasaran bagaimana pendapat Sophia. Ia pun menanyainya setelah yang bersangkutan sudah jauh.


“Laki-laki yang bernama Zian itu … apa dia baik?”


“Entahlah. Setidaknya dia memiliki nyali yang cukup besar karena berani berbicara denganku bahkan coba-coba mengorek informasi tentang Keluarga Claudia darimu tepat di hadapanku.”


“K-Kalau tanggapanmu seperti itu, aku tidak bisa berkomentar apa-apa.”


Memang, Sophia memiliki hawa yang mengintimidasi dan membuat orang-orang di sekitarnya jadi takut. Namun Zian dapat berbicara dengannya lebih santai dibanding orang lain, seolah-olah tidak berpikir apa yang akan dilakukan Sophia jika ia macam-macam.


Akan tetapi yang paling membuat Airen takjub adalah Sophia itu sendiri. Ia bisa mengatasi orang semacam Zian dan membuat cerita yang dapat diterimanya dengan mudah.

__ADS_1


Airen pikir, ia harus banyak belajar dari Sophia.


__ADS_2