
Suara derit pelan engsel terdengar ketika seseorang membuka pintu dan memasuki kamar gelap dengan jendela yang tertutup tirai.
Ia berjalan di dalam kamar menuju jendela dan menyingkap tirai tersebut, membiarkan cahaya pagi masuk dan menerangi seisi kamar.
“Airen, ini sudah pagi. Cepatlah bangun.”
Seseorang tadi adalah Sophia. Ia datang ke kamar Airen untuk membangunkannya karena matahari sudah lama terbit.
Namun Airen tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Wajahnya memang bereaksi ketika terkena pancaran matahari dari jendela, tetapi ia segera memalingkan badan ke sisi lain agar tidak kesilauan dan melanjutkan tidurnya.
Melihat Airen yang menolak bangun, Sophia menghela napas. Gadis itu bergerak ke tempat Airen dan mulai menggoyangkan badannya.
“Ayolah, Airen. Cepat bangun. Hari sudah pagi. Kalau kamu terus tidur, bisa-bisa kita terlambat ke akademi. Apa kamu lupa kalau ini hari pertamamu? Jadi cepatlah bangun.”
Meski sudah begitu, Airen masih tidak mau bangun. Sophia lagi-lagi menghela napas karena tidak tahu harus bagaimana.
“Biasanya dia memang kubangunkan, tapi kenapa hari ini jadi lebih sulit? Dia tidak bergadang membaca buku di perpustakaan lagi, 'kan?”
Sophia memandangi wajah tidur Airen. Kemudian, perhatiannya tertuju pada bibir laki-laki itu.
“Ini wajah tidurnya. Biasanya dia selalu bangun setelah aku membuka tirai.”
Jari-jari Sophia tanpa sengaja bergerak menyentuh bibir Airen lalu memainkannya sedikit sebelum berikutnya ia tersadar dengan apa yang baru saja ia perbuat dan segera menarik tangannya dari sana.
‘A-Apa yang telah kulakukan barusan!?’
Wajahnya memerah. Akan tetapi, ia masih penasaran. Sophia ingin mengetahui apa yang belum ia ketahui. Ia tidak pernah memiliki pengalaman dengan laki-laki mana pun sebelumnya.
Jari-jarinya yang sempat menyentuh bibir Airen itu ia sentuhkan ke bibirnya sendiri. Sophia teringat bagaimana sensasi ketika bibirnya bertemu dengan bibir Airen.
Itu adalah ingatan yang dilupakan Airen. Ketika kondisi benar-benar terdesak karena serangan Strike dan Sophia sudah kehabisan kekuatannya, Airen memberinya sebuah ciuman yang seketika mengembalikan seluruh kekuatannya seperti semula.
“Aku pernah dengar, katanya c-ciuman juga dapat membangunkan pasangan. Kami berdua sudah dipasangkan oleh kakek, j-jadi … boleh, 'kan? L-Lagipula ini salahnya karena tidak mau bangun! Itu benar, tidak ada cara lain lagi ….”
Sophia mulai membenarkan tindakannya.
Kemudian, Sophia meletakkan satu tangannya di atas ranjang dekat wajah Airwn untuk menahan berat tubuhnya sementara tangannya yang lain mengkebelakangkan rambut yang menghalangi wajahnya.
Sophia perlahan mendekati Airen. Wajah mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat sampai-sampai napas Sophia dapat menggelitik hidung Airen.
Sophia menutup sepasang matanya. Jantungnya berdebar tak karuan karena tindakan yang akan ia lakukan.
Ketika bibir mereka hampir saja bertemu, Airen yang menyadari ketidakberesan dengan sekitar segera terbangun.
“S-Sebentar–!”
Mendengar suara Airen, Sophia otomatis membuka matanya. Tatapan mereka bertemu di jarak yang dekat itu. Ia pun menyadari kalau Airen baru saja bangun.
__ADS_1
Dan sesaat berikutnya–
“Kyaa …!”
Teriakan manis Sophia terdengar hingga ke luar kamar yang kemudian disusul oleh bunyi tamparan keras.
***
Waktu berlalu, kini sambil membawa tas sekolah masing-masing, keduanya berjalan di samping jalan raya bersama kerumunan di sekitar mereka.
Airen dan Sophia mengenakan seragam sekolah mereka, kemeja dalam putih berdasi merah dan luaran hitam dengan corak garis putih serta kancing dan logo akademi berwarna emas.
Bawahan mereka juga sama-sama berwarna hitam dengan perbedaan Airen memakai celana sementara Sophia mengenakan rok menyentuh lutut disertai stocking hitam.
Cap lima jari berwarna merah tampak cukup jelas di pipi Airen. Cap merah tersebut muncul sebagai akibat Sophia yang menamparnya.
“Dasar, lain kali jangan membuatku datang ke kamarmu hanya untuk membangunkanmu!”
“M-Maaf sudah merepotkan. Terima kasih karena sudah selalu membangunkanku. Aku sangat ingin mengejar ketertinggalanku tentang pengetahuan dunia ini sampai-sampai aku lupa waktu di perpustakaan.”
Setiap malam, Airen mempelajari tentang dunianya sekarang dengan membaca buku-buku di perpustakaan. Kadang-kadang ia di sana sampai lewat tengah malam bahkan ketiduran di sana.
“Semangat memang bagus, tapi kamu harus memperhatikan tubuhmu juga. Kurang tidur itu tidak baik. Aku sudah sering mengatakannya padamu.”
“Aku tahu, aku akan mengusahakannya.”
Karena kenyataannya, selama beberapa hari yang telah berlalu sebelum akhirnya hari pertama akademi ini datang, Airen terbukti kurang dalam latihannya bersama Sophia. Jadi ia memaksakan diri dengan belajar sendirian di perpustakaan.
“Boleh aku menanyakan sesuatu?”
“Ya, tentu saja.”
Sophia mengindahkan permintaan Airen.
“Sebelum aku bangun tadi, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan?”
“Jangan membuatku mengatakannya, bodoh!”
“M-Maaf ….”
Airen tidak tahu kenapa, tetapi ia tiba-tiba dibentak Sophia. Ia juga tidak pernah tahu kenapa Sophia menamparnya tadi pagi.
“Ada-ada saja, kupikir ingin menanyakan hal penting apa. Sebaiknya sekarang kamu menyiapkan kartu yang kuserahkan kemarin. Kamu tidak lupa membawanya, 'kan?”
“I-Iya. Aku membawanya.”
Airen kemudian mencari-cari ke dalam tasnya dan mengeluarkan semacam kartu ATM dari situ.
__ADS_1
“Yang ini, 'kan?”
“Ya. Kamu ingat apa fungsinya?”
“Digunakan untuk berpergian menggunakan kereta, jadi kita tidak perlu membayar tiket lagi karena pembayarannya akan ditanggung ke Keluarga Claudia.”
“Tepat. Jadi jangan sampai kamu menghilangkannya di akademi nanti jika tidak mau terjebak di sana.”
“A-Aku akan berhati-hati.”
Dihadapkan dengan ancaman Sophia tersebut, Airen jadi takut kalau-kalau ia menghilangkan itu nanti.
Tak terlalu lama mereka berjalan, keduanya sampai ke stasiun. Sophia menyerahkan kartu miliknya ke seorang penjaga yang kemudian melakukan pemindaian pada kartu itu. Airen mengikuti cara Sophia, dan keduanya pun beranjak memasuki kereta.
Kereta memiliki beberapa ruangan khusus untuk tempat duduk para penumpang. Airen dan Sophia duduk di ruangan yang sama, saling menghadap satu sama lain pada kursi yang bersebrangan.
Beberapa saat menunggu, pengumuman terdengar dari speaker di dalam kereta yang memberitahukan kalau mereka akan segera berangkat.
Kereta berjalan di atas rel, perlahan-lahan menambah kecepatannya. Airen dan Sophia yang berada di ruangan tidak memiliki topik untuk dibicarakan sehingga keduanya hanya diam.
Airen mencoba melihat apa yang gadis itu lakukan. Saat itu pandangan Sophia terpaku di jendela kereta, ia tampak sedang melamun.
Lalu pikiran Airen memutar kembali ke beberapa hari sebelum ini. Lebih tepatnya waktu makan malam di hari kediaman diserang oleh Strike, Airen diberitahukan sesuatu yang sangat mengejutkannya oleh Kura.
Kura mengatakan bahwa kakek mereka—yang mana ia adalah pemimpin Keluarga Claudia saat ini—menikahkan Airen dengan keenam sepupunya yang tidak lain di antaranya adalah Sophia, Sarina, dan Kamilah.
Pernikahan tersebut terjadi karena persyaratan dari ibu Airen pada kakeknya yang ingin membawa Airen ke dunia mereka. Ibunya yang khawatir kalau Airen tidak akan memiliki pasangan di sana memberikan persyaratan itu.
Awalnya ia hanya dinikahkan dengan Sophia. Namun ketika kekuatan Airen yang dapat membuat orang yang berhubungan dekat dengannya dapat menjadi lebih kuat terungkap, kakek Airen menikahkannya dengan kelima sepupunya yang tersisa hingga jadilah seperti sekarang.
Tindakan Kamilah yang waktu itu duduk di pangkuannya adalah salah satu daripada bentuk ‘pendekatan’. Dengan melakukan itu, Kamilah dapat menembus batas kekuatannya meski hanya sedikit.
Semakin besar bentuk ‘pendekatan’ tersebut, semakin besar efeknya. Itulah yang dikatakan Kura pada Airen.
‘Jika diingat kembali, apa mungkin pagi tadi sebenarnya Sophia mencoba menciumku!?’
Airen menduga seperti itu karena ciuman termasuk salah satu bentuk ‘pendekatan’. Dan memang begitulah kenyataannya, tetapi Sophia gagal melakukannya karena Airen lebih dahulu bangun dan ia sendiri terlalu malu untuk melanjutkannya.
Airen jadi bingung bagaimana ia harus menghadapi Sophia setelah mengetahui ini. Sophia yang menyadari Airen sedang heboh sendiri mengernyitkan keningnya.
“Kenapa?”
“T-Tidak, bukan apa-apa.”
Airen jadi panik ketika ditanyai Sophia. Gadis itu memang tampak akan marah setiap kali ada yang salah di matanya.
Namun, mulai sekarang dan seterusnya, Airen akan hidup bersama mereka. Tidak peduli apa, ia harus terbiasa dengan Sophia dan yang lain.
__ADS_1