
Suara musik klasik terputar mengisi kesunyian ruangan. Di ruangan tersebut, seorang pria berdiri di depan lemari obat dan mengeluarkan beberapa resep dari sana.
Pria itu membawa resep-resep di tangannya ke atas meja dan mulai meracik sesuatu di situ.
Di sisi lain, Airen baru terbangun setelah sebelumnya tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Pandangannya berkedip melihat langit-langit yang tidak ia kenali sebelum akhirnya bangkit dari posisi tidur.
“Kalau tidak salah tadi aku ….”
Airen mencoba menyusun kembali ingatannya.
Awalnya, ia terbangun di kamar seorang gadis dan mengetahui kalau sepertinya ia hilang ingatan. Setelah gadis itu pergi, Airen bertemu dengan Sarina yang menjelaskan semua hal yang ingin ia ketahui. Lalu di saat-saat tersebut, monster yang disebut Strike menyerang mereka. Sarina menghadapinya sementara Airen mencari tempat aman. Namun, Airen juga diserang oleh monster lainnya.
“… lalu aku diselamatkan gadis itu.”
Seorang gadis bermata merah yang sama merahnya dengan Sarina. Rambut hitamnya diikat dengan gaya low-twintail menggunakan sepasang pita putih.
“Kalau masih merasa kurang sehat, Anda bisa kembali berbaring di ranjang, Tuan Airen. Saya membawakan teh herbal untuk Anda, saya harap rasanya cocok di lidah Anda.”
Ketika Airen tenggelam dalam pikirannya, pria yang sibuk dengan resep-resep di atas meja tadi datang membawakan perangkat minum teh di atas troli.
Ia adalah pria muda tampan dengan usia kisaran dua puluh satu tahunan. Rambutnya berwarna pirang diikuti sepasang mata berwarna merah tua. Pria itu mengenakan seragam pelayan pria selayaknya kepala pelayan yang profesional sungguhan.
“Apa ada yang salah?”
Menyadari Airen terus memandanginya, pria tersebut memiringkan kepala.
“Ah, tidak. Bukan apa-apa.”
Airen sedikit panik karena merasa baru saja bersikap kurang sopan padanya. Di sisi lain, ia yang melihat reaksi panik Airen tertawa kecil.
“Saya sudah mendengar situasi Anda dari Nona Sarina. Katanya Anda kehilangan ingatan Anda ketika berada di dunia ini, benar begitu?”
“Ya, mungkin seperti itu.”
Airen cukup ragu-ragu apakah ingatannya yang hilang terbatas pada ingatan ia dipindahkan ke dunia ini atau tidak.
“Kalau begitu, biarkan saya memperkenalkan diri untuk yang kedua kali. Nama saya Kura, kepala pelayan di kediaman anak-anak Claudia ini juga sekaligus pengawas untuk keseharian kalian.”
“Pengawas?”
Mendengar kata itu membuat Airen bertanya apa maksudnya.
“Pengawas untuk menentukan siapa di antara anak-anak Claudia yang layak menjadi pemimpin keluarga. Yah, meski sekarang peran itu tampaknya sudah tidak diperlukan.”
Kura tertawa kecil ketika menyebutkan itu.
“Begitu …. Omong-omong, kenapa aku bisa terbangun di sini? Kalau tidak salah waktu itu aku diselamatkan seseorang, tapi sisanya aku tidak ingat lagi.”
“Setelah diselamatkan Nona Sophia, Tuan Airen kehilangan kesadaran. Ini sebagai akibat karena Anda terlalu banyak dikejutkan dengan hal-hal yang di luar logika Anda.”
Begitulah jelas Kura.
“Jadi setelah itu aku pingsan, ya? Pantas saja aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Kurasa sekarang aku sudah lebih baik. Entah bagaimana aku sudah bisa menerima kenyataan kalau sekarang aku berada di dunia lain dan menerima keanehan yang terjadi ….”
Setelah kepalanya jadi lebih dingin, Airen berhenti untuk terlalu memikirkan di mana ia sekarang berada dan memutuskan untuk menerimanya.
“Nama gadis itu Sophia, ya ….”
Tanpa sengaja, suara hati Airen keluar dari mulutnya. Kura yang mendengar itu langsung tersenyum nakal.
“Apa Anda tertarik dengannya?”
“Eh? Ah! Tidak, bukan sesuatu seperti itu! Aku cuma … emm … ingin berterima kasih karena sudah ditolongnya. Waktu itu aku langsung pingsan, jadi tidak sempat berterima kasih.”
“Heh~ Seperti itu~? Kalau begitu, Anda bisa menyampaikan terima kasih Anda sekarang juga karena orang yang dibicarakan sedang menguping di balik pintu.”
Begitu Kura menyinggungnya, suara gaduh terdengar dari balik pintu. Perhatian Airen tertuju ke sana karena penasaran apa yang terjadi di sana sementara Kura tampak tersenyum puas.
“Sejak kapan dia ada di situ?”
“Entahlah. Kira-kira saat Tuan Airen bertanya apa yang terjadi pada Anda setelah diselamatkannya. Nona Sophia kebetulan lewat dan menyadari kalau Tuan Airen sudah bangun, tapi karena tidak berani masuk ia hanya bisa menguping pembicaraan kita di depan pintu.”
“B-Begitu? Aku lebih terkejut kamu mengetahui keadaan di luar ruangan padahal sedang sibuk dengan obrolan di dalam ruangan.”
Kura yang mendengar pernyataan Airen tersebut tertawa.
“Saya seorang profesional, jadi mudah saja. Lagipula tadi saya hanya mengira-ngira. Tidak sepenuhnya tepat.”
Airen tersenyum tipis mendengar itu, menyadari kalau orang-orang dari dunia lain benar-benar di luar logikanya.
“Jadi, apa Anda akan terus berdiri saja di sana, Nona Sophia? Sembunyi sekarang juga percuma karena Anda sudah ketahuan. Bagaimana kalau ikut membicarakan beberapa hal bersama kami? Lagipula Tuan Airen ingin berterima kasih pada Anda karena telah menyelamatkannya, Anda yakin ingin mengabaikannya?”
Kura sedikit memberikan provokasi pada gadis yang ada di balik pintu. Suara ragu-ragu samar-samar terdengar dari balik sana sebelum kemudian pintu pun terbuka.
“Entah perasaanku saja atau bukan, aku mendengar kalau namaku tadi dipanggil. Ada urusan apa denganku, Kura?”
__ADS_1
Gadis yang dipanggil Sophia itu masuk. Ia memutuskan untuk bertingkah seolah-olah tidak tahu-menahu apa-apa, meski rona merah di pipinya menunjukkan kalau ia merasa malu dengan tindakan mengupingnya tadi.
Kura menahan tawanya setelah melihat tindakan Sophia tersebut sebelum akhirnya tawanya itu pecah. Airen hanya bisa tersenyum tipis karena tidak tahu bagaimana harus menanggapi.
Sophia yang kesal ditertawakan mendecik.
“Apaan, sih.”
Namun sebenarnya ia juga malu sendiri.
Kemudian, Kura menyapu air matanya yang tanpa sengaja keluar ketika tertawa lepas.
“Ah …, mohon maaf. Saya jadi sedikit di luar kendali. Anda bisa sedikit lebih dekat dengan Tuan Airen jika mau, Nona Sophia.”
“Tidak usah! Aku berdiri di sini sampai pelayan menyebalkan di dekatnya menghilang!”
Sophia menyilangkan kedua tangan di depan dada, marah pada Kura yang menjahilinya.
“Ya sudah, kalau begitu biarkan pelayan menyebalkan ini pergi agar Anda bisa lebih dekat dengan Tuan Airen. Saya akan membantu yang lain untuk membuatkan makan malam. Jadi saya pamit undur diri~”
Demikianlah, Kura pun meninggalkan Airen bersama Sophia di ruangan itu. Sophia yang masih kesal menjulurkan lidahnya pada jalan yang telah Kura lalui.
“Kalau bukan bawahan paling setia kakek, pasti sudah lama kugampar!”
Mendengar bagaimana Sophia bersuara seperti itu, Airen sedikit terkejut.
Lalu Sophia memalingkan wajahnya pada Airen. Gadis itu membuang napasnya sebelum berjalan lebih dekat ke tempat Airen.
“Jadi, kamu benar-benar hilang ingatan?”
“I-Iya. Emm, maafkan aku ….”
“Tidak usah minta maaf. Kamu tidak salah apa pun. Kamu hilang ingatan bukan karena kamu memilihnya juga, 'kan?”
“… Ya, kamu benar.”
Meski begitu, entah bagaimana Airen merasa bersalah. Ia sendiri juga tidak tahu mengapa ia jadi ingin meminta maaf.
Sophia lalu kembali membuang napasnya.
“Karena kamu hilang ingatan, tampaknya aku harus memperkenalkan diri lagi sama seperti yang lain. Namaku Sophia Claudia, panggil saja Sophia.”
“Ya. Salam kenal, Sophia.”
Airen memberikan senyum pada perkenalan Sophia, sehingga membuat gadis itu membuang mukanya yang memerah.
“B-Benar juga, seingatku tadi kamu ingin menyampaikan sesuatu padaku, 'kan?”
“Sesuatu? Ah, iya.”
Airen tidak akan mengingatnya jika tidak disebutkan Sophia.
“Ketika aku hampir diserang monster waktu itu, terima kasih sudah menyelamatkanku. Jika kamu tidak datang, entah apa yang terjadi padaku.”
“Yah, sebenarnya aku cuma kebetulan lewat. Sejak awal aku tidak pernah bermaksud menolongmu, aku hanya sedang membasmi Strike yang berkeliaran di kediaman saja. Tapi aku akan tetap menerima terima kasihmu.”
“B-Begitu ….”
Sophia cukup bertele-tele, namun intinya ia menerima ucapan terima kasih Airen.
“Hanya kali ini saja aku menolongmu. Di kesempatan berikutnya, kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri. Kehidupan di dunia ini lebih keras, tidak bisa disamakan dengan duniamu dulu. Kamu harus lebih kuat agar tidak mudah mati.”
“Aku mengerti itu, tapi bagaimana? Apa aku memiliki senjata seperti yang kalian gunakan dan harus berlatih menggunakannya? Selain itu, aku yang berasal dari dunia lain apa bisa melakukannya?”
“Kenapa? Kamu tidak mau?”
“Tidak, bukan seperti itu ….”
Airen hanya merasa ragu-ragu. Ia lemah dalam pelajaran olahraga, tubuhnya juga tidak pernah terlatih dengan pekerjaan berat-berat. Pasti sangat sulit baginya, terlebih jika standar kekuatan di dunia ini lebih di atas daripada di dunianya dahulu.
Menyadari Airen yang tidak percaya diri itu, Sophia menghembuskan nafasnya.
“Sebenarnya kamu sudah kulatih sebelum kamu hilang ingatan sekarang. Meski masih di bawah standar keluarga Claudia, kamu sudah lumayan dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga lain. Lagipula kamu memiliki otak yang cepat menangkap pelajaran dan suka bertanya sampai menemukan jawaban yang jelas jika tidak mengerti, jadi kamu pasti akan baik-baik saja.”
Sophia berbicara panjang tentang dirinya hingga Airen sedikit takjub.
“Kamu sepertinya mengerti banyak tentangku.”
Ketika Airen menyebutnya, wajah Sophia langsung memerah.
“H-Hah!? I-Itu tentu saja karena aku yang disuruh mengajarimu, jadi wajar saja! Jangan berpikiran kalau aku selalu memperhatikanmu karena memiliki perasaan tertentu!”
“A-Aku tahu itu.”
Airen tidak menyangka Sophia akan bereaksi seperti itu, jadi ia sedikit terkejut.
__ADS_1
Namun, perkataan Sophia sebelumnya membuat Airen lebih percaya diri. Ia akan berusaha karena Sophia mau mendukungnya.
Tanpa sengaja, senyum Airen yang tercipta karena merasa lebih percaya diri itu membuat Sophia memandangnya dengan curiga, mengira ia sedang mentertawakannya.
“Apa-apaan kamu, senyam-senyum seperti itu.”
“Tidak, bukan apa-apa.”
Meski begitu, tatapan curiga Sophia masih belum hilang karena senyum Airen semakin menjadi.
Lalu di saat itu, ketukan terdengar dari arah pintu yang diikuti dengan suara Kura setelahnya.
“Nona Sophia, Tuan Airen, saya ingin menyampaikan kalau makan malam sudah disiapkan.”
***
Beragam jenis makan malam tersusun di atas meja makan. Semua orang yang pernah Airen temui berkumpul di ruangan itu. Hanya ada dua orang wanita yang tidak Airen kenali, dan mereka adalah dua pelayan selain Kura.
Kura bersama kedua pelayan wanita tersebut berdiri di sudut ruangan setelah mempersiapkan makan malam. Airen yang melihat itu jadi bertanya-tanya.
“Apa kalian tidak ikut makan?”
Airen melihat masih ada 4 dari 7 kursi masih kosong di sana. Ia pikir itu untuk mereka, tetapi Kura menggeleng.
“Kami cuma pelayan, Tuan Airen. Kami akan makan di tempat masing-masing setelah Anda semua makan.”
“Begitu?”
Menyadari bahwa itu memang sudah kebiasaan dalam kediaman, Airen tidak mau ambil pusing dan membiarkan semuanya berjalan.
Selesai dengan pertanyaannya pada tindakan para pelayan, kini Airen memiliki pertanyaan untuk orang lain.
Sejauh ini, Airen sudah menemui 4 orang. Bertambah 2 jika pelayan wanita di sisi Kura ikut dihitung. 4 orang itu adalah Sophia, Sarina, Kura, dan Kamilah—gadis berambut perak yang pertama kali ia temui sebelumnya, Airen mengetahui namanya saat percakapannya dengan Sophia menuju ruang makan.
Masih ada 4 kursi kosong di antara 7 kursi yang tersedia, tetapi entah kenapa gadis tersebut malah duduk di pangkuan Airen.
Airen awalnya hendak bersuara, tetapi semua orang tampak menganggapnya normal hingga Airen kebingungan dan memutuskan untuk menunggu waktu yang untuk menyinggungnya.
Dan setelah menanyai tindakan para pelayan, inilah kesempatan yang tepat itu, pikir Airen.
“Hei Kamilah, aku sedikit bertanya-tanya, padahal ada banyak kursi kosong tapi kenapa kamu duduk di pangkuanku?”
“Apa Kakak merasa tidak nyaman?”
“Bisa dibilang begitu … tapi daripada disebut tidak nyaman, aku cuma … tidak mengerti dengan tindakanmu. Kalau memang ada alasannya, aku tidak masalah. Tapi kalau tidak ada alasannya … yah ….”
Airen merasa sulit untuk mengatakan jangan.
Kamilah yang tampaknya cukup mengerti tidak terlalu menanggapinya. Gadis itu dengan santai mengambil potongan daging steak menggunakan garpunya lalu menyodorkan itu ke mulut Airen.
“Untukku?”
Airen menanyakan maksudnya. Ketika Kamilah mengangguk, Airen pun memasukkan suapan itu ke mulutnya.
“Enak ….”
Ini adalah pertama kalinya ia merasakan daging steak, jadi Airen cukup terkejut dengan rasa kuat bumbunya serta kelembutan daging.
“Tunggu, bukan ini yang ingin kutahu. Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi.”
Sadar tidak sadar, Airen hampir ditipu Kamilah dengan rasa makanan hingga ia lupa dengan apa yang ingin ia ketahui.
Mengetahui Airen gagal dibodohi dengan makanan, Kamilah mendecikkan lidah. Ia lantas memandangi semua orang.
“Apa tidak ada seorang pun di antara kalian yang menjelaskan soal ‘itu’ ke Kakak?”
“Soal ‘itu’?”
Airen penasaran dengan yang mereka bahas.
“Kelihatannya Nona Sophia dan Nona Sarina belum mengatakannya pada Tuan Airen, ya?”
Mendengar bagaimana Kura mengatakan itu, Sarina dan Sophia tampaknya melewatkan sesuatu yang sangat penting untuk diketahui Airen.
“Sarina memang sengaja agar Sophia saja yang menjelaskannya~”
“Kukira Sarina sudah memberi tahunya!”
Sarina dan Sophia memberikan alasan yang saling menyalahkan satu sama lain.
Melihat keduanya yang jadi saling menyalahkan itu, Kura hanya bisa membuang napas.
“Jadi sedikit merepotkan di sini ….”
Pandangan Kura terarah pada Airen. Airen hanya bisa bertanya-tanya dalam hati kenapa semua orang tampak kesulitan.
__ADS_1