
Setelah babak belur pria culun itu mengantarku pulang kerumah dengan motornya. Aku sempat menolak untuk diantarkan, tapi niatnya yang tulus berhasil meyakinkanku. Mestinya pria itu pulang saja dan mengurus lebam yang dia terima akibat menolongku. Tapi tidak apa, setidaknya aku bisa mengompres lukanya nanti saat sampai dirumah.
Sesampainya dirumah aku mengajak pria itu masuk. Dia sempat menolak karena hari sudah larut malam. Aku tak perduli, lagipula aku adalah wanita yang akan melakukan apa yang aku ingin, 'tak perduli apa kata orang. Saat itu aku menarik paksa pria culun itu.
"Ada apa, Ndok?" tanya ibu saat membuka pintu.
"Aku tadi kecopetan, Bu. Tapi mas ini datang dan menolong. Syukurlah kami tidak apa-apa, dan Hp-ku juga terselamatkan," jawabku.
"Masuk, Mas."
Sementara pria culun itu duduk di sofa ditemani ibu, dan juga bapak yang baru keluar dari kamar. Mereka ngobrol dengan santai. Aku kebelakang mengambil kotak obat dan air es untuk mengompres pipinya yang membiru.
Saat kembali keruang tamu ku-dapati pria itu malah tambah asyik mengobrol. Dia terlihat tidak sedang mengeluh, dan bapak nampaknya senang karena aku diantarkan oleh seorang pria. Mungkin setelah ini akan ada kesalahpahaman. Padahal pria culun itu bukan siapa-siapa, lebih lagi dia bukan tipeku.
"Siapa namamu, Nak? Dari tadi kita ngobrol tapi gak tau nama," tanya ayah sambil tertawa.
"Namaku, Sata Naja, Om."
"Nah itu , Prisa, sudah datang."
"Kamu ga papa, Mas?" tanyaku.
"Cuma luka ringan, tidak usah repot-repot, Dik, aku jadi gak enak," jawab Mas Sata malu-malu.
"Gak papa kok, Mas, cuma obat merah sama kompres doang, lagian bukannya Mas Sata yang sudah repot nolong aku. Malah sekarang diantar pulang juga 'kan."
Aku memberikan obat merah dibagian ujung bibir yang berdarah, kemudian mengompres lebam di mukanya dengan air es. Beberapa kali mas Sata sempat meringis. Mungkin caraku mengompres yang tidak benar.
"Pelan-pelan toh, Ndok," ujar ibu mengerutkan dahi.
"Maaf ya, Mas." Aku merasa bersalah.
__ADS_1
Setelah aku selesai mengompres mas Sata, dia langsung pamit pulang. Aku mengantarkan sampai ke depan pintu. Satu hal yang aku takutkan setelah peristiwa ini mungkin bapak dan ibu berharap aku punya hubungan spesial dengan mas Sata.
Tapi semoga saja tidak, sebab biar gimana juga aku punya tipikal pria idaman, seperti Lee Min-ho atau jika indo aku lebih suka Reza Rahadian, bukan pria culun dengan kacamata yang tebal seperti kaca Naco.
Akhirnya setalah hari panjang yang telah aku lalui, kini waktunya aku untuk tidur. Malam ini benar-benar bukan seperti malam yang biasanya saja. Biasanya meski larut aku masih sempat membaca komik, memakai masker malam untuk wajah dan makan cemilan, atau jika ada mie tek-tek yang lewat, tanpa pikir panjang aku pasti memesan. Bisa dibilang aku ini anti diet. Untuk sekarang aku tumbang, mataku langsung terpejam begitu aku merebahkan tubuh di kasur.
Setelah pagi aku dengan uring-uringan harus mandi dan bersiap berangkat kerja. Yah beginilah nasib pekerja, jam sift yang tak menentu dan yang paling parahnya lagi tak ada hari libur, satu Minggu full, semua hari hanya untuk kerja, kerja, kerja.
Seperti biasa meski hubungan antara aku dan bapak sedang tidak baik, tapi kalau untuk masalah mengantarkan aku ke tempat kerja bapak tidak pernah absen.
Yuhuuu, akhirnya aku sampai di tempat dimana aku menjadi seorang budak. Suatu sistem dimana kebebasanku direnggut. Meskipun begitu aku tidak berniat menjadi penganggur. Yah biarlah aku seperti ini. Aku tidak akan terlalu idealis seperti kebanyakan orang dalam menanggapinya.
Tidak semuanya buruk perihal pekerjaanku. Satu-satunya yang menyenangkan adalah bertemu kembali dengan rekan kerja yang sekaligus menjadi sahabat gokil, adalah Nayla, seorang cewek periang yang heboh sekaligus bucin.
"OMG! Lo semalem kecopetan, Pris? Tapi lo gak kenapa-kenapa 'kan. Coba aku liat dulu ada yang lecet gak," ujar Nayla sambil memeriksaku seperti memeriksa tanggal kadaluarsa pada kemasan mie instan.
"Gue gak kenapa-kenapa kok. Lo kenapa sih Nay lebay banget. Lagian gue belum selesai cerita juga, main nyerocos aja."😤
"Jadi semalam itu ada cowok yang nolongin gue, akhirnya tu cowok dikeroyok, aku kasihan deh."🥺
"Lo ga bohong kan ... terus cowok itu ganteng gak, Pris?"😗
"Ganteng dari mana? Culun gitu!"😒
"Kamu sih Pris gak ada yang jemput. Asal lo tau ya, tingkat kriminal itu tinggi banget sama cewek cantik kayak lo. Apalagi malem, mangkanya lo buruan cari cowok gih."🤣
"Emangnya lo bucin. Boncengan motor, jok belakang masih lebih banyak, bikin malu tau, Nay."🙄
"Halah lo ngiri aja, Pris."🥰
"Ngapain banget gue iri. Najis! gak ada akhlak."🤧
"Eh tapi beneran deh, Pris, lo itu harus punya cowok, masa iya sih cewek secantik lo ga ada yang naksir."😒
__ADS_1
"Gak tau deh, gue kayaknya gak laku banget."😓
"Itu mah lo nya aja yang gak mau buka hati. Coba deh kurangi sifat jutek lo. Gue jamin dalam hitungan hari lo udah punya cowok."😉
"Hem ... apa iya sih, Nay, penting banget punya cowok?" 🤔
"Menurut lo?"🙄
"Ya 'gak tau, mangkanya gue nanya. Kok lo malah balik nanya sih, aneh banget!"😗
"Gini aja, gimana kalo lo, gue comblangin sama temen gue?"😜
"Yaudah boleh deh, tapi temen lo itu ganteng kayak Lee Min-ho kan, Nay?"🥺
"He elah ni cewek, gue sleding juga ntar. Kalau gue punya teman kayak Lee Min-ho mah ngapain gue kasih ke lo, gue sikat duluan lah, mana cowok gue sekarang mukanya kayak ampas juga." Nayla emosi tingkat dewa.🤬
"Haha. Ya terserah lo deh, tapi gue 'gak janji bakal nerima dia. Kita liat aja 'ntar."🙄
"Nanti sore dia aku suruh jemput lo, kita makan baso bareng gimana?"🤔
"Lo yang atur aja Nay, gue nurut aja."😅
Setelah seharian kerja akhirnya jam kerja kami selesai. Sesuai dengan yang dijanjikan oleh Nayla, terlihat dua cowok sudah menunggu diluar toko. Ada Dion si muka ampas cowoknya Nayla, satunya lagi cowok yang ga aku kenal. Tapi dilihat-lihat dari jauh cowok itu lumayan manis juga.
"Hai. Kenalin gue, Syawal, temennya Nayla, salam kenal ya." Sambil menyodorkan tangan mengajak bersalaman.😎
"Salam kenal juga. Gue Prisa, eh kita mau kemana nih." Aku ngikut saran Nayla ngurangin sifat jutek.ðŸ¤
"Gak tau, ikut Nayla aja." Sok keren.😎
"Oh yaudah ... yuk! Tuh mereka udah jalan."
Setelah obrolan singkat itu aku dibonceng oleh Syawal. Ah, aku sudah tau pasti ke warung baso mas Gendut langganannya Nayla, tapi gapapa juga sih, habisnya pentol baso-nya enak. Untuk kesan pertamaku dengan Syawal, dia sok asik dan sok ganteng.
__ADS_1