
Aku kembali bersitegang dengan bapak. kepalaku dibuat pening dengan tekanan ini. Aku mengerti maksud bapak baik, dia ‘gak mau aku menjadi perawan tua, tapi harusnya bapak belajar juga menerima kenyataan, jangan nuntut hal yang aku sendiri tidak memliki kuasa.
“Ayolah, Ndok. Apa susahnya sekali aja nurut sama bapak, Apa kamu mau melihat bapak mati dulu baru mau menuruti kata-kata bapak?” Obrolan kami mulai tidak jelas arahnya.
“Kok ngomong ‘gitu sih, Pak? Iya pak nanti Pris nikah, kasih waktu ya, tapi Pris gak mau di jodoh-jodohin, Pak” jawabku.
“Baik, bapak kasih waktu sebulan ke depan, kalau memang ‘gak ada, kamu harus nikah sama pilihan bapak, kalau masih ‘gak nurut juga, lebih baik bapak mati, bapak malu, Ndok, jadi gibahan tetangga, lagian bapak itu udah lama pengin nimang cucu.”
“Pak, sebulan itu cepet banget, kayaknya ‘gak mungkin deh secepat itu.”
“Terserah bapak ‘gak mau tau, kesabaran bapak sudah habis.”
“Bapak emang egois, bapak sengaja ‘kan gak ngebiyayain aku kuliah dulu, supaya aku cepet nikah. Pak, aku punya cita-cita, kalau mau bapak bisa aja jual tanah di kampung buat biaya kuliah, tapi bapak, enggak! Dasar bapak aja yang mau aku nikah, bahkan sejak aku baru tamat SMA.”
“Buat apa kuliah? Perempuan itu di rumah, ngurus suami, ngurus anak.” Bentak bapak.
Aku tidak percaya dengan yang baru saja di ucapkan bapak, mendengarnya benar-benar menyakitkan hatiku.
Seorang bapak semestinya adalah ciptaan tuhan yang paling layak menerima pujian di atas muka bumi ini, pria sangat kuat yang bersedia melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya.
Setelah bentakan bapak yang teramat menyakiti hatiku itu terlontar, sontak saja aku melengos ke kamar, aku menangis, meremas bantal sekuat tenaga, ‘tak puas dengan itu aku mencakar tembok, geram sekali rasanya.
Dari kamar terdengar suara bapak dan ibu ribut. “Pak, sudahlah … jangan terlalu memaksa Prisa, dia itu anak kita, Pak,” ujar ibu.
“Justru karena Prisa anak kita, mangkanya bapak mau yang terbaik, anak itu memang ‘tak tau diri,” jawab bapak.
__ADS_1
“Prisa juga punya cita-cita, Pak, apa Bapak pernah liat hasil desain yang dibuat Prisa? Anak kita itu pinter komputer, Pak,” bela ibu.
“Kenapa Ibu menentang keputusan bapak! Jadi Ibu mempertanyakan cara bapak memimpin keluarga?” suara bapak lebih keras dari sebelumnya.
“Lo, bukan begitu toh, Pak. Ibu cuma ‘gak mau Bapak ribut terus, inget Pak, Prisa itu anak kita sematawayang, kalau dia tertekan, lalu minggat ‘gimana? Ibu ‘gak bisa hidup tanpa Prisa, Pak.” Suara ibu terdengar lirih.
“Ibu itu terlalu memanjakan Prisa, mangkanya dia jadi melawan sama bapak, jadi Ibu maunya apa sekarang? Apa ibu pikir menguliahkan Prisa itu bagus, anak perempuan disuruh ngekos, tinggal jauh dari orang tua, yang ada malah dia ‘gak bener, pulang-pulang bawa anak tanpa suami, Ibu mau anak kita kayak ‘gitu?” Bentak bapak.
Aku sebetulnya kasihan sama ibu. Puluhan tahun hidup bersama pria yang sangat egois seperti bapak, yang selalu menuntut bukan menuntun, bapak sepertinya tahu betul akan haknya sebagai seorang suami dan sebagai seorang ayah, tapi dia buta akan tugas seorang ayah, hanya meminta bukan memberi.
Kalau pun kelak dalam satu bulan ke depan, aku mendapatkan jodoh lalu menikah. Aku bersumpah ini bukan karena menuruti keinginan bapak, tapi karena aku sayang sama ibu.
Inilah mengapa aku benci dirumah. Berada di luar lebih membuatku tenang. Rumah ini sudah seperti tempat berkumpulnya ego yang saling membeturkan satu sama lain. Ah terserahlah, aku ‘gak peduli lagi, pengin rasanya bawa ibu pergi dari rumah ini.
Dret … dret … dret ….
Terdengar suara notifikasi ponselku.
Prisa : Aku kayaknya masuk malam deh, tapi nanti aku kabarin lagi aja.
Syawal : Asyiap. Btw akhir pekan nonton yuk.
‘Ehbusyet nih anak, gercep banget’ batinku.
Prisa : Boleh aja, tapi kerjaan ‘gak ada liburnya, hehe, yah paling sudah pulang kerja.
Syawal : Ah jadi ‘gak sabar nih, yaudah kamu Istirahat gih.
Prisa : Oke.
Apa mungkin jodohku sebenarnya Syawal? Tapi disituasi genting ini ‘gak ada siapa-siapa juga, tapi seandainya kami jadian, apa mau Syawal aku ajak nikah dalam waktu satu bulan. Apa itu gak aneh, lagipula, kalau pun Syawal mau, mungkinkah aku bisa cinta? Nikah tanpa cinta emangnya bisa. Ah aku jadi pening.
Aku tidur sepanjang malam. Derasnya guyuran hujan membuat tidurku makin nyenyak. Tidak ada yang lebih baik membuatku terlelap kecuali malam dengan hujan tanpa kekasih.
__ADS_1
Semuanya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan setelah pagi, meski tubuh ini sudah mendapatkan istirahat yang cukup, tapi pikiran tidak pernah lepas dari bebannya. Ada rasa kasihan sama ibu, ada rasa geram sama bapak, ada juga rasa takut kalau salah dalam pengambilan keputusan.
Seharian aku tidak keluar kamar sampai tiba saatnya waktu masuk bekerja. Seperti biasa bapak mengantarku ke toserba, meski pergi diantar oleh bapak, dengan segenap hati aku membencinya, bahkan dalam mimpi aku sering membantah bapak dengan kata yang lebih kasar, melawannya, bagiku itu mungkin bagian dari isi hati yang kupendam dan meledak di dalam mimpi.
“Hallo, Pris,” sapa Nayla. Seperti ada maksud terselubung.
“Kesambet apa lo? Jangan mulai deh, Nay.”
“Gimana lo sama Syawal? Jangan lo kacangin, ya,” balas Nayla.
“Aduh, ‘gimana ya, Nay? Gue sih sama Syawal ya nyambung aja gitu, tapi bapak ngasih waktu sampe bulan depan buat cari calon suami, gue stress Nay ditekan kayak ‘gini.”
“Kasian banget lo, Pris. Yang sabar aja, tapi kenapa ‘gak coba diomongin aja sama Syawal, Pris?”
“Lah, gila aja, kenal juga baru kemarin.”
“Tapi kalau gue liat, Syawal kayaknya suka deh sama lo, Pris.”
“Ya biarin, bukan urusan gue. Eh tapi gue sempat juga sih kepikiran ‘gitu. Tapi gue takut, Nay. Gue gak mau ‘ntar nikah sama orang yang salah, terus kasar pula, cowok yang kasar ama cewek itu banci.”
“Gue ‘gak ikut dah, Pris. Berat banget beban hidup lo, nanti kalau gue ikut campur, sok ngasih saran, yang ada lo nyesel dan bakal nuntut gue.”
“Btw, Syawal kerja apa sih, Nay?”
“Aku ‘gak tau posisinya sebagai apa, tapi dia itu PNS di kantor caman, Pris.”
“Eh, yang bener? Kalau PNS sih enak, setidaknya hidup gue gak jadi gembel kalau udah nikah,” balasku.
“Ya bener, ngapain bohong sama sahabat gue yang cantik membahana kayak lo.”
“Eh bentar, Nay. Ini Syawal nelpon gue.”
__ADS_1