
Benarlah saat itu motornya Dion terparkir di warung bakso mas Gendut, dan Syawal juga memarkirkan motornya di pinggir motornya Dion dengan rapi, kami turun lalu duduk di meja yang memiliki tiga kursi. Syawal terlihat gentle sekali saat itu, dia menyiapkan satu kursi lagi untukku, buka hati dikit bolehlah kali, ‘gak baik juga nyuekin nih anak, nanti aku ‘kena karma malah bahaya.
“Eh, kita pesen baso apa ya?” tanya Nayla.
“Ya, sesuai selera masing-masing aja, Nay,” balas Dion.
“Aku baso tenis aja, Nay,” ujarku.
“Ih, mainstream amat sih lo, Pris. Kayak aku dong pesen-nya baso ranjau,” jawab Nayla.
‘Ya bodo amat, mau baso ranjau, baso granat, baso nuklir, emangnya gue pikirin’ gumamku.
“Yaudah aku samain aja dengan, Prisa,” ujar Syawal.
‘Ya ampun sok asik banget sih ni anak, emangnya gue bakal luluh gitu lo, yang ada malah norak' batinku lagi.
“Oh, jadi baso tenis dua, baso ranjau satu, aku pesan tekwan aja deh,” tukas Dion.
“Yang, ayolah jangan halu! Kita ini lagi di warung baso, lagian tekwan itu makan kayak apa coba?” Nayla bingung.
“Masa sih lo gak tau tekwan, Yang. Itu lo, yang pakek kuah kacang,” jawab Dion.
“Eh, anjirrrrrr! Itu mah batagor,” simbat Nayla.
‘Dasar b3go! Tekwan aja ‘gak tau, tekwan itu ‘kan makanan khas palembang’ batinku.
“Mas-mas sini dong, kita mau pesen nih,” panggil Nayla.
“Iya, Mbak. Mau pesan apa?” pelayan itu mendekat.
“2 porsi baso tenis dan 2 porsi baso ranjau. Mas kalau bisa, pentol baso-nya dari daging sapi yang sedang jatuh cinta , ya.” Guyon Nayla.
“Ada-ada aja si lo, Nay. ‘gak Mas, bercanda doang, yaudah itu aja dulu,” ujarku merasa tidak enak karena kelakuan Nayla.
“Iya, Mbak, gapapa, ini gak sekalian minumnya, Mbak?”
__ADS_1
“ Eh, iya nih, kita pesan minum apa, ya?” ujar Dion.
“Aku es jeruk aja,” ujarku.
“Aku juga es jeruk,” balas Syawal.
‘Eh sumpah nih anak, nyebelin banget, kayak bayi tau gak lo, apa-apa ngikut, apa-apa mau’ batinku.
“Kok kalian samaan gitu? Bikin iri tau. Yang, kita pesan es teh aja dua, biar samaan, ‘kan romantis,” ujar Nayla.
"Aku sih auto nurut sama kamu, Yang." jawab Dion.
'Apaan sih, jijik tau 'gak' batinku
“Oke, Mbak, di tunggu ya!”
Sementara baso yang kami pesan sedang di buat oleh si mamang, Nayla dan Dion mesra-mesraan kayak orang gak ada akhlak di depanku dan Syawal, mereka pikir aku akan gerah gitu? Aku mah orangnya nyantai aja, lagipula aku memang kurang suka drama. Tapi aneh aja, dari tadi Syawal ‘gak ngajakin aku ngomong, apa iya Pdkt diem-dieman ‘gini.
Baso yang kami pesan sampai juga, tapi di mangkok baso-ku banyak sekali cambah. Ah, bagaimana sih, aku kan jadi ‘gak selera makan kalau ‘gini mah. Daripada mubazir ‘gak dimakan, mendingan aku pisahin aja cambahnya dulu. Belum kelar aku misahin nih cambah, Nayla terlihat ngos-ngosan kayak habis lari marathon 20 km, mukanya bercucuran keringat.
“Pedes tau. Huuh, haah, huuh, haaah, pedes gilak,” jawab Nayla.
“Kok belum di makan baso-nya, Pris?” tanya Syawal heran.
“Ah, ini lo, aku itu kurang suka cambah, mangkanya ini mau dipisahkan dulu,” jawabku.
“Wah jadi repot, ya. Yaudah pisahkan gih,” jawab Syawal.
Pada akhirnya masing-masing dari kami sudah menghabiskan baso yang telah kami pesan, hanya aku saja kiranya yang agak lelet, mau bagaimana lagi, misahin cambah yang segitu banyak cukup memakan waktu juga ternyata.
Kami pulang dan terpisah di persimpangan. Syawal mengantarku pulang. Ah, aku jadi teringat pemuda culun tempo hari, kalau tidak salah namanya Sata Naja, tapi aku lebih suka menyebutnya dengan sebutan pria culun, ya karena memang culun.
Sepanjang perjalanan aku jadi bingung memikirkan pendapat ayah dan ibu kalau melihatku di antar pulang oleh cowok, yang ada mereka malah salah paham, lagipula aku belum tentu jadi sama nih cowok, Syawal baik sih orangnya, tapi aku belum naksir aja, habisnya dia kaku dan sok ganteng, ditambah lagi tadi dia ngikut-ngikutin kayak gak ada pendirian aja ‘gitu, hal itu setidaknya membuatku berpikir ‘eh, kayaknya enggak dulu deh’
Tapi aku tidak menutup hati pada siapapun yang mau ngedeketin, siapapun juga, kalau memang bisa bikin aku jatuh hati, ya aku sih ayok aja. Tapi yang terpenting cowok itu harus dewasa, aku ‘gak mau nanti diajakin main roller coaster sama sikap labil cowok.
__ADS_1
“Wal, itu tuh rumah gue, yang ada dipojokan,” ujarku sambil menunjuk arah rumah.
“Oh, yang itu, yaudah bentar lagi sampai,” jawab Syawal.
‘Aduh, ada ibu lagi di depan, ‘gimana ya? Males banget deh kalau ditanya-tanyain’ batinku.
“Eh, Ndok, sudah pulang, diajak masuk dulu temennya gih,” ujar ibu.
“Gak usah repot-repot, Bu. Aku mau langsung pulang kok,” jawab Syawal.
“O, yaudah, hati-hati dijalan ya, Nak,” balas ibu.
“Makasih ya, Wal,” ujarku.
“ Mari, Bu. Pris aku pulan dulu ya,” kata Syawal.
“Oke.”
Akhirnya sampai juga dirumah, dan aku bisa merebahkan tubuh di kasur yang empuk dan memeluk boneka teddy kesayanganku. Ah, tapi masih ada satu masalah lagi, aku harus menjelaskan tentang Syawal kepada ibu sebelum nyambar ketelinga bapak, dan malah makin ruwet masalahnya.
“Bu, itu tadi itu tukang ojek, yah sekarang enak, tukang ojek ramah-ramah ya, Bu,” ujarku dengan tawa yang dipaksakan.
“Lah, tukang ojek toh, Ndok. Tapi kok ganteng ya, ibu kirain pacar kamu,” jawab ibu.
“Haha, bukanlah, Bu.” Aku senang ibu percaya.
“Tapi kamu kapan bawa pacarmu, usiamu sekarang itu sudah di usia menikah, Ndok. Jangan kelamaan,” tukas ibu.
“Pris bukannya gak mau nikah, Bu, ‘kan jodoh ditangan tuhan, emang belum datang aja kali, ibu yang sabar, ya.”
“Ya kalau ibu mah terserah kamu aja, Ndok, tapi bapakmu itu lo, keras kepala, ‘gak bisa diomongin, ibu ‘gak mau kamu rebut-ribut terus sama bapakmu, Ndok.”
“Iya, Bu. Nanti kalau memang ada dan cocok, Pris mau kok nikah, tapi kan emang sekarang belum ada, kalau kayak kebakaran jenggot nanti malah bahaya loh, Bu, ‘kan banyak tu di film-film yang nikah sama suami orang, emangnya Ibu mau, anak Ibu satu-satunya punya nasib sial kayak itu,” ujarku.
“Hus, jangan bilang gitu, ucapan itu doa, yaudah kamu mandi sana.”
Setelah buka sepatu, masih diruang tamu dan belum sempat masuk kamar, bapak udah datang dan mengomel.
“Pris ‘gimana? Kamu udah punya calon belum? Kalau belum, ado lo temen bapak yang mau melamar kan anaknya, dia itu lulusan s2 di UGM, sekarang jadi dosen, mau ya bapak kenalin,” rayu bapak.
__ADS_1
“Hah, lagi Pak?” Aku terkejut.