Perempuan Paling Hujan

Perempuan Paling Hujan
Episode 8


__ADS_3

“Nanti bapak bicarakan sama, Prisa.” Jawab Bapak.


“Tidak usah Pak, nanti juga kalau jodoh ‘gak kemana kok,” balas mas Sata.


“Tapi kalau nikah sama Prisa kamu mau ‘gak?”


“Secepatnya kalau Prisa bersedia aku mau, Pak.” Jawab mas Sata tegas.


Entah kenapa aku rasanya senang mendengar itu. Apa diam-diam hatiku sudah lebih dulu merasakan cinta daripada akal? Tapi sekali lagi aku pikirkan tentang Syawal yang sebenarnya lebih disuka oleh akal ku. Aku dibuat dilema. Namun, sepertinya apa yang datangnya dari hati selalu menawarkan kebahagian. Karena hati tak melihat bentuk tapi menangkap rasa. Lagipula tuhan itu dekatnya di hati, jika sebuah isyarat datang pastilah melalui hati bukan langsung ke otak.


Pika … pikaaa … cuuuu ….


Suara notifikasi ponselku kembali berdering. Aku mengangkat telpon dari Syawal. Lagipula tidak ada alasan kalau aku tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


“Hallo Pris, kamu kok ‘gak ada kabar seharian ini. Btw nanti malam aku jemput ‘gak?”


“Seharian di toserba ramai pembeli, Wal. Eh gue sudah pulang kok, hari ini aku sift pagi.”


“Oh ‘gitu … aku barusan pulang dari kantor juga nih, malahan baru banget sampe rumah.”


“Mai tanya dong. Wal kamu cinta ‘gak sama gue? Jawab jujur.” Tanyaku mendadak serius.


“Dari pertama kita ketemu aku emang udah suka sama kamu, Pris.”


“Oke. Kalau kita nikah dalam satu bulan ke depan lo mau ‘gak?”


“Lah kok buru-buru ‘gitu Pris. Nikah itu gak sesederhana itu lo. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan secara matang.”

__ADS_1


“Terus lo maunya ‘gimana?”


“Ya aku maunya kita pacaran dulu, saling mengenal satu sama lain, dan aku janji pasti bakal nikahin kamu kok.”


“Gak tau deh gue bingung nih. Terus sekarang kita ‘gimana?”


“Ya kita pacaran dulu aja, Pris. Kamu mau ‘kan?”


“Iya deh Wal gue mau.”


“Makasih ya Sayang kamu udah mau percaya dan mau nerima aku. Mulai hari ini aku pastiin kalau kamu akan menjadi wanita paling bahagia. Aku janji.” Ucap Syawal.


“Oke. Udah dulu ya, Wal. Aku mau mandi. By Syawal sayang.”


 


Tut … tut … tut ….


Saat aku keluar dari kamar ku lihat mas Sata sudah tidak ada lagi di ruang tamu. Bahkan gelas tehnya sudah kosong. Sepertinya mas Sata menganggap bapak dan ibu sudah seperti orangtuanya sendiri. Dia bahkan terlihat tidak sungkan dengan minuman yang disuguhkan.


Meski handuk telah aku kalungkan, tapi itu tidak mengurungkan niat bapak untuk bertanya. Arah pembicaraanya sudah terbaca akan kemana. Tapi semoga diatara aku dan bapak tidak ada yang mengeraskan suara. Hal semacam itu tidak terlalu berdampak bagiku, tapi menyakitkan untuk ibu.


“Pris kayaknya nak Sata serius sama kamu. Gimana menurutmu? Nak sata juga berpesan untuk tidak memaksa. Tapi kesampingkan dulu pesannya nak Sata, ini tentang permintaan bapak. Kamu mau kan Ndok segera menikah. Umurmu itu sekarang sudah 24 tahun, tunggu apa lagi, Ndok?”


“Pak Pris udah punya cowok.”


“Loh … loh … loh …, kok malah pacaran sih Ndok. Udah ada yang serius yo apa ndak sebaiknya pilih yang serius aja? Bapakmu ini dulu ‘gak ada pacar-pacaran sama ibukmu, buktinya bertahan sampai sekarang.” Jawab bapak.

__ADS_1


‘Bertahan sih iya, tapi ribut terus buat apa pak, jadi kepala keluarga kok bisanya cuma maksa, lagian dari awal aku malas nikah ya karena punya ayah kayak bapak, yang kasar, pemaksa’ batinku.


“Gak bisa gitulah, Pak. Orang kami juga baru jadian. Ya setidaknya Pris yakin dengan,” ujarku.


“Sama siapa?”


“Dengan Syawal. Lagipula Syawal udah janji bakal nikahin Pris kok.


“Yaudah terserah kamu. Tapi inget tenggang waktu hanya sampai bulan depan. Kalau Syawal sampe akhir bulan ‘gak nikahin kamu artinya kamu harus menikah dengan nak Sata, atau kalau enggak sama anak temennya bapak.”


Aku melengos ke kamar mandi. Bagiku tidak ada artinya berdebat dengan orang yang mau menang sendiri. Biarlah nanti aku pikirkan bagaimana caranya membujuk Syawal agar mau menikahiku secepatnya.


‘Kok ada yang ngeganjal ya. Kenapa juga aku malah jadian sama Syawal. Ah aku mengikuti suasana hati yang tidak jelas’ batinku.


Setelah aku selesai mandi dan hari juga sudah malam. Saat itu aku merebahkan tubuhku di atas kasur, membuka sekali lagi surat cinta dari mas Sata. Sekali lagi aku dibuat dilema bukan kepalang. Nyatanya rasa nyaman saja tidak cukup menggerakkanku untuk menjalin sebuah hubungan. Aku menafikkan hatiku tentang mas Sata. Harusnya aku tidak terburu-buru jadian dengan Syawal. Tapi sudahlah, sudah kejadian juga, mending di jalanain dulu.


Malam itu aku tertidur dengan surat yang masih berada di atas dadaku. Sepertinya hatiku sebegitunya tidak rela menolak mas Sata. Memang aku tidak menolak. Maksudku, aku belum melisankannya langsung dengan mas Sata. Tapi dengan hubunganku dengan Syawal yang sekarang, apa itu belum jelas sebuah penolakan. Yah, itu penolakan yang jauh lebih kejam dari sekedar kata-kata.


Pagi itu selepas menyimpat surat yang sudah kusut ke laci, aku lekas mandi. Shift hari ini juga pagi. Tapi dibandingkan masuk sore dan pulangnya malam, aku lebih suka masuk pagi. Bagiku pagi itu lebih baik untuk memulai apapun, beraktivitas atau sekedar mengerjakan proyek hobby yang bernilai seni


Setelah berpacu dengan kehebohan dandan aku akhirnya berangkat ke tempat kerja. Pagi ini ada yang beda. Setelah kemarin sore aku jadian dengan Syawal via telpon. Kini hari\-hari yang aku jalani sama halnya dengan aktivitas khas orang berpacara, yaitu chatingan sampai lupa waktu. Sebenarnya bukan lupa waktu, lebih tepatnya keasikan sendiri saling memperhatikan, jadi waktu lajunya terasa lebih cepat daripada aku melamun.


Aku sependapat dengan Einsten tentang relativitas. Katanya waktu itu relatif sesuai suasana hati kita. Sederhananya seperti es batu. Es batu tidak terpaut waktu kapan dia akan mencair. Bisa saja cepat mencair karena suhu panas atau sangat lama jika di tempat yang sejak dan kedap udara. Sama juga halnya di ruang dokter gigi, yang dimana satu menit terasa satu abad. Tapi kalau chatingan sama Syawal seharian terasa cepat banget. Yah seperti itula relativitas.


Tapi setelah sampai di tempat kasir aku mematikan paket dataku seperti biasa. Aku tidak mau dipecat karena ditangkap kamera cctv asik bermain ponsel. Aku tidak berani membayangkan menjadi wanita tanpa pekerjaan. Wanita yang hanya menggantungkan dirinya kepada lelaki adalah seburuk-buruk nasib. Kau tidak akan percaya dengan apa yang dilakukan lelaki. Pada hati lelaki ada binatang buas yang tak bisa kau jinakan kecuali kau mandiri dan ‘tak bergantung padanya. Sekali kau bergantung maka hidupmu kelar.


 

__ADS_1


__ADS_2