
Syawal : Pris, ibu kamu nanyain aku ‘gak?
Syawal sepertinya ingin tahu bagaimana pendapat ibuku terhadapnya. Ah, aku malas sekali menjelaskannya. Bagaimana mungkin aku mengatakan kalau bapak dan ibuku sangat mengharapkannya menjadi suamiku. Nanti yang ada dia malah geer.
Mendingan chat dari Syawal ‘gak aku balas aja deh. Untungnya settings wa sudah aku atur supaya Last Seen-nya mati dan centangnya ‘gak biru Jadi aku ‘gak perlu merasa bersalah karena sudah ngeread tanpa ada balasan.
Eh, tapi kalau dipikir-pikir lagi kayaknya ponselku sudah menemukan fungsinya deh. Habisnya dulu ponsel ini hanya aku gunakan buat main Instagram dan baca buku di Ipusnas doang. Ini setidaknya kali pertama aku chat sama cowok.
Sudahlah, mending aku matiin lagi aja paket data. Kerja juga ‘gak boleh pegang ponsel lama-lama. Apalagi kamera cctv selalu menyorotku entah dalam keadaan siap atau tidak siap. Eh, seharian ini aku kaku banget. Rasanya kamera cctv ingin aku lakban. Seharian aku memikirkan fungsi kamera cctv. Maksudku, aku ‘kan ‘gak sedang bagi-bagi sembako, kenapa juga disorot terus.
Kalau boleh jujur aku ini orangnya ‘gak suka dandan. Tapi kembali lagi ke kamera cctv yang ‘gak ada akhlak terus saja menyorotiku sepanjang jalan kenangan. Aku bisa kena teguran kalau berpenampilan buruk saat melayani konsumen.
Seorang kasir apalagi cewek, dituntun harus berpenampilan rapi, dandanannya pun harus terpoles dengan apik. Selalu tersenyum, professional dan ramah. Disamping penampilan sebagai hal yang utama. Seorang kasir juga dituntut untuk mawas diri dan cekatan, fisik juga harus selalu bugar.
Berbekal dari pekerjaanku sebagai kasir inilah sepertinya aku begitu lihai untuk tersenyum, ‘tak perduli kalau sedang galau, ‘tak enak badan. Masalah yang ada tak boleh menghilangkan senyumanku.
Setelah setidaknya 8 jam aku bekerja di bawah pengawasan yang gila, tiba-tiba saja mas Sata datang untuk membeli sebungkus rokok. Untungnya aku membawa surat yang aku terima dari mas Sata kemarin.
“Mas, ini suratnya gue kembaliin.”
“Kamu sudah baca, Pris?” tanyanya.
“Iya sudah gue baca kok, tulisannya bagus,” jawabku menyeringai.
“Jadi ‘gimana? Aku diterima ‘gak?” tanya mas Sata serius.
“Lah itu surat cinta ya, Mas? Gue pikir bukan. Eh, ‘gimana ya? Aku belum mempersiapkan jawabnnya, Mas.”
“Masa kamu ‘gak tau kalau itu surat cinta? Zamanku dulu buat mengungkapkan cinta itu ya pakek surat, dan sampai sekarang aku gak update lagi cara nembak cewek. Emangnya umurmu berapa, Pris?”
__ADS_1
“Lah kok nanya umur, Mas? Cewek itu sensitif banget lo ditanya umur ama berat badan. Tapi gapapa gue jawab deh. Umurku masuk 24 tahun, Mas.”
“Hmmm … kita beda 14 tahun, Pris.”
“Ah, gapapa kok. Gue gak mentingin umur untuk masalah asmara. Tapi kasih waktu aku mikir dulu ya, Mas.”
‘Sebenarnya sih aku memang ‘gak pernah punya hubungan asmara juga, hehe’ batinku.
“Tapi kalau ‘gak diterima juga tidak apa. Kamu masih muda dan cantik, ‘gak cocok sama aku. Lagian aku sudah siap kalau ditolak.”
“Jangan bilang ‘gitu, Mas.” Aku terbawa suasana haru.
“Mau aku antar pulang sekalian? Udah lama aku ‘gak ngobrol sama bapak dan ibu, mereka ‘gimana kabarnya?”
“Boleh, kebetulan jam kerjaku udah selesai.”
‘Biasanya sih Syawal yang jemput, tapi kalau sore ‘gini kayaknya dia belum pulang kerja deh. Yaudah aku pulang sama Mas Sata aja’ batinku.
Jalanan sore ini agek panas belum lagi macet dan polusi kendaraan. Sepanjang perjalanan pulang aku membayangkan bagaimana butiran beras di dalam ricecooker menjadi nasi. Beras berevolusi menjadi nasi oleh panas, sedangkan aku berevolusi menjadi jengkel karena panas. Setidaknya dijalanan aku bebas berekspresi, mau dongkol, gedek, empet. Tidak seperti di tempat kerja yang harus terus senyum disagala kondisi dan situasi.
Kedatangan kami dirumah tepergok oleh bapak yang sedang mengurusi pohon bonsainya di depan teras. Dengan sigap bapak langsung menghampiri kami, lalu menarik mas Sata mengajaknya masuk kerumah. Ah bapak plinplan. Kemarin katanya mau ngobrol sama Syawal, tapi sekrang mas Sata juga masih ditarik-tari ‘gitu.
“Nak Sata dah lama kita ‘gak ngobrol. Ayo masuk dulu kita minum teh,” ujar bapak.
__ADS_1
“Iya Pak … Wah kayaknya sehat nih Bapak?”
“Halah bapak mah ‘gak pernah sakit. Biasalah sering olahraga, apalagi bapak dari muda ‘gak pernah merokok.”
Mendengar perkataan bapak barusan mas Sata terlihat diam-diam memindahkan sebungkus rokok yang ada disaku kemeja ke saku celana jinsnya, agar tak kentara kalau sebenarnya dia perokok. Bapak juga terlihat tidak sedang mengawasi. Melihat itu aku langsung menutup mulutku dengan tangan, menyembunyikan tawa kecilku yang paling imut sedunia.
Sementara bapak dan mas Sata ngobrol di ruang tamu, aku langsung masuk ke dalam kamar. Karena tahu kalau surat dari mas Sata adalah surat cintanya untukku lantas aku membacanya untuk kali kedua. Kali ini aku tidak hanya mengagumi metaforanya, lebih dari itu. Aku menghayati setiap katanya yang romantis itu terhujam ke relung hati yang terdalam.
Mas Sata bagiku tidak hanya kaku pada suratnya. Dia juga sama kakunya dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu terlihat jelas dari caranya bersosial yang begitu formal. Jika bicara dengan mas Sata ‘gak heran kalau aku selalu terpukau. Sering kali dia akan menundukan kepala sebagai ucapan terimakasih atau paling tidaknya sekedar memberikan rasa hormat, dan yang lebih parahnya lagi kalau ngomong dengan mas Sata itu baku banget. Aku seperti ngobrol dengan kamus besar Bahasa Indonesia aja.
Dari dapur ibu membawakan dua gelas teh hangat dengan nampar bundar bermotif bunga. Wah sepertinya bapak dan ibu heboh banget. Padahal anaknya belum tentu suka sama sip ria culun itu. Tapi paling tidaknya aku mulai merasa senang. Umur kami memang terpaut 14 tahun, tapi setidaknya aku tahu mas Sata adalah cowok yang baik.
Pika … pikaaa … cuuuuu ….
Suara notifikasi ponselku terdengar sangat imut. Kulihat dilayar ponsel sebuah panggilan atas nama Syawal. Tidak tahu kenapa begini rasanya. Aku mulai mengabaikan Syawal, dan ponselnya kubiarkan saja berdering manja .
Aku sendiri masih merasa heran tentang perasaanku. Saat aku bersama Syawal dan nyaman dengannya, aku secara otomatis mulai mengabaikan mas Sata. Tapi kalau aku gemas dengan sikap mas Sata yang luguh dan romantis aku juga akan mengabaikan Syawal. Hati memang tidak bisa diterka cara kerja. Aku hanya larut saja, tapi ku pikir jatuh cinta akan lebih membuat tenang kalau bersama seseorang yang bisa membimbing dan dewasa.
Saat itu aku mulai kepo dengan obrolan antara bapak dan mas Sata. Karena kamarku dan ruang tamu bersebelahan, kiranya obrolan mereka terdengar juga jika aku benar-benar serius menguping.
“Gimana dengan Prisa, kamu suka, Nak?” tanya bapak.
“Iya aku memang suka Pak. Tapi setidaknya biarlah seperti ini dulu saja. Kalau pun cintaku bertepuk sebelah tangan kepada Prisa aku sudah legowo.”
__ADS_1