
“Hallo, Pris, gimana hari ini, pulangnya jam berapa?” tanya Syawal.
“O, kayaknya jam 10 malam, Wal. Kamu beneran mau jemput gue? Apa gak ngerepotin.”
“Ya beneran. Aku seneng kok bisa selalu ada buat lo, bukannya tempo hari lo di jambret ya? Mangkanya gue gak mau lo sampe ngalami hal buruk kayak itu lagi.
“Hmmm … makasih ya, Wal, lo udah peduli ama gue.”
“Santai aja, Pris, gue ngelakuin ini karena gue say ….”
Tut … tut … tut …. Mendadak sambungan telpon dimatikan.
“Ada lagi, Mas?” tanyaku sambil menghidupkan alat scan pada sebungkus makanan kucing.
“Itu aja cukup.” Menunduk.
“Lo Mas Sata ya? Gimana lukanya, Mas?” Aku pangling
“Udah gapapa, Pris.”
“Syukurlah, sekali lagi makasih ya, Mas. Eh Btw Mas Sata pecinta kucing ya?”
“Ah, gak bisa dibilang pecinta kucing sih, tapi aku punya satu, namanya Rindu, nah kebetulan kemarin Rindu abis ngelahirin, anaknya ada tiga lo, dan belum kuberi nama sih, habisnya belum tau jenis kelaminnya, takut nanti salah kasih nama aja.”
‘Ah, mas Sata semangat sekali kalau cerita kucing, tapi ngobrol apapun dia sama aja, selalu nunduk, gek pernah natap mata lawan bicaranya’ batinku
__ADS_1
“Eh nanti kalau udah ketauan, aku nitip satu nama dong, Mas, buat kucing cowok aja.”
“Boleh, mau kasih nama apa?” Mas Sata terlihat antusias.
“Hm … apa ya? Bagong aja deh," ujarku.
“Tidak, makasih untuk saran namanya, tapi aku terbiasa memberi nama sendiri, lagian aku gak yakin masa depan seperti apa yang akan dilalui kucing jika diberi nama Bagong.” jawab mas Sata ketus.
“Eh jelek ya? Gimana kalau Cheetos, bagus ‘kan. Tunggu dulu, itu ‘kan nama ciki. Ah … kayaknya gue emang ‘gak berbakat ngasih nama ke hewan,” keluhku heboh.
“Gak usah di pikirkan, Pris. Sebetulnya selain beli makanan kucing ini, aku juga mau kasih ini ke kamu,” mas Sata memberikanku surat.
“Lah kok … ini apa, Mas?” tanyaku.
Mas Sata langsung melengos tanpa memberi tahu maksud sepucuk surat yang dia berikan padaku. Aku keluar untuk mengejarnya, tapi dia sudah pergi dengan motornya, ngebut seperti Valentino Rossi. Aku kembali ke tempat kasir. Dengan rasa kepo aku membuka surat itu, dan membaca isinya.
Aku telah lama mengenalmu, jauh sebelum kau kenal aku. Hatiku selalu bergetar jika di dekatmu. Perasaan ini aneh tapi menggairahkan, naik turunnya tanpa aba-aba, kadang senang, kadang sedih, kesemua itu datang sekonyong-konyong tanpa alasan. Satu hal yang pasti, jika aku berada di dekatmu, rasanya kesedihan ‘tak punya kesempatan untuk memainkan perannya, karena pada relung hati yang terdalam ini, telah terisi penuh olehmu, melumer seperti gelas diisi air yang kapasitasnya telah terlampaui.
Mereka berkata tentang burung elang yang menukik deras mengincar mangsa. Paruh dan cakarnya merobek dan menghujam daging segar, hasil tangkapannya. Aku menghela napas tentang hal itu, kupikir ada yang lebih. Sesuatu itu adalah aku yang terombang-ambing dalam cinta saat melihat senyumanmu. Dan pada sekelebat cinta itu, aku seperti jatuh dari jurang yang tinggi, menukik pada kecepatan yang mengerikan, lalu terhempas di pelataran batu cadas. Pecah dan melebur.
Bingung ‘tak menentu adalah tema besar yang menjadi persoalan dalam hidupku. Setidaknya itu bermula saat pertama kali aku melihatmu. Matamu yang sayu, hidung yang seperti boomerang, dan rambut lurus seperti aliran sungai. Itulah mempesonanya kamu.
Alunan nada mana yang menggetarkan jiwa apabila dawainya di senandungkan. Tidak ada yang lebih lihai memperdengarkan nada tentang cinta kecuali detak stakato yang dihasilkan oleh jantungku saat melihat wajahmu. Sebuah nada magis dengan tempo tak beraturan, menyampaikan pesan tentang risalah hati pada telinga jiwa.
Aku mungkin telah menemukan cinta dan kehilangannya. Sebuah ketidak jelasan yang teramat menyakitkan jika kudiamkan saja. Hari ini semua yang ‘tak sanggup ku lisankan dihadapanmu berubah menjadi untaian kata yang terabadikan oleh goresan tinta. Aku ‘tak mampu lagi menahan risau, sungguh menyimpan rasa ini di relung sukmaku sudah seperti menenggak minuman yang telah diberi racun paling racun yang sangat mematikan. Dan pada sajak kecil ini, semoga mengalirkan sayang.
__ADS_1
Bolehkan aku meluluhkan diri dari bentuk, karena kini aku sudah ‘tak lagi mampu mempertahankan wujudku yang asli. Seluruh tubuhku telah menjadi pusaran cinta, tak punya lagi kepadatan, aku hanya sekedar perasaan cinta. Aku adalah ruh yang mencari kedamaian dan kenikmatan, dan kalau kutelanjangi dunia, semua bentuk materi tersingkir oleh kecantikan dirimu.
Kepadamu telah kuberikan cintaku dan bukan pikiranku, bukan pula aneka keinginan, karena cinta ‘tak mengambil apapun kecuali mengambil darinya sendiri. Kumohon masuklah kedalam cintaku yang tanpa musim ini, disana kau dapan menanam bungan, bermandikan disungainya yang mengalir dan memberi makan burung-burung yang datang dari Utara.
Pada tulisan ini masih sering ku pertanyakan, apakah pantas aku bersanding denganmu, mendampingimu dalam setiap hela napas. Bahkan jika ‘tak pantas, setidaknya aku ingin menyulam senyummu di hatiku. Cintaku ini sederhana, cukup dengan mengingatmu yang lembut itu di kepalaku, sudah mampu mencairkan kebekuan bebanku. Maka siapa yang bahagia? Tentunya kita berdua berbahagia karena disayang tuhan, tapi bahagia itu akan lengkap jika kita bersama membagi kebahagian dalam cinta.
Aku terperangah membacanya surat dari mas Sata. Aku sendiri tidak begitu yakin dengan surat ini, karena memang sebelumnya tidak ada penjelasan juga. Satu hal yang aku yakini, bahwa ini bukan surat cinta, bahasanya sangat kaku, lagipula jaman sekarang mengirim surat untuk mengungkapkan cinta bisa dikatakan sangat primitif atau kuno, tidak mungkinlah mas Sata mengirim surat cinta untukku.
Mungkin mas Sata sedang memperlihatkan tulisan puisinya padaku, tapi aku sedikit heran, jika memang begitu, kenapa bukan dikirim ke penerbit atau diikut lombakan. Jangan-jangan mas Sata ingin aku editori, tapi aku ‘gak begitu pahan dunia literasi, atau malah wajahku terlihat seperti gedung penerbitan, mangkanya mas Sata mengirim puisi padaku.
Apapun itu aku tidak mau menduga-duga, yang terpenting aku sudah membacanya, dan nanti akan aku kembalikan jika kami bertemu kembali, mas Sata nih, aneh-aneh saja. Tapi harus aku akui, seru juga membaca sajak tentang cinta, coba saja sambil mendengar suara biola, pasti menyenangkan, seperti salju turun dan aku mengenakan mantel hangat sambil meminum cokelat panas. Lucu, dingin dan hangat menjadi satu membalutku.
Tidak terasa malam sudah terlalu pekat, menumpulkan kehijauan daun pada pepohonan. Dari jauh kulihat Syawal memarkirkan motornya, lalu dia berjalan masuk ke toserba mendekatiku. Aku senang di perhatikan,meskipun kesan pertamaku sedikit ilfil terhadapnya. Sekarang aku mengerti, terhadap sikapnya yang norak, dia hanya ingin lebih dekat denganku. Ada bagusnya juga selagi tidak over.
“Pris. Yuk pulang,” ujarnya.
‘Wah dia wangi sekali, niat amat nih cowok’ batinku.
“Yuk, aku juga udah capek banget, Wal.”
“Ya gapapa … sampai dirumah nanti istirahat, ya.” Jawabnya lembut.
“Oke.” Aku tersenyum.
“Eh, tadi kenapa telponnya mati, Pris?” tanyanya mendadak serius.
__ADS_1
“O, tadi ada yang bayar belanjaannya, Wal. Memamngnya kamu tadi mau bilang apa di telpon?” tanyaku penasaran.