
“Oh, gapapa kok, Pris. Bukan hal yang penting juga,” jawab Syawal
“Lah kok ‘gitu? Tapi kalau yang mau lo omongin di telpon tadi penting, gapapa kok bilang aja.” Aku semakin penasaran.
“Serius bukan masalah penting. Eh, lo jangan ngelebarin mata kayak gitu dong, lo terlihat sangat imut tau,” balas Syawal cengengesan.
“Aih, ngomong apa sih lo, Wal. Gombal deh.” Pipiku memerah.
“Yaudah, yuk cabut.” Tukasnya dengan senyuman yang menarik hatiku.
Duduk di boncengan jok motor dan melaju pada aspal dingin, hatiku berbunga-bunga. Entah karena surat mas Sata yang puitis, atau perhatian Syawal yang membuatku nyaman. Aku sedikit takut dengan perasaan yang menyenangkan ini. Sangat mungkin jika aku hanya terbawa suasana saja, tidak seharusnya aku berlebihan menanggapi rasa.
‘Apa sebaiknya aku jujur aja ya sama ibu. Oke, kalau ibu ngeliat Syawal sekali lagi aku harus jelasin yang sebenarnya. Kayaknya aku kemarin jahat banget bilangnya Syawal tukang ojek. Eh, tapi kalau dipikir-pikir kok aku berdebar ‘gini ya?’ batinku sepanjang perjalanan.
“Pris, kalau takut jatuh, mending lo pegangan sama gue aja deh, gapapa kok,” ujar Syawal dengan raut muka yang ‘tak tau seperti apa, karena dia menghadap ke jalan.
“Eh, apaan sih pegang-pegangan. Aku gak mau, biasa aja napa,” jawabku ketus sambil mengembangkan pipi.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya kami tiba di depan rumah, dan benarlah saat itu ibu kembali melihat Syawal. Namun, meski sudah mengantar untuk yang kedua kalinya, Syawal belum sempat mampir ke rumah, karena memang waktunya selalu tidak pas untuk bertamu. Setelah masuk ke dalam rumah, ibu kembali mengecek keseragaman perkataanku dengan fakta yang dilihatnya.
“Ndok, itu benar tukang ojek? Masa iya sih tukang ojek onlinenya dapetnya dia terus. Tapi kalau dia tukang ojek pengkolan ‘gak cocok juga, orang cakep bersih kayak gitu.” Ibu menatapku dengan tatapan yang mengkerutkan dahi.
“Aku juga sebenernya mau cerita sama Ibu, jadi cowok itu temennya Pris, Bu. Ceritanya panjang deh. Itu juga dikenalin sama Nayla rempong, Bu.” Aku berjalan membanting tas ke sofa lalu membuka sepatu.
“Lah kalau ‘gitu bapakmu pasti seneng, Ndok. Dia 'kan udah lama banget pengen punya menantu.”
“Aduh Bu, gak usah ngomongin itu dulu deh, Pris capek Bu, pengin mandi. Ibu tolong rebusin air dong Bu, Pris mau mandi pakek air anget, hehe. Tolong yang Ibuku sayang.” Aku Merebahkan tubuhku di sofa panjang sambil memainkan ponsel.
“Yaudah tunggu ya, nanti kalu airnya sudah selesai ibu panggil,” jawab ibu yang langsung berjalan ke dapur.
“Pris, tadi bapak dengar obrolanmu dengan ibu dari kamar. Katanya kamu lagi deket sama cowok ya? Kenapa ‘gak dikenalin sama bapak?” Bapak tiba-tiba datang dan duduk di sofa menghadap ke arahku.
“Bukannya ‘gak dikenalin, Pak. Tapi anu itu cuman deket doang kok, bukan pacar,” jawabku yang sedang asik membaca buku di ipusnas.
“Ya gapapa, bapak cuma mau ngobrol, kamu ‘kan tau bapak udah lama pensiun, ‘gak ada kegiatan ‘gak ada juga temen ngobrol, habisnya kalau ngobrol sama tetangga suka ‘gak enak. Omongan tetangga itu suka nyelekit, bikin pengang telinga,” keluh bapak.
“Iya Pak,” jawabku seadanya.
__ADS_1
“Yes … yaudah bapak balik ke kamar ya. Ngantuk mau tidur.” Bapak terlihat sangat senang.
“Pris … Pris, airnya udah mendidih, buruan mandi udah malem,” teriak ibu.
“Iya Buk, Pris ambil handuk dulu.” Aku berlari ke kamar untuk mengambil handuk lalu setelahnya segera mandi. Tubuhku rasanya kembali segar.
Ah rasanya pegal-pegal ditubuhku jadi hilang. Sambil mengeringkang rambut menggunakan hairdryer, aku mencoba meregangkan leherku. Setelah mataku sesegar ini, mungkin akan sulit untuk langsung tidur. Beda persoalan jika aku sudah menikah, dengan bercinta rasa kantuk akan lebih mudah aku dapatkan, sayangnya aku hanya perempuan lajang.
Tidak ada pilihan lain jika ingin menghadirkan kantuk selain mematikan seluruh elektronik yang ada di kamarku. Aku mematikan paket data ponselku, menutup leptop yang dari tadi memutarkan lagu K-Pop, dan yang terakhir mematikan lampu. Aku duduk bersila di atas kasur, memejamkan mata dengan tangan terlentang dikedua lututku. Bermeditasi selalu efektif untuk memperbaiki kualitas tidur dan mengurang stress.
Dari aktifitas terfokus ini aku lebih mengenal tantang apa yang aku rasakan. Aku bernapas dan merasakan bagaimana aku bernapas, setiap tarikannya sangat dalam. Bahkan suara detak jam dinding kiranya terdengar begitu jelas. Ada juga suara serangga, dan hewan nokturnal lainnya yang mencericip.
Setalah 10 menit berlalu akhirnya mataku mengerjap dengan berat. Aku tumbang sambil menarik selimut. Di kesadaranku yang hampir hilang kendali aku mengucap syukur. Sebenarnya aku tidak perduli tentang hari esok, biarlah baik buruknya datang sebagaimana mestinya. Aku hanya fokus tentang hari ini, ya karena memang aku hidup saat ini, bukan besok, satu tahun atau bahkan lima tahun yang akan datang. Terlalu memikirkan masa depan lalu mengabaikan masa muda adalah tindak nyata pembunuhan bakat terhadap diri sendiri.
Tidurku nyenyak sekali tadi malam, aku bangun dengan segala persendian yang rileks. Seperti dipasangkan onderdil baru. Ah aku ngaco, emangnya aku ini mesin apa? Namun, meski dalam keadaan yang sangat prima, melangkahkan kaki ke kamar mandi tetap saja berat. Yah, seperti biasa, bekerja seperti sapi. Hari ini jadwal sift kerjaku pagi.
Meskipun pagi ini aku berangkat ke kamar mandi jam 6 pagi, tapi aku baru benar-benar siap berangkat kerja jam 8.30. Aku tidak ada bedanya dengan perempuan lain pada umumnya. Sebelum kemana-mana aku juga sibuk mengaplikasikan riasan wajah, mencocokan pakaian atas dan bawahan yang diseragamkan pula dengan alas kaki dan aksesoris lainnya. Intinya upaya itu hanya agar aku terlihat lebih baik dari perempuan lain. Walaupun kejombloan ini membuatku 'tak perlu mengesankan pasangan karenan memang tidak punya pasangan, tapi kehidupan perempuan sangat rumit. Kami akan minder jika tidak lebih baik dari teman yang cantik.
Bapak mengantarku ke toserba dengan motornya, lelet seperti semut. Meski melaju sangat pelan tapi aku selalu berpegangan di pinggang bapak. Lain halnya jika berboncengan dengan Syawal, sekencang apapun dia melaju, aku tidak akan pernah berpegangan dengannya. Aku lebih baik jatuh ke aspal ketimbang jatuh ke hati cowok yang baru aku kenal. Karena jika baru kenal saja aku sudah jatuh hati, maka dengan mudah juga aku akan menjadi mainannya.
__ADS_1
Sesampainya di toserba aku langsung berjalan masuk ke meja kasir lalu menghidupkan paket data ponselku. Kulihat ada banyak sekali pesan chat dari Syawal yang isinya adalah …