Perfect Faith

Perfect Faith
Lupa Nyabut


__ADS_3

Cek ombak ah \~


---


"Semua ini gara-gara lo ya!"


Suara melengking terdengar di sebuah kamar hotel yang ball roomnya tadi pagi hingga siang digunakan untuk acara pernikahan dari Chandra dan Selena. Ya, yang sedang marah-marah itu adalah si mempelai wanita, Selena Atmadja.


"Iyah, gue ngaku salah.. gue minta maaf yah.."


"Coba lu gak lupa nyabut! Pasti gak akan pernah gue nikah sama lo hari ini!"


"Iyah.. maaf yah.."


"Gue benci sama lu tau gak!?"


"Iyah, gue tau kok lu benci banget sama gue.. maaf yah.."


"Iiiiiihhh kok minta maaf terus sih!"


"Iyah maaf, aku cuma bisa bilang maaf.."


"Ih apaan sih pake aku-aku-an!"


"Iyah.. gueee.."


"Ish naik darah terus gue kalau deket-deket sama lu!"


"Maaf ya, gue bikin lu darting terus.."


"Iiiiiiiiiihhh.. tau ah! Gue capek ngomong sama lu!"


"Hehe.. maaf yah.. maaf yah.. maaf yah.. maaf yaaa.. Yah? Yah? Yah?"


"Pergi lo sana!"


Selena dengan tak sabaran lagi memukul punggung Chandra dengan geram. Sungguh wanita itu sudah hilang kesabarannya menghadapi pria yang kini padahal sudah resmi berstatus suaminya.


Kara dan Adji yang sedari tadi menjadi saksi keributan mereka pun hanya terkekeh menahan rasa ingin terbahak-bahak melihat tingkah kedua pasangan baru itu.


Hingga akhirnya mereka pikir memang harus ada penengah agar sepasang suami istri itu tak larut dalam perdebatan mereka. Karena waktu terus berjalan dan banyak hal yang sepatutnya tidak mereka sia-siakan.


"Etdah.. berantem mulu nih pasutri newbee!" ketus Adji, menghentikan gerakan pukulan Selena pada Chandra.


"Taauuu.. bukannya sayang-sayangan yaa!" ucap Kara yang menarik dan merangkul bahu Selena untuk segera duduk di pinggiran tempat tidur.

__ADS_1


"Namanya pengantin baru tuh manis-manis-an, manja-manja-an, ini malah ribut gara-gara lupa nyabut! Haha" lanjut Kara membuat yang berada di dalam ruangan itu mesam-mesem dan tertawa pelan, tak terkecuali Selena, tapi tetap rasa kesal itu muncul lebih tinggi ke permukaan.


"Hih, sayang-sayangan itu emang buat orang yang emang saling sayang, pasangan kayak kalian, lah gue sama dia kan emang air sama api, gak bakal bisa nyatu!" sarkas Selena sambil menunjuk Chandra dengan jari telunjuknya, tak lupa dengan tatapan sinis seperti ingin memburunya.


"Ssstt.. sekarang kan kalian udah nikah, coba saling nerima satu sama lain, mau gimana pun kalian udah sah jadi suami istri di hadapan Tuhan dan kami yang nyaksiin tadi.. jadi gue harap mulai detik ini kalian akur ya.."


"Tuuuh.. dengerin kata Kara, Sel.. omongan dia bener tuh.."


"Diem lu, bang*e!" bentak Selena pada Chandra.


"Sel, lu kok ngomong sama laki lu begitu sih, yang sopan dong, gue yakin orangtua lu bakal kecewa kalau mereka tau lu kasar sama suami!" ucap Chandra penuh penekanan.


"Gak usah bawa-bawa orangtua ya! Lagian lu bisa diem gak sih? Gue cuma mau ngobrol sama Kara! Lu sama Adji keluar aja sana!"


Selena meraih guling yang berada di sampingnya kemudian melemparnya pada Chandra, bertujuan untuk mengusir dua lelaki yang saat ini berdiri tak jauh dari Selena dan Kara berada.


"Ssstt.. Udah Sel, mau gimana juga kan status Chandra suami lu sekarang.." ujar Kara menyadarkan Selena, Adji yang sudah mulai gerah pun ikut angkat bicara untuk menenangkan dua sejoli itu.


"Iyah Sel, bukannya kita lagi nyalahin lu atau ngebela Chandra, tapi sekarang kalian emang harus mulai akur.."


"Iya sayangku, lu harus bisa tahan emosi lu, tadi gue perhatiin juga Chandra udah mulai lembut kok sama lu, tinggal lu-nya aja sekarang.." Kara memeluk Selena, berharap sahabatnya itu jauh lebih tenang.


"Tapi gue gak bisa, bawaannya gue pengen marah-marah terus sama dia Kar.."


"Uhm.. gue tau, gue ngerti kok.. Pasti ini gara-gara bawaan bayi sih!"


Mereka semua melongo dengan pernyataan Kara. Bawaan bayi?


"Hah? Maksud lo?" tanya polos seorang Selena pada sahabatnya itu.


"Ya kan biasanya ibu hamil emang moodnya turun naik, jadi wajar lah kalau Selena kadang bawaannya pengen marah-marah terus, apalagi sama bapak dari anak yang dia kandung.."


"Oh iya juga sih, bener tuh kata Kara.." ceplos Adji.


"Nah berarti gue gini juga tetep gara-gara si Chandra kan?"


"Dengan kata lain sih yaaa.... begitu.." jawab Kara sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Naaahhh.. Lu denger kan? Makanya lu terima aja kalau gue lagi marah-marah!"


"Iya, istrikuuuu.."


"Hueeekkk, najis!" Selena memasang ekspresi seperti hendak muntah.


"Nah kan.. lu maaahh.. lagi hamil tu jaga omongan napa! Tar anak gue gedenya kasar gara-gara ibunya pas hamil ngatain bapaknya mulu pake kata-kata kasar!"

__ADS_1


"Ih, amit-amit jabang bayi! Jangaaannn.. anak gue harus bertingkah laku manis, seenggaknya kayak emak, tante ataaauu.. omnya.. gak k-"


"Om yang mana nih? Abang sama sohib-sohib gue bang*at semua perasaan.."


"Mas Johnny lah, kakak gue yang paling baik.. atau kayak bang Jimmy juga baik kok, cool.. Adji juga orangnya soft banget.. tapi semoga aja kalau cowok mirip sama lu sih Ji.."


"Lah kok g-?"


Belum selesai Adji menuntaskan perkataannya, tapi Chandra sudah memangkasnya dengan omongan yang menggebu-gebu karena tak terima dengan ucapan sang istri yang mengharapkan anaknya akan bersifat seperti omnya alih-alih mirip Chandra, ayah si jabang bayi.


"Heh, Jimmy tuh bukan cool ya, tapi dia emang es batu yang nyasar dari kutub utara sonoh tau gak!? Gak ada bagus-bagusnya!"


"Selow ae bos, gak usah ngegas!" celetuk Adji.


"Mas Johnny juga dia garang yaa.. Terus Adji, gue tau sih dia anak baik, hampir gak pernah bikin masalah, tapi kenapa ujug-ujug malah mirip Adji? Kan dia gak ada hubungan darah sama sekali sama kita berdua?"


"Seenggaknya kelakuan mereka lebih baik daripada lo ya!"


"Ya yang pasti kalau dia cowok mirip gue lah, secara gue bapaknya! Masa malah mirip Adji sih?"


"Biarin, Adji kan anak baik, semoga kelakuan anak gue kalau cowok mirip Adji aja ya Tuhan.. jangan kayak bapaknya, please.."


"Haha.. Iya-iyah.. ah lu pada malah berantem gini dari tadi gak berhenti-berhenti, heran deh!" Kara yang sudah hilang kesabaran pun terpaksa melerai mereka dan menyadarkan Adji dengan melirik dan menunjuk ke arah jam tangannya.


"Iya nih, udah cepetan ganti baju, kan mau honeymoon, pesawat lu lima jam lagi ini, kita harus cepet-cepet ke bandara sebelum jalan macet.."


"Elah, masih lama kali Kar, gue cape mau rebahan dulu.." ucap Chandra yang berjalan ke arah sofa.


"Heh! Gue gak mau ya liburan gue batal cuma gara-gara lu pengen rebahan doang! Ini kesempatan emas sebelum perut gue ngegedein dan susah jalan kemana-mana!"


"Iya, istriku.. dasar bawel.. harus banyakin stok sabar ini mah sampe gue tua nanti.." gumam Chandra sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Namun saat langkahnya sudah menginjak lantai kamar mandi dan menutup pintu itu, ia kembali membukanya, membuat tiga orang di sana menoleh ke arah Chandra.


"Eh tunggu, tadi kan kelakuan yah, kalau mukanya nanti mirip siapa ya?" Chandra bertanya namun tiga orang di sana hanya diam. Ketiga orang itu sama seperti Chandra, yang pikirannya sekarang sedang menerawang ke mana-mana.


"Semoga gak kayak mas Johnny deh, serem, ntar anak gue tinggi besar terus mulanya sangar.." gumam Chandra namun masih terdengar oleh Selena, Adji, dan Kara.


Dengan spontan Selena melemparkan bantal kecil ke arah wajah Chandra, tapi dengan sigap Chandra langsung menutup pintu kamar mandi karena sempat menduga pergerakan wanita hamil itu.


Lagi-lagi tingkah laku sepasang suami istri itu membuat Kara dan Adji tertawa. Mereka seperti pelawak di sebuah acara komedi, atau seperti kucing dan tikus, tokoh dalam kartun Tom and Jerry.


"Semoga rasa sayang segera tumbuh di hati mereka masing-masing" kira-kira seperti itu lah yang diharapkan oleh Kara saat itu.


"Dan semoga Adji gak 'lupa nyabut', seperti kesalahan yang diperbuat Chandra dan akhirnya akan membuat malapetaka untuk mereka nantinya.." 😅

__ADS_1


__ADS_2