Perfect Faith

Perfect Faith
Graduation Gift


__ADS_3

Setelah mereka berpamitan dengan Selena dan Chandra, Kara dan Adji pun melangkah menjauhi venue tempat mereka berpesta, memasuki lift, kemudia segera meluncur -yang hanya melewati dua lantai- ke bawah.


Hotel tersebut milik keluarga Adji, dia memang sudah memiliki sebuah tempat khusus yang tak bisa orang lain masuki kecuali atas izinnya, di gedung berlantai dua belas itu.


“Eh, gue kan ngasih hadiah buat lu, buat gue ada nggak?” tanya Adji, dengan tatapan sedikit mengintimidasi.


“Eits, jangan sedih, gue juga punya hadiah kelulusan dong buat lo, karena kita berdua berhasil cumlaude, gue punya hadiah lain juga buat lo..” ucap Kara, memukul-mukul tasnya, menandakan bahwa yang dimaksud (hadiah) ada di dalam tasnya. Adji tak menjawab, hanya tersenyum lalu mengecup gemas pipi Kara, (yang katanya) sahabatnya itu.


Pintu lift pun terbuka, mereka segera melangkahkan kaki ke luar menuju kamar berkelas president suite milik Adji. Ruangan bernuansa abu-abu itu terlihat gelap sebelum Adji menyalakan lampu di dalamnya.


Setelah lampu menyala, segera pupil mata Kara membesar, ia sangat terkejut saat melihat sebuah buket bunga yang cukup besar didudukkan di sofa, dan bukan hanya bunga yang tersusun indah di dalam buket itu, tapi ada juga beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan putih-hijau.


Tidak, itu bukan beberapa, tapi puluhan lembar.. atau.. entah lah ada berapa, yang jelas banyak! Bukan hanya rupiah, tapi juga mata uang lainnya, mungkin dollar.


“Itu belum semua, masih ada lagi nih..” Adji menunjukkan sebuah kotak perhiasan, di kotak tersebut tersemat sebuah gelang dengan permata cantik menghiasinya.


Gadis itu terkejut sampai termangu menahan nafas, sepertinya ia tak sanggup untuk berkata-kata. Adji sangat menikmati ekspresi yang dibuat oleh Kara karena keterkejutannya itu. Lelaki itu seolah bangga, namun segera menyadarkan Kara.


“Ra..” panggil Adji dengan tangan yang diusap lembut mengelus pundak gadis cantik itu. Yang disapa masih diam tergugu, setelah sadar baru lah ia menatap manik mata Adji, seketika ia panik.


“Eh.. Euh.. Bentar Ji.. Euh, sorry gue keluar dulu.. bentar.. jangan kejar gue!" Kara langsung berlari keluar menuju lift. Adji mengejar namun tak sempat masuk ke dalam lift.


Kara menuju rooftop tempat pesta kelulusan mereka berlangsung. Ia mencari Selena namun gadis blasteran betawi-chinese itu ternyata sudah tak berada di tempat terakhir mereka berkumpul. Kara mengedarkan pandangannya dan akhirnya ia melihat Selena yang sedang duduk bersama teman-teman yang lain.


Sayang bukan kepalang, tak berhati-hati dalam melangkah, akhirnya Kara menabrak seorang pelayan yang sedang membawa gelas wine dan sepotong kue di atas nampan.


Gaun putihnya kini penuh dengan noda merah dari wine yang tumpah, dan sebercak whipped cream di bagian dadanya. Terlihat nampan dan pecahan gelas dan piring yang tadi dibawa sang pelayan berserakan di lantai.


“Ma-maaf mbak.. maafin saya mbak..” si pelayan langsung membungkuk.


Teman-teman yang berada di sekitar Kara melihat kejadian malang itu, Adji yang berhasil mengejar pun langsung menghampirinya. Banyak pasang mata yang melihat dan membuat Kara merasa malu. Dengan segera Adji menutupi tubuh Kara dengan jas putih yang digunakannya.


“Are you okay?” tanya Adji sedikit cemas, yang ditanya hanya menatap kosong ke lantai, setelah beberapa detik baru ia menjawab.

__ADS_1


“Gak kok, gue gak apa-apa.. maaf ya mas, tadi saya gak sengaja, mas gak apa-apa kan?” Kara jadi sedikit khawatir pada si pelayan, karena bagaimana pun ia merasa bahwa itu adalah kesalahannya yang tak berhati-hati.


“Iyah mbak saya gak apa-apa, saya yang minta maaf ya mbak..” ucap si pelayan yang terlihat ketakutan, karena terus membungkuk.


“Ya udah mas beresin aja yah.. Lu ikut gue..” ucap Adji.


“Hah? Ke mana?” Kara bingung, pikirannya masih campur aduk karena shock.


“Ya ganti baju lah, lu mau sampe acara selesai pake baju gitu terus?” tegas Adji seraya menarik tangan Kara.


Di perjalanan menuju lift, mereka berpapasan dengan Rendy, kakak Kara. Ia sedang berkumpul dengan teman-temannya, Jimmy dan Reno. Terlihat mereka masing-masing sedang memegang gelas di tangan kirinya, dan rokok di tangan kanannya.


“Ren, adek lo tuuuh..” ucap Jimmy, ia menunjuk ke arah Kara dengan gerakan wajahnya, tapi Rendy dan Reno yang sedang tak fokus tak mengerti maksud dan arah yang Jimmy tunjukkan.


“Hah? Mana?” jawab Reno yang kemungkinan sudah mulai mabuk.


“Adeknya Rendy, bukan adek elu, begeee.. ya kali anak SMP ada di sini!” Jimmy ngegas.


“Haha.. udah mulai kacau ni anak.. masih pagi udah oleng, dasar lemah!” Rendy terbahak melihat kelakuan dua sahabatnya itu.


Mereka terperangah melihat Kara yang diboyong seperti itu oleh Adji. Rendy langsung mematikan api rokok di tangannya, memberikan gelasnya pada Jimmy. Dengan sigap pria itu menghampiri sang adik dan menangkup kedua belah pipi Kara yang sedang memasang wajah muram.


“Dek, lu kenapa?” tanya Rendy, terlihat kekhawatiran terlukis di raut mukanya.


“Gak apa-apa kok bang, tadi sempet nabrak pelayan. Ini mau ganti baju dulu..”


“Astaga dek, makanya hati-hati kalau jalan.. tapi lu beneran gak kenapa-kenapa kan?”


“Iya abang, bawel ih, adek gak kenapa-napa kok.. Ganti baju dulu yah..”


“Oh ya udah.. Ji, titip Kara ya..” Rendy menepuk bahu Adji.


“Iyah bang, tenang aja.. kita ke bawah dulu ya bang..”

__ADS_1


“Iya, hati-hati yah..”


Baru hendak berjalan, langkah kaki Kara dan Adji kembali berhenti karena sang kakak kembali membuka suara.


“Eh bentar-bentar.. dek, kayaknya abang gak pulang deh malem ini, abang mau nginep di rumah Jimmy, lu pulang sendiri bisa kan? Gak apa-apa kan?”


“Udah lu tenang aja bang, ntar gue aja yang anter Kara pulang..”


“Nah, cakep.. emang lu paling bisa diandelin deh Ji..”


“Gak usah cengengesan! Awass lu kalau macem-macem ya bang, gue bilangin papi lhoo..” sentak Kara pada kakaknya.


“Kagak.. elaaahh.. tenang aja dek..”


“Kar, justru kalau abang lu nih pulang, takutnya ntar diamuk sama pak Cahyo, dia kan udah pasti mabok pulang dari sini.. haha..” ujar Reno sedikit teriak sambil tertawa, mata sipitnya semakin menghilang saat ia tertawa, Rendy malah cengengesan dan Jimmy terlihat sedang menahan tawanya.


“Makanya jangan banyak minum lu! Pokoknya kalau lu mabok dan bikin ulah, abis lu!” Kara memelototi kakaknya. Tak lupa Jimmy dan Reno juga kebagian jatah dipelototi Kara. Tapi yang dipelototi malah cengengesan sambil menggulung bibirnya ke dalam.


"Lu berdua juga! Gak usah cengengesan, awas aja kalau kalian bertiga bikin masalah!"


“Bener tuh, gak usah sampe mabok dah bang! Watir gue sama lu.. haha.. Ya udah bang, kita duluan yak..” ucap Adji sambil melengos.


“Iyah bawel.. udah sana adek abang yang cantik ganti baju dulu.. hati-hati ya Ji, aset berharga keluarga tuuuh.. bisa digorok gue sama bokapnya kalau sampe kenapa-kenapa..” ujar Rendy yang ternyata masih bisa bercanda.


“Iyah bang, gue t-..” jawaban Adji terpotong karena Kara.


“Heh! Bokap gue kan bokap lo juga ngab..” Kara menatap sinis kakaknya, tapi Rendy hanya tergelak diikuti tawa teman-temannya.


Kara dan Adji pun mulai berjalan menjauhi mereka. Kara hanya berdiam diri, tampak kembali murung dan seperti banyak yang dipikirkan. Sedang Adji masih setia memegangi pundak Kara.


“Buset dah adek lu galak banget yah..” kekeh Jimmy sambil menyikut lengan Rendy.


“Keturunan bu Windy lah, tukang ngegas.. haha” Hanya jawaban santai yang dilayangkan kakak dari Kara itu.

__ADS_1


“Haha lu juga lah bego!” Reno geram dan menjitak kepala temannya itu. Mereka bertiga pun asyik tertawa dan melanjutkan kegiatan mereka menyesap cairan merah di gelas wine yang mereka pegang sedari tadi.


__ADS_2