Perfect Faith

Perfect Faith
Ribut


__ADS_3

Belum sempat keluar, mereka menghentikan langkahnya karena teriakan melengking dari seorang perempuan. Hitungan detik, suara berisik dan ribut terdengar dari kamar Chandra dan Selena.


"Nah kan, perang dunia dimulai.." ujar Kara, mesam-mesem.


"Bukan perang dunia sayang, perang kasur haha.." sahut Adji.


"Eh udah perang kasurnya Ji, semalem.."


"Oh iyah.."


Mereka tergelak karena ucapan receh mereka sendiri. Masih di area living room depan kamar Chandra, Adji terbersit sebuah ide yang menurutnya akan seru bila dilakukan.


"Okay, ayo kita taruhan.."


"Taruhan apa?"


"Kira-kira sebulan mendatang setelah ini, mereka bisa akur gak?"


"Okay, kamu apa?"


"Menurut aku, mereka bakal akur.."


"Menurut aku, mereka gak akan akur.."


"Kenapa?" tanya Adji.


"Karena mereka emang gak akan pernah akur.." jawab Kara enteng.


"Tapi menurut aku bakal pernah akur sih.. masa akurnya pas gituannya doang sih? Haha"


"Haha iya juga sih.. okay, yang menang dapet apa? Yang kalah dapet apa?"


"Yang menang boleh minta apa aja, yang kalah ya harus ngikutin apa maunya yang menang.. apa pun.. Setuju?" jelas Adji.


"Okay, setuju!" seru Kara.


Saat dua orang di luar sedang sibuk membuat kesepakatan, dua orang di dalam kamar sedang saling bersahutan dengan meninggikan suaranya. Mereka saling menyalahkan dan menuduh satu sama lain. Tak terima dengan kenyataan yang sudah tak bisa diulang atau diperbaiki lagi.


"Eh, semalem kita lakuin sama-sama yah! Gue gak ada maksa lu!"


"Heh mony*t! Gue nanya, lu kenapa malah bawa gue ke sini?! Kenapa gak bawa gue pulang aja!?"


"Jaga lah Sel, tu mulut! Lu cewek gak pantes ngomong gitu!"


"Ya lagian kalau lu bawa gue pulang semua ini gak bakalan kejadian kan?!"


"Ya lu mikir lah, kalau gue bawa pulang lu dalam keadaan mabok hampir pinsan kayak semalem, bakal diapain gue nanti sama bokap lu? Mana gue juga udah mabok. Bisa diamuk masa gue sama keluarga lo, apalagi abang lo.. Gue ngebayanginnya aja ngeri!"

__ADS_1


Chandra menjelaskan panjang lebar alasannya tidak membawa Selena pulang dan malah membawanya ke tempat mereka sekarang berada, pria itu bahkan bergidik saat membayangkan wajah kakak Selena, Johnny.


"Ya tapi kan ujungnya begini, ege!"


"Ya udah sih, sama-sama enak juga kan?!"


Selena membulatkan matanya, tertohok oleh ucapan Chandra. Hitungan detik, gadis itu melempar bantal ke arah muka Chandra dengan sedikit kasar, saking kesal dengan ucapannya yang terakhir. Chandra memang terkenal susah memfilter omongannya, alias ceplas-ceplos tanpa memikirkan akibatnya.


"Ish, makin benci gue sama lo!"


Setelah melempar bantal, dengan secepat kilat gadis itu berlari ke arah kamar mandi dengan selimut yang sedari tadi membalutnya. Sedangkan Chandra, ia malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Selena yang sepertinya sedang malu.


Mereka pun sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Selena asyik berlama-lama membersihkan badannya, dan Chandra yang sedang membereskan pakaian mereka yang berserakan di lantai.


Chandra memakai celananya namun bagian atasnya masih belum tertutup apa pun. Ia juga butuh mandi, namun bagian bawah tetap harus tertutup bukan? Ia memainkan ponselnya sembari menunggu Selena keluar dari kamar mandi.


Setengah jam lebih berlalu, namun tak ada tanda-tanda Selena akan keluar dari ruang kecil tersebut, rasa kesal sekaligus khawatir pun mulai muncul di benak Chandra.


"Sel, lu mandi apa tidur sih? Kok lama amat di dalem?"


Tak ada jawaban mau pun suara di dalam kamar mandi tersebut. Rasa cemas itu pun semakin menusuk relung Chandra.


"Lu gak pinsan kan di dalem?"


Tak ada jawaban. Chandra mulai mengetuk pintu beberapa kali, namun nihil, Selena tetap tak bersuara.


Lagi-lagi tak ada jawaban apa pun dari Selena. Chandra mulai menggedor-gedor pintu kamar mandi itu dengan sedikit kencang.


"Sel, jangan bilang lu nyoba bun** diri lagi di dalem?"


Chandra yang sudah tak sabar berniat untuk mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Namun baru hendak kakinya mengambil ancang-ancang untuk mendobrak, Selena keluar dengan bathrobe dan handuk kecil yang melilit rambutnya yang basah.


"Berisik! Bawel banget jadi cowok!" sarkasnya dengan tatapan datar dan dengan anggunnya ia berjalan ke arah ranjang. Tapi baru melangkahkan kaki dua kali, langkahnya itu sudah dihentikan oleh Chandra. Tubuhnya diputar-putar oleh pria itu.


"Apaan sih?" Selena merasa risih dengan yang dilakukan Chandra, lelaki yang semalam menggagahinya itu.


"Lu gak kenapa-kenapa kan? Lu gak nekat kan? Lu gak ngapa-ngapain kan di dalem?"


"Banyak amat pertanyaan lu!"


"Tinggal jawab aja kali Sel.."


"Ya gue ngapa-ngapain lah! Gue mandi! Cuci muka! Sikat gigi!"


"Yaa maksud gue bukan gitu.. gue tau lu mandi, tapi maksudnya lu gak nyoba nyakitin diri lu sendiri kan?"


"Lo gila? Pagi-pagi udah kerasukan? Buat apa gue nyakitin diri sendiri?"

__ADS_1


"Ya kali aja lu frustasi kan, terus ada niatan buat bundi*.."


"Enak aja lu! Enggak lah! Akal sehat gue masih jalan, cuman perkara tidur sama lu doang masa gue harus bundi* segala!"


"Syukur deh kalau otak lu masih jalan, pikiran lu masih ngalir.."


"Gaje lu! Udah sana mandi! Beliin gue makan gue laper!"


"Iy-" ucapan Chandra terhenti.


"Woooy berantem mulu lu berdua! Buruan keluar! Tu sarapan kalian keburu dingin!"


Adji berteriak dari arah depan kamar mereka. Ternyata karena taruhan yang Adji dan Kara buat, mereka berdua mengundurkan niat untuk pergi dari tempat itu, mereka memiliki rasa penasaran yang tinggi dengan dua sejoli yang sedari tadi tidak akur tersebut.


"What? Di luar ada orang?" tanya Selena dengan berbisik.


"Adji.."


"What the f-? Adji?"


"Ya kan ini kamar emang punya Adji.."


"Oooh.. lah, dia tau dong yang semalem?"


"Maybe.."


"Aaaahh!!! Kacau!"


Mereka berdua masih asyik ribut, sedangkan yang menunggu di luar sudah tak sabar.


"Heh lu berdua gak laper apa? Buruan sini makan!"


"Iyah Ji, ntar kita keluar kok, lu duluan aja!"


"Kami udah makan, tinggal kalian aja, cepetan makanya keburu gak enak nanti makanannya kalau dingin!"


"Iyeee! Bawel lu!"


"Hahaha.." Adji hanya tertawa, sedangkan Kara? Ia hanya terkikih pelan.


"Udah sana lu mandi!" suruh Selena pada Chandra.


"Iyah baweeeell!"


Chandra pun segera memasuki kamar mandi dan menghilangkan rasa lengket di tubuhnya. Dengan sedikit bersenandung dengan suara indahnya, membuat Selena yang masih berada di kamar sambil memakai pakaiannya pun ikut menggumamkan lagu yang dinyanyikan Chandra secara tanpa sadar.


Sedangkan Kara dan Adji sudah tak sabar lagi menunggu mereka berdua, beberapa kali mereka mengetuk pintu. Namun Selena yang merasa malu dan tak enak pada Adji, ia hanya bisa menjawab "iya, sebentar.." kemudian duduk diam di ujung ranjang, menunggu Chandra menyelesaikan mandinya.

__ADS_1


__ADS_2