Perfect Faith

Perfect Faith
Surprise!


__ADS_3

Langit hitam kini sudah berganti biru cerah, awan-awan tipis menghiasinya dengan sangat cantik. Bekas hujan tadi malam seolah sudah diserap oleh terangnya mentari, basah berganti dengan kering.


Cahaya yang samar-samar seolah ingin menerobos masuk ke dalam ruangan tertutup oleh gorden tebal di kamar milik dua orang manusia yang masih terlelap. Sinar itu mencoba membangunkan mereka, namun rasa lelah mereka mengalahkannya.


Setelah cukup lama bergulung dalam selimut, Adji mulai menggeliat, meregangkan tulang dan otot-ototnya yang terus bekerja semalaman. Ia tersenyum ketika yang dilihat pertama kali pagi itu adalah Kara, gadis manis yang selalu menjadi prioritas utamanya.


Ide jahil pun mulai muncul di otaknya. Pria itu memainkan surai rambut Kara yang terlihat berantakan. Ia juga mengusap dan sesekali menekan-nekan lembut wajah Kara, mulai dari bagian pipi, bibir, hidung, kening, mata hingga alis.


Dengan enggan ia membuka sedikit kelopak matanya, masih dengan rasa kantuk yang menggunung. Ia berdeham dan menelungkupkan badannya memeluk kasur. Ia kembali tidur dengan posisi tenrgkurap dan satu tangannya yang menahan kepala.


"Ih kok malah tidur lagi sih? Ngebelakangin lagi.."


Adji yang gemas dengan tingkah Kara malah semakin ingin menjahilinya. Ia menggigiti bahu Kara yang terekspos, karena sampai detik itu kedua orang tersebut dalam keadaan tanpa busana, hanya selimut yang menutup tubuh telanjang mereka.


"Hmm.. geelii Jiiii.."


Gadis yang sedang bermalas-malasan itu pun berbalik, mengambil nafas sejenak, setelah itu malah memeluk pria yang berada di sampingnya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Adji.


"Gemowniiiiiiingggg..” ucap Adji sambil mengelus kepala Kara.


“Hmmm.. mowniiinnggg..” balas Kara dengan suara serak khas orang bangun tidur.


“Masih ngantuk yah?”


“Hmmm..” Kara mengangguk beberapa kali dengan pelan, kelopak matanya masih sungguh enggan untuk terbuka saat itu.


“Ya udah gak apa-apa.. tiduran lagi aja..”


“Hmmm.. but I'm tarving..”


“Hah? Kamu laper?”


“Sekali, Jiiii..” (Maksud Kara cukup sekali saja Kara bilang lapar, tak usah ditanya lagi lapar atau tidak, karena jelas-jelas gadis itu sudah mengatakan bahwa ia sedang lapar)


“Hehe.. yaudah aku pesenin dulu yah..”


Adji yang mengerti maksud perkataan Kara pun cengengesan dan mengusak rambut Kara. Ia hendak bergerak bangun dari tidurnya. Namun Kara menahan badan Adji dengan mengeratkan pelukannya.


"Sebentar, jangan gerak, lima menit.."


Pria itu pun tak jadi melanjutkan niatnya untuk bangun, ia kembali memeluk Kara dengan sedikit posesif. Kara mengambil nafas panjang di ceruk leher milik Adji, ia sangat menyukai bau Adji yang padahal sudah berkeringat dan belum mandi sejak kemarin.


Badan yang lengket tak mereka hiraukan, cahaya matahari yang semakin meninggi dan sudah merangsek masuk ke ruangan tersebut melewati celah jendela pun mereka tak pedulikan, pun waktu yang terus berjalan mereka biarkan.


"Hmmm.. You comfort me too much..”


“Uuuuhhmmm.. Kasian sayangku pasti capek yah?”


“Hmmm.. gara-gara Adji.."


"Kok gara-gara Adji? Kan kamu yang minta tambah?"

__ADS_1


Kara tak mengeluarkan suara, ia hanya bereaksi mencubit punggung pria yang sedang dipeluknya itu. Yang dicubit hanya tergelak dan semakin mengeratkan tangannya memeluk Kara. Mereka tertawa bersama, hingga Kara mengeluarkan suaranya untuk bicara.


"Jiiii.. Adji udah janji ya gak bakal ninggalin Kara..”


“Ya gak akan lah.. gak ada alasan buat ninggalin kelinci kecil ini..”


Kara yang masih asyik menenggelamkan wajahnya di dada Adji pun mengulum senyumnya, walau tak ada yang bisa melihatnya. Tapi kemudian senyumnya sedikit memudar ketika pikirannya mulai menerawang.


"Kalau ternyata jodoh kita orang lain gimana ya Ji?”


“Uhm.. nobody knows.. but, aku bakal tetep gak akan pernah ninggalin Kara kok, dengan siapa pun kita nantinya..”


“Tapi kan kasian mereka yang jadi pendamping kita nanti Ji..”


“Ya udah makanya gak usah sama yang lain, kita berdua aja terus sampe kita tua, sampe maut yang misahin kita..”


“Semoga yah..”


“Iyaaaa..”


Mereka berdua tersenyum getir, entah apa yang akan terjadi di masa depan, tak akan ada yang tahu, kini hanya harapan yang mampu mereka lambungkan. Hanya semoga, semoga dan semoga takdir yang indah yang akan mereka dapatkan, berdua, bersama.


“I love you..” ucap Adji dengan lembut pada Kara, mereka saling menatap dan senyum tipis tapi penuh arti.


“I love you too, Arlojikuuu..”


“I love you more Karaisa Annora Cahyady, anaknya pak Cahyo dan bu Windy..”


“I love you three billion, Kara adeknya bang Rendy..”


“Uuuuhhhmm... udah ah, kalau kita lanjut terus gak bakal berhenti nih.. haha..”


“Haha iyah, terus aja sampe matahari terbenam di Selatan.."


Canda tawa mereka menggema di ruangan tersebut, sampai mereka lupa akan keadaan perut yang meminta diberi makan.


"Iiihhh sayang banget sih sama orang ini, ya Loooord.." Kara menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan hidungnya dan hidung Adji bertabrakan.


"Aku lebih sayang lagi pokoknya.. udah yah, melow terus begini kita seharian gak akan makan-makan ini.. katanya tadi laper?”


“Hehe.. yaudah pesenin.. apa aja yang penting nasi yah, aku laper banget..”


“Iyah sayang..”


“Eh bentar, kan di selebah ada Chandra sama ceweknya..”


“Sebelah Ra..”


“Nah itu maksud aku.. pasti mereka juga laper deh, pesenin aja sekalian.. kasian kan..”


“Uhmm ya udah, aku pesenin nasi goreng aja buat kita semua yah.. biar aman..”

__ADS_1


“Boleh..”


Adji pun memesan makan melalui sambungan telepon yang ada di kamarnya.


“Eh aku penasaran siapa lagi cewek yang dibawa Chandra..”


“Oh iyah, Kara juga penasaran.. boleh nengok gak?”


“Yuk..” Adji menampakkan wajah jahil, alisnya naik turun dan senyum miring melambung. Kara ikut menampilkan wajah jahil dengan mengulum senyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.


“Tunggu sebentar yah, aku ambilin kamu baju dulu..”


Adji beranjak dari perebahannya, menampilkan tubuhnya yang kini polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya. Kara yang terkejut segera menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Ih, Adjiiiii…”


“Kenapa?”


“Ituuuu..” Kara menunjuk tubuh Adji, matanya masih tertutup karena malu.


“Ya elah, kan kamu udah liat semuanya semalem..”


“Uhm.. iyah sih.. ya udah Adji pake baju dulu baru ke luar yah..”


"Ya iya lah Ra, masa aku ke luar dalam keadaan begini sih? Kamu nih ada-ada aja yah.." Adji berdecak, kemudian tertawa pelan.


"Hehe ya kali aja.. kamu kan di rumah juga begitu, telanjang dada sama boxer-an doang..!"


Mereka pun segera berpakaian dan tak lama kemudian pintu pun diketuk dari luar. Dua orang pegawai hotel membawa pesanan mereka dengan sigap, cepat karena nasi goreng sudah pasti tersedia di hotel sejak pagi. Makanan mereka pun kini sudah tersaji di meja living room.


Dengan lahap mereka memakan nasi goreng yang mereka pesan tadi, mengisi tenaga sebelum mereka melakukan aksinya mengintip dua sejoli yang bermalam di kamar sebelahnya.


Setelah menghabiskan makanannya tanpa sisa nasi sebutir pun, Kara kembali mengajak Adji untuk segera membuka pintu kamar yang berisikan Chandra dan perempuan misteriusnya.


Adji yang piringnya masih tersisa seperempat nasi pun hanya menggelengkan kepala dengan tingkah Kara, namun akhirnya ia segera memenuhi keinginan Kara tanpa menghabiskan makanannya. Kara terkejut sampai hampir teriak namun berhasil menutup mulutnya sendiri.


“Hape hape..” ucap Kara sangat pelan sembari tangannya mengisyaratkan meminta.


Kara segera mengambil benda canggih berbentuk pipih itu dari tangan Adji yang berdiri di sebelahnya. Dengan segera ia memotret Chandra yang sedang berpelukan dengan gadis yang sangat mereka kenal, Selena.


Entah bagaimana caranya sampai akhirnya mereka bisa bersama dalam satu kasur, satu selimut, berpelukan, dan sepertinya tanpa busana. Menarik, pikir dua orang yang kini tengah asyik melihat dan menahan tawa akibat pemandangan langka di depannya.


“Udah kita biarin aja sampe mereka bangun sendiri..”


“Hehe iya Ra.. ayo kita keluar..”


"Kita langsung pulang aja.."


"Gak nungguin mereka?"


"Gak usah.."

__ADS_1


"Okay.."


__ADS_2