Perfect Faith

Perfect Faith
21+ Punishment


__ADS_3

“I love you, Karaisa Annora..” ucap Adji di sela-sela pagutan bibir mereka.


“I love you too.. Arloji..” balas Kara yang malah membuat Adji tidak jadi mengecup kembali bibir Kara yang sudah hampir bengkak, pria itu mendatarkan senyumannya.


“Kamu mah ngilangin suasana romantis terus ih..”


“Ya kan nama kamu emang Arlo Adji, disingkat jadi Arloji.. haha”


“Dih malah ketawa.. Hmmm.. siap-siap kamu yah..” Adji mengembangkan senyuman jahil tapi Kara yang polos tak mengerti maksud Adji.


“Siap-siap apaan? Emang kita mau ke mana? Ngapain?”


"Kamu aku hukum!"


"Hukum?"


Adji tidak menjawab pertanyaan polos Kara, lelaki itu malah seperti ingin menyerang Kara saat ini, ia menjatuhkan gadis itu ke sofa panjang yang mereka duduki sedari tadi, kemudian setengah menindihnya.


Kara yang masih tak paham maksud Adji malah merengut menatap pria yang sedang menindihnya. Adji tersenyum nakal sebelum dengan rakus ia ******* bibir Kara.


Tangan kekar Adji kian lama kian tak bisa lagi diam. Ia melepas sejenak bibirnya dari bibir Kara, matanya mengarah ke bagian dada wanita itu.


“Boleh?” tanya Adji namun dengan tatapan mengintimidasi, membuat yang ditanya hanya mampu mengangguk.


Satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Kara pun berhasil terbuka, memunculkan bagian atas Kara yang putih mulus dan menggoda Adji untuk segera menyerbunya.


Tangan nakalnya melakukan apapun yang dia inginkan saat itu. Baju yang mereka kenakan juga sudah terhempas berserakan di sekitar sofa tempat mereka bercumbu.


"I want you.. may I?


Tatapan Adji sendu namun terasa tajam menusuk relung Kara, seperti memohon tapi juga memaksa. Pikiran Kara berkecamuk, sungguh, sebenarnya Kara tak sanggup lagi berpikir. Ia sudah terbawa terlalu jauh oleh suasana yang mereka ciptakan berdua.


Ingin, tapi ada rasa tak rela. Harus kah ia melakukan hal itu dengan Adji yang saat ini bahkan hanya berstatus sahabatnya? Ia tahu Adji mencintainya, pun demikian dengan Kara yang tahu jelas apa isi hatinya, hati yang selalu dipenuhi oleh segala tentang Adji.


Tapi, apa kah boleh ia melepaskan apa yang selama ini ia jaga kepada lelaki itu?


Kara berdiam diri dalam waktu yang cukup lama. Pikirannya sudah sangat terbagi. Tapi rasa ingin itu semakin tumbuh karena Adji yang terus membuai Kara dengan segala kelakuannya saat ini.


“Ra?”


Adji kembali menghentikan kegiatannya, ia menagih jawaban dari mulut Kara. Namun si gadis masih terdiam dengan mata yang terus menatap manik hitam pupil Adji, mereka bertatapan cukup lama.


"I really want you..”


Ekspresi wajah Adji semakin menampilkan harapan yang cukup tinggi, membuat Kara semakin tak tega menolaknya. Hingga akhirnya gadis itu pun mulai membuka mulutnya, mengeluarkan suara yang lembut dan sedikit serak.

__ADS_1


"Me too..”


Satu kalimat pendek yang diucapkan Kara itu mampu membuat Adji langsung merasa terbang ke angkasa. Perjuangannya meyakinkan Kara berhasil. Matanya seperti bersinar dan bibirnya mengembang tanda bahagia atas jawaban yang diberikan Kara.


"Seriously?”


“Yeah, I want you, also.. tapii... gak sakit kan?”


“I don’t know, ini juga bakal jadi yang pertama buatku..”


Kara diam sejenak, sedikit berpikir sebelum akhirnya mengangguk ke sekian kalinya, tanda gadis itu mengiyakan kembali keinginan Adji.


“Okay, pelan-pelan ya Ji..”


Mendapatkan lampu hijau dari Kara, dengan semangat Adji mulai melepas sisa pakaian yang masih menempel di tubuh mereka saat itu.


“Are you sure?” tanya Adji memastikan.


“Lu mau gue berubah pikiran?”


“No!”


Dengan cepat dan tegas Adji menjawab 'tidak', suasana dan keadaan sudah begini, siapa juga yang mau untuk berhenti?


“So? Just do what you want.. Let’s do it! Sebelum gue bener-bener berubah pikiran..”


“Adek?” Kara mengerutkan keningnya, gadi itu tak begitu mengerti apa yang dimaksud Adji.


Adji dengan jahilnya mengambil tangan Kara dan mengarahkannya ke area bawah, membuatnya memegang aset berharga milik Adji, yang sudah menegang.


Seketika Kara melotot dan menahan nafasnya, lalu segera melepaskan tangannya. Memang sepolos itu Kara. Adji hampir saja tergelak namun mulai memposisikan tubuhnya untuk segera menyatukan tubuhnya dengan Kara.


“Tahan ya sayang, sakit sedikit kayaknya..”


“Wait, setelah ini gue gak akan kenapa-kenapa kan?"


"Eee.. enggak kok, aman.."


"Beneran? Lu yakin? Gak bakal sakit kan?"


"Iyaaa, makanya kita coba dulu, biar tau nanti kayak gimana.."


"Enak banget yah kalau cuma ngomong.."


"Heee.."

__ADS_1


"Tungguu.. abis ini Adji gak bakal ninggalin Kara kan?”


“Iyah, Adji gak bakal ninggalin Kara..”


Nafas Kara mulai tak beraturan, jantungnya berpacu dengan cepat, tangan kanannya menekan lembut bahu Adji, sedangkan tangan kirinya mendorong dada bidang Adji menjauh dari badannya, mencoba untuk menginterupsi Adji.


“Adjiii..”


“Apa sayang?”


“Adji janji yah, Adji gak akan pernah ninggalin Kara..”


“Iyah Kara sayang, Adji bakal selamanya sama Kara, I’ll never leave you for whatever reason.. promise..”


“I love you, Adji..”


“I love you more, Kara..”


Kara kembali berulah, lagi-lagi ia menghentikan apa yang akan Adji lakukan. Pikirannya benar-benar seperti sedang berperang, tapi hati kecilnya tetap tak sanggup membuat Adji kecewa. Serba salah rasanya.


“Adjiii..”


“Oh God.. Apa lagi Raaa? Ini adek aku keburu ngamuk kamu interupsi terus…”


“Hmmm? Sorry.. nerveous..” jawab Kara dengan bola matanya yang bergerak ke kiri dan kanan, seraya menampilkan jajaran gigi putihnya. Adji berdecak dengan tingkah Kara itu, sedikit banyak menjengkelkan, tapi juga menggemaskan.


“Ck.. malah nyengir ni anak! Udah nikmatin aja!”


“Ha-h?”


Nafas Kara langsung tersendat kala Adji membungkam mulut Kara dengan bibirnya, lalu akhirnya pria itu memaksa masuk ke dalam 'milik' Kara dalam satu hentakan. Tubuh mereka terasa seperti tersetrum dan perih kemudian menjalar di area pribadi milik Kara. Tangannya dengan refleks mencengkram bahu dan lengan Adji.


Adji yang hanya baru memasukan, belum berani bergerak karena masih takut akan menyakiti gadisnya. Keduanya diam dengan bibir yang masih bersatu dan mata yang saling menatap. Hingga akhirnnya Kara sedikit mendorong dada Adji, nafasnya masih tercekat.


“-Jiii..”


“Inhale.. exhale..”


“Hhmm.. huuuuuuhh…”


Kara menuruti perintah Adji untuk mengatur nafasnya. Berulang kali mereka melakukan hal itu, sampai dirasa Kara sudah mulai tenang, Adji mulai bergerak dengan tempo yang pelan.


“Is it hurts? Do you want me to stop?” tanya Adji dengan deep voicenya, Kara pun menggelengkan kepalanya pelan.


"No, just go slow.."

__ADS_1


Kara meraih leher Adji dan merengkuhnya dengan kuat sembari masih mempertahankan tempo nafasnya. Adji mengembangkan senyumnya, kemudian kembali menempelkan bibirnya pada bibir Kara untuk mengalihkan gadis itu dari kesakitan di bagian bawahnya. Adji kembali bergerak memacu tubuhnya, ia melakukannya dengan sangat lembut, pada awalnya.


“Aaahhh..! Adji.. pelan-pelaaaann!"


__ADS_2