
Satu bulan tiga minggu berlalu setelah kelulusan dan kejadian malam itu, kini Adji dan Kara sudah mulai bekerja dan memiliki kesibukannya masing-masing. Namun sibuk bukan berarti hubungan mereka merenggang, setiap hari justru mereka selalu menyempatkan bertemu, dan sesekali akan menginap bersama. Seperti malam ini.
Sepasang manusia itu kini sedang terengah-engah setelah melakukan olah raga panas mereka. Saling berpelukan seperti biasanya. Perasaan bahagia selalu menyertai mereka, membuncah seperti ada kupu-kupu yang baru saja keluar berterbangan dari tubuh mereka.
"Sayang.. jam berapa ini?" Tanya Kara dengan mata tertutup dan rasanya berat untuk menggerakkan kelopak matanya untuk sekedar melihat jam.
"Uhm.. baru jam sebelas sayang.." jawab Adji yang melihat jam dari ponsel yang berada di samping kepala Kara.
"Kenapa? Mau lagi ya? Mumpung belum tengah malem nih, masih bisa lho.." lanjutnya dengan nada yang sedikit nakal.
"Astaga Jiii.. kapan sih tu otak bersih? Udah malem ini, tidur aja, besok kan hari pernikahan.."
"Ya tapi kan biasanya juga kita main sampe pagi yang, terus paginya kita tetep kerja malah.."
"Beda Jiiiii.. besok aku gak mau keliatan jelek, capek, mata item kayak panda.. jadi kita tidur aja yah.. harus mulai make up subuh soalnya, kan pemberkatan pagi.."
Kara semakin menelusupkan kepalanya di dada milik pria yang selalu membuatnya bahagia itu. Adji terkekeh karena perkataan polos Kara. Ia tahu bahwa Kara yang dulunya tomboy dan tak mengerti soal dandan, kini telah berubah menjadi wanita yang anggun, manis, dan memerhatikan penampilannya.
Bagaimana tidak? Keluarga Adji merupakan keluarga terpandang dan menjadi salah satu keluarga dengan kekayaan tertinggi ke tujuh belas di negara tersebut. Sebisa mungkin ia harus menjaga sikap dan penampilannya agar dapat diterima oleh keluarga Adji.
Walau sebenarnya keluarga Adji tetap akan menerima dan selalu menyukai Kara dengan tulus, bagaimana pun tingkah dan penampilan Adji. Pasalnya, keluarga Kara dan Adji memang sudah dekat bahkan sebelum mereka berdua lahir.
Kara sudah seperti anak perempuan di keluarga Adji, ayah dan ibu, bahkan kakek nenek Adji sangat menyayangi Kara seperti anak dan cucu mereka sendiri. Kara diperlakukan seperti layaknya mereka memperlakukan Adji yang memang darah dagingnya.
"Iya iyaaahh.. ya udah kita tidur aja ya sekarang.."
"Hmmm.. kamu sana pundah ke kamar kamu.. kalau ada yang tau kamu malah di sini nanti berabe lagi.."
"Enggak ah, aku mau tidur sama kamu.."
"Eh, enggak, enggak, gak boleh.. kamu harus tidur di kamar kamu sendiri.."
"Tapi kalau aku tidur sendiri malah aku gak bangun nanti, gimana?"
"Gak mungkin kamu gak bangun.. temen-temen yang lain pasti bangunin kamu kok, orang kamar kita aja sebelahan kan.."
"Tapi aku masih mau di sini.. masih kangen.. kan semingguan kemarin kita cuma telepon sama video call doang, yang.."
"Ya tapi gak boleh.. lagian kan besok kita pasti ketemu lagi Ji, setelah acara nikahan selesai juga kita bisa main sepuasnya.."
__ADS_1
"Ck.. huuuuuhhh" Adji berdecak, mengambil dan membuang nafas secara kasar.
"Gak usah kesel gitu bisa kali.. udah sana balik ke kamar kamu sendiri.." suruh Kara dengan mendorong pelan dada Adji.
"Iya iyah.. peluk dulu lamaan dikit tapi yah.."
Adji pun langsung memeluk Kara dengan sangat posesif sampai Kara merasa sesak.
"5 menit.." lanjut Adji.
"Udaaaahhh.. kamu nih kebiasaan, sengaja banget biar nanti kebablasan lagi.."
"Heee.. tau aja kamu jalan ninjaku.."
"Udah gih, keburu malem.. biar kita gak telat besok.."
"Iya sayang.. kamu tidur yang nyenyak ya.."
"Iya, kamu juga ya sayang.."
"See you tomorrow.."
"Night"
Adji mengecup kening dan pucuk kepala Kara dengan penuh penghayatan. Dengan rasa tak rela Adji pun meninggalkan wanitanya itu untuk tidur sendirian di sana. Langkah gontai dan lemas ia ambil sebagai bentuk rasa kecewanya.
Tak berapa lama setelah Adji keluar, Kara pun mulai bangun dan berjalan ke arah kamar mandi, ia membersihkan badannya agar besok bisa mandi dengan cepat, karena sudah dipastikan ia hanya akan mandi bebek nanti. Setelah selesai dengan segala kegiatannya, ia pun mulai menutup matanya dan tertidur lelap.
Sebelum mentari pagi menampakkan cahayanya, dering alarm berbunyi dengan nyaringnya, membuat sepasang mata membuka dan segera membangunkan dirinya dari pembaringan. Setelah sedikit menggeliatkan tubuhnya, ia langsung berlalu ke arah kamar mandi.
Dress pendek selutut yang berwarna putih segera ia sambar setelah ia keluar dari kamar mandi. Sekitar lima belas menit kemudian ia keluar dan melangkahkan kaki menuju tempat berkumpulnya para bridesmaid berkumpul untuk didandani.
"Hehe.. gue gak telat kan?" tanya Kara setelah ia mengetuk dan membuka pintu, teman-temannya yang akan menjadi bridesmaid juga sudah berkumpul, terlihat beberapa orang sudah mulai dirias oleh staff MUA terkenal sewaan pengantin.
"Enggak kok gak telat, tapi ngantri ya neng.." jawab Vanny, salah satu teman se-tongkrongannya.
"Haha iyaaaahh yang telat harus tau diri emang.." sahut Kara yang membuat lainnya terkekeh membangkitkan suasana yang sedari tadi hening, sebelum kedatangannya.
Kara memang dikenal dengan sifatnya yang periang dan sikapnya yang hampir selalu mampu membuat orang senang. Pembawaannya (penampilan dan wajah) yang tenang, tapi tingkah dan omongannya yang kadang polos, lucu, bisa membangkitkan suasana orang-orang di sekitarnya di mana pun ia berada.
__ADS_1
Di sela-sela ia didandani pun masih sempat-sempatnya ia membuat para staff MUA dan teman-temannya tertawa karena ceritanya yang ekspresif. Setelah mereka semua selesai didandani, satu per satu keluar dari ruangan tersebut. Total ada tujuh orang yang menjadi bridesmaid hari ini.
Mereka berjalan dengan sangat anggun menuju kamar pengantin yang akan mereka dampingi. Gaun yang mereka kenakan sangat pas dan cocok di badan mereka yang rata-rata tinggi semampai, beberapa di antara mereka memang merupakan model.
Padahal design yang mereka gunakan cukup simple dengan potongan dan model (motif payet) yang sama, hanya berbeda peletakannya saja, tapi mereka terlihat bak model yang memang akan melakukan kontes kecantikan.
Tok tok tok
Mereka mengetuk pintu ruangan milik pengantin, kemudian membukanya. Terlihat seorang wanita dengan ball gown berwarna putih yang sangat indah, khas pengantin atau princess. Wanita itusedang duduk dengan anggunnya di sebuah sofa tanpa senderan. Balutan veil yang berundak menghiasi kepalanya.
"Aaaaaaaaaa!!!"
Para gadis berteriak saat melihat kagum pada sang pengantin. Mereka segera berhamburan menghampiri wanita itu. Dengan gemas juga mereka saling berpelukan dan mengucapkab kekagumannya terhada wanita yang saat ini memang terlihat seperti boneka barbie yang hidup.
"Waaaahhh.. selamat ya sayang.." Kara memeluk sayang sahabatnya itu.
"Akhirnya yah, setelah sekian lama kalian musuhan, udah kayak anjing sama kucing, eh tapi ujungnya kalian malah nikah juga.." gantian Dilla yang kini memeluk si pengantin dan mengucapkan sesuatu yang membuat di sekitarnya tergelak.
"Haha siapa yang sangka kan.." celetuk Vanny.
"Iyah, siapa yang sangka coba gue akhirnya nikah sama si Chandra kumis lele! Gue aja masih ngira ini mimpi dan pengen cepet-cepet bangun!" ucap si pengantin dengan nada pasrah dan sedih.
"Haha gak boleh gituuu.. udah mau nikah lho hari ini.." ucap Crystal.
"Iyah, bentar lagi malah, setengah jam lagi acaranya mulai.." Caren mulai nimbrung.
"Iyah, dan setengah jam lagi lu udah resmi deh nyandang status sebagai istri sah dari Tuan Chandra Baskara.." ucap Nabilla.
"Selena baskara.." lanjut Nibella, kembaran Nabilla.
"Haha.." mereka kemabali tergelak melihat Selena bergidik.
"Iyuh, gue kok geli ya dengernya?" Cynthia terkekeh sambil ikut bergidik geli.
"Sssttt.. Udah, udah.. lu tenangin diri lu ya Sel, biar nanti lu jalannya enjoy.." ujar Kara menenangkan.
"Iyah.. Gak apa-apa kok Sel, nanti juga lu pasti bisa kok nerima, terus sayang dan cinta sama si kumis lele itu, asal lu sabar-sabar aja yah hidup sama dia.." ucap Crystal.
"Hmmm..." Selena hanya mampu berdehem karena sudah tak bisa lagi berpikir dan merajuk pun sudah tak sempat. Tapi para bridesmaidnya itu malah masih saja asyik cekikikan.
__ADS_1
Saat Selena meratapi nasibnya, di sana ada sahabat-sahabat lucknut-nya yang tertawa. Mereka terkekeh geli karena memang tahu bahwa Selena membenci Chandra, begitu pun sebaliknya. Namun lucunya takdir seperti mempermainkan mereka untuk hidup bersama dalam ikatan sakral pernikahan.